Langsung ke konten utama

Menghayati Perpisahan ala Yovie & Nuno


Saya mungkin tidak terlalu mengikuti Yovie & Nuno secara tetap. Hanya 2 album Yovie & Nuno yang saya punya dan baru empat kali saya menyaksikan langsung penampilan YN. Itupun dua di antaranya saat YN berbagi panggung dengan KAHITNA. 
-dok. pri-
Meskipun demikian saya lumayan menghayati era Kemenangan Cinta. Bagi telinga dan perasaan saya itulah album terbaik Yovie & Nuno. KLBK, Kamu Bukan Kekasihku, dan Juwita itu juara!

Lagu-lagu itu kemudian pada Jumat (8/2/2019) malam saya putar lagi untuk mencoba membersamai sejarah yang sedang dibuat oleh Yovie & Nuno di JCC. Malam itu di sana lewat Love Festival Yovie & Nuno memanggil kembali para "alumni" yang pernah mengisi formasi band sejak pertama kali dibentuk pada 2001. Maka bersandinglah lagi Yovie Widianto bersama  Audy, Gail, dan Dudy untuk menyertai Dikta dan Windura.

Audy adalah salah satu penyanyi tamu pada album Semua Bintang yang merupakan salam perkenalan Yovie & Nuno di belantika musik tanah air pada 2001. Pada album tersebut Audy membawakan hits Janji Di Atas Ingkar yang kemudian melambungkan namanya sebagai salah satu penyanyi wanita terbaik tanah air. 

Reuni kemarin malam juga memanggungkan lagi sejumlah pemusik yang pernah bermain untuk Yovie & Nuno. Oleh karena itu, Yovie & Nuno all formations menjadi peristiwa penuh makna. Tentu saja bagi Yovie & Nuno sendiri maupun bagi penggemar yang telah lama akrab dengan karya-karyanya.

Namun, sejarah tak pernah hanya berupa peristiwa tunggal. Kita semua tahu bahwa pertunjukkan manapun yang dibuka dengan sapa pertemuan, kemudian ditutup dengan lambaian tangan dan salam undur diri. Lintasan sejarah yang dibuat Yovie & Nuno semalam juga demikian. 

Pertemuan para personel lama dan personel terkini hanya satu bagian dari lintasan sejarah yang sedang dicipta oleh Yovie & Nuno. Dalam hangat kebersamaan, Yovie & Nuno melepas Yovie Widianto. Itu adalah kali terakhir Yovie berstatus sebagai personel Yovie & Nuno. Posisinya sebagai keyboardis digantikan oleh Ady Julian. Kita boleh menganggap peristiwa ini adalah sebuah lepas sambut yang manis.
***
Meski waktu tidak bisa diputar kembali, tapi sejarah sering berulang. Mundurnya Yovie seolah menegaskan takdir menarik bagi perjalanan musikal Yovie & Nuno. Sejak aktif 18 tahun silam, formasi band ini sangat "dinamis" sehingga dalam setiap albumnya selalu ada wajah baru sekaligus ada yang tak lagi terlihat.

Dinamika itu sudah dimulai selepas album perdana Semua Bintang. Mari sedikit menyimak keberulangan dalam lintasan perjalanan Yovie & Nuno berikut. 

Pada album Semua Bintang Yovie & Nuno yang berisikan Yovie Widianto, Dudy, dan Diat ditemani banyak musisi tamu seperti Fariz RM, Nina Tamam, Glenn Fredly, dan Audy.  Selanjutnya pada 2004 saat album Kemenangan Cinta meluncur, formasi Yovie & Nuno sebagai grup musik bisa dikatakan cukup lengkap dan ideal, yakni Yovie Widianto (keyboard), Rere (drum), Diat (gitar), Ersta (bass), serta Dudy Oris dan Gail Satiawaki (vokal). 

Pada 2007, tatkala album The Special One meluncur line up Yovie & Nuno kembali berubah. Dalam album ini Rere dan Ersta sudah tidak menyertai band. Sementara di “lini depan” Yovie & Nuno bahkan kehilangan salah satu vokalisnya. Gail hengkang dan posisinya kemudian digantikan oleh Dikta. Semenjak saat itu mic Yovie & Nuno dipegang oleh Dikta dan Dudy, duet yang segera mengantarkan Yovie & Nuno meraih banyak penghargaan.

Namun, pada April 2012 giliran Dudy, vokalis yang telah bergabung sejak pertama kali band dibentuk, mengundurkan diri. Butuh waktu agak lama bagi Yovie & Nuno untuk menemukan penggantinya sebelum akhirnya membawa masuk Windura untuk melanjutkan duet vokalis bersama Dikta.
***
Pamitnya Yovie Widianto dari  Yovie & Nuno barangkali menjadi salah satu tajuk utama pada linimasa berita musik tanah air pada awal 2019 ini. Banyak penggemar yang sedih, kecewa, dan tentu saja terkejut manakala diumumkan secara resmi Yovie telah pamit dari band. Sekalipun wacana estafet keyboardis Yovie & Nuno sudah tersampaikan sejak 2015. Rencana pergantian juga sudah terkabarkan di beberapa media hingga kepastiannya ditegaskan kembali oleh Yovie saat konser Inspirasi Cinta pada November 2018.

Memang akan terasa ganjil menyebut Yovie & Nuno tanpa Yovie Widianto. Meskipun band ini akan tetap ada, juga akan  tidak biasa pada awalnya untuk melihat Yovie & Nuno dengan keyboardis bukan Yovie. 

Namun, barangkali seperti niatan Yovie, menghadirkan keyboardis baru justru merupakan upaya untuk mengalirkan energi baru ke dalam mesin Yovie & Nuno sehingga akselerasinya semakin baik. Keyboardis baru dengan kontribusi warna pada band berarti juga membuka peluang hadirnya kejutan-kejutan manis dari Yovie & Nuno.
***
Sebagai ungkapan berita, kabar “Yovie Hengkang dari Yovie & Nuno” atau “Yovie & Nuno Ditinggal Yovie Widianto” memang tidak mengenakkan. Akan tetapi berkumpulnya Yovie & Nuno dengan “semua bintang” malam itu untuk pada saat bersamaan melepas Yovie Widianto, adalah lintasan sejarah yang telah dipilih dan dihayati sendiri oleh Yovie & Nuno. Yovie mundur, tapi tetap menempatkan hatinya pada peran sebagai produser dan komposer bagi karya-karya Yovie & Nuno berikutnya. 
Yovie Widianto (dok. pri).
Maka “lepas sambut" kemarin adalah sebuah penyampaian makna bahwa bagi Yovie & Nuno sesungguhnya tidak ada yang benar-benar ditinggalkan dan tidak ada yang pergi dengan niat untuk meninggalkan. Perpisahan demi perpisahan justru menjadikan Yovie & Nuno sebagai milik kolektif. Semua bisa datang kapan saja dibutuhkan.  Selalu ada peran dan kesempatan untuk  memainkan lagi alat musiknya secara bersama-sama. Siapapun bisa mengangkat mic-nya lagi untuk Yovie & Nuno.

Lagipula lintasan sejarah memperlihatkan bahwa band ini rasanya sudah lebih dari cukup terlatih serta memiliki obat ketegaran dan ketahanan untuk menghayati perpisahan. Malahan mereka selalu kembali dengan mengejutkan setiap usai ditinggal personelnya. 

Demi hati, masih bisa diyakini bahwa Yovie & Nuno akan menciptakan sejarah-sejarah baru. Mereka akan terus melanjutkan senandung juwitanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MILO CUBE, Cukup Dibeli Sekali Kemudian Lupakan

Alkisah, gara-gara “salah pergaulan" saya dibuat penasaran dengan Milo Cube. Akhirnya saya ikutan-ikutan membeli Milo bentuk kekinian tersebut.   Milo Cube (dok. pri). Oleh karena agak sulit menemukannya di swalayan dan supermarket, saya memesannya melalui sebuah marketplace online . Di berbagai toko online Milo Cube dijual dengan harga bervariasi untuk varian isi 50 cube dan 100 cube. Varian yang berisi 100 cube yang saya beli rentang harganya Rp65.000-85.000.   Pada hari ketiga setelah memesan, Milo Cube akhirnya tiba di tangan saya. Saat membuka bungkusnya saya langsung berjumpa dengan 100 kotak mungil dengan bungkus kertas hijau bertuliskan “MILO” dan “ENERGY CUBE”. Ukurannya benar-benar kecil. Satu cube beratnya hanya 2,75 gram, sehingga totalnya 275 gram.   Milo Cube yang sedang digandrungi saat ini (dok. pri). "Milo Kotak", begitu kira-kira terjemahan bebas Milo Cube (dok. pri). Tiba saatnya unboxing . Milo Cube ini berupa bubu

Purbalingga Food Center: Becek, Lembap dan Kurang Rapi

Awal Januari 2020 ada sebuah tempat baru yang diluncurkan di Purbalingga, Jawa Tengah. Namanya Purbalingga Food Center . Purbalingga Food Center (dok. pri). Saya tahu pertama kali dari berita daring yang mengabarkan pemindahan ratusan pedagang kaki lima ke "Purbalingga Food Center" pada 6 Januari 2020. Saat itu diadakan karnaval yang menjadi simbolisasi pemindahan sekitar 360 PKL penghuni Alun-alun Purbalingga, area GOR/Stadion Goentoer Darjono, trotoar Jalan Piere Tendean dan sekitarnya untuk selanjutnya disatukan di Purbalingga Food Center.   Lokasi Purbalingga Food Center ada di selatan GOR Goentoer atau tepat bersisian dengan jalan lingkar selatan GOR Goentoer. Jaraknya dari Alun-alun Purbalingga tak sampai 2 km. Pada 11 dan 12 Januari 2020 saat berada di Purbalingga, saya sempatkan untuk melihat tempat ini. Saya datang pada pagi hari meski layaknya pusat jajanan kaki lima, tempat ini pun perlu dicoba untuk dikunjungi pada malam hari.   Ar

"Bad Content is a Good AdSense", Jahatnya Para Pemburu Untung di Tengah Pandemi

Selama ini kita mengenal “hukum media” yang berbunyi “Bad News is a Good News”. Itu semacam sindiran atau ungkapan ironi tentang pola pemberitaan media masa kini yang kerap berlebihan dalam menyampaikan informasi dan berita seputar bencana. Youtube (dok. pri). Kita tahu bencana adalah kejadian buruk yang mestinya direspon dengan bersimpati, berempati, atau kalau perlu menyampaikan solusi dan bantuan yang nyata meringankan. Namun, bagi media kejadian bencana seolah menjadi kesempatan emas. Alasannya karena masyarakat kita suka dengan informasi seputar bencana. Maka setiap ada bencana atau peristiwa yang memilukan, kisah-kisahnya selalu menyedot perhatian masyarakat secara luas. Media lalu memberitakannya dengan porsi yang besar. Informasi diobral, termasuk informasi-informasi yang tak jelas ikut dilempar ke publik dengan label berita. Segala aspek dikulik dengan dalih “sudut pandang media”. Padahal hal-hal tersebut mungkin tak pantas diberitakan. Semakin parah komentator “palugada” jadi