Langsung ke konten utama

Batik Music Festival dan Mantra Cinta Yovie and His Friends di Prambanan


“Datang aja dulu. Kalau ga bisa kontak aku”, begitu salah satu pesan percakapan saya dengan seseorang pada Sabtu pagi, 5 Oktober 2019. Semula saya tak mengenal pengirimnya. Hanya dari foto profilnya seorang wanita. Ia kemudian memperkenalkan diri, Novya dari kompas.com yang ada di Prambanan, tempat digelarnya Batik Music Festival.
Batik Music Festival di Candi Prambanan, 5 Oktober 2019 (dok. pri).
Sejak jauh hari saya memang sudah menyiapkan langkah ke Batik Music Festival. Sebuah kesalahan dan kerugian jika melewatkan Yovie and His Friends, apalagi turut dalam rombongan ada KAHITNA. Sebagai soulmateKAHITNA ini akan jadi kesempatan sekali lagi untuk menunaikan ibadah cinta.

Namun, Sabtu itu saya memilih untuk tidak terburu-buru datang ke Candi Prambanan karena sejak dini hari diterpa masuk angin beserta gejala diare. Hingga tengah hari saya sudah keluar masuk toilet sebanyak tiga kali. 

Kondisi badan yang kurang nyaman membuat saya berencana berangkat sore hari. Akan tetapi usai percakapan singkat dengan Novya saya memutuskan berangkat lebih awal dari rencana. Sebuah kemeja batik merah marun langsung saya pilih dari dalam lemari. Tidak mengapa belum diseterika karena sudah sedikit wangi. 
Setia menunggu masuk meski gate terlambat dibuka (dok. pri).
Maka meluncurlah saya ke Candi Prambanan yang ada di Klaten, Jawa Tengah, tapi kebanyakan orang menganggapnya sebagai candi yang terletak di Yogyakarta. Baru tiba saya sudah mendapat ujian. Pertama tumbler air minum saya tumpah dan karena tutupnya kurang rapat. Totebag pun basah sebagian.

Untungnya tiket Batik Music Festival aman terlindungi. Justru tiket masuk candi yang saya beli di loket yang gagal dipindai. Dua kali dicoba tidak berhasil sehingga saya harus lewat jalur samping. 

Dari situ saya segera bergabung dengan para wisatawan dan pengunjung candi yang tentu saja sebagian di antara mereka berniat sama dengan saya untuk menuju Batik Music Festival. Paling tidak itu bisa ditebak dari pakaian batik mereka. Penonton Batik Music Festival memang dianjurkan untuk mengenakan batik. Hanya saja saya tidak  tahu apakah batik mereka sudah diseterika atau belum seperti kemeja saya.

Deja Vu
Saya telah duduk nyaman di atas rumput lapangan yang menjadi venue Batik Music Festival. Saat itu langit sudah gelap, tapi temaram cahaya membuat saya bisa mengenali sekelompok penonton perempuan. Di sana saya bertemu lagi dengan mba Erna, mba Erwina, dan teman-temannya yang lain. Mereka adalah soulmateKAHITNA yang lumayan rajin mengunjungi panggung idola. Saya lalu bergabung dengan rombongan ibu-ibu ini.

Pertunjukkan belum juga dimulai. Sedikit rasa bosan menghampiri. Untungnya Candi Prambanan yang berpendar terkena sorot lampu menampilkan kesan magisnya. Candi ini menjadi latar panggung Yovie and His Friends.

 Batik itu Cantik (dok. pri).
Batik Music Festival (dok. pri).
Tempat dan setting Batik Music Festival bisa dikatakan sama dengan Prambanan Jazz sehingga saya pun merasa sedikit deja vu. Termasuk makanan dan minuman di dalam area pertunjukkan yang menurut saya harganya terlalu mahal. 

Larangan membawa makanan dan minuman dari luar, termasuk tumbler berisi air minum, menjadi catatan tersendiri untuk gelaran acara yang didukung oleh sederet BUMN. Ini memang aturan “standar” konser musik. Akan tetapi penonton mau tidak mau membeli makanan dan minuman dengan wadah-wadah plastik, kertas, serta sterefoam. Artinya sampah-sampah terpaksa dihasilkan. Di sini kampanye diet plastik yang digalakkan BUMN diperlihatkan secara kurang konsisten.

Mantra Cinta
Pukul 19.20 pertunjukkan Batik Music Festival akhirnya dimulai (lihat videonya di sini). Diawali dengan tari-tarian oleh sejumlah penari yang membentangkan kain batik. Gerak dan laku mereka tampak selaras dengan iringan musik tradisional yang disambung dengan iringan khas Yovie and His Friends.

Tak lama kemudian panggung menggelap dan musik mengalun pelan. Namun segera mengalun lagi overture yang menghentak. Bentangan kain pun terbuka hampir bersamaan dengan tembakan cahaya yang menghujani panggung dengan nyala aneka warna. Di atas panggung Yovie Widianto sudah duduk menghadap pianonya ditemani para pemain musik pengiring layaknya full bigband. Kehadiran mereka semua segera menuai tepuk tangan dan antusiasme penonton. 
Batik Music Festival - Yovie and His Friends (dok. pri).
BCL (dok. pri).

BCL dan Raisa - Adu Rayu (dok. pri).
Langsung saja 5Romeo membuka dengan Ada Cinta. Karya lawas Yovie yang dulu dipopulerkan oleh grup Bening tersebut dibawakan oleh 5Romeo dengan tempo lebih rancak. 

Selepas Ada Cinta, sejumlah hit lainnya terus dimainkan dengan sepenuh hati oleh Yovie dan teman-teman. Sepanjang itu pula mantra-mantra cinta seolah menguar ke udara bersama lantunan satu demi satu tembang. Sihirnya segera merasuki penonton, terutama mereka yang “bucin”.

Suguhan Yovie and His Friends malam itu cukup berwarna. Lagu-lagu yang dimainkan lumayan mewakili variasi cerita cinta. Paling menyenangkan dari pertunjukkan Yovie and His Friends adalah kejutan-kejutan aransemennya. Pada beberapa lagu sentuhan aransemen baru sukses menancap sekaligus menyediakan ruang interpretasi baru karena dibawakan bukan oleh penyanyi aslinya.

Misalnya lagu Suratku yang identik dengan Hedi Yunus, kali ini dibawakan oleh Arsy Widianto. Putra Yovie Widianto itu mengganti bagian akhir Suratku menjadi lebih menggelitik di telinga ABG era media sosial. “Kutahu pasti hatimu tahu walau tak baca DM-ku, Kutahu pasti hatimu tahu walau kau delete Whatsapp-ku”. Begitulah Suratku dalam interpretasi Arsy.

Rio Febrian dan Hedi Yunus - Katakan Saja! (dok. pri).

KAHITNA dan 5Romeo - Harus Bahagia (dok. pri).
Yovie Widianto memang berusaha membuat karyanya menjadi lebih segar sekaligus mengajukan pendekatan alternatif untuk para penggemarnya. Apalagi Batik Music Festival malam itu dijejali penonton dari berbagai generasi. Orang tua, anak-anak milenial, hingga generasi Z berkumpul di sana.

Interpretasi ulang yang lebih segar dihadirkan pula oleh Bunga Citra Lestari saat menembangkan Soulmate. Jelas ia menyampaikannya dengan rasa dan sudut pandang perempuan. Sedangkan makna lagu ini juga begitu kuat disampaikan oleh penembang aslinya, KAHITNA.

Tak kalah dengan BCL, penyanyi cantik Raisa membawakan Mantan Terindah. Pada 2010 KAHITNA memperkenalkan lagu ini sebagai ungkapan suara hati terdalam dari para korban gagal move on. Raisa kemudian menembangkan ulang dengan rasa yang tak kalah mengena lewat suara syahdunya. Di Batik Music Festival, Mantan Terindah masih menjadi sebuah mantra yang sangat kuat. Selain Mantan Terindah, Raisa juga menyanyikan Takkan Terganti dan bersama BCL ia berduet dalam Adu Rayu.

Tak hanya 5Romeo, Arsy Widianto, BCL dan Raisa yang mengumbar mantra cinta Yovie Widianto di Batik Music Festival. Penyanyi Rio Febrian dan Marcell tak mau kalah dalam urusan meresahkan hati manusia.

Malam itu Rio pertama-tama membawakan Bukan Untukku, salah satu masterpiece Yovie yang turut mengantarkan Rio ke blantika musik tanah air belasan tahun silam. Bukan Untukku terdengar sangat menyayat di tengah dinginnya tiupan angin Candi Prambanan. “Sungguh ku tak menahan bila jalan suratan menuliskan dirimu, memang bukan untukku”.

Rio selanjutnya berduet dengan Hedi Yunus menyanyikan Katakan Saja yang sukses mengajak penonton melantunkan secara massal mantra ajaib khas KAHITNA “O eya eyo..ooo eyo o eya eyo”. Ia juga berbagi panggung bersama Hedi dan Arsy dengan lagu Kasih Putih.
Marcell (dok. pri).
Batik Music Festival (dok. pri).
Berikutnya suara lembut Marcell Siahaan membawakan Peri Cintaku dan Nggak Ngerti. Dua lagu tersebut meski berasal dari era waktu yang lumayan berjarak, tapi sama-sama membangkitkan rasa pedih pelaku cinta beda agama. Menariknya setelah menenggelamkan lamunan penonton dengan lagu sedih, Marcell menghentak dengan Satu Mimpiku yang dulu diciptakan Yovie untuk grup musik The Groove.

Sebagai puncak penampilan Yovie and His Friends, KAHITNA muncul dan langsung memukau dengan suguhan vokal, gerak, dan musik yang ciamik lewat Lajeungan.

Lagu Lajeungan yang sangat kuat beraroma etnik dan liriknya ditulis dalam bahasa Madura itu pernah mengantarkan KAHITNA sebagai juara dua dunia pada ajang festival musik di Tokyo pada 1991. Di atas panggung Yovie pun sempat menceritakan perjalanan awal KAHITNA yang didirikannya pada 1986.

KAHITNA mendapatkan porsi tampil paling banyak di panggung Yovie and His Friends. Mereka juga berkolaborasi dengan 5Romeo membawakan Janji Suci, Tak Sebebas Merpati dan Harus Bahagia. 

Setelah Lajeungan KAHITNA melantunkan Andai Dia Tahu dan tentu saja Cerita Cinta yang menjadi lagu kebangsaan soulmateKAHITNA. Ini selalu menjadi bagian di mana mantra cinta Yovie Widianto dan sihir KAHITNA bekerja dengan sangat baik. Penonton tanpa malu-malu berjoged dan merapal liriknya keras-keras. “Biar cinta bergelora di dada, biar cinta memadukan kita huo huo huo!”.
KAHITNA (dok. pri).
Suasana semakin hangat dan penonton terus bersemangat sampai KAHITNA menutupnya dengan Cantik. Pertunjukkan pun tiba di penghujung ketika seluruh artis Yovie and His Friends bergabung bersama KAHITNA dengan iringan Juwita.

Meski demikian, untuk beberapa saat penonton terlihat enggan meninggalkan area pertunjukkan. Hal yang wajar karena Yovie and His Friends dirasa tampil kurang lama. Malam itu mereka hanya sekitar 75 menit di atas panggung. Kesan tergesa-gesa terasa pada pergantian antar lagu. 

Menurut informasi di tengah pertunjukkan penyelenggara meminta Yovie and His Friends untuk mencukupkan penampilan tidak lewat dari pukul 20.30. Tentulah ini sangat disayangkan, apalagi pertunjukkan sempat terlambat dimulai. Gate penonton bahkan baru dibuka menjelang pukul 17.30 atau terlambat 1,5 jam dari jadwal pukul 16.00. 
Batik Music Festival (dok. pri).
Sihir Yovie and His Friends (dok. pri).
Catatan penting untuk promotor karena penyakit Prambanan Jazz yang sering terlambat rupanya masih terbawa ke Batik Music Festival. Untungnya Yovie and His Friends tampil penuh totalitas. Sekali lagi, mantra-mantra cinta Yovie Widianto berhasil menyihir para penggemarnya yang  senantiasa "bucin".

***
Video Batik Music Festival klik di sini


Komentar

Postingan populer dari blog ini

MILO CUBE, Cukup Dibeli Sekali Kemudian Lupakan

Alkisah, gara-gara “salah pergaulan" saya dibuat penasaran dengan Milo Cube. Akhirnya saya ikutan-ikutan membeli Milo bentuk kekinian tersebut.
Oleh karena agak sulit menemukannya di swalayan dan supermarket, saya memesannya melalui sebuah marketplace online. Di berbagai toko online Milo Cube dijual dengan harga bervariasi untuk varian isi 50 cube dan 100 cube. Varian yang berisi 100 cube yang saya beli rentang harganya Rp65.000-85.000.
Pada hari ketiga setelah memesan, Milo Cube akhirnya tiba di tangan saya. Saat membuka bungkusnya saya langsung berjumpa dengan 100 kotak mungil dengan bungkus kertas hijau bertuliskan “MILO” dan “ENERGY CUBE”. Ukurannya benar-benar kecil. Satu cube beratnya hanya 2,75 gram, sehingga totalnya 275 gram.
Tiba saatnya unboxing. Milo Cube ini berupa bubuk coklat yang dipadatkan sehingga menyerupai permen hisap. Tapi sebenarnya tak bisa disebut permen karena meski dipadatkan, agregat bubuk Milo ini mudah hancur saat terjatuh.
Dalam benak dan angan saya ter…

Poto Batu, "Vitamin Sea" di Pesisir Sumbawa Barat

“Lihat ke kiri!”. Suara Pak Arie membangunkan kembali kesadaran kami yang kebanyakan sudah hampir tertidur di dalam bis. Siang itu kami sedang dalam perjalanan dari Jereweh ke Kertasari, keduanya di Kabupaten Sumbawa Barat. 

Ucapan Pak Arie pun dituruti oleh beberapa di antara kami yang segera mengarahkan pandangan menembus kaca jendela bis. Entah siapa yang memulai meminta bis untuk berhenti, tapi sekejap kemudian kami semua sudah turun dan mendapati diri berada di sebuah pantai yang indah. Poto Batu namanya.
Pantai Poto Batu berada tak jauh dari Labuhan Lalar di Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Perjalanan dari Jereweh menuju Poto Batu kami tempuh melalui jalanan beraspal yang tidak terlalu ramai. Agak mengherankan karena jalan tersebut adalah akses penghubung antara ibu kota Sumbawa Barat, Taliwang, dengan sejumlah daerah di sekitarnya.
Mendekati Poto Batu beberapa ruas jalan menyempit dan aspalnya kurang rata. Oleh karenanya kendaraan perlu berjalan lebih pelan. Apalagi, …

Pacar yang Baik Bernama "Patjar Merah"

“Jokowi itu China, nama aslinya Wie Jo Koh. Dia juga kafir, waktu lahir nama Kristen-nya Herberthus”
Narasi tersebut barangkali masuk dalam jajaran hoaks paling keren abad ini. Dalam kitab besar “hoaks-mania", narasi itu mungkin dijumpai di kategori “paket hoaks premium” karena sasarannya tokoh besar dan terbukti memiliki dampak yang luas serta dahsyat. Banyak orang mempercayainya sampai ke dalam lubuk hati. Meski kemudian terbukti kebohongannya, tapi tetap diyakini: pokoknya Jokowi itu China kafir! Begitulah, hari demi hari kita semakin sering menjumpai aneka rupa orang dengan tampang yang mengesankan malasnya mereka membaca. Kepada dunia mereka konsisten memamerkan kebodohan.
Perlu digarisbawahi bahwa kebodohan diam-diam menular seperti virus yang bisa menjangkiti tubuh manusia. Abang ojek, penjual sayur, buruh pabrik, hingga orang-orang sebenarnya berilmu seperti mahasiswa, aktivis pemuda, guru, dokter, doktor, artis, bekas artis, dan ustad bisa dijangkiti kebodohan. Pendek kata …