Langsung ke konten utama

Autobiografi Alex Ferguson Seharga Rp45


Hari sudah gelap ketika saya dapati sebuah paket teronggok di bawah pintu pada Senin (1/4/2019).  Melihat pembungkus dan plastik perekatnya segera saya tahu apa gerangan paket tersebut. Rupanya buku-buku dari Gramedia telah tiba.
Alex Ferguson (dok. pri).
Selalu saja saya antusias ketika mendapat kiriman paket berisi buku. Apalagi kali ini paketnya spesial. Hasil keberuntungan mengikuti penjualan cepat dan diskon buku-buku Gramedia Pustaka Utama (GPU).

Pada 25 Maret 2019 lalu Penerbit Gramedia Pustaka Utama merayakan HUT yang ke-45. Memeriahkan hari jadinya itu, GPU pun mengadakan berbagai promo dan diskon. Barangkali itu semacam bagi-bagi “kado” bagi pembaca setianya.

Salah satu yang menarik adalah penjualan cepat buku-buku terbitan GPU  secara daring dengan potongan harga besar-besaran. Penggemar buku bisa beradu cepat mendapatkan nya melalui situs web gramedia.com. Akan tetapi berdasarkan pengalaman belanja 4 kali saya masih kurang nyaman membeli buku di Gramedia.com.
Paket buku dikirim dari Gramedia Matraman (dok. pri).
Untungnya promo HUT 45 Gramedia dan penjualan cepat buku-buku GPU juga berlangsung di marketplace Blibli.com, Shopee, dan Tokopedia. Toko resmi Gramedia di Blibli.com, Shopee, dan Tokopedia dikelola oleh Toko Gramedia dan tidak sama dengan gramedia.com. 

Sepanjang 23-31 Maret 2019 sejumlah buku terbitan GPU diobral sadis di ketiga marketplace tersebut. Di Blibli buku-buku pilihan GPU dilego seharga Rp4500, di Tokopedia lebih murah lagi yaitu Rp450, dan yang lebih gila lagi di Shopee buku-buku terbaik GPU diobral lebih murah dari harga permen, yakni hanya Rp45 saja!

Namun, penjualan cepat di marketplace tersebut tidak berlangsung secara teratur.  Tidak ada jam pasti kapan penjualan cepat buku-buku GPU akan muncul di Blibli, Shopee, dan Tokopedia. Waktunya tidak bisa ditebak dan sering tiba-tiba sehingga penuh kejutan. Sebuah keberuntungan jika kebetulan menemukan penjualan cepat itu sedang berlangsung.
Belanja buku di Gramedia Matraman secara daring melalui Shopee (dok. pri).
Keberuntungan itulah yang menghampiri saya pada 27 Maret 2019. Malam hari sekitar pukul 20.00 lewat beberapa menit iseng saya membuka Shopee melalui telepon pintar. Di halaman Gramedia official store saya menyaring buku-buku dengan harga termurah. 

Kejutan pun saya dapati. Sebuah buku dengan harga Rp45 sedang ditawarkan saat itu. Judulnya “Alex Ferguson, Autobiografi Saya”. 

Sebagai penyuka biografi dan penggemar sepakbola yang menikmati tayangan pertandingan MU era Fergie saya seperti mendapatkan durian runtuh mengetahui buku itu diobral seharga Rp45 saja. Padahal, harga normalnya Rp125.000. 
Paket buku GPU 45 (dok. pri).
Tanpa pikir panjang saya segera menempatkannya ke dalam keranjang belanja. Saya tambahkan pula dua buku GPU lainnya yang sedang diobral separuh harga. Maka jadilah malam itu saya mendadak belanja buku. Total harga ketiga buku itu sekitar Rp50.000 sudah termasuk ongkos kirim.

Agak kaget saya mendapati buku-buku telah “menunggu” di depan pintu hanya dalam hitungan 3 atau 4 hari sejak pemesanan. Rasanya Ini lebih cepat dibanding belanja melalui gramedia.com. Memang Toko Gramedia daring dan gramedia.com menggunakan ekspedisi pengiriman yang berbeda. 

Selain itu buku-buku dari Toko Gramedia daring juga dikemas baik dengan tambahan lapisan plastik bergelembung. Sementara menurut pengalaman belanja buku di gramedia.com, buku-buku tidak pernah dilapisi plastik bergelembung.
Buku-buku bagus (dok. pri).
Tampaknya ada perbedaan kualitas layanan antara gramedia.com dengan Toko Gramedia daring. Memang koleksi di gramedia.com lebih banyak dibandingkan etalase yang dipajang Toko Gramedia di marketplace seperti Shopee dan Tokopedia. Namun, soal pengiriman dan layanan pelanggan gramedia.com agaknya masih tertinggal dari kanal daring Toko Gramedia. Bahkan, karena saya juga beberapa kali belanja buku melalui kompas.id, layanan kompas.id lebih baik dibanding gramedia.com. 
Autobiografi Alex Ferguson (dok. pri).
Di luar itu semua, saya harus berterima kasih kepada GPU atas kado HUT-nya yang ke-45. Kapan lagi bisa menebus buku bagus seharga ratusan ribu rupiah hanya dengan Rp45?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Bad Content is a Good AdSense", Jahatnya Para Pemburu Untung di Tengah Pandemi

Selama ini kita mengenal “hukum media” yang berbunyi “Bad News is a Good News”. Itu semacam sindiran atau ungkapan ironi tentang pola pemberitaan media masa kini yang kerap berlebihan dalam menyampaikan informasi dan berita seputar bencana. Youtube (dok. pri). Kita tahu bencana adalah kejadian buruk yang mestinya direspon dengan bersimpati, berempati, atau kalau perlu menyampaikan solusi dan bantuan yang nyata meringankan. Namun, bagi media kejadian bencana seolah menjadi kesempatan emas. Alasannya karena masyarakat kita suka dengan informasi seputar bencana. Maka setiap ada bencana atau peristiwa yang memilukan, kisah-kisahnya selalu menyedot perhatian masyarakat secara luas. Media lalu memberitakannya dengan porsi yang besar. Informasi diobral, termasuk informasi-informasi yang tak jelas ikut dilempar ke publik dengan label berita. Segala aspek dikulik dengan dalih “sudut pandang media”. Padahal hal-hal tersebut mungkin tak pantas diberitakan. Semakin parah komentator “palugada” jadi

Di Balik Lucunya Srimulat: Punya Koneksi Intelijen dan Berani Melawan PKI

Saya menyukai Srimulat sejak kecil. Layar kaca TV menjadi medium saya menyaksikan grup ini. Oleh karena itu, generasi Srimulat yang saya tahu merupakan generasi ketika Srimulat sudah memasuki industri TV. Srimulat era industri TV (foto repro/dok.pribadi). Keluarga besar kami yang banyak berasal dari Klaten dan Jawa Timur membuat saya terpengaruh dan akhirnya menyukai Srimulat. Apalagi saat mudik dan berkumpul di Klaten, tontonan Srimulat menjadi suguhan wajib di rumah kakek. Waktu itu Srimulat tayang berulang kali sepanjang hari selama libur lebaran. Nonton bersama menjadi salah satu kegiatan utama kami ketika berkumpul. Barangkali karena pendiri Srimulat, yakni Raden Ayu Srimulat lahir di Klaten sehingga keluarga kami menyenangi grup lawak ini. Semacam ada ikatan batin atau kebanggaan sebagai sesama orang berdarah Klaten.  *** Pada masa jayanya anggota Srimulat mencapai 100 orang. Bahkan, sepanjang  sejarahnya dari awal berdiri sebagai kelompok kesenian hingga menjadi grup lawak era i

Diari Isoman 4: Gejala Ringan yang Bikin "Ngos-ngosan"

Rabu, 28 Juli 2021, hari ketiga isolasi mandiri saya menyamankan diri dengan berusaha memperbaiki nafsu makan. Sop daging lumayan menyemangati lidah. Semakin hangat karena banyak merica ditambahkan. Yang terjadi pada saya (dok. pribadi). Namun, sedapnya sop tersebut hanya sesaat terasa. Sekitar dua jam kemudian sesuatu yang tak terduga terjadi. Penciuman saya pelan-pelan memudar. Aroma minyak kayu putih hanya tipis-tipis terlacak. Sementara lidah tak lagi bisa mencecap rasa seperti biasa. Hanya minuman atau buah yang sangat manis masih terlacak sedikit jejaknya. Jangan Disepelekan Malam harinya semua tak lagi tercium dan terasa. Benar-benar hampa penciuman saya. Hambar pula yang segala sesuatu yang mendarat di lidah. Walau demikian ada keuntungan yang saya rasakan, yakni obat yang pahit menjadi tidak masalah lagi untuk ditelan. Anosmia yang tiba-tiba terjadi dan dalam hitungan jam segera menghilangkan kemampuan saya mencium aroma dan mencecep rasa menjadi semacam peringatan bahwa gejal