Langsung ke konten utama

5 Pilihan Profesi untuk Ferdy Sambo Setelah Dipecat dari Polri

Tak ada lagi jenderal polisi bernama Ferdy Sambo. Tersisa seorang tersangka dan otak pembunuhan berencana yang merenggut nyawa seorang polisi.

Itu setelah sidang Komisi Kode Etik dan Profesi Polri pada Senin (19/9/2022) menolak banding yang bersangkutan. Ia pun resmi diberhentikan tidak dengan hormat sebagai anggota polri.

Rozikin, penjual durian yang wajahnya mirip Ferdy Sambo (foto: Mochamad Saifudin/detik.com).

Menurut Humas Polri, proses dan pemberkasan administrasi pemecatannya akan selesai dalam 3 hingga 5 hari. Dengan kata lain, mulai pekan depan Ferdy Sambo bukan lagi seorang polisi. Ia akan sama dengan bapak-bapak warga sipil pada umumnya. Bedanya ia harus memulai status barunya dari dalam kurungan.


Walau demikian, sebagian keistimewaan diyakini akan tetap dimiliki oleh Pak Ferdy Sambo. Ada banyak upaya yang memungkinkannya lolos dari jerat hukuman terberat. Bagaimana pun, dua bintang yang pernah ada di pundaknya punya kekuatan dan pengaruh yang bertahan lama.

Ia memang dipecat dari kepolisian dan rasanya itu “sudah cukup”. Tak ada hukuman mati atau seumur hidup baginya. Ia kemungkinan hanya menjalani beberapa tahun di penjara. Selanjutnya ia akan kembali ke tengah masyarakat.

Dalam hal ini Pak Ferdy Sambo tidak perlu khawatir terhadap masa depan dan pandangan masyarakat.  Sudah barang tentu orang Indonesia sangat pemaaf dan mudah melupakan. Jika kepada koruptor saja masyarakat Indonesia masih memberikan rasa hormat, maka bagi pelaku pembunuhan orang Indonesia juga akan mudah memaafkan.

Oleh karena itu, usai menyelesaikan hukumannya nanti, Pak Ferdy Sambo tetap bisa menjalani hari-harinya seperti warga pada umumnya. Ia tetap bisa berperan di tengah masyarakat melalui berbagai jenis pekerjaan dan profesi.

Setidaknya ada 5 profesi yang bisa dipilih untuk dijalani oleh Ferdy Sambo di masa mendatang.

Pertama, mendirikan biro jasa pengurusan STNK. Nama besar Ferdy Sambo meski tidak lagi menjadi polisi pasti masih akan dikenali oleh banyak aparat dan petugas. Pengaruhnya masih ada. Koneksinya dan pertemanannya` akan tetap terjaga.

Semua itu merupakan keuntungan dan berkah bagi Pak Ferdy Sambo yang sayang jika tidak dimanfaatkan. Salah satunya untuk membangun bisnis biro pengurusan surat kendaraan.

Bukankah itu sama artinya dengan calo? Bukankah calo telah dilarang dan terlarang?

Semestinya memang demikian. Namun, kenyataannya sampai sekarang masih  kerap dijumpai orang-orang yang menawarkan jasa pengurusan STNK, pajak kendaraan, hingga balik nama. Orang-orang itu hilir mudik di sekitar tempat parkir kendaraan di kantor Samsat. Bahkan, ada yang menawarkan bantuan jemput bola bagi orang-orang yang sibuk bekerja atau yang tidak sempat ke Samsat.
Mereka memang tidak menyebut dirinya sebagai calo. Melainkan sebagai “biro jasa”. Jadi yang dilarang adalah calo. Sementara “biro jasa” diperbolehkan.

Namun, jika kurang tertarik membuka biro jasa pengurusan surat kendaraan, Pak Ferdy Sambo bisa mencoba mendirikan pelatihan mengemudi bersertifikat. Tanda tangan dan nama Ferdy Sambo di sertifikat pelatihan mengemudi bisa memudahkan seseorang yang sedang mengajukan SIM baru ke kepolisian. Barangkali dengan sertifikat tersebut, seseorang tidak akan kesulitan lulus dalam ujian mengemudi.

Kedua, membangun bisnis Jasa Parkir dan Pengamanan. Di negara ini bisnis parkir dan pengamanan sangat menjanjikan. Pangsanya luas. Mulai dari parkir di pusat perbelanjaan, rumah sakit, perkantoran, pertokoan, hingga parkir di acara hajatan kampung.

Demikian pula jasa pengamanan. Baik pengamanan pribadi seperti bodyguard, pengamanan lokal, hingga pengamanan acara-acara seperti festival, konser, dan sebagainya.

Sebagai mantan polisi yang sangat kuat, Pak Ferdy Sambo tentu bisa dengan mudah mengkoordinir potensi-potensi “preman lokal” untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan tersebut. Ia pun bisa merekrut sesama mantan polisi atau mantan anak buahnya yang juga dipecat untuk membangun bisnis jasa parkir dan pengamanan.

Mengingat nama besarnya, Pak Ferdy Sambo tidak akan kesulitan menawarkan jasa pengamanan kepada para calon klien. Siapa tahu justru banyak pejabat yang berminat untuk dikawal oleh anak buah Pak Ferdy Sambo nanti.

Ketiga, menjadi youtuber. Pak Ferdy Sambo perlu menyadari bahwa sosoknya yang sangat populer sekaligus kontroversial merupakan aspek yang paling diminati di dunia per-youtube-an Indonesia. Ditambah citra antagonis yang sekarang disematkan publik padanya. Semakin lengkap sudah potensinya untuk menciptakan “tsunami viewer”.

Bayangkan berapa banyak pundi adsense yang bisa diraup oleh channel “Ferdy Sambo Open The Door” atau “Sambo Leave The Door”. Bahkan, bisa lebih besar lagi andai Pak Ferdy Sambo memilih untuk menjadi youtuber yang memposisikan dirinya sebagai oposisi atau lawan  dari pemerintahan.

Ia bisa mengangkat topik tentang rezim yang zalim. Bisa pula membahas sisi gelap pengakan hukum di Indonesia, rahasia para jenderal, hingga perilaku pejabat. Menjabarkan konspirasi-konspirasi besar di negara ini juga bisa membuat Pak Ferdy Sambo sukses sebagai youtuber nanti.

Keempat, menjadi petani di desa. Jika kasus yang menimpa dirinya dianggap sudah sangat merusak pikiran dan mental, maka setelah bebas dari penjara nanti akan menjadi pilihan bijak bagi Pak Ferdy Sambo untuk menepi.

Hijrah ke desa dan menjalani hidup sebagai petani bisa ditempuh sebagai proses “healing” sekaligus menata ulang dirinya. Aktivitas menanam padi di sawah, menumbuhkan palawija di ladang, atau merawat anggrek di rumah akan sangat menenangkan.

Siapa tahu kehidupan Pak Ferdy Sambo sebagai petani di desa nanti justru menginspirasi banyak orang. Aktivitasnya bercocok tanam bisa diabadikan lewat video dan foto yang dibagikan di media sosial. Bisa pula sekaligus menjadi youtuber dengan konten seputar kehidupan petani desa. Siapa tahu popularitasnya bisa menyamai Dianxi Xiaoge, seorang “youtuber agraris” asal Tiongkok.

Kelima, menjadi politisi. Rasa kecewa dan sedih Pak Ferdy Sambo karena dipecat sebagai polisi bisa teralihkan dengan menjadi politisi. Paling tidak susunan huruf “polisi” dan “politisi” tidak berbeda jauh.

Oleh karena itu, jangan heran jika beberapa tahun mendatang Pak Ferdy Sambo masuk sebagai anggota partai politik. Itu tidak terlarang dan bukan tabu di Indonesia. Bukan hal baru jika mantan napi pelaku kejahatan melanjutkan karirnya di dunia politik. Bahkan, mantan koruptor pun diberi karpet merah untuk menjadi politisi dan wakil rakyat. Tidak perlu SKCK dan tidak peduli rekam jejak yang bersih.

Seorang Ferdy Sambo tentu sangat seksi di mata partai politik. Itu sebabnya semenjak kasus pembunuhan Yosua terungkap, para politisi lebih memilih diam. Sedikit di antaranya bahkan terkesan membela.

Hal itu dilakukan karena pada dasarnya Ferdi Sambo memiliki potensi dan sumber daya politik yang menjanjikan. Dengan tidak mengecam Ferdy Sambo, para politisi atau partai polirik itu pada dasarnya sedang menjaga peluang untuk menarik yang bersangkutan.

Tentu saja, opsi bergabung dengan partai politik sangat menjanjikan bagi Ferdy Sambo. Sebab dunia politik memungkinkannya merebut kembali kuasa dan pengaruh yang hilang seiring terlucutinya seragam dan tanda bintang dari badannya.

Jadi, dipecat dari kepolisian bukan akhir segalanya. Dunia pada dasarnya belum akan berakhir bagi Ferdy Sambo.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Bad Content is a Good AdSense", Jahatnya Para Pemburu Untung di Tengah Pandemi

Selama ini kita mengenal “hukum media” yang berbunyi “Bad News is a Good News”. Itu semacam sindiran atau ungkapan ironi tentang pola pemberitaan media masa kini yang kerap berlebihan dalam menyampaikan informasi dan berita seputar bencana. Youtube (dok. pri). Kita tahu bencana adalah kejadian buruk yang mestinya direspon dengan bersimpati, berempati, atau kalau perlu menyampaikan solusi dan bantuan yang nyata meringankan. Namun, bagi media kejadian bencana seolah menjadi kesempatan emas. Alasannya karena masyarakat kita suka dengan informasi seputar bencana. Maka setiap ada bencana atau peristiwa yang memilukan, kisah-kisahnya selalu menyedot perhatian masyarakat secara luas. Media lalu memberitakannya dengan porsi yang besar. Informasi diobral, termasuk informasi-informasi yang tak jelas ikut dilempar ke publik dengan label berita. Segala aspek dikulik dengan dalih “sudut pandang media”. Padahal hal-hal tersebut mungkin tak pantas diberitakan. Semakin parah komentator “palugada” jadi

MILO CUBE, Cukup Dibeli Sekali Kemudian Lupakan

Alkisah, gara-gara “salah pergaulan" saya dibuat penasaran dengan Milo Cube. Akhirnya saya ikutan-ikutan membeli Milo bentuk kekinian tersebut.   Milo Cube (dok. pri). Oleh karena agak sulit menemukannya di swalayan dan supermarket, saya memesannya melalui sebuah marketplace online . Di berbagai toko online Milo Cube dijual dengan harga bervariasi untuk varian isi 50 cube dan 100 cube. Varian yang berisi 100 cube yang saya beli rentang harganya Rp65.000-85.000.   Pada hari ketiga setelah memesan, Milo Cube akhirnya tiba di tangan saya. Saat membuka bungkusnya saya langsung berjumpa dengan 100 kotak mungil dengan bungkus kertas hijau bertuliskan “MILO” dan “ENERGY CUBE”. Ukurannya benar-benar kecil. Satu cube beratnya hanya 2,75 gram, sehingga totalnya 275 gram.   Milo Cube yang sedang digandrungi saat ini (dok. pri). "Milo Kotak", begitu kira-kira terjemahan bebas Milo Cube (dok. pri). Tiba saatnya unboxing . Milo Cube ini berupa bubu

Di Balik Lucunya Srimulat: Punya Koneksi Intelijen dan Berani Melawan PKI

Saya menyukai Srimulat sejak kecil. Layar kaca TV menjadi medium saya menyaksikan grup ini. Oleh karena itu, generasi Srimulat yang saya tahu merupakan generasi ketika Srimulat sudah memasuki industri TV. Srimulat era industri TV (foto repro/dok.pribadi). Keluarga besar kami yang banyak berasal dari Klaten dan Jawa Timur membuat saya terpengaruh dan akhirnya menyukai Srimulat. Apalagi saat mudik dan berkumpul di Klaten, tontonan Srimulat menjadi suguhan wajib di rumah kakek. Waktu itu Srimulat tayang berulang kali sepanjang hari selama libur lebaran. Nonton bersama menjadi salah satu kegiatan utama kami ketika berkumpul. Barangkali karena pendiri Srimulat, yakni Raden Ayu Srimulat lahir di Klaten sehingga keluarga kami menyenangi grup lawak ini. Semacam ada ikatan batin atau kebanggaan sebagai sesama orang berdarah Klaten.  *** Pada masa jayanya anggota Srimulat mencapai 100 orang. Bahkan, sepanjang  sejarahnya dari awal berdiri sebagai kelompok kesenian hingga menjadi grup lawak era i