Langsung ke konten utama

27 Tahun KAHITNA: Cinta yang Tak Pernah Kehilangan Rasa




“di balik lirik lagu yang disuka, tersirat curahan hati dan rasa, entah bahagia maupun luka”. 

Ungkapan itu sangat sepadan dengan lagu-lagu KAHITNA. Tak perlu susah berkeluh kesan tentang cinta segitiga yang berakhir parah, orang suka meminjam lagu “Aku Dirimu Dirinya”. Daripada menceritakan luka lama karena harapan palsu, orang akan katakan “Cinta Sendiri”. Sementara jika  jatuh cinta salah waktu ada lagu  “Tentang Diriku” atau cinta yang takkan satu ada lagu berjudul “Soulmate”. Bagi yang sedang bimbang menjalani cinta beda agama lagu  “Nggak Ngerti” yang mewakilinya. Dan bagi yang sedang susah move on lagu “Mantan Terindah” adalah soundtracknya.

Namun KAHITNA bukan hanya tentang cinta yang menyedihkan. KAHITNA juga tentang kisah cinta yang membahagikan. Tak Sebebas Merpati, Cerita Cinta, Cantik atau Menikahimu sangat pas untuk menggambarkan indahnya cinta.

Tapi tak sedikit pula yang melabeli KAHITNA sebagai band cengeng dengan syair yang hiperbolis. Namun sebenarnya KAHITNA tak memerlukan kalimat hiperbolis untuk menyampaikan setiap makna cinta di lagu-lagu mereka. Jika pun ada lagu-lagu yang bermakna hiperbolis, boleh jadi memang demikian efek yang ditimbulkan ketika syair-syair itu dengan sangat pas dan manis dilagukan oleh KAHITNA.

Grup musik ini bukanlah penembang puisi, tapi efek dari setiap lagu mereka memang sangat puitis. Diksi mereka tak selalu manis, namun efeknya sangat romantis dan langsung mengena pada kesempatan pertama telinga mendengarnya.

Di luar itu semua, membaca kalimat-kalimat dalam lagu-lagunya, KAHITNA memang terlalu jujur dalam menyampaikan kisah cinta. Tidak hiperbolis melainkan realistis. Realistis bahwa cinta kadang tak selalu milik dua orang. Dalam cinta ada aku, dirimu tapi seringkali juga ada dirinya. Realistis bahwa cinta kadang harus memilih. Cinta yang dirasakan sudah jadi namun kadang hanyalah hampir jadi. Kalau sudah begini cinta hanya akan berujung dengan ucapan “mau dikatakan apalagi...”.

Lagu-lagu mereka kadang memang terdengar hiperbolis. Syairnya pun terdengar sangat romantis dan puitis. Tapi bagi saya KAHITNA tidak sedang melakukan itu semua. Mereka hanya sedang melagukan cinta dengan realistis. Bahkan tanpa sisipan puisi sekalipun, musik KAHITNA dan liriknya selalu mudah mengundang senyum banyak orang, entah senyum yang memancarkan bahagia maupun yang menyembunyikan luka. Itu semua adalah ringkasan cinta.

Hari ini saya mencoba mendengarkan lagi seluruh lagu-lagu KAHITNA mulai dari era Cerita Cinta hingga Mantan Terindah. Mulai dari lagu-lagu mereka yang bernuansa jazz hingga ketika mereka bertransformasi menjadi band pop. Mencoba menentukan satu lagu yang paling romantis, mencoba menemukan yang paling hiperbolis dengan kalimat paling puitis, tapi akhirnya gagal. Saya tak menemukannya. Saya hanya menemukan satu hal dari lagu-lagu itu, yakni cinta.


Seperti halnya Cerita Cinta yang tak pernah kehilangan rasa, itulah KAHITNA.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Poto Batu, "Vitamin Sea" di Pesisir Sumbawa Barat

“Lihat ke kiri!”. Suara Pak Arie membangunkan kembali kesadaran kami yang kebanyakan sudah hampir tertidur di dalam bis. Siang itu kami sedang dalam perjalanan dari Jereweh ke Kertasari, keduanya di Kabupaten Sumbawa Barat. 

Ucapan Pak Arie pun dituruti oleh beberapa di antara kami yang segera mengarahkan pandangan menembus kaca jendela bis. Entah siapa yang memulai meminta bis untuk berhenti, tapi sekejap kemudian kami semua sudah turun dan mendapati diri berada di sebuah pantai yang indah. Poto Batu namanya.
Pantai Poto Batu berada tak jauh dari Labuhan Lalar di Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Perjalanan dari Jereweh menuju Poto Batu kami tempuh melalui jalanan beraspal yang tidak terlalu ramai. Agak mengherankan karena jalan tersebut adalah akses penghubung antara ibu kota Sumbawa Barat, Taliwang, dengan sejumlah daerah di sekitarnya.
Mendekati Poto Batu beberapa ruas jalan menyempit dan aspalnya kurang rata. Oleh karenanya kendaraan perlu berjalan lebih pelan. Apalagi, …

Pacar yang Baik Bernama "Patjar Merah"

“Jokowi itu China, nama aslinya Wie Jo Koh. Dia juga kafir, waktu lahir nama Kristen-nya Herberthus”
Narasi tersebut barangkali masuk dalam jajaran hoaks paling keren abad ini. Dalam kitab besar “hoaks-mania", narasi itu mungkin dijumpai di kategori “paket hoaks premium” karena sasarannya tokoh besar dan terbukti memiliki dampak yang luas serta dahsyat. Banyak orang mempercayainya sampai ke dalam lubuk hati. Meski kemudian terbukti kebohongannya, tapi tetap diyakini: pokoknya Jokowi itu China kafir! Begitulah, hari demi hari kita semakin sering menjumpai aneka rupa orang dengan tampang yang mengesankan malasnya mereka membaca. Kepada dunia mereka konsisten memamerkan kebodohan.
Perlu digarisbawahi bahwa kebodohan diam-diam menular seperti virus yang bisa menjangkiti tubuh manusia. Abang ojek, penjual sayur, buruh pabrik, hingga orang-orang sebenarnya berilmu seperti mahasiswa, aktivis pemuda, guru, dokter, doktor, artis, bekas artis, dan ustad bisa dijangkiti kebodohan. Pendek kata …

MILO CUBE, Cukup Dibeli Sekali Kemudian Lupakan

Alkisah, gara-gara “salah pergaulan" saya dibuat penasaran dengan Milo Cube. Akhirnya saya ikutan-ikutan membeli Milo bentuk kekinian tersebut.
Oleh karena agak sulit menemukannya di swalayan dan supermarket, saya memesannya melalui sebuah marketplace online. Di berbagai toko online Milo Cube dijual dengan harga bervariasi untuk varian isi 50 cube dan 100 cube. Varian yang berisi 100 cube yang saya beli rentang harganya Rp65.000-85.000.
Pada hari ketiga setelah memesan, Milo Cube akhirnya tiba di tangan saya. Saat membuka bungkusnya saya langsung berjumpa dengan 100 kotak mungil dengan bungkus kertas hijau bertuliskan “MILO” dan “ENERGY CUBE”. Ukurannya benar-benar kecil. Satu cube beratnya hanya 2,75 gram, sehingga totalnya 275 gram.
Tiba saatnya unboxing. Milo Cube ini berupa bubuk coklat yang dipadatkan sehingga menyerupai permen hisap. Tapi sebenarnya tak bisa disebut permen karena meski dipadatkan, agregat bubuk Milo ini mudah hancur saat terjatuh.
Dalam benak dan angan saya ter…