Langsung ke konten utama

Diari Isoman 2: Malam Pertama Bersama Corona, "Tentara Semut" Menyerang Tenggorokan

Setelah tes swab antigen pada 26/7/2021 dan hasilnya dikirimkan ke perwakilan puskesmas, saya diberi tahu bahwa obatan-obatan untuk isoman akan dihantarkan esok harinya. Belum tahu obat apa yang hendak saya terima nanti. Namun, saya sudah memberi tahu gejala yang saya rasakan.

Isolasi mandiri (dok. pribadi).

Dengan bekal parasetamol 500 mg dan termometer saya memulai malam pertama bersama virus Corona. Saya beranjak tidur pukul 21.00.

Sebelum itu saya membuat wedang jahe dan sereh lebih dulu. Ini bukan hal baru bagi saya. Semenjak kecil ibu sudah memperkenalkan saya dengan minuman jamu. Maka saya sudah terbiasa meminum ramuan tradisional seperti wedang jahe, wedang uwuh, wedang secang dan sejenisnya.

Saya merasa minuman seperti wedang jahe dan sereh akan berguna untuk menyertai perang melawan Corona. Meski belum ada bukti ilmiah yang gamblang menerangkan khasiat ramuan tradisional ini untuk melawan Covid-19, paling tidak manfaat minuman tersebut sudah sering saya rasakan mampu membuat tubuh lebih nyaman ketika sedang meriang, masuk angin, atau kelelahan.

Pada malam pertama itu sebenarnya kondisi badan sudah jauh lebih baik. Meriang sudah hilang, tenggorokan sudah tidak gatal, dan pegal-pegal sudah berkurang. Saya pun bisa segera terlelap.

Namun, serangan tiba-tiba datang sekitar pukul 23.00. Saya terbangun dengan kondisi tenggorokan yang sangat gatal dan tidak nyaman. Batuk kering, walau hanya ringan, tidak bisa ditahan. Rasa tidak nyaman di tenggorokan ini melebihi sakit tenggorokan yang saya alami pada pagi harinya saat gejala awal muncul.

Seperti ada rombongan tentara semut yang tiba-tiba masuk ke tenggorokan dan berjejalan di dalamnya. Kalau bisa menjangkau bagian dalam tenggorokan, ingin rasanya saya menggaruknya. Rasa gatalnya benar-benar tidak nyaman.

Tanpa menunggu lama saya segera bangkit menuju dapur untuk memanaskan air rebusan jahe dan sereh. Selagi hangat saya meminumnya dengan tambahan sedikit gula merah. Entah apa yang terjadi, batuk dan rasa gatal di tenggorokan dengan cepat reda. Saya pun tidur lagi dan bisa nyenyak hingga bangun sekitar pukul 04.30.

Saya sedang tidak mengatakan bahwa wedang jahe dan sereh mampu mengusir Covid-19. Gejala setiap orang kemungkinan berbeda-beda. Respon dan batas toleransi setiap individu terhadap obat atau suplemen pun tidak sama. 

Kebetulan pada malam pertama itu saya mendapati bahwa untuk sementara saya bisa mengatasi serangan di tenggorokan dengan wedang jahe dan sereh. Mungkin ini sebabnya beberapa pakar menyebut bahwa empon-empon berpotensi sebagai senjata tambahan untuk melawan Corona. Lebih tepatnya untuk mengurangi beberapa gejala dan ketidaknyamanan yang dialami oleh pasien Covid-19.

Setelah serangan “tentara semut” yang menyebabkan tenggorokan saya amat gatal malam itu, saya bangun pagi dengan badan yang lebih nyaman.

Menjelang siang obat-obatan dari puskesmas dihantarkan. Saya mendapatkan paracetamol 500 mg, multivitamin, dan vitamin C 50 mg. Obatan-obatan yang bisa dibilang standar untuk mengatasi sakit ringan. Sesuai dengan yang saya butuhkan karena masih mengalami gejala ringan. Namun, untuk vitamin C saya memilih mengkonsumsi vitamin C 500 mg dari persediaan pribadi.

Di sela waktu istirahat, saya mencoba menganalisis serangan “tentara semut" semalam. Saya berandai-andai tentang serangan susulan yang mungkin akan dilancarkan virus Corona berikutnya. Sebagai orang yang pernah menderita sakit paru-paru, saya tidak sampai berpikir tentang kemungkinan sesak nafas. Saya percaya dua dosis vaksin yang telah disuntikkan ke dalam tubuh saya bisa mengurangi kemungkinan munculnya gejala yang lebih berat.

Walau demikian saya tetap perlu menyiapkan diri jika serangan batuk yang semalam terjadi ternyata hanya permulaan. Bagaimana kalau “tentara semut” datang kembali dengan serangan yang lebih hebat? Bagaimana jika disertai dengan demam yang tiba-tiba?

Kalau itu harus terjadi (tentu saya tidak berharap) saya lebih memilih untuk menerimanya pada siang hari. Sebab pada siang hari akan lebih mudah untuk menghubungi dokter atau meminta pertolongan untuk dicarikan obat-obatan tambahan. Daripada harus meladeni serangan Corona pada malam hari karena itu akan lebih merepotkan.

Menerima serangan virus Corona pada malam hari jelas sangat tidak nyaman. Salah satunya karena mengacaukan waktu tidur. Padahal tidur yang cukup dan nyenyak sangat dibutuhkan untuk pemulihan pasien Covid-19. Apalagi saya termasuk orang yang jika sudah terbangun tengah malam, akan sulit untuk menutup mata kembali dengan segera.

Saya menarik kesimpulan awal bahwa serangan “tentara semut” yang saya rasakan pada malam pertama isoman kemungkinan merupakan bagian dari strategi licik virus Corona. Virus ini tidak ingin pasien Covid-19 istirahat dengan nyaman. Berbagai gejala mungkin akan timbul pada malam hari untuk menguras energi saya sehingga proses pemulihan  tidak bisa berlangsung optimal. 

Wedang jahe dan sereh (dok. pribadi).

Oleh karena itu, saya perlu bersiap. Saya mulai mengatur barang-barang dan obatan-obatan untuk dotempatkan sedekat mungkin dengan tempat tidur sehingga mudah dijangkau. Saya putuskan untuk selalu menyiapkan minyak kayu putih, inhaler, dan segelas air di samping tempat tidur. Karena saya belum mendapatkan obat batuk dari puskesmas, saya memilih untuk membeli secara daring.

Sementara itu lampu dapur dan kamar mandi tidak akan saya matikan pada malam hari. Smartphone saya kondisikan agar tidak sampai kehabisan daya dan paket data internetnya cukup paling tidak sampai dua minggu ke depan.

Pengalaman menghadapi serangan mendadak dari “tentara semut” pada malam pertama isolasi mandiri benar-benar menjadi modal berharga bagi saya dalam bertempur melawan virus Corona sampai 15 hari ke depan. Berangkat dari kejadian malam pertama, saya menerapkan penyesuaian aktivitas selama isolasi mandiri.

Apa yang terjadi dalam tubuh saya selanjutnya dan bagaimana saya mengatasi setiap gejala akan saya ceritakan pada kesempatan berikutnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MILO CUBE, Cukup Dibeli Sekali Kemudian Lupakan

Alkisah, gara-gara “salah pergaulan" saya dibuat penasaran dengan Milo Cube. Akhirnya saya ikutan-ikutan membeli Milo bentuk kekinian tersebut.   Milo Cube (dok. pri). Oleh karena agak sulit menemukannya di swalayan dan supermarket, saya memesannya melalui sebuah marketplace online . Di berbagai toko online Milo Cube dijual dengan harga bervariasi untuk varian isi 50 cube dan 100 cube. Varian yang berisi 100 cube yang saya beli rentang harganya Rp65.000-85.000.   Pada hari ketiga setelah memesan, Milo Cube akhirnya tiba di tangan saya. Saat membuka bungkusnya saya langsung berjumpa dengan 100 kotak mungil dengan bungkus kertas hijau bertuliskan “MILO” dan “ENERGY CUBE”. Ukurannya benar-benar kecil. Satu cube beratnya hanya 2,75 gram, sehingga totalnya 275 gram.   Milo Cube yang sedang digandrungi saat ini (dok. pri). "Milo Kotak", begitu kira-kira terjemahan bebas Milo Cube (dok. pri). Tiba saatnya unboxing . Milo Cube ini berupa bubu

Purbalingga Food Center: Becek, Lembap dan Kurang Rapi

Awal Januari 2020 ada sebuah tempat baru yang diluncurkan di Purbalingga, Jawa Tengah. Namanya Purbalingga Food Center . Purbalingga Food Center (dok. pri). Saya tahu pertama kali dari berita daring yang mengabarkan pemindahan ratusan pedagang kaki lima ke "Purbalingga Food Center" pada 6 Januari 2020. Saat itu diadakan karnaval yang menjadi simbolisasi pemindahan sekitar 360 PKL penghuni Alun-alun Purbalingga, area GOR/Stadion Goentoer Darjono, trotoar Jalan Piere Tendean dan sekitarnya untuk selanjutnya disatukan di Purbalingga Food Center.   Lokasi Purbalingga Food Center ada di selatan GOR Goentoer atau tepat bersisian dengan jalan lingkar selatan GOR Goentoer. Jaraknya dari Alun-alun Purbalingga tak sampai 2 km. Pada 11 dan 12 Januari 2020 saat berada di Purbalingga, saya sempatkan untuk melihat tempat ini. Saya datang pada pagi hari meski layaknya pusat jajanan kaki lima, tempat ini pun perlu dicoba untuk dikunjungi pada malam hari.   Ar

"Bad Content is a Good AdSense", Jahatnya Para Pemburu Untung di Tengah Pandemi

Selama ini kita mengenal “hukum media” yang berbunyi “Bad News is a Good News”. Itu semacam sindiran atau ungkapan ironi tentang pola pemberitaan media masa kini yang kerap berlebihan dalam menyampaikan informasi dan berita seputar bencana. Youtube (dok. pri). Kita tahu bencana adalah kejadian buruk yang mestinya direspon dengan bersimpati, berempati, atau kalau perlu menyampaikan solusi dan bantuan yang nyata meringankan. Namun, bagi media kejadian bencana seolah menjadi kesempatan emas. Alasannya karena masyarakat kita suka dengan informasi seputar bencana. Maka setiap ada bencana atau peristiwa yang memilukan, kisah-kisahnya selalu menyedot perhatian masyarakat secara luas. Media lalu memberitakannya dengan porsi yang besar. Informasi diobral, termasuk informasi-informasi yang tak jelas ikut dilempar ke publik dengan label berita. Segala aspek dikulik dengan dalih “sudut pandang media”. Padahal hal-hal tersebut mungkin tak pantas diberitakan. Semakin parah komentator “palugada” jadi