Langsung ke konten utama

DAHULU (sebuah cerita lalu)

Saat ini pukul 00.13, 9 November 2011, bukan Sabtu. Basahnya sisa hujan semalam masih ada. Dinginnya pun makin menjadi. Secangkir air putih hangat (memang ini yang biasa menemani saya begadang) dan KAHITNA – Suami Terbaik menemani saya saat tulisan ini diketikkan pada huruf pertamanya.

Erwin, Galih, Gani, Tomo dan saya sendiri, Hendra. Itulah kami. Ada apa dengan kami ?. Apa pentingnya kami diceritakan di sini ?. Memang nggak penting-penting amat sih. Tapi mention seorang teman bernama Galih akhirnya tak hanya menarik bibir saya untuk tersenyum, tapi menggoda tangan saya untuk menulis lagi. Menulis tentang suatu waktu di masa dulu, “masa jaya” kami. (ckckck..bahasanya...^^).

Tujuh tahun lalu kami pernah bersama, bukan hanya teman SMA, tapi pernah menjadi satu grup bermusik. Bukan band, karena jangankan nama, kami juga nggak ngerti siapa vokalisnya. Player nya pun nggak jelas pembagiannya. (Trus apaan dong ?????!!). Yah, pokoknya kami grup yang kebetulan waktu itu “dipaksa” bergabung demi sebuah “kontes”. Kalau mau dibuat sedikit lebay itu semacam kontes idola SMA kali ya, hehehe ^^V. Dan pada waktu memang sedang ngehits sekali yang namanya Akademi Fantasi Indosiar dan Indonesian Idol.

Sekarang lagu Menikahimu yang sedang bermain di Winamp saya.

Begitu tahu kami disatukan dalam satu grup dan harus membawakan lagu yang nasionalis dengan tema cinta tanah air, kami semua langsung saling melempar tugas dan tanggung jawab. Menentukan siapa vokalis dan player nya saja sudah kaya sidang pembunuhan, rame dan masing-masing menyatakan keberatan dan “pembelaannya”. Entah berapa lama waktu itu acara saling lempar berlangsung. Sampai akhirnya saya sudah ada di rumah dan sudah memegang gitar klasik kepunyaan kakak saya. Kakak saya, meski dia seorang wanita tapi cukup pandai memainkan gitar. Saya pun belajar dari dia. Tapi karena waktu itu saya lebih sering bermain recorder soprano. Maka dalam hal bermain gitar saya kalah jauh dibanding kakak saya itu.

Kembali ke kami, sekelompok pemuda biasa dengan kelakuan tak biasa (apa ini coba ???? >.<’). Sore hari itu seingat saya sedang hujan. Di dalam kamar saya mulai mencoba memainkan musiknya. Saya tak membuatnya sendiri, karena sebelumnya saya memutuskan untuk menggubah dan “merusak” sebuah lagu milik sebuah band yang waktu itu sedang ngetop. Jadi peran saya waktu itu, (kalau dilebih-lebihkan) istilah kerennya adalah sebagai arranger. Yang pada akhirnya nanti tak cuma sebagai penata musik tapi juga penata suara. (TOLONG JANGAN BAYANGKAN SOSOK SEORANG ARRANGER YANG BAIK..>.<).

Hampir 2 jam musik itu jadi. Tak banyak berubah dari versi aslinya. Hanya saya memainkannya dalam versi akustik dengan tempo pelan di awal dan ngebit di tengah dan akhir lagu. Setelah musik kotornya jadi, saya pun mulai menulis syairnya.  Karena tema panggung nanti adalah cinta tanah air dan sumpah pemuda, maka syair yang saya tulis pun tak jauh-jauh dari kata Indonesia dan Merah Putih. Sayang saya lupa bagaimana syair yang saya tulis waktu itu. Pokoknya kalau diingat ingat lagi ada beberapa bagian yang “maksa” dan “wagu”....>.<V.

Saya kembali meneguk air putih.
Setelah syair dan musiknya siap, saya mencoba untuk memainkannya seorang diri di kamar. Pada waktu itu sih saya merasa musik dan suara saya lumaya. Catat ya : “lumayan”. Setelah beberapa kali mengulangi, akhirnya saya “bungkus” lagu itu.

Esok harinya, usai sekolah bubar. Saya dan teman-teman mengambil tempat di sebuh sudut sekolah. Wakut itu hujan turun. Karena bertindak sebagai penggubah lagu, maka saya mengambil inisiatif untuk mempertontokan lebih dulu lagu dan musik yang akan kami mainkan. Setelah “konser tunggal” saya selesai, kami pun mulai berlatih. Tak perlu waktu lama. Seingat saya kami hanya berlatih 2 jam. Dan sekolah waktu itu sudah sepi. Dalam hati saya bersyukur karena tak banyak yang mendengarkan kami berlatih. Jika saja banyak orang yang mendengar, mungkin mereka akan terpana, betapa “memprihatinkan” nya suara kami waktu itu.

Akhirnya hari pertunjukkan tiba. Seingat saya kami mendappat giliran nyanyi kedua terakhir. Sambil menunggu tampil saya menyaksikan penampilan grup-grup lain. Beberapa grup tampil menyerupai vokal grup di mana ada penyanyi putra dan putri melakukan koor diiringi pemain musik.

Grogi. Itulah yang saya rasakan. Meski tak banyak keringat mengalir, tapi hati saya melompat-lompat tak karuan. Jantung pun berdetak dengan irama tak jelas.

Akkhirnya grup kami dipanggil. Kami pun maju. Sementara tepuk tangan mulai kencang terdengar. Tapi saya rasa itu bukan tepuk tangan karena penonton histeris kepada kami. Hanya apresiasi formal yang lazim dilakukan di setiap pertunjukkan. Kami semua mengambil posisi duduk. Semua sudah siap dengan alat musik masing-masing. Ingin tahu apa saja alat musik yang kami mainkan waktu itu ??. Kami memainkan gitar. Lantas siapa yang bernyanyi. Seingat saya semua dari kami menyumbangkan suara. Hanya saja saya kembali “terpaksa” bertindak sebagai lead vocal.

Intro dimainkan. Satu dua petikan disambut overture dari yang lain. Saya pun mulai membuka lagu. Sumpah demi KAHITNA, waktu itu saya grogi bukan kepalang. Oleh karena itu di awal lagu saya tak menghadap ke depan. Tapi entah kapan dan dari mana semangat itu ada. Saya dan teman-teman tiba-tiba tampil lepas. Telinga saya pun mulai menikmati apa yang kami mainkan. Penonton pun saya rasa demikian. (yakin ??????. kayanya sih iya). Beberapa menit kami bernyanyi, saya pun masih menjalankan tugas sebagai lead vocal. Beberapa penonton saya lihat terpana. Entah takjub atau merasa “prihatin”. Kami pun akhirnya turun panggung. Selesai.

Saat pengumuman pemenang pun tiba. Tapi ada yang aneh. Kami mendadak diminta tampil kembali. Tepuk tangan pun diberikan pada kami hingga akhirnya kami mau tak mau tampil sekali lagi membawakan lagu yang sama dengan musik yang sama.

Pengumuman dilanjutkan kembali. Nama kami disebut. Kami menjadi pemenang kedua. Dan saat keluar saya ingat ada beberapa teman yang menyampaikan selamat dan mengatakan kalau kami tampil baik. Saya antara senang dan malu. Malu karena kalau didengar berulang-ulang saya pun akhirnya merasa “prihatin” dengan suara kami, terutama suara saya....>.<.

Maka jika KAHITNA pernah menjadi juara dua dunia di ajang Band Explosion, kami pun pernah menjadi juara ke dua. Jadi apa bedanya kami dengan KAHITNA ???. (BEDA BANGEEETT !!!!!)

Itulah penampilan perdana grup kami. Yang juga menjadi penampilan terakhir kami.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MILO CUBE, Cukup Dibeli Sekali Kemudian Lupakan

Alkisah, gara-gara “salah pergaulan" saya dibuat penasaran dengan Milo Cube. Akhirnya saya ikutan-ikutan membeli Milo bentuk kekinian tersebut.
Oleh karena agak sulit menemukannya di swalayan dan supermarket, saya memesannya melalui sebuah marketplace online. Di berbagai toko online Milo Cube dijual dengan harga bervariasi untuk varian isi 50 cube dan 100 cube. Varian yang berisi 100 cube yang saya beli rentang harganya Rp65.000-85.000.
Pada hari ketiga setelah memesan, Milo Cube akhirnya tiba di tangan saya. Saat membuka bungkusnya saya langsung berjumpa dengan 100 kotak mungil dengan bungkus kertas hijau bertuliskan “MILO” dan “ENERGY CUBE”. Ukurannya benar-benar kecil. Satu cube beratnya hanya 2,75 gram, sehingga totalnya 275 gram.
Tiba saatnya unboxing. Milo Cube ini berupa bubuk coklat yang dipadatkan sehingga menyerupai permen hisap. Tapi sebenarnya tak bisa disebut permen karena meski dipadatkan, agregat bubuk Milo ini mudah hancur saat terjatuh.
Dalam benak dan angan saya ter…

Poto Batu, "Vitamin Sea" di Pesisir Sumbawa Barat

“Lihat ke kiri!”. Suara Pak Arie membangunkan kembali kesadaran kami yang kebanyakan sudah hampir tertidur di dalam bis. Siang itu kami sedang dalam perjalanan dari Jereweh ke Kertasari, keduanya di Kabupaten Sumbawa Barat. 

Ucapan Pak Arie pun dituruti oleh beberapa di antara kami yang segera mengarahkan pandangan menembus kaca jendela bis. Entah siapa yang memulai meminta bis untuk berhenti, tapi sekejap kemudian kami semua sudah turun dan mendapati diri berada di sebuah pantai yang indah. Poto Batu namanya.
Pantai Poto Batu berada tak jauh dari Labuhan Lalar di Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Perjalanan dari Jereweh menuju Poto Batu kami tempuh melalui jalanan beraspal yang tidak terlalu ramai. Agak mengherankan karena jalan tersebut adalah akses penghubung antara ibu kota Sumbawa Barat, Taliwang, dengan sejumlah daerah di sekitarnya.
Mendekati Poto Batu beberapa ruas jalan menyempit dan aspalnya kurang rata. Oleh karenanya kendaraan perlu berjalan lebih pelan. Apalagi, …

Gamelan Pusaka Kraton Yogyakarta