![]() |
| "Senja di Jakarta", salah satu karya besar Mochtar Lubis (dok.pribadi). |
“Berapa banyak sebenarnya di antara rakyat kita yang mengerti apa yang mesti mereka pilih? Tukang pidato yang pintar mudah saja menipu orang banyak di negeri kita” (Mochtar Lubis, Senja di Jakarta)
Sebuah rapat partai digelar di sebuah tempat di ibukota. Di antara yang hadir ialah ketua partai berkuasa dan seorang politisi senior sekaligus pengusaha. Mereka membahas rencana pengumpulan dana sebagai persiapan logistik pemilu.
Caranya ialah mendirikan perusahaan-perusahaan bodong dengan meminjam nama anggota keluarga sebagai pemimpin perusahaan. Selanjutnya perusahaan abal-abal tersebut akan mendapat jatah lisensi impor dari pemerintah lalu menjual kembali lisensinya kepada perusahaan lain dengan harga berkali-kali lipat. Agar pengurusan perusahaan dan lisensi impor berjalan lancar, partai memanfaatkan jaringan kadernya yang telah menduduki posisi penting di sejumlah departemen dan kementerian.
Partai juga mempersiapkan nama-nama untuk menduduki kursi direktur dan komisaris di perusahaan-perusahaan negara. Semua itu demi mempercepat upaya mendapatkan sesuatu yang mereka sebut sebagai “makanan besar”.
Begitulah persekongkolan jahat para politisi, pejabat, dan pengusaha untuk merampok uang negara digambarkan oleh Mochtar Lubis dalam novel “Senja di Jakarta”. Pertama kali diterbitkan dalam bahasa Inggris pada 1963 lalu diterjemahkan ke dalam bahasa melayu dan Indonesia, “Senja di Jakarta” secara kritis menyoroti joroknya politik di negeri ini.
“Senja di Jakarta” berlatar akhir masa 1950-an ketika republik masih sangat muda dan sedang menghadapi krisis politik serta ekonomi akibat nilai mata uang yang lemah serta rakyat yang sulit mendapatkan beras, garam, dan minyak goreng.
Meski bercerita tentang zaman dahulu, novel ini bagaikan laporan terkini tentang Indonesia dari waktu ke waktu. Membaca “Senja di Jakarta” seperti menyaksikan pertunjukkan di balik setiap skandal korupsi, menelanjangi politik Indonesia sekaligus mengurai jejaring di lingkaran kekuasaan yang serba korup.
Modus korupsi melalui perusahaan fiktif dan permainan kuota impor seperti yang disebutkan di atas hanya sebagian dari yang ditelanjangi oleh “Senja di Jakarta”.
Birokrasi Bobrok, Pegawai Negeri di Simpang Jalan
Dalam ceritanya “Senja di Jakarta” memperlihatkan pegawai negeri muda yang frustasi saat mengetahui birokrasi di tempat mereka bertugas. Selain sistem kerja yang tidak efektif, korupsi dalam berbagai bentuk juga telah jadi bagian dari “budaya”.
Mereka ada yang teguh menjaga integritas. Namun, ada pula yang ikut “main” dan terpaksa melakukannya demi memperbaiki kesejahteraan dan ekonomi keluarga. Mereka mulai memanfaatkan kedudukan begitu mengetahui jabatannya ternyata dibutuhkan oleh banyak pihak untuk mempermudah urusan.

"Senja di Jakarta" (dok.pribadi).
Melalui tokoh Sugeng dapat disimak bagaimana pegawai negeri muda memulai “debut” dalam praktik korupsi dan menjadi ketagihan mengumpulkan kekayaan secara tak halal. Sedangkan pada diri Suryono nampak bahwa kaya dan mapan bukan jaminan seseorang tidak akan korupsi. Dengan koneksi yang terbangun mereka terhubung ke dalam jaringan politisi dan pengusaha korup seperti Raden Kaslan dan Husin Limbara.
Pokoknya Kaki Tangan Asing
Ketika praktik mengumpulkan uang secara tak wajar mulai terendus, Husin Limbara si ketua partai berkuasa dan Raden Kaslan si pengusaha sepakat untuk melancarkan serangan balasan kepada pihak-pihak yang kerap mengkritik. Mereka pun membuat benteng pertahanan untuk menghadapi koran-koran yang “berisik”.
Satu gagasan meluncur, yakni menggulirkan kampanye hitam dan menyebarkannya ke tengah masyarakat bahwa para pengkritik sebenarnya adalah “kaki tangan kuasa asing” yang ingin mengganggu program-program partai dan pemerintah. Kepada masyarakat ditekankan bahwa para pengkritik didanai oleh kuasa-kuasa asing untuk menggagalkan pembangunan Indonesia. Mereka adalah kapitalis asing yang tidak sudi Indonesia bertambah maju.
Untuk mendengungkan narasi kaki tangan asing, Husin Limbara dan Raden Kaslan menggandeng seorang wartawan dan pengelola media massa.
Jurnalis(me) Melacur
Senja di Jakarta juga memotret praktik pelacuran jurnalisme dalam jejaring korupsi di lingkaran kekuasaan. Tarung narasi antara koran yang kritis dengan koran penyokong penguasa melibatkan tokoh bernama Halim.
Sebagai wartawan Halim mahir mencari muka dan pandai memainkan peran seolah ia bekerja secara profesional. Padahal ia menggilai materi dengan melayani kepentingan Husin Limbara dan Raden Kaslan.
Melalui koran milik Halim narasi adanya kaki tangan kuasa asing diserukan ke tengah masyarakat untuk mempengaruhi opini publik. Halim pun menggagas forum pemimpin redaksi untuk memadamkan api serangan kritik media massa terhadap pemerintah dan partai berkuasa. Kepada forum pemimpin redaksi, Halim memasok berita dan tulisan agar pemberitaan media-media lebih seragam dan terkontrol.
Berkat semua “pekerjaan” tersebut Halim meraup banyak keuntungan, termasuk menjadi anggota parlemen.
Dipaksa Miskin
“Senja di Jakarta” memaparkan kepahitan hidup para pemulung, pengayuh becak, penarik delman, hingga kernet truk akibat kemiskinan struktural yang dikekalkan salah satunya karena korupsi. Sementara para pejabat dan politisi semakin kaya, masyarakat kecil semakin tercekik belenggu kemiskinan bukan karena tidak giat berusaha, tapi sistem sosial, politik, dan ekonomi yang tidak adil.
Oleh karena itu, Saimun dan Itam hanya sanggup bermimpi menjadi supir truk setelah kurang puas menjadi kernet. Selisih bayaran antara supir dan kernet yang sebenarnya tidak terlalu besar bagi orang-orang seperti mereka sangat berharga.
Sayangnya, sekeras apapun mereka berusaha memperbaiki nasib dengan belajar menulis, membaca, dan berlatih mengemudi truk, kenyataan selalu mengkhianati dan memaksa mereka tetap miskin. Itam hanya menjadi pengayuh becak. Ia lalu kehilangan nyawanya dalam suatu antrean yang rusuh untuk mendapatkan sembako.
Sementara Pak Ijo terus menarik delman meski sedang demam dan bisulan. Tubuhnya yang kurus dan telah renta akhirnya tak sanggup lagi menopang hidup. Ia meninggal karena tak punya uang untuk berobat.

"Senja di Jakarta" (dok.pribadi).
Melalui “Senja di Jakarta”, Mochtar Lubis tidak sekadar menangkap gejala, tapi juga mengungkap yang nyata. Pada dasarnya novel ini bukan hanya menceritakan sesuatu di masa lampau karena praktik dan persekongkolan jahat menggarong uang rakyat ternyata masih terus berlangsung dan abadi hingga hari ini. Bahkan, dengan cara dan modus yang tak banyak berbeda dengan yang dilakukan oleh Raden Kaslan, Husin, Sugeng, dan Suryono.
Kita masih mendengar berita korupsi kuota impor yang menyeret menteri, pejabat, dan pengusaha swasta. Proyek-proyek besar yang melibatkan nama-nama perusahaan dengan kantor fiktif sebagai mesin penyedot uang.
Selain itu upaya penjinakkan media-media, tokoh media yang melayani kekuasaan, serta pola pemberitaan media yang seragam dan kehilangan daya kritisnya juga sedang menggejala. Barangkali Halim-Halim baru telah bermunculan.
Hari ini pula telinga masyarakat Indonesia kerap berdengung akibat sering mendengar olok-olok yang dengan enteng ditujukan kepada rakyat yang mencoba mengkritik dan mempertanyakan suatu kebijakan. Jika Husin, Raden Kaslan, dan Halim membangun narasi “kaki tangan kuasa asing” untuk menangkis kritik, maka kini mendengar lagi bunyi-bunyian “antek asing” dan “londo ireng” sebagai senjata ketika tak mampu menjawab kritik.
Melalui “Senja di Jakarta” kita perlu merenungkan lagi arti “sejarah selalu berulang”. Barangkali bukan sejarah yang berulang, tapi sejarah kita yang bergerak sangat lambat sehingga saat kita merasa telah jauh melangkah, sebenarnya kita belum banyak berpindah dari sebuah lorong panjang yang gelap dan pengap.
Kita menganggap korupsi dan perilaku korup hari ini sebagai pengulangan dari yang pernah terjadi di masa lampau. Padahal yang terjadi ialah kelanjutan dari persekongkolan jahat yang tak kunjung usai. Begitu pun ketika kemiskinan struktural di negeri ini dianggap telah dikikis. Padahal rakyat yang mati kelaparan terus ada. Hari ini masih ada banyak Itam, Saimun, dan Pak Ijo di antara para pejabat serta politisi yang setiap hari pamer harta melalui sepatu, jam tangan, tas, dan pakaian mahalnya.

"Senja di Jakarta" (dok.pribadi).
Satu lagi, pada akhir cerita “Senja di Jakarta”, Raden Kaslan yang menyadari skandal mega korupsinya akan segera terbongkar, diam-diam pergi ke luar negeri untuk memeriksakan jantungnya.

Komentar
Posting Komentar