Langsung ke konten utama

A Man Called BTP


Sepertinya baru kali ini di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ada seorang narapidana yang kebebasannya dari penjara sangat dinanti. 

Memang seorang Ariel pernah juga membuat para penggemarnya menginap di depan rutan, rela meninggalkan pekerjaan mereka demi menanti bebasnya sang idola. Namun, bebasnya Ariel tak punya faedah signifikan bagi pengharapan masyarakat, kecuali bagi acara infotainment yang memang suka mengurusi urusan orang lain.
A Man Called BTP (dok. pri).
Sementara Ahok tanggal kebebasannya dari penjara menjadi hari penantian masyarakat negeri ini. 

Klaim “masyarakat negeri ini” mungkin berlebihan mengingat tidak semua orang menanti kebebasan Ahok, seperti halnya tidak semua orang suka padanya. Akan tetapi bukankah serentetan peristiwa, termasuk aksi “jutaan" massa “pembela agama” yang menggiring Ahok masuk ke dalam penjara pada Mei 2017 lalu juga merupakan peristiwa yang mengguncang negeri?

Sekarang bagaimana bisa bebasnya seorang penista agama dinanti dan disambut oleh banyak orang? Apa orang-orang negeri ini sudah pada gila? Sangat gila karena bangsa Indonesia  sangat agamis, relijius, dan masyarakatnya menjadikan agama sebagai hal paling penting dalam kehidupan, justru menanti dan menaruh harapan pada  sang penista agama. Apakah orang-orang yang menantinya itu tidak resah dicap pendukung penista agama? Apakah mereka yang menyambut bebasnya Ahok tak khawatir masuk neraka? 

Ternyata kebenaran tetaplah kebenaran. Tak bisa terus menerus ditolak dan diingkari. Walau jalan untuk memperlihatkan kebenaran itu harus lebih dulu melalui penjara, melewati ribuan cacian dan fitnah. 

Ahok adalah orang yang pernah menerima umpatan “anjing” dan “bangsat” dari anggota dewan saat pertemuan dengan DPRD DKI. Wakil rakyat itu marah saat Ahok berusaha membongkar upaya perampokan uang rakyat DKI senilai 12,1 triliun rupiah dengan modus pengadaan UPS dan proyek-proyek lainnya. 

Ia pun orang yang tak terhitung lagi berapa banyak menerima teror melalui kata-kata “bunuh”, “kafir”, “cina”, dan sebagainya. Akan tetapi Ahok adalah orang yang bertarung hanya dengan sebuah senjata bernama akal sehat untuk melawan para mafia dan perampok uang rakyat. Ternyata orang “cina” dan “kafir” inilah yang menelanjangi praktik-praktik kotor para elit politikus negeri ini.
Senyum Ahok di hari kebebasannya (sumber: twitter @basuki_btp).
Meskipun demikian, Ahok juga seorang manusia biasa. Kesadaran masih melekat pada dirinya. Kesadaran akan kekurangan dan kelemahannya.

Oleh karena itu, saat  dukungan dan simpati padanya meluas ia memilih berkorban untuk kepentingan yang lebih besar. Ketika divonis bersalah ia dengan lapang dada menerima hukumannya serta meminta maaf atas kesalahan-kesalahannya. Ketulusan maafnya ia perlihatkan dengan mencabut rencana banding.

Ia memasuki sel penjara dengan kepala tegak. Ia menjalani hukuman dengan berani ketika sebagian pembencinya justru lari dan tak bernyali. Ia memilih penjara sebagai tempat untuk menilai, mengkoreksi, dan menata ulang diri selama hampir 2 tahun. 

Hari ini, Kamis, 24 Januari 2019, ia tinggalkan sel itu. Ia kembali dengan senyum. Senyum orang yang telah memenangkan pertarungan dengan dirinya sendiri. Senyum yang mungkin juga menampar para pembencinya. Senyum seorang BTP.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MILO CUBE, Cukup Dibeli Sekali Kemudian Lupakan

Alkisah, gara-gara “salah pergaulan" saya dibuat penasaran dengan Milo Cube. Akhirnya saya ikutan-ikutan membeli Milo bentuk kekinian tersebut.   Milo Cube (dok. pri). Oleh karena agak sulit menemukannya di swalayan dan supermarket, saya memesannya melalui sebuah marketplace online . Di berbagai toko online Milo Cube dijual dengan harga bervariasi untuk varian isi 50 cube dan 100 cube. Varian yang berisi 100 cube yang saya beli rentang harganya Rp65.000-85.000.   Pada hari ketiga setelah memesan, Milo Cube akhirnya tiba di tangan saya. Saat membuka bungkusnya saya langsung berjumpa dengan 100 kotak mungil dengan bungkus kertas hijau bertuliskan “MILO” dan “ENERGY CUBE”. Ukurannya benar-benar kecil. Satu cube beratnya hanya 2,75 gram, sehingga totalnya 275 gram.   Milo Cube yang sedang digandrungi saat ini (dok. pri). "Milo Kotak", begitu kira-kira terjemahan bebas Milo Cube (dok. pri). Tiba saatnya unboxing . Milo Cube ini berupa bubu

Purbalingga Food Center: Becek, Lembap dan Kurang Rapi

Awal Januari 2020 ada sebuah tempat baru yang diluncurkan di Purbalingga, Jawa Tengah. Namanya Purbalingga Food Center . Purbalingga Food Center (dok. pri). Saya tahu pertama kali dari berita daring yang mengabarkan pemindahan ratusan pedagang kaki lima ke "Purbalingga Food Center" pada 6 Januari 2020. Saat itu diadakan karnaval yang menjadi simbolisasi pemindahan sekitar 360 PKL penghuni Alun-alun Purbalingga, area GOR/Stadion Goentoer Darjono, trotoar Jalan Piere Tendean dan sekitarnya untuk selanjutnya disatukan di Purbalingga Food Center.   Lokasi Purbalingga Food Center ada di selatan GOR Goentoer atau tepat bersisian dengan jalan lingkar selatan GOR Goentoer. Jaraknya dari Alun-alun Purbalingga tak sampai 2 km. Pada 11 dan 12 Januari 2020 saat berada di Purbalingga, saya sempatkan untuk melihat tempat ini. Saya datang pada pagi hari meski layaknya pusat jajanan kaki lima, tempat ini pun perlu dicoba untuk dikunjungi pada malam hari.   Ar

"Bad Content is a Good AdSense", Jahatnya Para Pemburu Untung di Tengah Pandemi

Selama ini kita mengenal “hukum media” yang berbunyi “Bad News is a Good News”. Itu semacam sindiran atau ungkapan ironi tentang pola pemberitaan media masa kini yang kerap berlebihan dalam menyampaikan informasi dan berita seputar bencana. Youtube (dok. pri). Kita tahu bencana adalah kejadian buruk yang mestinya direspon dengan bersimpati, berempati, atau kalau perlu menyampaikan solusi dan bantuan yang nyata meringankan. Namun, bagi media kejadian bencana seolah menjadi kesempatan emas. Alasannya karena masyarakat kita suka dengan informasi seputar bencana. Maka setiap ada bencana atau peristiwa yang memilukan, kisah-kisahnya selalu menyedot perhatian masyarakat secara luas. Media lalu memberitakannya dengan porsi yang besar. Informasi diobral, termasuk informasi-informasi yang tak jelas ikut dilempar ke publik dengan label berita. Segala aspek dikulik dengan dalih “sudut pandang media”. Padahal hal-hal tersebut mungkin tak pantas diberitakan. Semakin parah komentator “palugada” jadi