Langsung ke konten utama

Innalillahi, PKS !


Adakah yang mengerti mengapa bangsa ini jadi begini ?.
Saya tak tahu pasti kapan negeri ini berubah jadi seperti ini.

Dulu, waktu masih memakai seragam merah putih, bapak dan ibu guru selalu membuat muridnya tersenyum mendengar cerita mereka. Cerita tentang Indonesia, tentang manusianya yang ramah, alamnya yang indah.

Dulu, saat masih berpakaian putih biru, setiap karangan yang ditulis bercerita tentang Indonesia yang berbudaya, tentang pemimpin dan pahlawannya yang mulia.

Lalu, ketika berpakaian putih abu, tangan-tangan mulai gagap menulis tentang Indonesia.Tentang persaudaraan yang indah tapi diam-diam ada banyak pertumpahan darah. Tentang manusianya yang ramah tapi diam-diam banyak yang serakah. 

Lalu, tangan-tangan mulai bingung menulis indah, karena kenyataannya pemimpin-pemimpin di sini berkelakuan parah.

Di Indonesia, ada pemimpin merasa prihatin dengan narkoba tapi sedetik kemudian menghadiahi grasi kepada juragan narkotika.

Di Indonesia, ada putri yang dipenjara tanpa merasa berdosa.

Di Indonesia, ada klub pengacara yang berkumpul setiap minggu dan berbicara menghabisi korupsi, tapi di belakang mereka berebutan mendekati penjahat berdasi.

Di Indonesia, rakyatnya memiliki wakil yang tetap percaya diri tersenyum dan melambaikan tangan di depan kamera saat akan dibawa ke penjara.

Di Indonesia, ada orang yang digelari nama terhormat menonton video porno saat sidang membahas nasib rakyat.

Di Indonesia, seorang hakim melempar canda tentang wanita yang diperkosa.

Di Indonesia, ada pemimpin yang mengangkat dirinya sebagai jenderal terdepan melawan korupsi tapi memilih pasukan yang menyimpan cita-cita korupsi.

Di Indonesia juga, ada segerombolan wakil rakyat yang merasa pintar padahal masih kalah cerdas dari anak sekolah dasar. Pandai bicara, tapi tak bermakna. Rajin berteriak tapi didengarkan justru membuat muak.

Dulu, tangan-tangan anak Indonesia begitu lancar menuliskan karangan indah tentang pahlawan negerinya yang membanggakan. Hari-hari mereka diisi dengan cerita-cerita yang memunculkan senyum dan harapan.

Kini apa yang akan anak-anak Indonesia tuliskan di tugas mengarang mereka ?. Semoga bukan tentang Bupati yang tak tahu diri. Bukan tentang kebaikan Presiden yang penuh cinta kasih memberi grasi pemilik ekstasi.

Kini, apa yang akan anak-anak Indonesia semai di benak mereka ?. Semoga bukan tentang cita-cita menjadi menteri agar kaya diri atau menghuni parlemen agar bisa naik mobil keren. Dan semoga bukan tentang partai suci berjubah putih, tapi kelakuan Presiden nya membuat rakyat teramat sedih.

Tadi pagi seorang menyampaikan isi hati lewat RRI. Isi hatinya tentang penangkapan tersangka suap impor sapi yang seorang Presiden. Presiden dari partai yang kini namanya semakin berubah rancu. Komentarnya pendek, tapi bagi yang mendengarnya pasti akan membaca sebuah kesedihan sekaligus kegeraman di sana. Singkat ia hanya berkata : “Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rajiun”.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MILO CUBE, Cukup Dibeli Sekali Kemudian Lupakan

Alkisah, gara-gara “salah pergaulan" saya dibuat penasaran dengan Milo Cube. Akhirnya saya ikutan-ikutan membeli Milo bentuk kekinian tersebut.   Milo Cube (dok. pri). Oleh karena agak sulit menemukannya di swalayan dan supermarket, saya memesannya melalui sebuah marketplace online . Di berbagai toko online Milo Cube dijual dengan harga bervariasi untuk varian isi 50 cube dan 100 cube. Varian yang berisi 100 cube yang saya beli rentang harganya Rp65.000-85.000.   Pada hari ketiga setelah memesan, Milo Cube akhirnya tiba di tangan saya. Saat membuka bungkusnya saya langsung berjumpa dengan 100 kotak mungil dengan bungkus kertas hijau bertuliskan “MILO” dan “ENERGY CUBE”. Ukurannya benar-benar kecil. Satu cube beratnya hanya 2,75 gram, sehingga totalnya 275 gram.   Milo Cube yang sedang digandrungi saat ini (dok. pri). "Milo Kotak", begitu kira-kira terjemahan bebas Milo Cube (dok. pri). Tiba saatnya unboxing . Milo Cube ini berupa bubu

Purbalingga Food Center: Becek, Lembap dan Kurang Rapi

Awal Januari 2020 ada sebuah tempat baru yang diluncurkan di Purbalingga, Jawa Tengah. Namanya Purbalingga Food Center . Purbalingga Food Center (dok. pri). Saya tahu pertama kali dari berita daring yang mengabarkan pemindahan ratusan pedagang kaki lima ke "Purbalingga Food Center" pada 6 Januari 2020. Saat itu diadakan karnaval yang menjadi simbolisasi pemindahan sekitar 360 PKL penghuni Alun-alun Purbalingga, area GOR/Stadion Goentoer Darjono, trotoar Jalan Piere Tendean dan sekitarnya untuk selanjutnya disatukan di Purbalingga Food Center.   Lokasi Purbalingga Food Center ada di selatan GOR Goentoer atau tepat bersisian dengan jalan lingkar selatan GOR Goentoer. Jaraknya dari Alun-alun Purbalingga tak sampai 2 km. Pada 11 dan 12 Januari 2020 saat berada di Purbalingga, saya sempatkan untuk melihat tempat ini. Saya datang pada pagi hari meski layaknya pusat jajanan kaki lima, tempat ini pun perlu dicoba untuk dikunjungi pada malam hari.   Ar

"Bad Content is a Good AdSense", Jahatnya Para Pemburu Untung di Tengah Pandemi

Selama ini kita mengenal “hukum media” yang berbunyi “Bad News is a Good News”. Itu semacam sindiran atau ungkapan ironi tentang pola pemberitaan media masa kini yang kerap berlebihan dalam menyampaikan informasi dan berita seputar bencana. Youtube (dok. pri). Kita tahu bencana adalah kejadian buruk yang mestinya direspon dengan bersimpati, berempati, atau kalau perlu menyampaikan solusi dan bantuan yang nyata meringankan. Namun, bagi media kejadian bencana seolah menjadi kesempatan emas. Alasannya karena masyarakat kita suka dengan informasi seputar bencana. Maka setiap ada bencana atau peristiwa yang memilukan, kisah-kisahnya selalu menyedot perhatian masyarakat secara luas. Media lalu memberitakannya dengan porsi yang besar. Informasi diobral, termasuk informasi-informasi yang tak jelas ikut dilempar ke publik dengan label berita. Segala aspek dikulik dengan dalih “sudut pandang media”. Padahal hal-hal tersebut mungkin tak pantas diberitakan. Semakin parah komentator “palugada” jadi