Langsung ke konten utama

BERSAMA KAHITNA DI MALANG. II : PRIA BAIK-BAIK MASUK BAR (^^V)

Pukul 23.00 akhirnya saya dan rombongan memutuskan meninggalkan lobi dan ruang makan Hotel Kartika Graha Malang untuk menuju ke...ke...ke....ke BAR. (sengaja dilama-lamain karena memang penuh dilema untuk memberanikan diri melangkah masuk ke sana). Bar itu mungkin lebih tepat disebut klub malam, namanya My Place, letaknya di Jalan Jaksa Agung Suprapto, Malang, bersebelahan dengan Hotel Kartika Grha.

Dari luar suasana bar mulai terasa. Ruangan gelap dengan sedikit sorot lampu kilat warna-warni yang menyilaukan mata. Lalu lalang orang dengan beragam rupa pakaian mulai dari yang wajar, sopan, berkerudung hingga yang bisa membuat penggunanya masuk angin jelas terlihat di depan saya. Senang ?? Nggak, biasa (maksudya BUKAN BIASA masuk bar ya !!!!). Biasa karena tujuan saya ke sana tulus dan bulat untuk melihat aksi KAHITNA. Dan rombongan saya mungkin yang paling terlihat tak wajar untuk ukuran sebuah tempat berlabel klub malam atau bar karena dalam rombongan saya 5 di antaranya adalah wanita berjilbab, sementara laki-lakinya cuma saya dan mas Anggun. Jadi rombongan kami malam itu bak kelompok orang salah tempat, atau tidak salah tempat tapi kami yang salah kostum. Tapi apapun itu malam itu saya menjadi pria-pria baik-baik yang akhirnya masuk ke bar...>.<V.

Memasuki lobi bar kami tak langsung melangkah menuju meja tiket. Seorang petugas keamanan mendatangi kami. Dengan sopan dia mendekati mba Nurul yang menggendong si kecil Ara yang terlelap didekapannya. Kepada kami petugas menjelaskan bahwa acara dan tempat ini ditujukan untuk orang dewasa 18 +. Membawa turut anak kecil apalagi balita jelas sangat dilarang. Bukan hanya membahayakan si kecil karena di dalam asap rokok, aroma bir dan dentuman suara musik akan sangat menganggu, melainkan juga untuk menjaga nama baik bar dan event yang berlangsung agar tak dikomplain masyarakat atau pihak sponsor.

Mendapat larangan itu kami pun memutuskan untuk tak masuk semuanya. Mas Anggun mencoba bernegoisasi agar istri dan balitanya diizinkan masuk dan menonton KAHITNA. Dengan jaminan akan menanggung resiko jika terjadi gangguan pada si kecil Ara, apalagi mba Nurul sebenarnya adalah seorang dokter. Namun tetap saja aturan tegas itu tak bisa dinego. Saya pun keluar, mengambil HP dan menekan sebuah nomor. Gagal menghubungi satu nomor saya pun akhirnya menekan nomor lain. Kali ini saya tersambung dengan salah seorang manajer KAHITNA. Lewat ujung telepon saya mengabarkan permasalahan yang kami hadapi. Saya pun sempat merajuk dengan mengatakan kalau satu nggak boleh masuk, maka kami semua nggak akan masuk. Mendengar itu mas manajer pun meminta dihubungkan dengan penyelenggara. Saya pun menghubungkan manajer KAHITNA tersebut dengan penyelenggara pertunjukkan malam itu.

Entah seperti apa percakapan antar mereka. Namun sepertinya disepakati jalan tengah. Kami masuk namun si kecil Ara tetap tak bisa ikut ke dalam, sebagai solusi Ara akan dititipkan dan dijaga bergantian di salah satu kamar crew KAHITNA.

23.40. Kami naik ke lantai tiga Hotel Kartika Grha ditemani Mang Anwar, salah satu crew KAHITNA. Mamang masuk terlebih dahulu ke dalam kamar dan memberi tahu teman-temannya. Kami pun menjadi tak enak hati saat beberapa crew KAHITNA mengalah untuk keluar kamar demi memberi tempat pada Ara dan ayahnya istirahat. Sementara ibunya ikut turun kembali bersama kami menuju My Place.

Namun masalah lain datang. Dalam meja pemeriksaan kami dilarang membawa masuk kamera pocket. Mau dikata apalagi, beberapa teman pun kembali tertahan. Sementara saya dengan wajah biasa melangkah tenang melewati petugas. "Dengan wajah biasa" ??. Yap !! Entah dapat ilham dari mana, saya berhasil mengelabui petugas hingga kamera SLR saya lolos dari pemeriksaan. Saya pun berhasil naik ke bar dengan membawa kamera SLR..^^V.

Jelang pukul 00.00 kami sudah masuk ke dalam My Place. Ruangan redup dengan sorot lampu panggung yang seringkali menyilaukan pandangan, ditambah suara musik yang dimainkan home band membuat saya tahu untuk pertama kalinya suasana klub malam. Pengunjung terus lalu lalang di depan saya. Beberapa orang termasuk wanita saya lihat sudah mulai melantai. Dengan menari bergaya disko mereka ada yang memegang gelas, ada juga yang tanpa risih menari di tengah ruangan dengan memegang botol yang barangkali berisi bir atau semacamnya.

Saya dan teman-teman beberapa kali berpindah tempat hingga akhirnya kami memutuskan untuk menuju sisi kiri panggung, persis di samping panggung. Tak lama kemudian sebuah suara memanggil saya. Saya pun menoleh. Dalam remang saya dapat mengenal orang itu. Ternyata mba Amalia Ruhana, teman soulmate dari Malang.

Tak lama setelah itu sebuah suara kembali terdengar memanggil saya. Setelah menoleh ke belakang saya baru tahu kalau ternyata mas Doddy, basis KAHITNA ada di belakang saya. Kami pun bersalaman dan berbincang sebentar. Belakangan personel KAHITNA lainnya pun masuk hingga akhirnya kami semua berkumpul di sisi kiri panggung. Lima menit kemudian nama KAHITNA pun disebut dan pertunjukkan pun dimulai.

Bersambung...


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gamelan Pusaka Kraton Yogyakarta

MILO CUBE, Cukup Dibeli Sekali Kemudian Lupakan

Alkisah, gara-gara “salah pergaulan" saya dibuat penasaran dengan Milo Cube. Akhirnya saya ikutan-ikutan membeli Milo bentuk kekinian tersebut.
Oleh karena agak sulit menemukannya di swalayan dan supermarket, saya memesannya melalui sebuah marketplace online. Di berbagai toko online Milo Cube dijual dengan harga bervariasi untuk varian isi 50 cube dan 100 cube. Varian yang berisi 100 cube yang saya beli rentang harganya Rp65.000-85.000.
Pada hari ketiga setelah memesan, Milo Cube akhirnya tiba di tangan saya. Saat membuka bungkusnya saya langsung berjumpa dengan 100 kotak mungil dengan bungkus kertas hijau bertuliskan “MILO” dan “ENERGY CUBE”. Ukurannya benar-benar kecil. Satu cube beratnya hanya 2,75 gram, sehingga totalnya 275 gram.
Tiba saatnya unboxing. Milo Cube ini berupa bubuk coklat yang dipadatkan sehingga menyerupai permen hisap. Tapi sebenarnya tak bisa disebut permen karena meski dipadatkan, agregat bubuk Milo ini mudah hancur saat terjatuh.
Dalam benak dan angan saya ter…

Poto Batu, "Vitamin Sea" di Pesisir Sumbawa Barat

“Lihat ke kiri!”. Suara Pak Arie membangunkan kembali kesadaran kami yang kebanyakan sudah hampir tertidur di dalam bis. Siang itu kami sedang dalam perjalanan dari Jereweh ke Kertasari, keduanya di Kabupaten Sumbawa Barat. 

Ucapan Pak Arie pun dituruti oleh beberapa di antara kami yang segera mengarahkan pandangan menembus kaca jendela bis. Entah siapa yang memulai meminta bis untuk berhenti, tapi sekejap kemudian kami semua sudah turun dan mendapati diri berada di sebuah pantai yang indah. Poto Batu namanya.
Pantai Poto Batu berada tak jauh dari Labuhan Lalar di Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Perjalanan dari Jereweh menuju Poto Batu kami tempuh melalui jalanan beraspal yang tidak terlalu ramai. Agak mengherankan karena jalan tersebut adalah akses penghubung antara ibu kota Sumbawa Barat, Taliwang, dengan sejumlah daerah di sekitarnya.
Mendekati Poto Batu beberapa ruas jalan menyempit dan aspalnya kurang rata. Oleh karenanya kendaraan perlu berjalan lebih pelan. Apalagi, …