Langsung ke konten utama

"Pemilik Hati Yang Sempurna", Buku yang Mungkin Tak Layak Terbit


Ada seorang tua renta yang belasan tahun memilih hidup menderita demi bisa menabung untuk menyumbang sebuah yayasan. Ada juga sebuah keluarga yang serba kekurangan tapi selalu meminjamkan uangnya kepada semua orang termasuk kepada orang kaya dan tak keberatan jika uang itu tak kembali. Lalu ada buruh miskin yang setelah mengadopsi anak yatim kemudian menjadi pengusaha kaya pemilik perusahaan nasional, sayang tidak disebutkan nama perusahaannya. Ada juga kisah tentang guru melarat yang bersedekah kepada pengemis lalu mendapat gantinya ketika menemukan banyak uang di jalan dan beberapa tahun kemudian ekonominya mapan lalu membangun pondok pesantren, sayang lagi-lagi tak dijelaskan rinci nama sang guru dan pondok pesantrennya. Dari puluhan kisah yang mengisi buku ini, hampir seluruhnya mengambil latar kedermawanan seseorang seperti demikian. Untuk sementara saya percaya kisah-kisah itu benar-benar ada. 



Pertanyaan terbesar saya yang boleh dianggap sebagai protes terhadap buku ini bukan pada isi cerita yang disajikan melainkan pada orisinalitasnya. Ketika membuka daftar pustaka di halaman belakang saya terkejut melihat berbagai kredit yang ditulis di sana. Nyaris seluruhnya berasal dari blog dan ada satu dari artikel  di situs berita on line. Membaca daftar pustaka tersebut seketika penilaian saya terhadap buku ini berubah. Buku bersampul merah marun ini mungkin tak seharusnya terbit.

Pertama seberapa akuratkah label "berdasarkan kisah nyata" yang diusung buku ini??. Hampir susah merunut kebenaran sumber-sumber cerita tersebut. Meski saya akui kisah inspiratif seperti demikian memang ada di lingkungan kita. Bagaimana penulis memastikan kisah yang disadurnya adalah kejadian nyata jika ia bukanlah yang mengalaminya sendiri atau setidaknya mendapatkan pengalaman itu dari pelakunya langsung. Lebih-lebih lagi jika sumber yang diacu adalah "google.com" dan tayangan TV yang kita tahu semua penuh rekayasa.

Tanpa bermaksud berburuk sangka, saya juga bertanya bagaimana buku seperti ini disusun ?. Dan apa pertimbangan penerbit meluluskan cetaknya?. Buku ini dalam kacamata dangkal saya dapat dianggap produk plagiasi
Apakah penulis buku ini juga penulis asli dari artikel yang dimuat  di banyak blog tersebut?. Sampai akhirnya membaca tuntas bukunya dan memeriksa beberapa link, saya meragukan hal itu. Jika memang kisah-kisah nyata itu memang kejadian yang real, buku inipun masih menyisakan satu masalah besar karena  buku yang dibuat dengan menyadur dan meng-kliping berbagai cerita dari  banyak sumber ini tetap bisa dipertanyakan orisinalitasnya bahkan terindikasi kuat plagiat. 
Jika pun cerita-cerita itu benar adanya, apakah penulis dan penerbit buku ini sudah mendapatkan izin dari penulis aslinya untuk menggunakan artikel tersebut sebagai materi dalam buku?. Yang mengejutkan saya dan menjadi indikasi bahwa buku ini bisa dianggap melakukan plagiasi adalah kalimat yang menyusun cerita dan redaksional dalam buku ini nyaris sama dengan bentuk yang ditulis di sumbernya. Setidaknya saya sudah memeriksa beberapa link yang disebutkan dan membandingkannya dengan rangkaian kalimat yang dituliskan di buku. Bahkan sebuah artikel yang dimuat dalam detik.com juga dipindahkan ke dalam buku ini dengan bentuk yang tak berbeda.

Hal-hal itulah yang membuat buku ini menjadi sangat bermasalah menurut saya. Meski dapat digolongkan “common knowledge”, tapi banyak cerita di dalamnya  susah dirunut kebenarannya karena hanya bersumber dari blog tulisan populer.  Buku ini juga disusun dengan cara yang aneh yakni yang men-copy paste. Jadi bagaimana bisa buku yang ditulis dengan cara demikian dan diragukan orisinalitasnya bisa terbit?.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MILO CUBE, Cukup Dibeli Sekali Kemudian Lupakan

Alkisah, gara-gara “salah pergaulan" saya dibuat penasaran dengan Milo Cube. Akhirnya saya ikutan-ikutan membeli Milo bentuk kekinian tersebut.   Milo Cube (dok. pri). Oleh karena agak sulit menemukannya di swalayan dan supermarket, saya memesannya melalui sebuah marketplace online . Di berbagai toko online Milo Cube dijual dengan harga bervariasi untuk varian isi 50 cube dan 100 cube. Varian yang berisi 100 cube yang saya beli rentang harganya Rp65.000-85.000.   Pada hari ketiga setelah memesan, Milo Cube akhirnya tiba di tangan saya. Saat membuka bungkusnya saya langsung berjumpa dengan 100 kotak mungil dengan bungkus kertas hijau bertuliskan “MILO” dan “ENERGY CUBE”. Ukurannya benar-benar kecil. Satu cube beratnya hanya 2,75 gram, sehingga totalnya 275 gram.   Milo Cube yang sedang digandrungi saat ini (dok. pri). "Milo Kotak", begitu kira-kira terjemahan bebas Milo Cube (dok. pri). Tiba saatnya unboxing . Milo Cube ini berupa bubu

Purbalingga Food Center: Becek, Lembap dan Kurang Rapi

Awal Januari 2020 ada sebuah tempat baru yang diluncurkan di Purbalingga, Jawa Tengah. Namanya Purbalingga Food Center . Purbalingga Food Center (dok. pri). Saya tahu pertama kali dari berita daring yang mengabarkan pemindahan ratusan pedagang kaki lima ke "Purbalingga Food Center" pada 6 Januari 2020. Saat itu diadakan karnaval yang menjadi simbolisasi pemindahan sekitar 360 PKL penghuni Alun-alun Purbalingga, area GOR/Stadion Goentoer Darjono, trotoar Jalan Piere Tendean dan sekitarnya untuk selanjutnya disatukan di Purbalingga Food Center.   Lokasi Purbalingga Food Center ada di selatan GOR Goentoer atau tepat bersisian dengan jalan lingkar selatan GOR Goentoer. Jaraknya dari Alun-alun Purbalingga tak sampai 2 km. Pada 11 dan 12 Januari 2020 saat berada di Purbalingga, saya sempatkan untuk melihat tempat ini. Saya datang pada pagi hari meski layaknya pusat jajanan kaki lima, tempat ini pun perlu dicoba untuk dikunjungi pada malam hari.   Ar

"Bad Content is a Good AdSense", Jahatnya Para Pemburu Untung di Tengah Pandemi

Selama ini kita mengenal “hukum media” yang berbunyi “Bad News is a Good News”. Itu semacam sindiran atau ungkapan ironi tentang pola pemberitaan media masa kini yang kerap berlebihan dalam menyampaikan informasi dan berita seputar bencana. Youtube (dok. pri). Kita tahu bencana adalah kejadian buruk yang mestinya direspon dengan bersimpati, berempati, atau kalau perlu menyampaikan solusi dan bantuan yang nyata meringankan. Namun, bagi media kejadian bencana seolah menjadi kesempatan emas. Alasannya karena masyarakat kita suka dengan informasi seputar bencana. Maka setiap ada bencana atau peristiwa yang memilukan, kisah-kisahnya selalu menyedot perhatian masyarakat secara luas. Media lalu memberitakannya dengan porsi yang besar. Informasi diobral, termasuk informasi-informasi yang tak jelas ikut dilempar ke publik dengan label berita. Segala aspek dikulik dengan dalih “sudut pandang media”. Padahal hal-hal tersebut mungkin tak pantas diberitakan. Semakin parah komentator “palugada” jadi