Langsung ke konten utama

Cerita soulmateKAHITNA 8 : "Jangan Begitu Dong Risma..."


Entah kapan terakhir kali saya menulis status di facebook, rasanya sudah lama sekali. Entah kapan juga saya terakhir kali mengomentari status teman dan post di dinding facebook. Dan malam ini, saat kalimat pertama ini dituliskan, saya baru saja membuka kembali halaman facebook dan akhirnya meninggalkan jejak.

Membaca status seorang teman, tentu masih sebatas teman di facebook karena kami belum pernah saling jumpa, saya akhirnya memberikan tanggapan karena merasa tertarik dengan isi dan pesan dalam statusnya.


Tulisan pada gambar di atas, jika kurang jelas, berikut salinannya : “mau berusaha untuk gak akan terlalu bereforia bnget lagi ke YN KAHITNA,,udah cukup selama 5 tahun aku selalu dukung dan nnton mereka,,,tpi ternyata slalu dibalas dengan perlakuan para pengawal2 yang gak brshabt mentang2 aku bukan fans terdekat..ayo risma pasti kamu bisa berubah,,,”

Bagi saya jika Risma akhirnya memutuskan untuk memenggal sebagian cintanya pada idolanya yakni Yovie & NUno dan KAHITNA, tentu sangat disayangkan. Namun juga hak seseorang untuk menentukan sendiri berapa porsi kekaguman yang ingin dia berikan kepada idolanya.

Jika membaca status tersebut, hal yang membuat Risma kehilangan feeling kepada idolanya adalah perihal kesempatan untuk bisa lebih dekat dengan idolanya karena hadirnya pengawal. Jika boleh menebak mungkin hal spesifik yang dimaksud adalah kesempatan berfoto, bersalaman atau berbincang barang sejenak dengan idolanya.

Kehadiran pengawal di sisi public figur dalam hal ini YN dan KAHITNA seusai pertunjukkan adalah hal yang wajar karena biasanya menjadi satu paket dengan pengamanan pertunjukkan yang disediakan penyelenggara, bukan selalu artisnya yang menghendaki pengawal. Khusus untuk KAHITNA dan YN, mendengar cerita dan kisah banyak teman, mereka mungkin bukan tipe pesohor yang menjaga jarak terlampau jauh dengan penggemarnya.

Tapi saya pun mengerti suasana kebatinan Risma. Ketika tahu banyak penggemar YN dan KAHITNA yang bisa cukup dekat dengan sang idola, seorang fans tentu ingin mendapati kesempatan yang serupa. Dan Risma yang sudah 5 tahun menjadi fans pasti dan wajar menginginkannya. Namun kenyataan yang ia alami rupanya langsung menimbulkan stereotype bahwa ada dua jenis penggemar yakni “penggemar dekat” dan “penggemar biasa”. Setidaknya klasifikasi tersebut tersurat dalam status Risma.

Ada tidaknya klasifikasi penggemar dekat dan penggemar biasa mungkin benar, tapi mungkin juga tidak. Jika ukurannya kesempatan untuk bisa dekat dan berfoto hingga berbincang akrab dengan idola mungkin klasifikasi itu memang ada. Tapi juga bukan sesuatu yang tegas ada.
Yang menjadi sedikit masalah adalah ketika seseorang memilih idola karna sosok fisiknya atau personality yang menonjol dari idolanya tersebut. Dalam hal ini wajar jika Risma mengidolakan KAHITNA dan YN karena sosok-sosok ganteng di dalamnya. Tentu hal itu sah-sah saja, nyatanya KAHITNA dan YN selain memiliki lagu-lagu yang manis, juga memiliki personel yang ganteng di mata kaum wanita seperti Risma. Tapi seperti yang lumrah terjadi, ketika seorang penggemar sangat mengidolakan kelompok musik dengan obsesi utama pada personelnya, memang biasanya rasa kecewa mudah muncul ketika kesempatan meraih tangan sang idola pupus meski wajah mereka sudah saling tatap berhadapan.

Hilangnya feeling Risma pada idola karena faktor dan alasan tersebut banyak terjadi dan wajar-wajar saja. Tentu jika hal itu memang benar yang membuat Risma kecewa, karena saya pun tidak tahu alasan pastinya. Bagaimanapun berfoto bersama idola atau berbincang kata dengan mereka adalah hal yang membanggakan bagi seorang penggemar. Beda dengan beberapa orang seperti saya misalnya. Menjadi penggemar KAHITNA yang membuat saya tertarik pertama kali adalah karya-karya mereka. Baru setelah mengenal lagu-lagunya, saya mulai tahu nama-nama personelnya. Pertama kali melihat KAHITNA menyanyikan Tak Mampu Mendua, saya bahkan perlu bertanya kepada mba untuk memastikan nama grup yang sedang bernyanyi, heheh.

Dan meski sangat suka memotret, pada dasarnya saya bukan orang yang suka dipotret. Dalam hardisk laptop pribadi, hanya ada 2 foto saya dari setiap 1000 foto yang saya ambil. Berapa kali saya berfoto dengan KAHITNA ?. Sekali, dengan kang Hedi di Malang, hanya satu foto, itupun setelah kang Hedi bertanya : “mau foto ?”. Kalau tidak ditanya saya sebenarnya hanya ingin menyapa atau berbicang pendek dan mengucapkan selamat atas penampilan keren KAHITNA di panggung, hehe. Bahkan ketika dipanggil oleh bassis KAHITNA waktu itu untuk naik berfoto bersama KAHITNA saya pun urung, cukup berbincang saja dan selebihnya saya adalah seorang yang pemalu, malu untuk dipotret ^^. Tapi jika akhirnya ada kesempatan berfoto atau berbincang dengan idola tentu saya juga merasa beruntung, toh saya juga bukan penggemar yang rajin-rajin amat hadir di pertunjukkan mereka, hehehe.

Yang penting setiap penggemar memiliki cara sendiri untuk mengagumi idolanya. Dan obsesi berfoto atau bertemu seperti yang Risma pendam selama ini adalah salah satunya. Meski mungkin ada yang terlupakan oleh Risma, bahwa mau tak mau, suka tak suka, selalu ada batas yang ditimbulkan dari setiap kondisi atau status. Kondisi dan status penggemar dan idola pasti selalu menghadirkan jarak. Seberapa tegas jarak itu, seberapa jauh atau dekat jarak tersebut, setiap penggemar bisa memiliki pandangannya sendiri.

Tapi Risma pun mungkin mengerti akan hal itu. Setidaknya penggalan akhir statusnya mengamini : "ayo risma kamu pasti bisa berubah". Setidaknya segala sesuatu yang berlebihan memang kurang baik, dan sering menjadi awal kekecewaan jika akhirnya kenyataan yang hadir tak seindah khayalan yang diukir.

Untuk Risma : “Jangan begitu dong, Risma...semua hanyalah masalah waktu dan kesempatan..percaya deh..setidaknya KAHITNA dan YN menjadi besar karena ada penggemar-penggemar seperti Risma”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pacar yang Baik Bernama "Patjar Merah"

“Jokowi itu China, nama aslinya Wie Jo Koh. Dia juga kafir, waktu lahir nama Kristen-nya Herberthus”
Narasi tersebut barangkali masuk dalam jajaran hoaks paling keren abad ini. Dalam kitab besar “hoaks-mania", narasi itu mungkin dijumpai di kategori “paket hoaks premium” karena sasarannya tokoh besar dan terbukti memiliki dampak yang luas serta dahsyat. Banyak orang mempercayainya sampai ke dalam lubuk hati. Meski kemudian terbukti kebohongannya, tapi tetap diyakini: pokoknya Jokowi itu China kafir! Begitulah, hari demi hari kita semakin sering menjumpai aneka rupa orang dengan tampang yang mengesankan malasnya mereka membaca. Kepada dunia mereka konsisten memamerkan kebodohan.
Perlu digarisbawahi bahwa kebodohan diam-diam menular seperti virus yang bisa menjangkiti tubuh manusia. Abang ojek, penjual sayur, buruh pabrik, hingga orang-orang sebenarnya berilmu seperti mahasiswa, aktivis pemuda, guru, dokter, doktor, artis, bekas artis, dan ustad bisa dijangkiti kebodohan. Pendek kata …

Wajah Pangeran Diponegoro Mirip Jokowi

Untuk kali pertama, Babad Diponegoro yang telah ditetapkan sebagai Warisan Ingatan Dunia oleh UNESCO “dialihwahanakan” dalam bentuk visual. Sebanyak 51 lukisan dibuat secara khusus dengan mengacu pada pupuh-pupuh yang termuat dalam naskah Babad Diponegoro. Pemilihan kisah yang diangkat melibatkan para akademisi dan sejarawan. Sementara para pelukisnya merupakan seniman pilihan yang juga melakukan riset dan mengumpulkan informasi.

Hasilnya tercipta visual-visual indah sekaligus mengejutkan yang secara naratif menceritakan riwayat hidup Pangeran Diponegoro sejak kelahirannya. Semua lukisan itu bisa disimak dalam Pameran Sastra Rupa “Gambar Babad Diponegoro” yang berlangsung di Jogja Gallery, 1-24 Februari 2019.
Di antara semua lukisan yang dipamerkan, ada lukisan yang memiliki daya pikat khusus sehingga segera menarik perhatian manakala pertama kali manatapnya. Lukisan itu berjudul “Abdulrohim Jokowibowo Namaku”. 
Sigit Santoso membuatnya dengan cat minyak di atas kanvas berukuran 115x185 …

Selamat Tinggal TCASH, Selamat Datang LinkAja!

Sebuah sms saya terima pada 30 Januari 2019. Pengirimnya Bank Mandiri. Isinya pemberitahuan tentang platform digital baru bernama LinkAja! dengan menyinggung “masa depan” Mandiri e-cash, dompet uang elektronik yang selama ini saya miliki.

“Pengguna ecash yth, Mulai 01Mar2019 saldo mandiri e-cash Anda akan dipindahkan ke LinkAja. Nantikan LinkAja di Playstore&Appstore mulai 21Feb2019”.
Pemberitahuan itu lumayan mengagetkan. Saya pun segera mencari tahu kepastiannya kepada @Mandiricare lewat twitter dan dikonfirmasi bahwa benar adanya Mandiri E-cash akan berubah menjadi LinkAja. Selanjutnya saldo E-cash akan dipindahkan ke LinkAja.
Beberapa hari kemudian giliran sms dari TCash saya terima. Isinya kurang lebih sama soal peluncuran LinkAja pada 21 Februari 2019 sebagai pengganti aplikasi TCash Wallet yang akan segera dimatikan. Sama seperti saldo Ecash, saldo TCash pun akan dikonversi menjadi saldo LinkAja.
Belakangan pada 20 Februari 2019 sms pemberitahuan datang lagi baik dari Bank Mand…