Langsung ke konten utama

Mendoan Termahal di Dunia


Mendoan termahal sedunia di Food Park UGM.

Kisah bermula ketika saya ingin memesan puding orange yang ternyata sedang tak tersedia. Akhirnya semangkuk "Seasonal Green Tea" yang harganya dua kali lipat dari harga sup buah biasa menjadi pilihan. Padahal Seasonal Green Tea ini pun tak yang istimewa. Irisan buahnya bahkan jauh lebih sedikit. Hanya kebetulan disiram dengan green tea yang ringan dan dijual di Food Park UGM yang membuatnya terkesan ekslusif. 
Seasonal Green Tea
 
Foodpark UGM.
Mendoan termahal sedunia.

 

Tuntas dengan sup buah mahal itu, saya lalu memesan sepiring Mendoan biasa. Harganya pun luar biasa yakni Rp. 10.xxx untuk ukuran terkecil dan yang paling sederhana. Sepiring mendoan ini hanya ada satu Mendoan berukuran agak lebar. Dilengkapi dengan sambal kecap dan beberapa potongan timun dan tomat. Seperti biasa, tempe selalu enak buat saya. Tapi Mendoan ini digoreng terlalu kering dan tentu saja harganya yang tak biasa. Ini Mendoan termahal yang pernah saya makan.


Sebut saja es buah biasa.

Komentar

  1. Itu menjawab kenapa tempat ini relatif sepi pengunjung...

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha iya, 2 jam di sini hanya 2 meja yang berpenghuni. Satu oleh saya, satu lagi oleh sepasang bule. Merekapun sudah ada sejak saya baru datang..es jeruk tanpa es di sini harganya Rp. 7.000 hehe

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

MILO CUBE, Cukup Dibeli Sekali Kemudian Lupakan

Alkisah, gara-gara “salah pergaulan" saya dibuat penasaran dengan Milo Cube. Akhirnya saya ikutan-ikutan membeli Milo bentuk kekinian tersebut.   Milo Cube (dok. pri). Oleh karena agak sulit menemukannya di swalayan dan supermarket, saya memesannya melalui sebuah marketplace online . Di berbagai toko online Milo Cube dijual dengan harga bervariasi untuk varian isi 50 cube dan 100 cube. Varian yang berisi 100 cube yang saya beli rentang harganya Rp65.000-85.000.   Pada hari ketiga setelah memesan, Milo Cube akhirnya tiba di tangan saya. Saat membuka bungkusnya saya langsung berjumpa dengan 100 kotak mungil dengan bungkus kertas hijau bertuliskan “MILO” dan “ENERGY CUBE”. Ukurannya benar-benar kecil. Satu cube beratnya hanya 2,75 gram, sehingga totalnya 275 gram.   Milo Cube yang sedang digandrungi saat ini (dok. pri). "Milo Kotak", begitu kira-kira terjemahan bebas Milo Cube (dok. pri). Tiba saatnya unboxing . Milo Cube ini berupa bubu

Purbalingga Food Center: Becek, Lembap dan Kurang Rapi

Awal Januari 2020 ada sebuah tempat baru yang diluncurkan di Purbalingga, Jawa Tengah. Namanya Purbalingga Food Center . Purbalingga Food Center (dok. pri). Saya tahu pertama kali dari berita daring yang mengabarkan pemindahan ratusan pedagang kaki lima ke "Purbalingga Food Center" pada 6 Januari 2020. Saat itu diadakan karnaval yang menjadi simbolisasi pemindahan sekitar 360 PKL penghuni Alun-alun Purbalingga, area GOR/Stadion Goentoer Darjono, trotoar Jalan Piere Tendean dan sekitarnya untuk selanjutnya disatukan di Purbalingga Food Center.   Lokasi Purbalingga Food Center ada di selatan GOR Goentoer atau tepat bersisian dengan jalan lingkar selatan GOR Goentoer. Jaraknya dari Alun-alun Purbalingga tak sampai 2 km. Pada 11 dan 12 Januari 2020 saat berada di Purbalingga, saya sempatkan untuk melihat tempat ini. Saya datang pada pagi hari meski layaknya pusat jajanan kaki lima, tempat ini pun perlu dicoba untuk dikunjungi pada malam hari.   Ar

"Bad Content is a Good AdSense", Jahatnya Para Pemburu Untung di Tengah Pandemi

Selama ini kita mengenal “hukum media” yang berbunyi “Bad News is a Good News”. Itu semacam sindiran atau ungkapan ironi tentang pola pemberitaan media masa kini yang kerap berlebihan dalam menyampaikan informasi dan berita seputar bencana. Youtube (dok. pri). Kita tahu bencana adalah kejadian buruk yang mestinya direspon dengan bersimpati, berempati, atau kalau perlu menyampaikan solusi dan bantuan yang nyata meringankan. Namun, bagi media kejadian bencana seolah menjadi kesempatan emas. Alasannya karena masyarakat kita suka dengan informasi seputar bencana. Maka setiap ada bencana atau peristiwa yang memilukan, kisah-kisahnya selalu menyedot perhatian masyarakat secara luas. Media lalu memberitakannya dengan porsi yang besar. Informasi diobral, termasuk informasi-informasi yang tak jelas ikut dilempar ke publik dengan label berita. Segala aspek dikulik dengan dalih “sudut pandang media”. Padahal hal-hal tersebut mungkin tak pantas diberitakan. Semakin parah komentator “palugada” jadi