Langsung ke konten utama

Akses Prioritas yang Aneh di Merenda Kasih KAHITNA Solo

Pukul tujuh malam di Kota Solo, Jawa Tengah. Saya sudah berada di lantai dasar Grand Ballroom Alila yang menjadi lokasi pertunjukkan Merenda Kasih Super Show KAHITNA malam itu. Saya sampai di sana setelah menunggang Go-Jek dari lokasi hotel menginap di Jalan Slamet Riyadi.
KAHITNA dan jamaah cintanya di Solo (dok. Hendra Wardhana).
Saya sempat salah lokasi karena masuk terlebih dahulu ke Hotel Alila. Ternyata saya tak bisa menuju ballroom secara langsung dari tempat tersebut. Beruntung ada security yang ramah yang menunjukkan saya ke “jalan yang benar”. Saya harus memasuki lift untuk turun ke basement. Kemudian berjalan beberapa meter untuk naik ekskalator menuju ruang kedatangan atau loby ballroom. Dari ruang kedatangan ini masih harus naik satu lantai lagi menggunakan ekskalator untuk mencapai ruang utama ballroom. 

Tapi penonton tak bisa langsung menuju ke atas karena harus antre dan melewati pemeriksaan keamanan. Selain itu, pintu ruangan konser baru akan dibuka pukul 19.30.

Yap, pukul 19.30. Begitulah pengumuman dari sales sponsor utama yang terdengar di lantai dasar. Anehnya, saat itu juga diumumkan bahwa penonton festival (superfans) bisa memasuki ruangan konser lebih awal dengan cara membeli paket produk sponsor seharga Rp70.000. 

Penonton yang membeli produk mendapat gelang cahaya sebagai tanda akses prioritas. Dengan menggunakan gelang itu penonton festival dijanjikan masuk lebih awal secara terpisah melalui pintu khusus agar bisa menempati posisi di depan panggung. Mereka tidak perlu antre panjang seperti penonton lainnya.  
Antrean penonton Super Show menuju pintu pemeriksaan dan akses ekskalator (dok. Hendra Wardhana).
Menurut saya “fasilitas” ini tidak lazim dengan konteks antrean Merenda Kasih Solo. Selain itu, pada konser Merenda Kasih di Surabaya dan konser Sepenuh Cinta di Semarang yang saya tonton rasanya hal ini pun tidak dijumpai. Padahal, promotor konsernya sama. 

Sepanjang pengalaman menonton konser KAHITNA di beberapa kota dan tempat, baru kali ini juga saya menjumpai ada “upgrade” fasilitas tiket dadakan menjelang open gateMungkin saja di konser-konser lain yang saya lewatkan hal ini memang ada. Treatment setiap konser memang bisa berbeda-beda meski perangkat yang menggelarnya sama. 

Tapi saya kurang memahami atas pertimbangan apa penawaran prioritas tiket festival melalui pembelian produk di Merenda Kasih Solo ini. Saya juga tidak mengetahui apakah penjualan produk sponsor dengan iming-iming kemudahan masuk ini merupakan trik penjualan sepihak atau sudah menjadi bagian dari kesepakakan bersama penyelenggara dan dikoordinasikan dengan petugas gate.

Oleh karena itu, meski melihat beberapa penonton keluar dari antrean untuk membeli produk tersebut, saya tak mengikutinya. Bukan karena tidak ingin mendapat tempat menonton terbaik. Siapa sih yang tidak ingin melihat KAHITNA dari dekat?. Akan tetapi karena untuk konser Merenda Kasih di Solo saya terlanjur menganggap aneh dan ganjil “kebijakan” prioritas dengan membeli produk tersebut.
Penonton festival prioritas ternyata melewati akses yang sama dengan penonton lain (dok. Hendra Wardhana).

Penonton festival prioritas dengan gelang cahaya berdesakan dengan penonton festival biasa untuk masuk ke ruang konser yang masih ditutup (dok. Hendra Wardhana).
Dugaan saya pun terbukti. Menjelang tiba di pemeriksaan keamanan, barisan penonton festival dengan gelang cahaya berjalan menyertai di samping antrean penonton lainnya. Namun, ternyata mereka tetap antre melewati pintu keamanan yang sama. Ujung antrean penonton festival prioritas tersebut bertemu dengan ujung antrean penonton lainnya. Meski sempat didahulukan, tapi belakangan petugas keamanan mengkondisikan antrean sesuai jalur semula. “Ini tutup dulu ya”, kata seorang petugas keamanan kepada temannya untuk mengatur antrean. 

Kemudian, saat tiba di depan pintu masuk menuju ruangan konser, antrean penonton festival dengan festival bergelang cahaya ternyata juga tidak dipisah. Pintu yang masih ditutup dan dijaga oleh petugas membuat mereka yang menggunakan gelang cahaya tak bisa segera masuk. 

Pada akhirnya nyaris tak ada perbedaan  antara akses penonton festival biasa dengan penonton festival yang telah memberi produk sponsor karena pintu masuk hanya satu dan ditutup. Saat itu penonton festival prioritas terus mengangkat tangan dengan gelang yang berpendar. Barangkali bermaksud menunjukkan bahwa mereka berhak masuk lebih dulu seperti yang dijanjikan sales produk sponsor. Tapi kenyataannya saat pintu dibuka semua masuk bersamaan dan sempat terdengar jeritan karena penonton yang berdesak-desakkan. 

Saya memang tidak membeli produk sponsor untuk mendapatkan prioritas masuk, tapi menurut saya fasilitas upgrade fasilitas tiket festival di Konser Merenda Kasih Solo kurang profesional atau malah merugikan karena jadi terlihat sebagai trik penjualan produk semata. Dalam batas tertentu mereka yang telah membeli produk sponsor sebenarnya berhak  kecewa atau keberatan karena janji masuk lebih mudah dan awal tidak terbukti. Apalagi, produk yang telah dibeli ternyata juga tidak boleh dibawa masuk. Saya berandai-andai jika saja artisnya bukan KAHITNA, bisa jadi para penonton ini akan protes saat itu.

Padahal, berkaca pada konser Merenda Kasih di Surabaya, produk sponsor yang telah dibeli diizinkan dibawa ke ruangan konser. Untuk hal terakhir ini saya maklum karena mungkin disesuaikan dengan aturan Alila sebagai tuan rumah pemilik tempat konser.

Celoteh ini bukanlah protes. Barangkali teman-teman soulmateKAHITNA yang telah membeli produk sponsor seharga Rp70.000 tersebut juga tidak merasa dirugikan. Boleh jadi karena penampilan KAHITNA yang memuaskan sehingga hal lain dianggap tidak masalah lagi.

Namun, saya berharap penyelenggara konser-konser KAHITNA selanjutnya mempertimbangkan lebih cermat penjualan produk sponsor dengan iming-iming akses prioritas masuk semacam ini. Jika pilihan  tersebut memang disediakan, maka harus  dilakukan dengan profesional dan dipastikan bahwa kemudahan atau kelebihan yang dijanjikan benar-benar didapatkan oleh penonton. 

Sampai nanti. Semoga bisa berada di konser-konser KAHITNA berikutnya.
KAHITNA (dok. Hendra Wardhana).


bersambung...
***
Cerita Merenda Kasih Solo sebelumnya di sini
Video KAHITNA Merenda Kasih Supershow - Solo di sini
Video KAHITNA - Jemari Hati di sini

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

MILO CUBE, Cukup Dibeli Sekali Kemudian Lupakan

Alkisah, gara-gara “salah pergaulan" saya dibuat penasaran dengan Milo Cube. Akhirnya saya ikutan-ikutan membeli Milo bentuk kekinian tersebut.   Milo Cube (dok. pri). Oleh karena agak sulit menemukannya di swalayan dan supermarket, saya memesannya melalui sebuah marketplace online . Di berbagai toko online Milo Cube dijual dengan harga bervariasi untuk varian isi 50 cube dan 100 cube. Varian yang berisi 100 cube yang saya beli rentang harganya Rp65.000-85.000.   Pada hari ketiga setelah memesan, Milo Cube akhirnya tiba di tangan saya. Saat membuka bungkusnya saya langsung berjumpa dengan 100 kotak mungil dengan bungkus kertas hijau bertuliskan “MILO” dan “ENERGY CUBE”. Ukurannya benar-benar kecil. Satu cube beratnya hanya 2,75 gram, sehingga totalnya 275 gram.   Milo Cube yang sedang digandrungi saat ini (dok. pri). "Milo Kotak", begitu kira-kira terjemahan bebas Milo Cube (dok. pri). Tiba saatnya unboxing . Milo Cube ini berupa bubu

Purbalingga Food Center: Becek, Lembap dan Kurang Rapi

Awal Januari 2020 ada sebuah tempat baru yang diluncurkan di Purbalingga, Jawa Tengah. Namanya Purbalingga Food Center . Purbalingga Food Center (dok. pri). Saya tahu pertama kali dari berita daring yang mengabarkan pemindahan ratusan pedagang kaki lima ke "Purbalingga Food Center" pada 6 Januari 2020. Saat itu diadakan karnaval yang menjadi simbolisasi pemindahan sekitar 360 PKL penghuni Alun-alun Purbalingga, area GOR/Stadion Goentoer Darjono, trotoar Jalan Piere Tendean dan sekitarnya untuk selanjutnya disatukan di Purbalingga Food Center.   Lokasi Purbalingga Food Center ada di selatan GOR Goentoer atau tepat bersisian dengan jalan lingkar selatan GOR Goentoer. Jaraknya dari Alun-alun Purbalingga tak sampai 2 km. Pada 11 dan 12 Januari 2020 saat berada di Purbalingga, saya sempatkan untuk melihat tempat ini. Saya datang pada pagi hari meski layaknya pusat jajanan kaki lima, tempat ini pun perlu dicoba untuk dikunjungi pada malam hari.   Ar

"Bad Content is a Good AdSense", Jahatnya Para Pemburu Untung di Tengah Pandemi

Selama ini kita mengenal “hukum media” yang berbunyi “Bad News is a Good News”. Itu semacam sindiran atau ungkapan ironi tentang pola pemberitaan media masa kini yang kerap berlebihan dalam menyampaikan informasi dan berita seputar bencana. Youtube (dok. pri). Kita tahu bencana adalah kejadian buruk yang mestinya direspon dengan bersimpati, berempati, atau kalau perlu menyampaikan solusi dan bantuan yang nyata meringankan. Namun, bagi media kejadian bencana seolah menjadi kesempatan emas. Alasannya karena masyarakat kita suka dengan informasi seputar bencana. Maka setiap ada bencana atau peristiwa yang memilukan, kisah-kisahnya selalu menyedot perhatian masyarakat secara luas. Media lalu memberitakannya dengan porsi yang besar. Informasi diobral, termasuk informasi-informasi yang tak jelas ikut dilempar ke publik dengan label berita. Segala aspek dikulik dengan dalih “sudut pandang media”. Padahal hal-hal tersebut mungkin tak pantas diberitakan. Semakin parah komentator “palugada” jadi