Langsung ke konten utama

KAHITNA dan Super Show yang Menggetarkan Solo

KAHITNA tampil dengan sepenuh cinta untuk para penggemarnya lewat Merenda Kasih Supershow di Solo, Jawa Tengah pada Jumat (14/4/2017) malam. Beraksi dengan formasi lengkap sembilan personelnya, KAHITNA membuat seisi ruangan konser bergetar selama kurang lebih 2 jam. 

Aksi KAHITNA yang menolak tua di Merenda Kasih Super Show Solo (dok. Hendra Wardhana).

Dengan tata cahaya yang berpendar manis dari sudut-sudut panggung, ditambah ilustrasi dari sembilan keping backdrop LED yang menjadi latar aksi, konser KAHITNA terasa sangat dinamis dan harmonis. Panggung, musik, lagu, audio, performa artis, hingga gairah penonton yang membuncah menjadikan Supershow KAHITNA malam itu sangat hidup.

Supershow dibuka pukul 20.30 dengan alunan musikal dan instrumentasi potongan lagu-lagu KAHITNA. Grup band ini kemudian memulai aksinya dengan dua lagu lawas yang upbeat, yaitu Bagaimana dan Lajeungan. KAHITNA memang suka mengawali konsernya dengan lagu-lagu lama yang mengentak. 

Meski mengawali penampilan dengan lagu jadul, band yang berdiri 24 Juni 1986 ini langsung berhasil merebut hati penonton yang banyak berusia muda. Hal yang mengesankan karena  lagu-lagu itu muncul ketika mereka masih kecil atau mungkin belum lahir. 

Setelah dua tembang pembuka itu pun tak ada lagi jeda bagi penonton untuk mengalihkan perhatiannya dari sang idola. Apalagi, saat KAHITNA mulai melancarkan serangan galaunya melalui sederet lagu-lagu cinta terbaik.
Super Show di Solo adalah episode kedua dari rangkaian Konser Merenda Kasih KAHITNA pada 2017 (dok. Hendra Wardhana).
Panggung yang cantik dengan tata lampu dan backdrop LED yang memikat (dok. Hendra Wardhana).


Diiringi dentingan piano-keyboard, petikan gitar dan bass, tabuhan drum dan perkusi, KAHITNA menyuguhkan tak kurang 23 lagu dengan aransemen yang manis khas KAHITNA. Panggung KAHITNA di Solo diisi dengan lantunan syair Soulmate, Merenda Kasih, Andai Dia Tahu, Tentang Diriku, Di Sekitar Senayan, Rahasia Cintaku #Baper dan Aku Dirimu Dirinya. Kemudian ada Katakan Saja, Seandainya Aku Bisa Terbang, Setahun Kemarin, Takkan Terganti, Cantik, Cerita Cinta dan masih banyak lagi. 

Koor massal dari para penonton hampir selalu mengiringi setiap KAHITNA menyanyikan lagu-lagu tersebut. Penonton bahkan dengan senang hati mengambil alih suara secara penuh saat KAHITNA memberi aba-aba di lagu Untukku. 

Konser KAHITNA malam itu juga turut menampilkan Yovie & Nuno sebagai bintang tamu. Bersama-sama KAHITNA, band muda bentukan Yovie Widianto tersebut menyanyikan tiga lagu yaitu Sampai Nanti, Tak Sebebas Merpati, dan Janji Suci.

Idola Semuanya
Merenda Kasih Super Show di Solo kembali menunjukkan bahwa kesetiaan pada jalur musik pop romantis dengan lagu-lagu cinta terbaik membuat KAHITNA punya segudang penggemar fanatik yang loyal. Terbukti penonton konser malam itu  tak hanya berasal dari Solo, tapi juga dari Yogyakarta, Semarang, Surabaya, hingga Jakarta. Bahkan, saat awal pertunjukkan sempat disebutkan ada penonton yang datang dari Sydney. Mereka datang dengan hasrat yang sama untuk menunaikan “jihad cinta” bersama band idolanya.
Carlo Saba, Hedi Yunus, dan Mario Ginanjar, trio vokalis penyambung lidah KAHITNA (dok. Hendra Wardhana).

KAHITNA dan gairah penggemarnya (dok. Hendra Wardhana).

Kolaborasi KAHITNA bersama Yovie & Nuno membawakan lagu Sampai Nanti (dok. Hendra Wardhana).
Kehadiran KAHITNA di Solo seperti sudah lama dinantikan oleh para penggemarnya yang sudah berdatangan sejak dua jam sebelum konser dimulai. Walau dari segi usia KAHITNA bukan lagi band abg, tapi banyak penontonnya justru berusia muda dan remaja.

Sementara itu, bagi penonton paruh baya atau orang tua yang merupakan penggemar lama KAHITNA, konser ini memiliki arti tersendiri. Berada di depan panggung KAHITNA menjadi kesempatan untuk mengembara menjenguk masa lalu. Lagu-lagu lama KAHITNA adalah mesin waktu dan lorong nostalgia yang tiada duanya.

Untuk alasan itu pula, Ratih, seorang ibu rumah tangga datang ke Merenda Kasih Supershow. Ia yang antre di sebelah saya saat menuju pintu pemeriksaan penonton rela datang meski kaki kanannya sedang sakit dan harus berjalan pincang sambil ditopang sebuah tongkat. Ia juga mengajak putrinya untuk menemani. “Sudah lama saya suka KAHITNA. Sejak dulu SMA hingga sekarang sudah punya anak SMA”, jawabnya sambil tertawa ketika saya bertanya apakah ia atau putrinya yang menggemari KAHITNA. 

Lagi, lagi, dan lagi!
Merenda Kasih Supershow di Solo adalah episode kedua dari konser Merenda Kasih yang menandai 31 tahun perjalanan musikal KAHITNA. Episode pertama telah digelar di Surabaya pada 14 Februari 2017 dengan tajuk Merenda Kasih The Concert. Tajuk konser yang sedikit berbeda sebenarnya menunjukkan perbedaan treatment pertunjukkan. 

Supershow barangkali sedikit berada di bawah The Concert. Hal itu bisa dilihat dari jumlah artis pendukung, ketiadaan orkestra, hingga durasi konser yang sedikit lebih singkat. 

Faktor basis penggemar mungkin menjadi salah satu alasan konser di Solo digelar dengan level Supershow. Dibanding Jakarta, Bandung, atau Surabaya, basis penggemar KAHITNA di Solo selama ini memang tidak terlalu masif. Dalam satu dekade terakhir KAHITNA juga belum pernah menggelar konser tunggal yang besar di Solo. Oleh karena itu, ekspektasi Supershow malam itu berbeda dengan gelaran konser sebelumnya.

Meski demikian, pemanggungan tetap berlangsung dengan kualitas dan standar KAHITNA yang maksimal. Totalitas dalam bermusik dan menghibur dipertontonkan oleh Yovie Widianto cs. Trio vokalis Hedi Yunus, Carlo Saba, dan Mario, dengan cepat beradaptasi dengan panggung Solo. Setiap aksi, sapaan, hingga celoteh dari ketiganya mampu menuai tepuk tangan dan teriakan histeris penonton yang didominasi kaum hawa.
KAHITNA membawakan lebih dari 20 lagu di Super Show malam itu (dok. Hendra Wardhana).
Sudah cukup lama KAHITNA tidak menggelar pertunjukkan besar di Solo dan malam itu mereka kembali (dok. Hendra Wardhana).
KAHITNA memberi kejutan bagi penggemarnya malam itu. Supershow di Solo dijadikan oleh KAHITNA sebagai panggung untuk menembangkan lagu terbarunya berjudul “Jemari Hati”. Umur lagu ini baru hitungan minggu dan belum ada di album terbaru Rahasia Cinta KAHITNA. Malam itu adalah pertama kalinya Jemari Hati dinyanyikan secara penuh di konser utama KAHITNA.

Panggung KAHITNA di Solo memang istimewa. Semangat para penonton seolah membahasakan cinta dan rindu yang besar terhadap KAHITNA. Seperti ada aliran energi yang menjalar dari satu penonton ke penonton lainnya. KAHITNA pun membalas dengan menggetarkan panggung dari awal hingga akhir. Performa mereka tak terlihat kendur sedikit pun untuk ukuran band yang personelnya tak lagi muda. Spirit penonton di depan panggung barangkali turut menyuntikkan energi bagi KAHITNA saat itu.
"Dharma Wanita" senantiasa mewarnai setiap konser KAHITNA (dok. Hendra Wardhana).
Dua puluh lagu cinta yang diumbar KAHITNA sepanjang konser ternyata tak cukup untuk Solo. Saat lagu Cerita Cinta dan Cantik yang mestinya menjadi penutup selesai dibawakan, penonton “ngotot” ingin terus bernyanyi. Mereka enggan beranjak pergi meski lampu panggung telah mati dan KAHITNA telah menepi. 
KAHITNA yang pada 2017 perjalanan musikalnya mencapai angka 31 tahun (dok. Hendra Wardhana).
Teriakan “lagi lagi lagi!” dari penonton berhasil memanggil KAHITNA kembali ke panggung untuk mengangkat lagi alat musiknya. Lagu Cinta Sudah Lewat dibawakan dengan syahdu. Namun, lagu itu jadi senjata makan tuan bagi KAHITNA karena setelah itu penonton kembali meminta lebih. Yovie Widianto pun segera menekan tuts keyboardnya memberi kode nada lagu Cinta Sendiri. 

KAHITNA lalu menuntaskan encore dengan Bintang. Lagu ini  akhirnya benar-benar menyudahi pertunjukkan. Para soulmateKAHITNA pun melangkah pergi. Tapi di hati mereka selalu menanti “kapan KAHITNA datang lagi?”


***
Video Merenda Kasih Super Show Solo klik di sini
Video KAHITNA - Jemari Hati klik di sini
Cerita sebelumnya di sini

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gamelan Pusaka Kraton Yogyakarta

Mengenal Lebih Dalam Anggrek Phalaenopsis amabilis, Bunga Nasional Indonesia

Phalaenopsis amabilis (L.) Blume adalah salah satu dari sekitar 36 jenis Anggrek anggota marga Phalaenopsis. Jenis anggrek ini sering dikenal dengan nama Anggrek Bulan. Padahal jika diperhatikan morfologi bunganya, Anggrek ini lebih mirip dengan kupu-kupu, sesuai dengan asal kata Phalaenopsis yakni “Phalaina”  yang berarti kumbang, kupu-kupu dan “Opsis” yang berarti bentuk. Oleh karena itu di beberapa negara Anggrek ini juga dikenal dengan nama Moth Orchid (Anggrek Kumbang).
Pembentukan genus Phalaenopsis dilakukan oleh ilmuwan dunia bernama Carl Blume pada tahun 1825  berdasarkan penemuan Phalaenopsis amabilis di Nusa Kambangan, Jawa Tengah. Sebelumnya Phalaenopsis amabilis pernah ditemukan terlebih dahulu oleh Rumphius pada 1750. Namun pada saat itu Rumphius mengidentifikasinya sebagai anggota marga Angraecum.
Phalaenopsis amabilis adalah anggrek epifit yang hidup menempel pada batang atau dahan tumbuhan berkayu. Batangnya sangat pendek dan tertutup oleh daun yang berbentuk jorong , t…

Kenali Tipe Anggrek lalu Tanam dengan Hati

Anggrek sudah dikenal luas semenjak 200 tahun yang lalu. Bahkan jauh sebelum masehi anggrek telah dikenal oleh masyarakat Asia Timur seperti Jepang dan China sebagai tanaman obat.
Di Indonesia Anggrek mulai dibudidayakan sejak 55 tahun lalu. Sepanjang itu pula, tidak hanya di Indonesia, melainkan hampir di seluruh dunia Anggrek dikenal sebagai tanaman hias karena memiliki bunga yang beraneka ragam bentuk, warna dan keindahannya dianggap belum tersaingi oleh bunga apapun. Sebagai tanaman hias Anggrek juga tidak mengenal trend dan selalu digemari apapun zamannya.
Namun demikian banyak yang beranggapan menanam Anggrek adalah hal yang sulit hingga banyak orang yang akhirnya memilih menyerah merawat Anggrek di halaman rumahnya.  Apalagi untuk membungakannya juga tidak mudah. Anggapan ini tak sepenuhnya salah karena Anggrek memang memiliki beberapa keistimewaan yang membuatnya memerlukan perlakuan sedikit berbeda dari tanaman lainnya. Selain itu harus diakui faktor tangan dingin seseorang ik…