Langsung ke konten utama

Mempertahankan Detak Jantung Alam di Batu Hijau

 
Kolam di kebun bibit Comdev Newmont (dok. Hendra Wardhana).
Dunia tambang selalu membuka ruang perdebatan. Rentetan pertanyaan silih berganti tak pernah usai meski jawaban telah dihadirkan. Apalagi, jika masalah yang diangkat seputar dampak terhadap alam atau lingkungan. Pembersihan lahan, pembukaan hutan, peledakan bukit, hilangnya flora dan satwa khas, pencemaran tanah hingga guyuran limbah ke perairan, semuanya meninggalkan luka di jantung alam.
  
Apa yang PT. Newmont Nusa Tenggara (PTNNT) lakukan untuk menambang bijih tembaga dari dalam bumi Sumbawa Barat di Batu Hijau mungkin sama dengan kegiatan pertambangan serupa di tempat lain. PTNNT juga melakukan pembukaan lahan hingga menghasilkan limbah/tailing dalam jumlah besar. Namun, ada komitmen untuk bertindak etis pada lingkungan yang menjadi rambu-rambu dan mengarahkan kegiatan pertambangan PTNNT.
 
Lubang tambang Newmont di Batu Hijau.
Upaya mengurangi gangguan dan kerugian lingkungan direncanakan sejak sebelum kegiatan pertambangan dilakukan. Hal itu diikuti dengan upaya penanganan dan pengendalian dampak secara konsisten selama proses produksi berlangsung. Kawasan hijau yang mengelilingi tambang Batu Hijau menjadi bukti umumnya. 

PTNNT melakukan reklamasi sesegera mungkin di area yang sudah selesai ditambang. Penghijauan di area bekas tambang dilakukan beriringan dengan penambangan di area berikutnya. Sejak 2000 sekitar 800 hektar lahan berhasil direklamasi. Seluas 40 hektar di antaranya telah diserahterimakan kembali kepada pemerintah. Tanah yang digunakan untuk penutupan area reklamasi berasal dari top soil yang diselamatkan terlebih dahulu saat pembukaan lahan. Dalam melakukan reklamasi komposisi tumbuhan berusaha dipertahankan seperti keadaan semula. Oleh karena itu PTNNT mengembangkan nursery sendiri sebagai sumber kebutuhan bibit. 


Bibit yang akan digunakan untuk penghijauan di area pertambangan Newmont (dok. Hendra Wardhana).
Selain reklamasi di area pertambangan, penghijauan dilakukan di beberapa lokasi, seperti sekolah, kantor pemerintah desa, pesisir pantai, hingga tepi jalan yang tidak memiliki banyak pohon. Di sekolah gerakan menanam memiliki tujuan khusus yaitu menumbuhkan kesadaran cinta lingkungan sejak dini pada masyarakat. Tak ada artinya upaya reklamasi dan penghijauan yang dilakukan oleh PTNNT jika masyarakat tidak bergerak dengan kesadaran yang sama. Hingga kini tak kurang 650.000 bibit telah ditanam melalui gerakan penghijauan PTNNT. Bibit tanaman tersebut terdiri dari jati, mahoni, bungur, binong, nangka, nimba, mangrove, dan masih banyak lagi.
Pengambilan sampel air laut di Teluk Senunu untuk memantau dampak penempatan tailing di dasar laut.
Hal lain yang dilakukan PTNNT adalah menangani air asam tambang. Dengan nilai pH 2-3 air asam tambang beresiko mencemari lingkungan. Oleh karena itu pengolahannya dilakukan dengan sistem tertutup memanfaatkan kolam pengendali dan dam/santong. Dari lubang tambang, air asam tambang yang berwarna hijau dipompa ke kolam sementara untuk diendapkan sisa mineralnya. Air asam tambang kemudian dialirkan melalui pipa menuju santong 1, 2 dan 3. Di setiap santong air asam tambang diperiksa dan sebagian diolah untuk digunakan kembali dalam proses pertambangan. Air asam tambang kemudian dinetralkan hingga aman untuk dilepaskan ke lingkungan. Untuk mencegah bercampurnya air terdampak dengan air bersih dari mata air di dalam hutan atau sungai, saluran pengalih dibangun di sekitar Batu Hijau. Instalasi pipa juga dibangun untuk mengalirkan air bersih secara aman.

Penanganan limbah pertambangan atau tailing menjadi perhatian khusus. Meski secara umum proses pengolahan batuan tambang di Batu Hijau tidak banyak menggunakan bahan kimia, namun jumlahnya yang besar membutuhkan perlakuan yang baik dengan mempertimbangkan aspek kelestarian lingkungan. Tailing PTNNT ditempatkan di dasar laut perairan Teluk Senunu menggunakan pipa darat sepanjang 6,2 km dan pipa laut 3 km. Penempatan tailing dilakukan dengan teknik Deep Sea Tailing Placement memanfaatkan gravitasi dan tekanan di dalam laut. Pemantauan dampak tailing dilakukan secara rutin dan berkala dengan melibatkan lembaga independen yang profesional. Secara lebih detail tentang tailing PTNNT bisa dibaca di sini.
 
Tukik yang dilepaskan dari Maluk Turtle Center (dok. Hendra Wardhana).
Ekosistem pantai dan laut juga diperhatikan. Untuk meningkatkan populasi terumbu karang, sejak Maret 2004 PTNNT memasang sekitar 1300 reef ball sebagai cikal bakal terumbu karang baru di Benete, Lawar, Kenawa, dan Maluk. Hasilnya saat ini terumbu karang di daerah tersebut mulai bertambah dan menghiasi perairan.  Pemantauan biota intertidal juga dilakukan di daerah pasang yang berada di Maluk, Sejorong, Tongoloka, dan Madasanger.

Di Maluk PTNNT membangun pusat konservasi penyu (Maluk Turtle Center) yang bertujuan mengedukasi masyarakat untuk melindungi penyu sekaligus meningkatkan populasi penyu yang terus berkurang. Penangkaran penyu tersebut dimulai  2002 dan sejak 2005 dilakukan bersama masyarakat. Hingga 2014 sekitar 40.000 tukik atau anak penyu dilepaskan kembali ke habitatnya. 
Pemulihan hutan di kawasan pertambangan Newmont (dok. Hendra Wardhana).

Manusia tak bisa membayar lunas jasa lingkungan yang telah diberikan sepanjang hidup. Oleh karena itu, bersikap etis adalah tanggung jawab utama yang perlu dilakukan agar lingkungan tetap lestari. Jantung alam di Batu Hijau harus tetap berdetak sampai kapanpun.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

MILO CUBE, Cukup Dibeli Sekali Kemudian Lupakan

Alkisah, gara-gara “salah pergaulan" saya dibuat penasaran dengan Milo Cube. Akhirnya saya ikutan-ikutan membeli Milo bentuk kekinian tersebut.   Milo Cube (dok. pri). Oleh karena agak sulit menemukannya di swalayan dan supermarket, saya memesannya melalui sebuah marketplace online . Di berbagai toko online Milo Cube dijual dengan harga bervariasi untuk varian isi 50 cube dan 100 cube. Varian yang berisi 100 cube yang saya beli rentang harganya Rp65.000-85.000.   Pada hari ketiga setelah memesan, Milo Cube akhirnya tiba di tangan saya. Saat membuka bungkusnya saya langsung berjumpa dengan 100 kotak mungil dengan bungkus kertas hijau bertuliskan “MILO” dan “ENERGY CUBE”. Ukurannya benar-benar kecil. Satu cube beratnya hanya 2,75 gram, sehingga totalnya 275 gram.   Milo Cube yang sedang digandrungi saat ini (dok. pri). "Milo Kotak", begitu kira-kira terjemahan bebas Milo Cube (dok. pri). Tiba saatnya unboxing . Milo Cube ini berupa bubu

Purbalingga Food Center: Becek, Lembap dan Kurang Rapi

Awal Januari 2020 ada sebuah tempat baru yang diluncurkan di Purbalingga, Jawa Tengah. Namanya Purbalingga Food Center . Purbalingga Food Center (dok. pri). Saya tahu pertama kali dari berita daring yang mengabarkan pemindahan ratusan pedagang kaki lima ke "Purbalingga Food Center" pada 6 Januari 2020. Saat itu diadakan karnaval yang menjadi simbolisasi pemindahan sekitar 360 PKL penghuni Alun-alun Purbalingga, area GOR/Stadion Goentoer Darjono, trotoar Jalan Piere Tendean dan sekitarnya untuk selanjutnya disatukan di Purbalingga Food Center.   Lokasi Purbalingga Food Center ada di selatan GOR Goentoer atau tepat bersisian dengan jalan lingkar selatan GOR Goentoer. Jaraknya dari Alun-alun Purbalingga tak sampai 2 km. Pada 11 dan 12 Januari 2020 saat berada di Purbalingga, saya sempatkan untuk melihat tempat ini. Saya datang pada pagi hari meski layaknya pusat jajanan kaki lima, tempat ini pun perlu dicoba untuk dikunjungi pada malam hari.   Ar

Gudeg Mbah Sudarmi, Teladan di Tengah Pandemi

Pandemi Covid-19 yang belum dapat dipastikan kapan akan berakhir menuntut semua orang untuk segera beradaptasi. Protokol kesehatan wajib dipatuhi. Selain untuk untuk kembali menggerakkan roda ekonomi, juga agar semua bisa lebih terlindungi. Mbah Darmi atau Sudarmi menjajakan gudeg dengan menggunakan alat pelindung diri (APD) berupa masker dan face shield (dok. pri). Salah satunya seperti yang dilakukan oleh Sudarmi atau Mbah Darmi. Sebagaimana kebanyakan orang, nenek 63 tahun ini tak pernah menyangka akan menemui masa pandemi hebat dalam hidupnya. Puluhan tahun menjajakan gudeg Mbah Darmi sudah menyaksikan banyak perubahan. Akan tetapi baru kali ini ia merasakan perubahan yang begitu besar dan cepat. Pada awal Korona mewabah di Indonesia Mbah Darmi terpaksa berhenti berjualan selama hampir 2 pekan akibat sepinya pembeli. Setelah itu ia kembali menjajakan gudeh di Jalan Urip Sumaharjo, Kota Yogyakarta, tepat di sisi timur Hotel Tickle atau di sisi utara auditorium Lemb