Langsung ke konten utama

Lorong-lorong yang Mengantar Saya ke Rumah Nh. Dini

 “Petunjuk dari bapak penjual wedang tahu di Jalan Depok menuntun saya memasuki lorong-lorong sempit di Kembang Paes. Dimulai dari tempat itu, langkah kaki menuju rumah masa kecil Nh. Dini dilalui dari lorong ke lorong”

Lorong Jalan Sekayu di muka rumah Nh. Dini (dok.pribadi).

Semarang teduh dan tenang pada Minggu (19/2/2023) pagi. Dari lantai 3 penginapan, Jalan Depok seperti masih enggan menggeliat.

Belum banyak kendaraan lalu lalang. Pertokoan dan bangunan di sepanjang jalan banyak yang masih menutup pintu. Padahal ini salah satu jalan besar di tengah Kota Semarang. Barangkali karena waktu baru menunjukkan pukul enam lewat.

Setengah jam kemudian dari ruangan resepsionis, sebelum mengembalikan kunci kamar, saya sempatkan melongok lagi ke arah Jalan Depok. Kali ini situasi sedikit lebih ramai. Beberapa orang berpakaian rapi melintas, menyeberang, lalu mengarah ke terusan yang sama. Semuanya berjalan kaki. Saya menduga mereka hendak pergi ke gereja untuk beribadah Minggu.

Menginap di Jalan Depok memang sengaja saya pilih. Sebab di jalan ini Nh. Dini pernah meninggalkan sebentuk cerita yang bagi saya merupakan salah satu episode paling mengharukan dalam buku “Sekayu”. 

Diceritakan oleh Nh. Dini bahwa saat duduk di bangku Sekolah Rakyat (SR) ia berpindah tempat belajar karena kebijakan pemerintah saat itu mengharuskan murid-murid dari sekolah lamanya menempati beberapa sekolah lain. Dini kurang beruntung karena mendapat sekolah yang jauh. Ia pun harus berjalan kaki lebih jauh.

Kembang Paes, lorong pintas menuju Sekayu (dok.pribadi).

Jarak yang ditempuh ditambah hawa terik Semarang membuat Nh. Dini sering merasa kelelahan. Sesekali ia bisa membonceng sepeda temannya. Namun, itu kesempatan yang jarang didapatkan.

Suatu hari, Nh. Dini pergi ke sebuah toko sepeda di Jalan Depok. Pemilik toko itu merupakan kenalan baik almarhum ayahnya. Kedatangan Dini bermaksud untuk menukar sepeda peninggalan sang ayah dengan sepeda baru yang cocok untuk bocah perempuan. Sang pemilik toko bersedia dengan ketentuan Dini perlu menambahkan sedikit uang untuk mendapatkan sepeda pengganti.

Syarat tukar tambah itu terlalu berat bagi Nh. Dini. Ia tak tega meminta uang kepada sang ibu karena setelah sang ayah meninggal dunia mereka harus lebih berhemat. Dini pun meninggalkan Jalan Depok tanpa sepeda yang ia ingini. Pada kemudian hari ia memilih mengayuh sepeda tua milik sang ayah untuk berangkat sekolah. Sepeda yang terlalu susah dan tinggi untuk dinaiki oleh seorang bocah perempuan mungil.

Sayangnya, Nh. Dini tak menyebut nama toko sepeda yang dimaksud. Entah karena dulu toko itu tak memiliki nama atau Nh. Dini tak mengingat lagi namanya.

Beberapa toko sepeda saya jumpai di antara deretan bangunan di sepanjang Jalan Depok. Toko-toko tersebut saling berdekatan. Namun, belum ada yang membuka pintunya sepagi itu.

Kembang Paes (dok.pribadi).
Berjalan kaki menyusuri Jalan Depok terasa nyaman. Trotoarnya lebar dan rapi. Bangku-bangku yang berjejer di atas trotoar juga bersih.
 
Pagi itu sejumlah restoran dan kedai makan telah buka. Satu dua yang saya tengok merupakan kedai chinese food yang telah disesaki pembeli.

Mendekati ujung jalan, keramaian yang lebih hidup tersaji. Mengambil beberapa ruas trotoar ke arah dalam pemukiman warga, Pasar Prambaen yang tak terlalu besar mengingatkan saya pada salah satu kebiasaan Nh. Dini saat kecil. Diceritakan dalam salah satu bukunya, saat kanak-kanak Nh. Dini sering ke Prambaen untuk jajan es sirup.
 
Saya tak sempat melongok ke dalam pasar. Selain gang masuknya yang sempit, beberapa penjual dan sepeda motor yang terparkir di depan gang juga seolah belum mengizinkan saya menyelinap.
 
Di sana saya hanya mengambil waktu istirahat sejenak. Duduk di sebuah bangku kosong, semangkuk wedang tahu yang hangat jadi pengisi energi. Penjualnya seorang laki-laki yang dengan mudah menebak bahwa saya merupakan pelancong yang sedang mengunjungi Semarang.
 
Keakraban yang singkat itu saya manfaatkan untuk menyebutkan tujuan hendak mencari rumah Nh. Dini di Sekayu. Ia memang tak tahu keberadaan rumah tersebut. Namun, ia menunjukkan jalan pintas menuju kampung Sekayu. Yakni, melewati sebuah gang di samping Pasar Prambaen.

Lorong Batan timur, gerbang masuk ke Sekayu (dok.pribadi).
Masih berada di ruas Jalan Depok, mulut gang itu ternyata berjarak kurang dari 10 langkah dari tempat saya duduk. Dilengkapi sebuah gapura yang di atasnya terpampang nama Kembang Paes.

Dalam “Padang Ilalang di Belakang Rumah” dan “Sebuah Lorong di Kotaku”, Kembang Paes sempat disebut oleh Nh. Dini. Lokasinya memang tak jauh dari Sekayu sehingga wajar jika ia kerap melewati Kembang Paes saat hendak bepergian ke sejumlah tempat.

Petunjuk dari bapak penjual wedang tahu di Jalan Depok menuntun saya memasuki lorong-lorong sempit di Kembang Paes. Dimulai dari tempat itu, langkah kaki menuju rumah masa kecil Nh. Dini dilalui dari lorong ke lorong.

Agak canggung saya menyusuri lorong-lorong itu. Sebab pintu dan jendela rumah warganya berada sangat dekat dan menghadap langsung ke lorong jalan. Bisa dipastikan jika penghuninya sedang duduk berada di ruang tamu atau bagian depan rumahnya, mereka akan bisa melihat jelas siapa yang lewat di depannya.

Lorong jalan di Kembang Paes semakin sempit karena masih harus dibagi dengan selokan kecil yang melewati bagian depan rumah-rumah yang temboknya berhimpitan. Tempat-tempat sampah dan sepeda motor yang terparkir di depan rumah warga juga mengambil sedikit luasan di dalam lorong.

Meski demikian lorongnya terlihat bersih. Beberapa rumah yang memelihara tanaman dalam pot memberi kesegaran di tengah tembok-tembok yang rapat.

Mudah saja menyusuri lorong jalan di Kembang Paes.  Sebab lorong utamanya mengarah langsung ke Jalan MH Thamrin. Menyeberangi jalan tersebut, saya tiba di lorong pendek Jalan Batan Timur 4.

Dalam “Padang Ilalang di Belakang Rumah”, “Sebuah Lorong di Kotaku”, dan “Sekayu”, nama Batan berulang kali disebut oleh Nh. Dini. Sesuatu yang bisa dipahami sebab Batan merupakan kampung tetangga Sekayu. Pada masa kini, kampung Batan menjadi salah satu gerbang masuk menuju Sekayu.

Lorong Jalan Sekayu (dok.pribadi).

Menjelang rumah Nh. Dini (dok.pribadi).
Ujung lorong  Batan 4 terbelah menjadi dua. Ke selatan sebuah lorong jalan memanjang menuju  Sekayu. Lorong itu  lebih lebar dibanding di Kembang Paes. Sebuah mobil bisa lewat dengan sangat pas dan pelan.

Semakin ke dalam lorong jalan semakin menyempit dan bercabang. Saya sempat tersesat di salah satu lorong yang hanya bisa dilalui satu sepeda motor. Namun segera menemukan arah yang benar menuju rumah Nh. Dini.

Lorong jalan Sekayu sudah berlapiskan aspal. Rumah-rumah warga yang berhimpitan di kedua sisi umumnya berukuran kecil dan tidak jauh berbeda luasannya satu sama lain. Beberapa rumah dilihat dari tembok dan atapnya tampak lebih tua dibanding yang lain. Rumah-rumah yang berumur itu terkumpul pada salah satu sisi lorong jalan. Sementara di sisi yang berseberangan berupa tembok dari bangunan yang lebih baru dan tinggi.

Beberapa pohon besar tumbuh di tepian lorong jalan. Daunnya yang rimbun memberi sentuhan asri. Lebih banyak lagi tanaman pot di depan rumah-rumah warga. Sekayu agaknya masih mempertahankan sebagian identitasnya lampaunya sebagai perkampungan.

Semakin dalam menyusuri lorong jalan, semakin tampak ketuaan kampung. Terutama saat tiba di muka Masjid Sekayu yang sudah berdiri sejak sebelum Nh. Dini dilahirkan.

Dari masjid tersebut rumah Nh. Dini tinggal beberapa langkah saja. Namun, saya masih perlu melalui sebuah lorong jalan lagi. 

Rumah Nh. Dini (dok.pribadi).

Di ujung jalan, sebelum menikung ke arah berikutnya, berdiri sebuah rumah yang lebih besar dari sekitarnya. Rumah berhalaman luas dengan banyak tanaman di halaman muka dan sampingnya. Dengan dua toren besar di atas menara besi yang menjulang. Rumah yang secara keseluruhan menampilkan rupa sederhana, tenang, sekaligus kokoh.

Berada di tengah kota Semarang dan terhimpit oleh gedung-gedung besar, Sekayu bagai sebuah lorong waktu yang mengizinkan siapa pun menjumpai sepenggal masa lalu di sana.

Pagi itu, akhirnya saya tiba di depan rumah Nh. Dini.

Nh. Dini (dok.pribadi).
** Cerita sebelumnya: Semangkuk Soto di Belakang Rumah Nh. Dini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MILO CUBE, Cukup Dibeli Sekali Kemudian Lupakan

Alkisah, gara-gara “salah pergaulan" saya dibuat penasaran dengan Milo Cube. Akhirnya saya ikutan-ikutan membeli Milo bentuk kekinian tersebut.   Milo Cube (dok. pri). Oleh karena agak sulit menemukannya di swalayan dan supermarket, saya memesannya melalui sebuah marketplace online . Di berbagai toko online Milo Cube dijual dengan harga bervariasi untuk varian isi 50 cube dan 100 cube. Varian yang berisi 100 cube yang saya beli rentang harganya Rp65.000-85.000.   Pada hari ketiga setelah memesan, Milo Cube akhirnya tiba di tangan saya. Saat membuka bungkusnya saya langsung berjumpa dengan 100 kotak mungil dengan bungkus kertas hijau bertuliskan “MILO” dan “ENERGY CUBE”. Ukurannya benar-benar kecil. Satu cube beratnya hanya 2,75 gram, sehingga totalnya 275 gram.   Milo Cube yang sedang digandrungi saat ini (dok. pri). "Milo Kotak", begitu kira-kira terjemahan bebas Milo Cube (dok. pri). Tiba saatnya unboxing . Milo Cube ini berupa bubu

Berjuta Rasanya, tak seperti judulnya

“..bagaimana caranya kau akan melanjutkan hidupmu, jika ternyata kau adalah pilihan kedua atau berikutnya bagi orang pilihan pertamamu..” 14 Mei lalu saya mengunjungi toko buku langganan di daerah Gejayan, Yogyakarta. Setiba di sana hal yang pertama saya cari adalah majalah musik Rolling Stone terbaru. Namun setelah hampir lima belas menit mencarinya di bagian majalah saya tak kunjung mendapatinya. Akhirnya saya memutuskan untuk berjalan-jalan menyusuri puluhan meja dan rak lainnya. Jelang malam saya membuka tas dan mengeluarkan sebuah buku dari sana. Bersampul depan putih dengan hiasan pohon berdaun “jantung”. Sampul belakang berwarna ungu dengan beberapa tulisan testimoni dari sejumlah orang. Kembali ke sampul depan, di atas pohon tertulis sebuah frase yang menjadi judul buku itu. Ditulis dengan warna ungu berbunyi Berjuta Rasanya . Di atasnya lagi huruf dengan warna yang sama merangkai kata TERE LIYE . Berjuta Rasanya, karya terbaru dari penulis Tere Liye menjadi buk

Sewa iPhone untuk Gaya, Jaminannya KTP dan Ijazah

Beberapa waktu lalu saya dibuat heran dengan halaman explore instagram saya yang tiba-tiba menampilkan secara berulang iklan penawaran sewa iPhone. Padahal saya bukan pengguna iPhone. Bukan seorang maniak ponsel, tidak mengikuti akun seputar gadget, dan bukan pembaca rutin konten teknologi. iPhone (engadget.com). Kemungkinan ada beberapa teman saya di instagram yang memiliki ketertarikan pada iPhone sehingga algoritma media sosial ini membawa saya ke konten serupa. Mungkin juga karena akhir-akhir ini saya mencari informasi tentang baterai macbook. Saya memang hendak mengganti baterai macbook yang sudah menurun performanya. Histori itulah yang kemungkinan besar membawa konten-konten tentang perangkat Apple seperti iphone dan sewa iPhone ke halaman explore instagram saya. Sebuah ketidaksengajaan yang akhirnya mengundang rasa penasaran. Mulai dari Rp20.000 Di instagram saya menemukan beberapa akun toko penjual dan tempat servis smartphone yang melayani sewa iPhone. Foto beberapa pelanggan