Langsung ke konten utama

Pertemuan Dua Hati

Melihat dunia luar, apalagi melintasi samudera untuk sejenak menikmati kehidupan di negeri orang, bagi kebanyakan orang mungkin sudah menjadi hal yang biasa. Sudah banyak orang Indonesia yang kesehariannya bolak-balik tanah air dan negeri orang. Sebagian karena alasan bisnis, pekerjaan dan banyak juga yang untuk menempuh studi.

Tapi bagi orang desa seperti saya, hal itu bisa jadi kesempatan yang luar biasa. Apalagi kalau sudah pakai embel-embel “gratis”. Tapi ketika menulis ini, saya justru baru melepas kesempatan itu. Saat kalimat pertama tulisan ini selesai, saya baru saja membatalkan keberangkatan saya ke negeri jiran Singapura untuk mengikuti sebuah konfrensi sekaligus melakukan liputan untuk sebuah magazine.

Saat ajakan dan undangan itu datang bulan lalu, saya sungguh senang. Apalagi saat tahu semua akomodasi, tiket pesawat dan penginapan telah ditanggung. Mereka hanya meminta saya segera melakukan konfirmasi kesediaan saya.

Tapi seperti lirik lagu KAHITNA : “sedetik kutarik nafasku pejam mata pilih pilah pikir pikir kata..”. Rasa terkejut itu masih begitu tinggi, apalagi siang itu tak ada tanda-tanda kabar itu datang.

Saya pun akhirnya meminta waktu untuk memikirkan jawabannya. Meski jujur saat juga hati saya melompat dan mengatakan : “IYA SAYA AKAN BERANGKAT !!!!”. Tapi tak segampang itu, sejumlah hal yang masih harus saya selesaikan beserta segenap kewajibannya membuat saya mengalami “dilema hati”(ciellahh bahasanya..).

Mereka pun memberikan waktu untuk saya berfikir. Dan akhirnya kemarin jawaban itu saya berikan. “Terima kasih untuk undangan dan kesempatannya. Tapi untuk saat ini saya belum bisa mengikutinya. Sampaikan terima kasih dan salam saya untuk semua”.
 
Saya pun melepas kesempatan itu. Terus terang saja ada rasa bimbang, galau dan akhirnya sedih. Bagi sebagian orang kesempatan mungkin hanya datang sekali. Dan sekali terlewati takkan pernah kembali. Tapi mungkin saja selalu ada jalan kembali untuk sebuah kesempatan. Kesempatan akan datang lagi jika kita yakini itu memang akan akan kembali, meski entah kapan.

Oh, demi apapun sampai malam inipun saya masih terbayang saat harus mengatakan “tidak” untuk undangan itu. Dan daripada sakit perut memikirkannya saat berfikir untuk mengambil sebuha buku dari atas meja. Sebuah buku yang saat saya lihat judulnya “Pertemuan Dua Hati”.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MILO CUBE, Cukup Dibeli Sekali Kemudian Lupakan

Alkisah, gara-gara “salah pergaulan" saya dibuat penasaran dengan Milo Cube. Akhirnya saya ikutan-ikutan membeli Milo bentuk kekinian tersebut.   Milo Cube (dok. pri). Oleh karena agak sulit menemukannya di swalayan dan supermarket, saya memesannya melalui sebuah marketplace online . Di berbagai toko online Milo Cube dijual dengan harga bervariasi untuk varian isi 50 cube dan 100 cube. Varian yang berisi 100 cube yang saya beli rentang harganya Rp65.000-85.000.   Pada hari ketiga setelah memesan, Milo Cube akhirnya tiba di tangan saya. Saat membuka bungkusnya saya langsung berjumpa dengan 100 kotak mungil dengan bungkus kertas hijau bertuliskan “MILO” dan “ENERGY CUBE”. Ukurannya benar-benar kecil. Satu cube beratnya hanya 2,75 gram, sehingga totalnya 275 gram.   Milo Cube yang sedang digandrungi saat ini (dok. pri). "Milo Kotak", begitu kira-kira terjemahan bebas Milo Cube (dok. pri). Tiba saatnya unboxing . Milo Cube ini berupa bubu

Purbalingga Food Center: Becek, Lembap dan Kurang Rapi

Awal Januari 2020 ada sebuah tempat baru yang diluncurkan di Purbalingga, Jawa Tengah. Namanya Purbalingga Food Center . Purbalingga Food Center (dok. pri). Saya tahu pertama kali dari berita daring yang mengabarkan pemindahan ratusan pedagang kaki lima ke "Purbalingga Food Center" pada 6 Januari 2020. Saat itu diadakan karnaval yang menjadi simbolisasi pemindahan sekitar 360 PKL penghuni Alun-alun Purbalingga, area GOR/Stadion Goentoer Darjono, trotoar Jalan Piere Tendean dan sekitarnya untuk selanjutnya disatukan di Purbalingga Food Center.   Lokasi Purbalingga Food Center ada di selatan GOR Goentoer atau tepat bersisian dengan jalan lingkar selatan GOR Goentoer. Jaraknya dari Alun-alun Purbalingga tak sampai 2 km. Pada 11 dan 12 Januari 2020 saat berada di Purbalingga, saya sempatkan untuk melihat tempat ini. Saya datang pada pagi hari meski layaknya pusat jajanan kaki lima, tempat ini pun perlu dicoba untuk dikunjungi pada malam hari.   Ar

Ancaman Bahaya "Direct Debit" LinkAja dan KAI Access

KAI Access menerapkan “direct debit” menggunakan LinkAja untuk pembayaran tiket kereta api. Pembayaran bisa langsung dilakukan tanpa perlu memasukkan PIN LinkAja. Dianggap praktis, fitur ini justru meningkatkan risiko dan ancaman bahaya bagi penggunanya. Saya mengalaminya sendiri beberapa hari lalu. (dok. pri). Suasana rileks yang sedang saya nikmati pada Minggu (1/9/2019) siang lenyap seketika. Mood yang saya bangun selagi membaca buku tiba-tiba dirusak oleh sebuah pemberitahuan/info dari LinkAja di layar smartphone . Isinya kurang lebih begini:   “Anda sudah bertransaksi sejumlah Rp180.000 ke KAI Lokal….”. Dalam rasa terkejut saya segera memeriksa aplikasi LinkAja dan menemukan riwayat pembayaran yang dimaksud. Masalahnya saya tidak memesan tiket KAI tersebut. Saya lalu beralih memeriksa arsip tiket pada akun saya di aplikasi KAI Access. Ternyata tidak ditemukan daftar tiket yang dimaksud. Oleh karena itu, siapa yang memesan tiket KAI dengan menggu