Langsung ke konten utama

Diari Isoman 3: Diberi Steroid, padahal Gejala Ringan

Pasien Covid-19 yang bergejala ringan bisa melakukan isolasi mandiri untuk membatasi penularan dan melakukan penyembuhan. Selama isolasi konsultasi dengan dokter tetap diperlukan untuk menghindari pasien Covid-19 mengkonsumsi obat secara jor-joran.

Selama menjalani isolasi mandiri, saya mendapat paket obat gratis dari puskemas sebanyak 3 kali. Seorang bidan ditugasi oleh puskesmas untuk mengantarkannya. Seperti paket hantaran lainnya, obatan-obatan itu pun diletakkan di atas pagar.

Dexamethasone (dok. pribadi).  
 

Bidan pula yang memantau perkembangan kesehatan saya. Komunikasi kami dilakukan lewat whatsapp. Dari pemantauan itulah obatan-obatan untuk saya ditentukan. Misalnya, pada hari-hari pertama saya merasa meriang dan pegal-pegal. Saya pun mendapatkan parasetamol 500 mg, multivitamin dan vitamin C 50 mg.

Multivitamin saya minum sekali dalam sehari. Sedangkan parasetamol saya minum hanya saat merasa meriang. Untuk kebutuhan vitamin C saya putuskan mengkonsumsi vitamin C 500 mg dari persediaan sendiri. Demikian pula dengan obat batuk.

Seiring waktu saya sudah tidak lagi meriang. Batuk pun sudah reda. Namun, giliran sakit kepala atau pusing yang dirasakan. Paket-paket obat-obatan pun sedikit berubah. Selain parasetamol dan multivitamin, ada ibuprofen untuk mengatasi keluhan pusing dan pegal-pegal.

Saat obat sudah habis, bidan akan mengantarkannya lagi disertai catatan-catatan seperlunya. Misalnya, apakah dosisnya ditambah atau tetap diminum seperti biasa.

Harus Minum Dexamethasone?
Namun, ada satu momen yang membuat saya terkejut. Pada pengantaran obat periode kedua, tepatnya pada hari keenam isolasi, saya mendapatkan obat yang sedang ramai dibahas oleh para pakar dan dokter, yakni Dexamethasone.

Pada catatan yang saya terima dalam paket obat-obatan tersebut, Dexamethasone perlu saya minum 3 X 1 tablet untuk mengatasi radang.

Mendapati hal itu saya diliputi tanda tanya. Sebab saya tidak mengalami radang. Batuk ringan pun sudah tidak terjadi. Saya tidak mengeluhkan kedua gejala tersebut kepada bidan dan puskemas.

Lalu mengapa saya perlu meminum Dexamethasone? Apakah ini paket obat yang tertukar? Rasanya tidak. Sebab ada nama saya tertulis. Ataukah Dexamethasone merupakan bagian dari paket standar obatan-obatan untuk pasien Isoman?

Saat itu saya kembali membuka artikel-artikel tentang Dexamethasone yang pernah saya baca sebelumnya. Kultwit dari beberapa dokter yang menangangi pasien Covid-19 juga saya telusuri lagi.

Apa yang saya pahami ialah Dexamethasone tidak direkomendasikan untuk pasien Covid-19 gejala ringan. Apalagi dikonsumsi terus menerus tanpa pengawasan.

Bahkan, ada pakar dan dokter yang dengan tegas menyebut bahwa obat ini justru bisa memperburuk kondisi pasien yang sebenarnya tidak membutuhkannya. Sebab Dexamethasone akan menekan sistem kekebalan. Akibatnya pasien gejala ringan bisa rentan mengalami infeksi lain. Justru pada pasien gejala ringan sistem kekebalan tubuh perlu dioptimalkan agar pulih lebih cepat. Singkat kata, obat steroid Dexamethasone tidak diberikan kepada pasien Covid-19 gejala ringan.

Dibantu Dokter via Telemedicine
Tidak ingin mengambil kesimpulan sendiri, apalagi saya bukan dokter atau ahli farmasi,  saya memutuskan untuk mencari pendapat pembanding dari dokter lainnya.

Segera setelah menerima Dexamethasone saya mengirim pesan whatsapp kepada seorang dokter muda di Yogyakarta. Sebelumnya saya sudah beberapa kali meminta layanan telemedicine kepadanya dan dilayani dengan baik.

Setelah menunggu sekitar 30 menit, pesan saya dibalas olehnya. Mula-mula ia menjelaskan bahwa Dexamethasone merupakan golongan steroid yang bisa dikonsumsi secara aman dengan petunjuk dokter. Jika dokter memberikan obat tersebut setelah mengevaluasi gejala pasien atau sebelumnya saya telah mengkonsumsi Dexamethasone dan tidak timbul keluhan, maka saya bisa melanjutkan untuk mengkonsumsinya.

Namun, dokter muda ini memberi catatan lain. Mengingat saya hanya bergejala ringan, tidak mengalami radang, dan belum pernah mengkonsumsi Dexamethasone, maka obat steroid yang diberikan oleh puskesmas itu tidak perlu saya minum.

“Sebenarnya dengan vitamin aja gapapa”, tegasnya.

Penjelasan darinya membuat saya lega. Informasinya memperjelas seputar perlu tidaknya pasien gejala ringan seperti saya mengkonsumsi Dexamethasone. Saya pun memutuskan untuk tidak menyentuh obat tersebut.

Bukan tidak menghargai paket obatan-obatan gratis dari puskesmas, tapi saya masih merasakan kondisi yang baik-baik saja. Gejala yang saya alami pun telah berkurang.

Saya mencoba berpikir positif bahwa Dexamethasone yang tiba-tiba ada dalam paket obat Isoman tersebut merupakan langkah antisipasi jika suatu ketika kondisi pasien memburuk. Oleh karena itu, saya tetap menyimpan Dexamethasone sebagai stok obat.

Telemidicine (dok. pribadi).

Di sisi lain saya merasakan manfaat yang besar dari layanan telemedicine gratis yang disediakan oleh sejumlah dokter. Konsultasi dengan dokter sangat penting untuk menghindari pasien Covid-19 yang sedang melakukan isolasi mandiri mengkonsumsi obat secara jor-joran.

Setiap pasien mengalami gejala yang berbeda. Target dan fungsi setiap obat pun tidak sama. Oleh karena itu, pasien Covid-19 bergejala ringan yang menjalani isolasi mandiri tetap perlu berkonsultasi dengan dokter sebelum mengkonsumsi obat.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Bad Content is a Good AdSense", Jahatnya Para Pemburu Untung di Tengah Pandemi

Selama ini kita mengenal “hukum media” yang berbunyi “Bad News is a Good News”. Itu semacam sindiran atau ungkapan ironi tentang pola pemberitaan media masa kini yang kerap berlebihan dalam menyampaikan informasi dan berita seputar bencana. Youtube (dok. pri). Kita tahu bencana adalah kejadian buruk yang mestinya direspon dengan bersimpati, berempati, atau kalau perlu menyampaikan solusi dan bantuan yang nyata meringankan. Namun, bagi media kejadian bencana seolah menjadi kesempatan emas. Alasannya karena masyarakat kita suka dengan informasi seputar bencana. Maka setiap ada bencana atau peristiwa yang memilukan, kisah-kisahnya selalu menyedot perhatian masyarakat secara luas. Media lalu memberitakannya dengan porsi yang besar. Informasi diobral, termasuk informasi-informasi yang tak jelas ikut dilempar ke publik dengan label berita. Segala aspek dikulik dengan dalih “sudut pandang media”. Padahal hal-hal tersebut mungkin tak pantas diberitakan. Semakin parah komentator “palugada” jadi

Di Balik Lucunya Srimulat: Punya Koneksi Intelijen dan Berani Melawan PKI

Saya menyukai Srimulat sejak kecil. Layar kaca TV menjadi medium saya menyaksikan grup ini. Oleh karena itu, generasi Srimulat yang saya tahu merupakan generasi ketika Srimulat sudah memasuki industri TV. Srimulat era industri TV (foto repro/dok.pribadi). Keluarga besar kami yang banyak berasal dari Klaten dan Jawa Timur membuat saya terpengaruh dan akhirnya menyukai Srimulat. Apalagi saat mudik dan berkumpul di Klaten, tontonan Srimulat menjadi suguhan wajib di rumah kakek. Waktu itu Srimulat tayang berulang kali sepanjang hari selama libur lebaran. Nonton bersama menjadi salah satu kegiatan utama kami ketika berkumpul. Barangkali karena pendiri Srimulat, yakni Raden Ayu Srimulat lahir di Klaten sehingga keluarga kami menyenangi grup lawak ini. Semacam ada ikatan batin atau kebanggaan sebagai sesama orang berdarah Klaten.  *** Pada masa jayanya anggota Srimulat mencapai 100 orang. Bahkan, sepanjang  sejarahnya dari awal berdiri sebagai kelompok kesenian hingga menjadi grup lawak era i

Diari Isoman 4: Gejala Ringan yang Bikin "Ngos-ngosan"

Rabu, 28 Juli 2021, hari ketiga isolasi mandiri saya menyamankan diri dengan berusaha memperbaiki nafsu makan. Sop daging lumayan menyemangati lidah. Semakin hangat karena banyak merica ditambahkan. Yang terjadi pada saya (dok. pribadi). Namun, sedapnya sop tersebut hanya sesaat terasa. Sekitar dua jam kemudian sesuatu yang tak terduga terjadi. Penciuman saya pelan-pelan memudar. Aroma minyak kayu putih hanya tipis-tipis terlacak. Sementara lidah tak lagi bisa mencecap rasa seperti biasa. Hanya minuman atau buah yang sangat manis masih terlacak sedikit jejaknya. Jangan Disepelekan Malam harinya semua tak lagi tercium dan terasa. Benar-benar hampa penciuman saya. Hambar pula yang segala sesuatu yang mendarat di lidah. Walau demikian ada keuntungan yang saya rasakan, yakni obat yang pahit menjadi tidak masalah lagi untuk ditelan. Anosmia yang tiba-tiba terjadi dan dalam hitungan jam segera menghilangkan kemampuan saya mencium aroma dan mencecep rasa menjadi semacam peringatan bahwa gejal