Langsung ke konten utama

Asal-usul dan Orang di Balik Kemeja Putih Jokowi


Jokowi kembali “memutih” di pemilu presiden 2019 ini. Sebenarnya ini mirip seperti saat ia maju dalam pencapresan 2014 bersama JK. Bedanya dulu Jokowi juga masih sering mengenakan kemeja kotak-kotak “warisan” kejayaan Pilgub DKI 2012. 

Namun, kali ini bersama K.H. Maruf Amin ia lebih konsisten dengan kemeja putih dan bahkan memilih baju koko warna putih pada foto resmi pasangan Capres-Cawapres. Baik kemeja putih maupun baju koko putih pada dasarnya keduanya sama.
Presiden Jokowi dalam kunjungan kerjanya ke Ponorogo, Jawa Timur, pada awal Januari 2019 (dok. Nanang Diyanto).
Penampilan Jokowi dengan pakaian atau kemeja putih memang bukan hal yang baru. Selama ini sebagai Presiden ia sering tampil dengan kemeja putih saat menjalankan tugasnya. Begitupun saat masih menjabat sebagai Walikota Solo dan Gubernur DKI, kemeja putih seolah menjadi “pakaian kerja” sekaligus pakaian hariannya. Selain itu ia suka berbatik.

Tentang alasan Jokowi memilih kemeja putih barangkali sudah beberapa kali diungkapkan olehnya. Orang-orang terdekat dan para pendukungnya mengetahui bahwa Jokowi suka kemeja putih karena pakaian jenis ini sederhana. 

Sebagai orang Jawa  tidak mengherankan jika pilihan pakaian Jokowi juga dijadikan medium atau simbol untuk menunjukkan siapa dirinya. Kemeja putih cocok dengan karakter dan kepribadian Jokowi yang merakyat. Dalam menggunakan kemeja putih ia pun suka menggulung bagian lengannya. Cara itu memperlihatkan sosoknya yang santai, apa adanya, sekaligus menjadi simbol kerja keras. Ibaratnya seperti ungkapan “singsingkan lengan baju”. 

Meskipun demikian, belum banyak orang yang tahu “sejarah” kemeja putih Jokowi. Dalam buku “Jokowi, Beragama Dalam Tindakan” karya Katoyo Ramelan diungkap mengenai ketetapan dan kemantapan Jokowi untuk memilih kemeja putih. 
Biografi: "Jokowi, Beragama Dalam Tindakan" (dok. Hendra Wardhana).
Kejadiannya pada 2005 silam. Saat itu Jokowi tengah bersiap untuk mengikuti pertarungan pemilihan Walikota Solo. Merasa kurang percaya diri jika harus berpidato di hadapan masyarakat umum, Jokowi mengundang seorang sutradara bernama Hanindawan ke rumahnya. 

Pengusaha meubel itu bermaksud menimbal ilmu dan berkonsultasi kepada Hanindawan seputar cara tampil di depan publik dengan baik dan tanpa grogi. Jokowi bukannya tidak terbiasa bicara di depan orang. Sebagai seorang pengusaha dan Ketua Asmindo ia sudah sering menyampaikan gagasannya kepada sesama pengusaha maupun mitra bisnis. Namun, mengingat ia hendak terjun ke dunia politik dan mengikuti pilkada, Jokowi merasa perlu menyesuaikan diri dan meningkatkan kepercayaan dirinya di depan publik.

Dalam obrolan santai ditemani pisang goreng, Hanindawan pun memberikan “kuliah singkat" dan masukan kepada Jokowi. Di antaranya adalah Jokowi perlu tahu siapa publik yang dihadapinya, menghindari sikap dan gerakan arogan, serta jangan menyampaikan informasi yang tidak jelas kebenarannya.

Mengingat Jokowi sudah sering bicara di depan para pengusaha, Hanindawan merasa modal itu cukup membantu. Jokowi hanya perlu bersikap jujur saat berpidato. Jika hendak melucu jangan dibuat-buat.

Jokowi percaya diri tampil dan sukses memimpin forum pengusaha karena ia menguasai permasalahan bisnis meubel. Dengan analogi yang mirip, maka untuk bisa percaya diri saat bicara di depan masyarakat, Jokowi juga perlu menguasai secara mendalam permasalahan rakyat bawah.
Jokowi dan kemeja putih (dok. Nanang Diyanto).
Jokowi menerima saran-saran tersebut, termasuk soal karakter. Hanindawan menerangkan bahwa seorang pemimpin atau pejabat perlu memiliki karakter yang kuat dan mudah ditangkap oleh publik. Hal itu bisa diperantarai melalui jenis busana yang dikenakan sehingga Jokowi perlu mempertimbangkan pakaiannya.

Saat itulah Hanindawan menilai Jokowi nyaman dengan warna putih. Jokowi pun membenarkan bahwa ia menyenangi baju berwarna putih. Alasannya adalah harganya murah. Jokowi juga cocok dengan desain baju putih yang sederhana karena menunjang geraknya yang lincah.

Hanindawan kemudian menyarankan agar Jokowi tetap pada pilihannya itu. Jokowi tidak perlu mempermak keyakinannya soal baju. Baju berwarna putih bisa memberikan kepercayaan diri selain juga memancarkan karakter dan ideologi pemakainya yang sederhana.
Jokowi berkemeja putih saat debat calon presiden pada 17 Januari 2019 (dok. Kompas.com)
Begitulah, sejak saat itu Jokowi semakin mantap berkemeja putih. 

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Bad Content is a Good AdSense", Jahatnya Para Pemburu Untung di Tengah Pandemi

Selama ini kita mengenal “hukum media” yang berbunyi “Bad News is a Good News”. Itu semacam sindiran atau ungkapan ironi tentang pola pemberitaan media masa kini yang kerap berlebihan dalam menyampaikan informasi dan berita seputar bencana. Youtube (dok. pri). Kita tahu bencana adalah kejadian buruk yang mestinya direspon dengan bersimpati, berempati, atau kalau perlu menyampaikan solusi dan bantuan yang nyata meringankan. Namun, bagi media kejadian bencana seolah menjadi kesempatan emas. Alasannya karena masyarakat kita suka dengan informasi seputar bencana. Maka setiap ada bencana atau peristiwa yang memilukan, kisah-kisahnya selalu menyedot perhatian masyarakat secara luas. Media lalu memberitakannya dengan porsi yang besar. Informasi diobral, termasuk informasi-informasi yang tak jelas ikut dilempar ke publik dengan label berita. Segala aspek dikulik dengan dalih “sudut pandang media”. Padahal hal-hal tersebut mungkin tak pantas diberitakan. Semakin parah komentator “palugada” jadi

MILO CUBE, Cukup Dibeli Sekali Kemudian Lupakan

Alkisah, gara-gara “salah pergaulan" saya dibuat penasaran dengan Milo Cube. Akhirnya saya ikutan-ikutan membeli Milo bentuk kekinian tersebut.   Milo Cube (dok. pri). Oleh karena agak sulit menemukannya di swalayan dan supermarket, saya memesannya melalui sebuah marketplace online . Di berbagai toko online Milo Cube dijual dengan harga bervariasi untuk varian isi 50 cube dan 100 cube. Varian yang berisi 100 cube yang saya beli rentang harganya Rp65.000-85.000.   Pada hari ketiga setelah memesan, Milo Cube akhirnya tiba di tangan saya. Saat membuka bungkusnya saya langsung berjumpa dengan 100 kotak mungil dengan bungkus kertas hijau bertuliskan “MILO” dan “ENERGY CUBE”. Ukurannya benar-benar kecil. Satu cube beratnya hanya 2,75 gram, sehingga totalnya 275 gram.   Milo Cube yang sedang digandrungi saat ini (dok. pri). "Milo Kotak", begitu kira-kira terjemahan bebas Milo Cube (dok. pri). Tiba saatnya unboxing . Milo Cube ini berupa bubu

Diari Isoman 4: Gejala Ringan yang Bikin "Ngos-ngosan"

Rabu, 28 Juli 2021, hari ketiga isolasi mandiri saya menyamankan diri dengan berusaha memperbaiki nafsu makan. Sop daging lumayan menyemangati lidah. Semakin hangat karena banyak merica ditambahkan. Yang terjadi pada saya (dok. pribadi). Namun, sedapnya sop tersebut hanya sesaat terasa. Sekitar dua jam kemudian sesuatu yang tak terduga terjadi. Penciuman saya pelan-pelan memudar. Aroma minyak kayu putih hanya tipis-tipis terlacak. Sementara lidah tak lagi bisa mencecap rasa seperti biasa. Hanya minuman atau buah yang sangat manis masih terlacak sedikit jejaknya. Jangan Disepelekan Malam harinya semua tak lagi tercium dan terasa. Benar-benar hampa penciuman saya. Hambar pula yang segala sesuatu yang mendarat di lidah. Walau demikian ada keuntungan yang saya rasakan, yakni obat yang pahit menjadi tidak masalah lagi untuk ditelan. Anosmia yang tiba-tiba terjadi dan dalam hitungan jam segera menghilangkan kemampuan saya mencium aroma dan mencecep rasa menjadi semacam peringatan bahwa gejal