Langsung ke konten utama

Sweet Rib with Mango | R E S E P


Sore ini duet saya dan Ibu. Bedanya jika ibu selalu memasak dengan menu dan resep yang pasti, sementara saya seorang penggembira di dapur yang kerap diprotes karena suka membuang-buang bahan masakan hanya untuk resep yang penuh “improvisasi” yang saya sendiri tidak bisa mengulanginya. Tapi hari ini semua berbeda. Saya memasak Iga Manis. Dan kali ini mendapat pujian (biasanya cacian), makanya saya berani membaginya di sini. Selamat menikmati..

1 batang & daun serai
1 daun salam
1 daun jeruk
1 bawang putih
1 ketumbar
1/3 sendok garam
Kunyit secukupnya

4 bawang merah
2 sendok merica bubuk
8 sendok makan kecap manis
3 sendok makan margarin
Buah tomat, buah mangga & sayuran secukupnya
Iga sapi/kambing

Haluskan batang & daun serai, daun salam, daun jeruk, bawang putih, kunyit, garam dan ketumbar lalu tambahkan sedikit air. Rendam potongan Iga dalam bumbu yang sudah dihaluskan tersebut selama 20-30 menit. Panaskan margarin di wajan teflon dengan api sedang.

Goreng iga hingga setengah matang lalu lumuri dengan kecap manis, merica dan potongan bawang merah. Setelah 20 menit lanjutkan memasak dengan membakarnya atas arang membara. Lumuri lagi dengan kecap manis dan merica lalu bakar selama 15 menit.

Rebus sayuran setengah matang. Lengkapi dengan irisan mangga muda dan tomat atau buah-buahan lain sesuai selera. Jadi kalau suka dengan kelapa pakai saja buah kelapa. Taburi dengan daun seledri dan daun-daunan lainnya kalau ada. Karena saya suka bawang merah maka ada irisan bawang merah segar dan terakhir siram dengan sedikit kecap manis.




Sweet Rib wit Mango | originally created by Hendra Wardhana

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MILO CUBE, Cukup Dibeli Sekali Kemudian Lupakan

Alkisah, gara-gara “salah pergaulan" saya dibuat penasaran dengan Milo Cube. Akhirnya saya ikutan-ikutan membeli Milo bentuk kekinian tersebut.   Milo Cube (dok. pri). Oleh karena agak sulit menemukannya di swalayan dan supermarket, saya memesannya melalui sebuah marketplace online . Di berbagai toko online Milo Cube dijual dengan harga bervariasi untuk varian isi 50 cube dan 100 cube. Varian yang berisi 100 cube yang saya beli rentang harganya Rp65.000-85.000.   Pada hari ketiga setelah memesan, Milo Cube akhirnya tiba di tangan saya. Saat membuka bungkusnya saya langsung berjumpa dengan 100 kotak mungil dengan bungkus kertas hijau bertuliskan “MILO” dan “ENERGY CUBE”. Ukurannya benar-benar kecil. Satu cube beratnya hanya 2,75 gram, sehingga totalnya 275 gram.   Milo Cube yang sedang digandrungi saat ini (dok. pri). "Milo Kotak", begitu kira-kira terjemahan bebas Milo Cube (dok. pri). Tiba saatnya unboxing . Milo Cube ini berupa bubu

Purbalingga Food Center: Becek, Lembap dan Kurang Rapi

Awal Januari 2020 ada sebuah tempat baru yang diluncurkan di Purbalingga, Jawa Tengah. Namanya Purbalingga Food Center . Purbalingga Food Center (dok. pri). Saya tahu pertama kali dari berita daring yang mengabarkan pemindahan ratusan pedagang kaki lima ke "Purbalingga Food Center" pada 6 Januari 2020. Saat itu diadakan karnaval yang menjadi simbolisasi pemindahan sekitar 360 PKL penghuni Alun-alun Purbalingga, area GOR/Stadion Goentoer Darjono, trotoar Jalan Piere Tendean dan sekitarnya untuk selanjutnya disatukan di Purbalingga Food Center.   Lokasi Purbalingga Food Center ada di selatan GOR Goentoer atau tepat bersisian dengan jalan lingkar selatan GOR Goentoer. Jaraknya dari Alun-alun Purbalingga tak sampai 2 km. Pada 11 dan 12 Januari 2020 saat berada di Purbalingga, saya sempatkan untuk melihat tempat ini. Saya datang pada pagi hari meski layaknya pusat jajanan kaki lima, tempat ini pun perlu dicoba untuk dikunjungi pada malam hari.   Ar

Gudeg Mbah Sudarmi, Teladan di Tengah Pandemi

Pandemi Covid-19 yang belum dapat dipastikan kapan akan berakhir menuntut semua orang untuk segera beradaptasi. Protokol kesehatan wajib dipatuhi. Selain untuk untuk kembali menggerakkan roda ekonomi, juga agar semua bisa lebih terlindungi. Mbah Darmi atau Sudarmi menjajakan gudeg dengan menggunakan alat pelindung diri (APD) berupa masker dan face shield (dok. pri). Salah satunya seperti yang dilakukan oleh Sudarmi atau Mbah Darmi. Sebagaimana kebanyakan orang, nenek 63 tahun ini tak pernah menyangka akan menemui masa pandemi hebat dalam hidupnya. Puluhan tahun menjajakan gudeg Mbah Darmi sudah menyaksikan banyak perubahan. Akan tetapi baru kali ini ia merasakan perubahan yang begitu besar dan cepat. Pada awal Korona mewabah di Indonesia Mbah Darmi terpaksa berhenti berjualan selama hampir 2 pekan akibat sepinya pembeli. Setelah itu ia kembali menjajakan gudeh di Jalan Urip Sumaharjo, Kota Yogyakarta, tepat di sisi timur Hotel Tickle atau di sisi utara auditorium Lemb