“Manusia bakal lenyap suatu ketika, jadi jangan pernah menyia-nyiakan hidup dengan bungkam”
![]() |
| "Dari Dalam Kubu" karya Soe Tjen Marching (dok. pribadi). |
Pernahkah kita membayangkan sebagai manusia dan keluarga yang ditakdirkan untuk menyaksikan dan mengalami kekejian demi kekejian di luar batas kemanusiaan? Mulai dari penjajahan Belanda, G30S 1965, pembantaian rakyat tak berdosa, diskriminasi ras, kekejaman militer, hingga tragedi Mei 98.
Begitulah “Dari Dalam Kubur” meriwayatkan kisah Karla dan keluarganya yang keturunan Tionghoa. Ia menyaksikan pada Mei 1998 para pria berbadan tegap dan berambut cepak menghambur di sudut-sudut kota Jakarta. Tak lama kemudian terjadi pembakaran, penjarahan dan pengrusakan tempat-tempat milik orang Tionghoa. Berbarengan dengan pemerkosaan dan pembunuhan terhadap wanita-wanita dari keluarga Tionghoa.
Alurnya kemudian mundur melalui misteri yang terkuak setelah ibunya meninggal. Seolah dari dalam kubur sang ibu menyingkap rahasia pedih dari lapis-lapis “neraka” yang telah dialami oleh keluarga Karla sejak dari kakek dan nenek serta orang tuanya. Sejak negeri ini masih dijajah bangsa asing, lalu merdeka dan kemudian ditindas oleh rezim haus darah dan kuasa orde baru.
Usai tragedi 1965, sang ibu ditangkap, ditahan, disiksa dan diperkosa oleh aparat karena dianggap terlibat partai komunis. Bertahun-tahun kemudian wanita itu memutuskan berganti identitas demi melindungi keluarganya dari diskriminasi yang terus menerus dilakukan oleh negara dan masyarakat.
Mencari Kemerdekaan
Gugatan demi gugatan meluncur melalui sejarah dan riwayat getir keluarga Karla. Salah satunya, mempertanyakan arti kemerdekaan.
Peringatan kemerdekaan yang selalu diisi dengan pidato-pidato para pejabat tentang Indonesia yang indah dan makmur adalah penghinaan terhadap rakyat karena hidup yang makmur hanya dimiliki oleh para pejabat yang korup dan hanya orang-orang berduit yang bisa melihat keindahan. Sedangkan rakyat selalu menyaksikan kenyataan yang sama dan berulang setiap hari: harga makanan makin mahal. Saat para pejabat berpidato bahwa kemerdekaan adalah demi kesejahteraan, kenyataannya hanya mereka yang sejahtera. Sementara rakyat makin morat-marit.
Banyak orang bersuka cita merayakan hari kemerdekaan tanpa menyadari ada rantai yang mengekang dan senapan yang mengincarnya. Salah pula orang-orang terlalu suka berteriak “merdeka!” dengan penuh kebanggaan dan keunggulan. Padahal kebanggaan tanpa kesadaran sangat berbahaya. Begitu pula jargon keunggulan dijadikan penghiburan bagi orang-orang yang menderita agar lupa pada penderitaannya.
Sebagai keturunan Tionghoa, keluarga Karla adalah korban abadi dari diskriminasi ras yang telah menimpa golongan mereka sejak penjajahan Belanda. Pemerintah kolonial menerapkan politik ras untuk memecah belah masyarakat. Kepada setiap golongan ditiupkan kebencian satu sama lain. Naasnya, setiap kali muncul ketidakpuasan terhadap pemerintah kolonial, kelompok Tionghoa sering dijadikan tameng untuk menghadapi amarah pribumi. Seterusnya golongan pribumi dan keturunan Tionghoa hidup dengan memupuk rasa benci, curiga dan saling merendahkan satu sama lain.
Oleh karena itu, leluhur Karla merasa tidak merdeka tinggal di Indonesia karena terus menerus dimusuhi dan ditindas. Mereka berniat kembali ke tanah airnya ketika pemerintah Tiongkok mengirimkan kapal-kapal untuk menjemput orang-orang Tionghoa yang ingin kembali ke tanah leluhurnya. Namun, keinginan itu urung dilaksanakan karena anak-anak mereka ingin tetap tinggal di Indonesia.
Taktik pecah belah dengan politik ras yang dijalankan oleh penjajah meninggalkan jejak abadi meski Belanda telah angkat kaki dari Indonesia. Warisan dari penjajah itu dilanjutkan oleh rezim penguasa yang membuat Indonesia sebenarnya belum merdeka sepenuhnya karena masih dijajah oleh perlakuan rasis terhadap sesama anak bangsa.
Bertahun-tahun setelah Indonesia merdeka, Karla pun mengalami apa yang menimpa leluhurnya. Diperlakukan diskriminatif di sekolah dan lingkungan tempat tinggal. Saat tragedi dan kerusuhan Mei 1998, Karla dibayang-bayangi kekhawatiran ia dan keluarganya akan menjadi sasaran di tengah kebencian dan perburuan terhadap warga Tionghoa di Jakarta.
“Londo Ireng” dan “Londo Godhong”
Lebih dari sekadar menceritakan serangkaian tragedi kelam yang seolah tak putus dari leluhur sampai keturunan. Buku ini pun menguak adanya golongan-golongan manusia Indonesia yang memilih berkiblat dan mengabdi kepada bangsa lain sambil memerangi bangsa sendiri. Secara eksplisit “Dari Dalam Kubur” menyebut mereka sebagai “Londo Ireng” dan “Londo Godhong”.
Sebutan “Londho Godhong” ditujukan kepada golongan masyarakat yang terobsesi terhadap kehidupan orang-orang Belanda. Mereka umumnya adalah keluarga yang orang tuanya bekerja sebagai pegawai pemerintah kolonial. Golongan “Londo Godhong” tidak menyukai Indonesia merdeka karena akan kehilangan pekerjaan dan penghasilannya yang telah mapan.
Para “Londho Godhong” lebih suka berbicara bahasa Belanda, berpakaian seperti bangsa Belanda, makan dengan etiket Belanda dan bertingkah laku layaknya keluarga Belanda. Mereka berhasrat meniru orang-orang Belanda karena dianggap lebih unggul dan mulia dibanding pribumi. Namun, sekeras apapun meniru mereka tidak bisa menutupi akar dan asal-usulnya yakni dari golongan masyarakat yang makan dengan alas “godhong” atau daun.
Sedangkan “Londo Ireng” adalah orang-orang Indonesia yang menjadi tentara kerajaan Belanda (KNIL) dan membantu NICA. Mereka berseragam loreng, bersenjata senapan, dan dibayar oleh Belanda.
“Londo Ireng” adalah tentara kulit coklat yang menggebuki rakyat kulit coklat.
Tentara “Londo Ireng” berada di garis paling depan untuk menghadapi rakyat yang sulit diatur atau ingin memberontak. Sikap dan perlakuan “Londo Ireng” seringkali lebih kejam dibanding tentara Belanda. Ketika Belanda berusaha menguasai kembali Indonesia, banyak “Londho Godhong” yang dengan senang hati menjadi “Londo Ireng”. Mereka menembaki tentara dan rakyat Indonesia. Artinya, “Londo Ireng” adalah tentara-tentara yang memusuhi dan memerangi sesama bangsanya.
Pertanyaannya, jika sudah tidak jadi
tentara, tapi tetap menindas dan memerangi rakyat sendiri, adakah sebutan
untuknya? Tentu, golongan ini pun bisa dinamai (bekas) Londo Ireng.



Komentar
Posting Komentar