
"Saksi Mata" karya Seno Gumira Ajidarma (dok. pribadi).
Apa bedanya tentara dan teroris jika sama-sama menebar ketakutan, menculik, dan menghilangkan nyawa orang?
Wajah suatu rezim bisa dilihat dari
wajah militernya. Sayangnya, wajah militer seringkali pekat dengan kekerasan
dan kesewenang-wenangan. Tentara seolah tak punya cara dan bahasa lain saat
menghadapi rakyat, kecuali dengan cara dan bahasa kekerasan.
Begitulah “Saksi Mata” ingin bersuara.
Lewat 16 cerita Seno Gumira Ajidarma memaparkan bagaimana kemanusiaan
dihancurkan oleh sepatu dan senapan para tentara Indonesia dalam salah satu tragedi
paling berdarah di Timor-timur. Lalu masyarakat yang berjuang memulihkan
harkatnya sebagai manusia, walau tidak mudah dan berliku, terus menerus
dibayangi rasa takut.
Sebagai seorang jurnalis, Seno tidak sekadar menyaksikan dan merekam konflik yang terjadi. Perangai jumawa para tentara yang merupakan cerminan keangkuhan rezim orde baru turut ia rasakan sendiri. Ia ditekan karena dianggap mengetahui cerita di lapangan dan menuliskannya sebagai berita. Pengalaman diintimidasi itu ia sebut sebagai situasi yang “sangat khas di masa orde baru”.

Ketika tentara tak bisa membedakan rakyat dan musuh (dok.pribadi).
Seno memang sempat dihinggapi ketakutan.
Ia pun tak melupakan wajah dan nama pejabat tentara yang berhadapan dengannya.
Namun, ia memilih untuk melawan dan mengalahkan rasa takut tersebut dengan
mengungkapkannya melalui tulisan. Sebagaimana ia katakan, “ketika jurnalisme
dibungkam, sastra harus bicara”.
Pentingnya keberanian “bersuara” itu tersirat
dalam cerita pembuka berjudul “Saksi Mata”. Seorang korban yang berlumuran
darah dan kehilangan kedua bola matanya bersikukuh datang ke pengadilan. Ia
menyampaikan apa yang dialami dan siapa yang mengambil kedua matanya. Pada
akhir cerita, ia bermimpi mengalami hal mengerikan lainnya. Kali ini, lidahnya
yang diambil.
Hilangnya mata dan lidah korban merupakan sindiran sekaligus mencerminkan kelamnya tragedi bahwa dalam setiap
konflik demi memperjuangkan keadilan dan kebenaran banyak orang harus
kehilangan inderanya. Sementara di pihak lain, untuk membungkam suara-suara
kebenaran yang menuntut keadilan, maka mata, mulut, dan lidah masyarakat harus dicederai,
kalau perlu dihilangkan.
Kisah “Saksi Mata” seolah menelanjangi
penyakit antidemokrasi dalam tubuh militer yang menganggap penglihatan dan
suara rakyat sebagai gangguan.
Ambruknya kemanusiaan oleh teror dan
pembantaian membuat banyak keluarga kehilangan anggotanya. Menyaksikan anggota
keluarga ditangkap, dipukuli, dan dibunuh menjadi hal lazim bagi masyarakat di
daerah konflik. Meski orang-orang itu tidak bersenjata dan tidak bersalah,
tentara tak serta merta menghentikan penangkapan.
Fenomena itu muncul dalam cerita
“Misteri di Kota Ningi” ketika seorang petugas sensus menjumpai fakta jumlah
penduduk di tempatnya bertugas terus berkurang dari tahun ke tahun. Selalu ada
anggota-anggota yang hilang dari setiap keluarga di kota Ningi.
Bagi si petugas sensus kenyataan tersebut
seperti anomali karena dunia justru sedang menghadapi ledakan jumlah penduduk.
Anomali lainnya ialah keluarga yang kehilangan anggotanya nampak bersikap
wajar. Walau menyadari anggota tercintanya telah diculik dan dibantai oleh orang-orang
bertopeng, keluarga-keluarga di Kota Ningi menganggap mereka tetap ada dan
berkumpul saat makan bersama.
Sendok yang terbang dan teko air yang
terangkat sendiri bagi orang lain mungkin dianggap sebagai perlambang kehadiran
hantu. Namun, bagi keluarga yang kehilangan hal itu merupakan tanda bahwa
anggota mereka telah pulang dan berkumpul kembali.
“Misteri di Kota Ningi” adalah
penggambaran yang lembut sekaligus pedih bahwa ketika keluarga korban tak lagi meratap
dan menangis, bukan karena telah mampu melupakan dan menerima. Akan tetapi
karena telah tumbang dan pasrah harapannya.
Dunia memang lekas menjadi neraka bagi
masyarakat di daerah konflik. Kisah keluarga berubah menjadi kisah para ibu yang
kehilangan suami dan anaknya, kisah anak-anak yang tumbuh dalam pelarian di
dalam hutan, dan kisah tentang tubuh-tubuh yang diseret di jalanan.
Angan-angan negeri yang indah berganti
menjadi mimpi-mimpi buruk yang harus diterima oleh banyak keluarga yang menanti
kabar anggotanya. Seperti dalam kisah “Maria” ketika derap kaki para tentara tak
ubahnya suara-suara teror yang mendorong mereka untuk menutup pintu
rapat-rapat, meski mereka ingin terus membuka pintu dengan harapan anggota
keluarga yang hilang bisa pulang dan kembali ke rumah. Sedangkan “Kepala di
Pagar Da Silva” adalah ketakutan-ketakutan yang ingin dihindari. Yakni ketika
membuka pintu rumah bukan lagi menyambut wajah cerah anggota keluarga yang
pulang, melainkan menjumpai potongan tubuhnya menggantung di pagar.
Sementara korban tidak pernah mendapat
keadilan dan keluarga yang ditinggal hidup dalam ketakutan dan kepedihan
berkepanjangan, para tentara menikmati masa tua yang santai. Di titik ini jiwa
manusia seolah tidak ada harganya di hadapan sepatu dan senapan tentara.
Banyak tentara yang terlibat dalam
pembantaian diangkat menjadi pejabat. Bekas pimpinannya menikmati pensiun
sambil menjadi makelar proyek dan menerima tip dari sana ini.
Seolah “jenjang karir” seperti
demikian lazim di dunia militer seperti diceritakan
dalam “Darah itu Merah, Jenderal”. Tentara-tentara menganggap menangkap,
menyiksa, dan membantai merupakan bagian dari tugas prajurit dalam
mempertahankan wilayah sekaligus memberantas pemberontak. Bagi para tentara
itulah perjuangan yang sejati dan mulia sehingga mereka pun pantas mendapatkan jabatan
atau kenaikan pangkat.
Rezim memang sering berhasil memoles
wajah dan sejarah. Tragedi kemanusiaan dan kekerasan oleh tentara disamarkan
dengan berbagai cara dan rupa. Di sekolah para murid dibuat buta sejarah. Sedangkan
guru-guru terpaksa tunduk menjadi juru bicara sejarah yang keliru. Maka cerita
tentang para tentara yang berfoto sumringah di atas mayat para korban tak
sempat menjadi pengetahuan bagi anak-anak, meski di antara jasad itu barangkali
ada anggota keluarga mereka.
Dalam kisah “Pelajaran Sejarah”,
anak-anak bukan tidak mengetahui adanya tragedi pada masa silam. Mereka telah
mendengarnya dari angin yang berhembus. Namun, cerita yang mereka dengar secara
langsung dari guru di sekolah membuat mereka paham arti “sejarah”. Sementara
bagi sang guru, menceritakan tragedi kelam yang tidak tertulis di buku
pelajaran adalah upaya untuk mengungkap kebenaran sekaligus menitipkan harapan
kepada anak-anak yang akan jadi penerus masa depan.
Seluruh cerita dalam “Saksi Mata” bukan
metafora untuk menyamarkan kenyataan. “Saksi Mata” adalah fiksi yang mengungkap
fakta, yakni ketika negara terobsesi pada militerisme, tentara tak mampu
membedakan rakyat dan musuh.
“Saksi
Mata” merupakan sketsa dari tragedi pernah terjadi dan tidak boleh dilupakan
meski rezim berganti berkali-kali. Pesan pentingnya ialah kekerasan oleh negara
dan militer tidak boleh dianggap sekadar kecelakaan masa lalu. Hancurnya
kemanusiaan oleh suatu rezim yang bersenjatakan kesewenang-sewenangan tentara merupakan
salah satu babak sejarah paling mengerikan dan tak tersembuhkan.

Komentar
Posting Komentar