Langsung ke konten utama

Meriang di Merenda Kasih Solo


Para makhluk pemilik hati di Supershow KAHITNA Merenda Kasih di Solo, Jumat (14/4/2017) malam (dok. hendra wardhana).
Pernah menonton konser idola sambil nahan sakit batuk, demam, dan asam lambung yang rewel?. Jangan sampai deh. Tapi apa boleh buat saya justru mengalami hal itu saat berada di Super Show KAHITNA di Solo.


Semalam (14/4/2017) KAHITNA menggelar di konser Merenda Kasih jilid 2 di sebuah ballroom hotel di Solo. Sejak sore saya pun sudah tiba di Solo dan langsung merebahkan diri di sebuah kamar hotel di Jalan Slamet Riyadi. 

Saya memang memilih berdiam di kamar untuk beristirahat agar badan prima saat konser nanti. Rencana jalan-jalan menyusuri beberapa tempat di Solo terpaksa saya urungkan.

Sejak Selasa atau empat hari sebelum hari konser, badan ini tiba-tiba meriang. Mungkin karena pancaroba. Awalnya hanya gejala flu biasa dan saya berfikir akan segera berlalu setelah minum obat. Tapi, ekspektasi saya salah. Bukan hanya hidung yang mampet, pendengaran terganggu, dan kepala pusing, pada Rabu saya juga mulai mengalami demam yang naik turun. 

Kadang panas, tapi sebentar kemudian dingin dan berkeringat banyak. Saat itu dari jam 07.00 sampai pukul 15.00 saja sudah ganti baju tiga kali. Sempat saya menganggapnya sebagai pertanda demam akan segera sembuh. Namun, saya salah duga lagi. Menjelang malam badan kembali menghangat. Kemudian, saya mulai mengalami batuk-batuk.

Rabu dini hari saya terbangun sekitar pukul 02.00 dan terpaksa terjaga hingga pagi harinya karena berungkali batuk. Perasaan tak enak muncul dan itu terbukti beberapa jam kemudian saat tenggorokan terasa sakit. Wah, jangan-jangan saya radang?. Lengkap sudah, flu yang belum sembuh, demam yang naik turun, lalu batuk dan sakit tenggorokan. Bodohnya, saya masih saja enggan tidur menggunakan selimut dan celah jendela kamar tetap saya buka. 

Lalu apa kabar konser KAHITNA?. Tentu saja saya akan tetap berangkat menonton KAHITNA. Selain karena  tiket sudah dibeli sejak Februari, menonton KAHITNA bagi saya juga semacam ibadah “sunah”. Tidak wajib didatangi, tapi jika bisa diikuti akan mendapat “berkah”  kebahagiaan. Lagipula saya yakin badan ini sudah pulih saat hari konser tiba.

Demi “cita-cita” sehat saat konser, saya memutuskan meminum beberapa obat. Selain obat flu, saya juga menenggak parasetamol. Antibiotik dan obat sakit tenggorokan pun tak ketinggalan. Masih ditambah dengan meminum susu dan jus buah. Tentu saja saya meminum semuanya bergantian dengan jeda waktu. Bukan dioplos sekaligus. Bisa-bisa saya mampus!

Hingga Kamis malam, kondisi badan tak jauh berubah. Masih meriang, flu, batuk dan sesekali badan menghangat. Bedanya sakit tenggorokan sudah mulai berkurang. Tapi apakah badan ini cukup fit untuk diajak nonton KAHITNA?. Tentu saja! Saya meyakinkan diri sendiri. 

Meski sebenarnya saya juga sempat berpikir ulang untuk datang ke Solo dan memberikan tiket KAHITNA ke orang lain. Kepada siapa dan caranya seperti apa belum terpikirkan. 
Orang-orang nonton KAHITNA bawa pasangan, bunga, kado atau kamera. Saya dong, out of the box. Bawa obat flu, paracetamol, dan antibiotik (dok. hendra wardhana).

Namun, tekad bulat sudah saya tetapkan. Saya akan berangkat ke Solo menonton KAHITNA. Kenangan konser di Surabaya pada 14 Februari yang masih terngiang harus dituntaskan di Solo. Sebagai kompromi, saya akan memilih menginap di hotel yang lebih dekat dengan tempat konser. Sebelumnya sejak jauh-jauh hari saya sudah merencanakan menginap di hotel yang jaraknya sekitar 3-4 km dari tempat konser. Sengaja agak jauh agar bisa sambil berjalan kaki mengeksplor Jalan Slamet Riyadi. Akhirnya keinginan itu saya anulir untuk jaga-jaga kalau kondisi badan masih meriang.

Jumat jelang sore saya pun tiba di Solo dan menginap di hotel yang jaraknya sekitar 2 km dari tempat KAHITNA konser.  Ini adalah pertama kali saya menonton konser KAHITNA di Solo. Sepertinya ini juga pertama kalinya KAHITNA menggelar konser tunggal yang besar di kota asalnya Presiden Jokowi. 

Sudah terbayang suasana konser. Sorot lampu warna-warni, lagu-lagu yang menggetarkan hati, teriakan penonton wanita, hingga gimmick dan celetukan lucu kang Hedi yang selalu membuat panggung konser bergemuruh.

Supershow malam kemarin ternyata memang sangat seru. Bahkan, menurut saya pribadi lebih seru dibandingkan dengan Merenda Kasih jilid 1 di Surabaya pada 14 Februari 2017. Mulai dari penampilan KAHITNA hingga gairah penontonnya yang membuncah, lalu sensasi yang saya rasakan juga melambung lebih tinggi.

"Kelakuan" KAHITNA di Supershow Merenda Kasih - SOLO (dok. hendra wardhana).
Meskipun demikian, saat konser selesai saya terpaksa buru-buru melangkah keluar. Badan ini kembali tidak enak. Terpujilah driver Gojek yang ternyata sangat cepat menjemput hingga saya bisa segera kembali ke hotel untuk meminum obat. 

Saat konser sebenarnya saya sudah membawa obat tapi sulit meminumnya karena tidak ada air  di dalam. Lagipula saya terlanjur asyik mengikuti dendang KAHITNA. Rasa meriang sesaat luntur.

Mual dan tenggorokan yang menghangat yang saya tahan sejak pertengahan konser akhirnya terlampiaskan di westafel kamar hotel. Mungkin ini pengaruh asam lambung yang memang penyakit lama saya.


Selang dua jam, saya sudah berbaring manis di kasur. Badan sudah jauh lebih baik. Sambil berusaha menutup mata pelan-pelan, saya mencoba berselimut. Selimutnya bukan kain, tapi kenangan Supershow KAHITNA  yang baru saja saya saksikan. Saya akan menceritakannya nanti. Lebih dari satu cerita karena saya mendapatkan banyak rasa di Solo. 

* bersambung di sini

Komentar

  1. Untuk peerunjulan idola, sakitpun bisa diatasi ya Mas.:-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mumpung ada waktu dan kesempatan yang mudah, Bu Evi hehe

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pacar yang Baik Bernama "Patjar Merah"

“Jokowi itu China, nama aslinya Wie Jo Koh. Dia juga kafir, waktu lahir nama Kristen-nya Herberthus”
Narasi tersebut barangkali masuk dalam jajaran hoaks paling keren abad ini. Dalam kitab besar “hoaks-mania", narasi itu mungkin dijumpai di kategori “paket hoaks premium” karena sasarannya tokoh besar dan terbukti memiliki dampak yang luas serta dahsyat. Banyak orang mempercayainya sampai ke dalam lubuk hati. Meski kemudian terbukti kebohongannya, tapi tetap diyakini: pokoknya Jokowi itu China kafir! Begitulah, hari demi hari kita semakin sering menjumpai aneka rupa orang dengan tampang yang mengesankan malasnya mereka membaca. Kepada dunia mereka konsisten memamerkan kebodohan.
Perlu digarisbawahi bahwa kebodohan diam-diam menular seperti virus yang bisa menjangkiti tubuh manusia. Abang ojek, penjual sayur, buruh pabrik, hingga orang-orang sebenarnya berilmu seperti mahasiswa, aktivis pemuda, guru, dokter, doktor, artis, bekas artis, dan ustad bisa dijangkiti kebodohan. Pendek kata …

Selamat Tinggal TCASH, Selamat Datang LinkAja!

Sebuah sms saya terima pada 30 Januari 2019. Pengirimnya Bank Mandiri. Isinya pemberitahuan tentang platform digital baru bernama LinkAja! dengan menyinggung “masa depan” Mandiri e-cash, dompet uang elektronik yang selama ini saya miliki.

“Pengguna ecash yth, Mulai 01Mar2019 saldo mandiri e-cash Anda akan dipindahkan ke LinkAja. Nantikan LinkAja di Playstore&Appstore mulai 21Feb2019”.
Pemberitahuan itu lumayan mengagetkan. Saya pun segera mencari tahu kepastiannya kepada @Mandiricare lewat twitter dan dikonfirmasi bahwa benar adanya Mandiri E-cash akan berubah menjadi LinkAja. Selanjutnya saldo E-cash akan dipindahkan ke LinkAja.
Beberapa hari kemudian giliran sms dari TCash saya terima. Isinya kurang lebih sama soal peluncuran LinkAja pada 21 Februari 2019 sebagai pengganti aplikasi TCash Wallet yang akan segera dimatikan. Sama seperti saldo Ecash, saldo TCash pun akan dikonversi menjadi saldo LinkAja.
Belakangan pada 20 Februari 2019 sms pemberitahuan datang lagi baik dari Bank Mand…

Wajah Pangeran Diponegoro Mirip Jokowi

Untuk kali pertama, Babad Diponegoro yang telah ditetapkan sebagai Warisan Ingatan Dunia oleh UNESCO “dialihwahanakan” dalam bentuk visual. Sebanyak 51 lukisan dibuat secara khusus dengan mengacu pada pupuh-pupuh yang termuat dalam naskah Babad Diponegoro. Pemilihan kisah yang diangkat melibatkan para akademisi dan sejarawan. Sementara para pelukisnya merupakan seniman pilihan yang juga melakukan riset dan mengumpulkan informasi.

Hasilnya tercipta visual-visual indah sekaligus mengejutkan yang secara naratif menceritakan riwayat hidup Pangeran Diponegoro sejak kelahirannya. Semua lukisan itu bisa disimak dalam Pameran Sastra Rupa “Gambar Babad Diponegoro” yang berlangsung di Jogja Gallery, 1-24 Februari 2019.
Di antara semua lukisan yang dipamerkan, ada lukisan yang memiliki daya pikat khusus sehingga segera menarik perhatian manakala pertama kali manatapnya. Lukisan itu berjudul “Abdulrohim Jokowibowo Namaku”. 
Sigit Santoso membuatnya dengan cat minyak di atas kanvas berukuran 115x185 …