Langsung ke konten utama

Spanduk "Hoax" Bertebaran Kantor dan Pos Polisi

“Mereka yang telah merenggut ratusan nyawa di dalam stadion hanya dalam semalam tidak akan berat melindas hanya seorang manusia di jalanan”


Spanduk "hoax" di kantor polisi (dok. pribadi).


Mendung dan dingin pagi ini terasa lebih mengiris. Meninggalkan rumah menuju jalan raya, saya berpapasan dengan seorang pengemudi ojol berjaket hijau-hitam yang membelok masuk ke dalam komplek tempat tinggal. Barangkali ia sedang mengantar sarapan yang dipesan oleh seorang pelanggan. Mungkin juga hendak menjemput warga yang minta dihantar ke kantor, sekolah, kampus, pasar, atau rumah sakit.


Barangkali seperti itu pula rutinitas Affan Kurniawan setiap hari. Pagi-pagi sekali ia berpamitan kepada orang tuanya, lalu segera meluncur ke dalam labirin jalanan ibu kota untuk menjemput nafkah yang akan ia persembahkan kepada keluarga di rumah.


Namun, Affan tidak lagi berada di jalanan pagi ini dan seterusnya. Semalam ia gugur. Tubuhnya dilindas mobil polisi yang dibeli dari uang yang dibayarkan oleh Affan dan kita semua. 


Pagi ini sangat mengiris. Bukan oleh gerimis yang turun malu-malu dan setengah hati. 


Di sebuah perempatan saat lampu merah menyala dan semua kendaraan berhenti, terlihat sebuah spanduk terbentang. Terikat dengan tali pada bagian bawah atap dan menggantung sejajar dengan dinding sebuah pos atau kantor polisi penjaga lalu lintas. Spanduk yang sama juga dijumpai di hampir semua pos, kantor, klinik, dan tempat-tempat pelayanan milik aparat tersebut. Isinya tiga kata lucu: “Polri Untuk Masyarakat”


Memang lucu karena jargon itu menggantikan tiga kata lucu sebelumnya: “Polisi Pengayom Masyarakat”.


Pergantian jargon itu seolah menyiratkan makna bahwa mereka merasa tidak percaya diri lagi untuk menjadi “pengayom”. Lalu dicarilah ungkapan lain yang mirip, tapi lebih terkesan dekat dan akrab. 


Maka “Polri Untuk Masyarakat” menggambarkan bagaimana akhir-akhir ini aparat rajin menanam padi dan jagung yang konon hasilnya untuk kebutuhan rakyat. Aparat juga tiba-tiba ikut menjual beras murah. Sungguh aneh ketika masyarakat kesulitan menemukan beras murah di pasaran, mereka justru bisa mendapatkan stok yang lebih murah. Dari mana dan bagaimana aparat bisa mendapatkan beras-beras itu? Polisi pilar kedaulatan pangan. Begitu katanya.


Akan tetapi slogan seperti kosmetik atau riasan. Seringkali terlalu ringkih dan tidak kekal menutupi jerawat-jerawat yang menganggu. Tiga kata lucu “Polri Untuk Masyarakat” yang meski dipasang di setiap kantor dan pos aparat, tetap tidak mengubur kenyataan dan sejarah bahwa pernah meletus tembakan gas air mata di dalam sebuah stadion yang dengan itu ratusan tubuh segera bergelimpangan. Dalam semalam ratusan nyawa lepas dari raganya.


Kemudian di tempat lain seorang pelajar ditembak. Tak cukup hanya dengan menembak, atasan-atasan yang lebih berpangkat membela diri dengan jalan memfitnah korban yang telah jadi jenazah. Pelajar yang telah dikubur itu dituduh layaknya pembuat onar yang hendak tawuran.


Dan semalam, seorang pencari nafkah dan tulang punggung keluarga yang setiap rupiahnya dipotong pajak untuk membayar fasilitas aparat, gugur dilindas mobil aparat. 


Mereka memang takkan pernah bisa jadi pengayom. Bagi mereka, tercabutnya satu nyawa barangkali tidak dirasakan sebagai dosa yang terlalu berat. Ratusan jiwa di dalam stadion saja bisa dilangkahi, apalagi hanya melindas seorang. 


Affan telah gugur, tapi ia tidak mati. Mulai hari ini Affan hidup sebagai ingatan kolektif kita semua tentang bagaimana negara menindas warganya dan bagaimana aparat melindas nyawa rakyat.


Dalam perjalanannya menuju sang pencipta, Affan juga telah memberi tahu kita betapa spanduk-spanduk di kantor dan pos aparat itu isinya kebohongan. Tiga kata itu bukan hanya lucu, tapi juga hoax. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

MILO CUBE, Cukup Dibeli Sekali Kemudian Lupakan

Alkisah, gara-gara “salah pergaulan" saya dibuat penasaran dengan Milo Cube. Akhirnya saya ikutan-ikutan membeli Milo bentuk kekinian tersebut.   Milo Cube (dok. pri). Oleh karena agak sulit menemukannya di swalayan dan supermarket, saya memesannya melalui sebuah marketplace online . Di berbagai toko online Milo Cube dijual dengan harga bervariasi untuk varian isi 50 cube dan 100 cube. Varian yang berisi 100 cube yang saya beli rentang harganya Rp65.000-85.000.   Pada hari ketiga setelah memesan, Milo Cube akhirnya tiba di tangan saya. Saat membuka bungkusnya saya langsung berjumpa dengan 100 kotak mungil dengan bungkus kertas hijau bertuliskan “MILO” dan “ENERGY CUBE”. Ukurannya benar-benar kecil. Satu cube beratnya hanya 2,75 gram, sehingga totalnya 275 gram.   Milo Cube yang sedang digandrungi saat ini (dok. pri). "Milo Kotak", begitu kira-kira terjemahan bebas Milo Cube (dok. pri). Tiba saatnya unboxing . Milo Cube ini berupa bubu...

Sewa iPhone untuk Gaya, Jaminannya KTP dan Ijazah

Beberapa waktu lalu saya dibuat heran dengan halaman explore instagram saya yang tiba-tiba menampilkan secara berulang iklan penawaran sewa iPhone. Padahal saya bukan pengguna iPhone. Bukan seorang maniak ponsel, tidak mengikuti akun seputar gadget, dan bukan pembaca rutin konten teknologi. iPhone (engadget.com). Kemungkinan ada beberapa teman saya di instagram yang memiliki ketertarikan pada iPhone sehingga algoritma media sosial ini membawa saya ke konten serupa. Mungkin juga karena akhir-akhir ini saya mencari informasi tentang baterai macbook. Saya memang hendak mengganti baterai macbook yang sudah menurun performanya. Histori itulah yang kemungkinan besar membawa konten-konten tentang perangkat Apple seperti iphone dan sewa iPhone ke halaman explore instagram saya. Sebuah ketidaksengajaan yang akhirnya mengundang rasa penasaran. Mulai dari Rp20.000 Di instagram saya menemukan beberapa akun toko penjual dan tempat servis smartphone yang melayani sewa iPhone. Foto beberapa pelanggan...

KAHITNA : di antara kebahagiaan, cinta dan PERSELINGKUHAN (sebuah sinopsis)

Sebuah buku diangkat menjadi sebuah film atau sinetron tentu sudah biasa. Lagu yang sengaja dicipta sebagai soundtrack film juga sudah banyak. Tapi bagaimana jika sebuah lagu dituturkan ulang sebagai sebuah buku ?. KAHITNA baru saja melakukannya. Menggandeng penerbit buku Gramedia, KAHITNA kembali menghadirkan karya istimewa untuk para penggemarnya. Buku berjudul “DI ANTARA KEBAHAGIAAN, CINTA DAN PERSELINGKUHAN” menjadi persembahan terbaru mereka. Satu dari rangkaian peringatan 25 tahun kiprah KAHITNA di blantika musik Indonesia. Di Antara Kebahagiaan, Cinta dan Perselingkuhan adalah sebuah kumpulan cerita pendek (cerpen) bertema cinta yang sebagian besar digali dari pengalaman serta kenangan – kenangan banyak orang yang terinspirasi oleh lagu-lagu KAHITNA. Isi ceritanya tak lepas dari lagu-lagu KAHITNA. Bahkan judul setiap cerpen nya persis sama dengan judul hits-hits cinta KAHITNA. Ada banyak yang “curhat” di dalam buku setebal 173 halaman ini. Tak cuma KAHITNA...