Langsung ke konten utama

Mereka Yang Katanya Menentang Pembajakan, Tapi Mempromosikan Produk Bajakan



Entah apa maksud dari pemasangan spanduk provider seluler tersebut. Jika memang disengaja maka pantas dipertanyakan alasan provider memasang atau memberikan spanduk kepada lapak CD-DVD bajakan ini. Ataukah mungkin spanduk tersebut awalnya tidak ditujukan untuk tempat tersebut ?. Jika iya mengapa tidak segera dicabut spanduk-spanduk tersebut. Jika alasannya tidak tahu rasanya  mustahil. 

Ataukah provider seluler aji mumpung dengan menumpang promosi di lapak yang banyak dikunjungi dan dilalui orang tersebut ?.  Aji mumpung rasanya memang bukan hal baru lagi dilakukan oleh perusahaan provider seluler di Indonesia, beberapa tahun lalu ketika layanan RBT booming, seluruh provider seluler melakukannya dengan nama yang bervariasi. Bahkan ketika sejumlah pengamat dan kritikus musik memperingatkan bahwa bisnis RBT tidak akan membawa banyak kebaikan pada iklim musik Indonesia, para provider justru makin gencar menggarap layanan RBT mereka. Kini di saat industri RBT runtuh, para penyanyi dan grup musik spesialis RBT ikut tergulung, para provider tetap berkibar berkat keuntungan besar yang telah mereka raup selama bertahun-tahun.

Pemandangan di Jalan Mataram Jogja ini mungkin juga dijumpai di banyak tempat dan bisa jadi luput dari perhatian kritis banyak masyarakat Tapi kenyataan ini, jika memang benar provider seluler ikut berada di sana, maka sangat disayangkan, mereka sudah berdiri di dua kaki. Provider seluler telah menunjukkan inkonsistensi terhadap perang melawan aksi pembajakan karya seni lagu dan film.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ancaman Bahaya "Direct Debit" LinkAja dan KAI Access

KAI Access menerapkan “direct debit” menggunakan LinkAja untuk pembayaran tiket kereta api. Pembayaran bisa langsung dilakukan tanpa perlu memasukkan PIN LinkAja. Dianggap praktis, fitur ini justru meningkatkan risiko dan ancaman bahaya bagi penggunanya. Saya mengalaminya sendiri beberapa hari lalu.Suasana rileks yang sedang saya nikmati pada Minggu (1/9/2019) siang lenyap seketika. Mood yang saya bangun selagi membaca buku tiba-tiba dirusak oleh sebuah pemberitahuan/info dari LinkAja di layar smartphone. Isinya kurang lebih begini:
“Anda sudah bertransaksi sejumlah Rp180.000 ke KAI Lokal….”.
Dalam rasa terkejut saya segera memeriksa aplikasi LinkAja dan menemukan riwayat pembayaran yang dimaksud. Masalahnya saya tidak memesan tiket KAI tersebut.
Saya lalu beralih memeriksa arsip tiket pada akun saya di aplikasi KAI Access. Ternyata tidak ditemukan daftar tiket yang dimaksud. Oleh karena itu, siapa yang memesan tiket KAI dengan menggunakan saldo LinkAja saya dan tiket apa yang dipesan me…

MILO CUBE, Cukup Dibeli Sekali Kemudian Lupakan

Alkisah, gara-gara “salah pergaulan" saya dibuat penasaran dengan Milo Cube. Akhirnya saya ikutan-ikutan membeli Milo bentuk kekinian tersebut.
Oleh karena agak sulit menemukannya di swalayan dan supermarket, saya memesannya melalui sebuah marketplace online. Di berbagai toko online Milo Cube dijual dengan harga bervariasi untuk varian isi 50 cube dan 100 cube. Varian yang berisi 100 cube yang saya beli rentang harganya Rp65.000-85.000.
Pada hari ketiga setelah memesan, Milo Cube akhirnya tiba di tangan saya. Saat membuka bungkusnya saya langsung berjumpa dengan 100 kotak mungil dengan bungkus kertas hijau bertuliskan “MILO” dan “ENERGY CUBE”. Ukurannya benar-benar kecil. Satu cube beratnya hanya 2,75 gram, sehingga totalnya 275 gram.
Tiba saatnya unboxing. Milo Cube ini berupa bubuk coklat yang dipadatkan sehingga menyerupai permen hisap. Tapi sebenarnya tak bisa disebut permen karena meski dipadatkan, agregat bubuk Milo ini mudah hancur saat terjatuh.
Dalam benak dan angan saya ter…

"Jangkau" dan Tren Filantropi yang Tumbuh di Indonesia

Ada banyak jalan untuk mengulurkan tangan. Ada banyak cara untuk menjadi dermawan. Gairah baru filantropi memberi kesempatan bagi setiap orang untuk terlibat dalam misi kebaikan dengan berbagai cara.
Mantan Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (BTP) alias Ahok meluncurkan aplikasi bernama “Jangkau” pada awal Agustus 2019. Aplikasi yang dijalankan di perangkat mobile dan smartphone ini bertujuan untuk menjangkau orang-orang yang membutuhkan, terutama kalangan rakyat miskin dan lansia.
Jangkau mempertemukan mereka yang membutuhkan bantuan dengan orang-orang yang ingin membantu. Pada masa awal Jangkau masih terbatas mengelola sumbangan berupa barang, terutama barang kebutuhan lansia. Namun, ini hanya embrio. Artinya Jangkau akan dikembangkan lebih luas lagi.
Jangkau dan Humanisme Ahok Jangkau bersemi dari dalam penjara. Hasil pendalaman Ahok terhadap masih adanya orang-orang yang menghendaki bantuannya saat ia ditahan. Di sisi lain ia bukan siapa-siapa lagi. Bukan lagi pejabat dan tak mem…