Bagi masyarakat Hindu, Ogoh-ogoh tak hanya memiliki nilai estetika dan hiburan. Fungsi utama
Ogoh-ogoh adalah sebagai sarana religi dan budaya. Ogoh-ogoh yang berwujud
raksasa adalah simbol dari Bhuta kala atau angkara murka yang jahat. Kirab atau
arak-arak-arakan ogoh-ogoh adalah perlambang menangnya kebaikan dan sifat baik
melawan kejahatan dan sifat buruk. Usai diarak ogoh-ogoh biasanya dibakar
dan dihancurkan. Hal itu mengandung makna musnahnya roh Bhuta kala yang
disertai dengan lenyapnya sifat jahat dari dalam diri setiap manusia.
Satu yang tak berubah dan tak ingin saya ubah adalah saya seorang anak desa. Anak desa yang lalu hijrah belajar di kota besar. Anak desa yang semenjak itu selalu rindu untuk mengulang atau sekedar mengingat masa-masa kecilnya yang telah terlalui. Berjalan-jalan di sawah, sembunyi-sembunyi membuang makanan yang tak habis dimakan, ikut ibu ke pasar, berkelahi sepulang sekolah, kabur diam-diam dari rumah untuk bermain hingga menikmati jajanan masa kecil. Salah satunya adalah makanan tradisional yakni kue putu. Dulu saya sangat suka meminta jajan kue putu. Pasti banyak yang tahu seperti apa kue putu itu. Kue tradisional terbuat dari beras dengan isian gula merah yang dibuat dengan cara dipanaskan menggunakan uap panas, disajikan dengan parutan kelapa dan kadang ditaburi gula pasir. Dulu saya suka menanti pedagang kue putu lewat di depan rumah, biasanya sore hari sampai jelang senja. Ia datang dengan pikulan di pundak, pasti berat. Mendengar bunyi tiupan uap panasnya dari jauh saya ...









Kalau melihat wujud ogoh-ogoh itu saya merasa seperti melihat wujud para dhemit yang kasat mata...
BalasHapus