Langsung ke konten utama

Merindukan Dini, Mira dan Marga

Baru beberapa saat lalu saya menutup sebuah buku dan melemparnya pelan ke atas tempat tidur, agak kecewa dengan isinya yang tak semegah sampulnya.

Sebenarnya tak ada yang sia-sia dari membaca sebuah buku. Apapun bentuk dan jenis tulisan itu pasti akan meninggalkan jejak manfaat atau minimal kesan sesaat. Membaca buku juga terkait selera. Ada yang gemar dengan cerita non fiksi seperti biografi, tulisan sejarah atau dokumentasi bergambar. Ada juga yang lebih menyukai membaca fiksi. Tapi ada pula yang tidak memiliki selera pasti yang tertentu terhadap jenis buku dan tema bacaan.
 
Tapi terkait cerita fiksi, saya baru sadar ternyata separuh lebih koleksi novel dan cerpen yang ada di kamar adalah karya milik Mira W, Marga T dan Nh. Dini. Ada banyak karya mereka mengisi koleksi pribadi. Beberapa di antaranya telah saya baca lebih dari sekali tanpa bosan. Maka ketika membaca beberapa karya milik beberapa penulis fiksi saat ini, akhirnya membuat saya tertarik membandingkan karya-karya itu.

Kontras dengan karya-karya Mira W, Marga atau Nh. Dini yang begitu abadi dan membekas di hati, karya-karya novel dan cerpen yang lahir di era kini rasanya lebih berumur pendek.

Karya-karya fiksi era kini lebih cepat membosankan. Padahal karya-karya itu cepat populer.  Boleh jadi karena karya tersebut terlalu cepat populer, maka yang terjadi sebaliknya tulisan-tulisan itu juga mudah dilupakan. Meski menulis bukan pekerjaan instan tapi pengaruh teknologi dan media sosial saat ini menyebabkan proses kreativitas berlangsung lebih cepat dan instan. Inilah yang mungkin membuat beberapa karya fiksi era kini cenderung dangkal. 

Mengapa bisa demikian ?. Jawabnya ada di sini




Komentar

Postingan populer dari blog ini

MILO CUBE, Cukup Dibeli Sekali Kemudian Lupakan

Alkisah, gara-gara “salah pergaulan" saya dibuat penasaran dengan Milo Cube. Akhirnya saya ikutan-ikutan membeli Milo bentuk kekinian tersebut.   Milo Cube (dok. pri). Oleh karena agak sulit menemukannya di swalayan dan supermarket, saya memesannya melalui sebuah marketplace online . Di berbagai toko online Milo Cube dijual dengan harga bervariasi untuk varian isi 50 cube dan 100 cube. Varian yang berisi 100 cube yang saya beli rentang harganya Rp65.000-85.000.   Pada hari ketiga setelah memesan, Milo Cube akhirnya tiba di tangan saya. Saat membuka bungkusnya saya langsung berjumpa dengan 100 kotak mungil dengan bungkus kertas hijau bertuliskan “MILO” dan “ENERGY CUBE”. Ukurannya benar-benar kecil. Satu cube beratnya hanya 2,75 gram, sehingga totalnya 275 gram.   Milo Cube yang sedang digandrungi saat ini (dok. pri). "Milo Kotak", begitu kira-kira terjemahan bebas Milo Cube (dok. pri). Tiba saatnya unboxing . Milo Cube ini berupa bubu

Purbalingga Food Center: Becek, Lembap dan Kurang Rapi

Awal Januari 2020 ada sebuah tempat baru yang diluncurkan di Purbalingga, Jawa Tengah. Namanya Purbalingga Food Center . Purbalingga Food Center (dok. pri). Saya tahu pertama kali dari berita daring yang mengabarkan pemindahan ratusan pedagang kaki lima ke "Purbalingga Food Center" pada 6 Januari 2020. Saat itu diadakan karnaval yang menjadi simbolisasi pemindahan sekitar 360 PKL penghuni Alun-alun Purbalingga, area GOR/Stadion Goentoer Darjono, trotoar Jalan Piere Tendean dan sekitarnya untuk selanjutnya disatukan di Purbalingga Food Center.   Lokasi Purbalingga Food Center ada di selatan GOR Goentoer atau tepat bersisian dengan jalan lingkar selatan GOR Goentoer. Jaraknya dari Alun-alun Purbalingga tak sampai 2 km. Pada 11 dan 12 Januari 2020 saat berada di Purbalingga, saya sempatkan untuk melihat tempat ini. Saya datang pada pagi hari meski layaknya pusat jajanan kaki lima, tempat ini pun perlu dicoba untuk dikunjungi pada malam hari.   Ar

Ancaman Bahaya "Direct Debit" LinkAja dan KAI Access

KAI Access menerapkan “direct debit” menggunakan LinkAja untuk pembayaran tiket kereta api. Pembayaran bisa langsung dilakukan tanpa perlu memasukkan PIN LinkAja. Dianggap praktis, fitur ini justru meningkatkan risiko dan ancaman bahaya bagi penggunanya. Saya mengalaminya sendiri beberapa hari lalu. (dok. pri). Suasana rileks yang sedang saya nikmati pada Minggu (1/9/2019) siang lenyap seketika. Mood yang saya bangun selagi membaca buku tiba-tiba dirusak oleh sebuah pemberitahuan/info dari LinkAja di layar smartphone . Isinya kurang lebih begini:   “Anda sudah bertransaksi sejumlah Rp180.000 ke KAI Lokal….”. Dalam rasa terkejut saya segera memeriksa aplikasi LinkAja dan menemukan riwayat pembayaran yang dimaksud. Masalahnya saya tidak memesan tiket KAI tersebut. Saya lalu beralih memeriksa arsip tiket pada akun saya di aplikasi KAI Access. Ternyata tidak ditemukan daftar tiket yang dimaksud. Oleh karena itu, siapa yang memesan tiket KAI dengan menggu