Langsung ke konten utama

[31ThnKAHITNA] #CeritaSoulmate 1: Yang Tak Terlupakan

"Yang Tak Terlupakan" (foto: Hendra Wardhana).

KAHITNA II yang Cantik menjadi awal dari cinta pertamaku pada KAHITNA. Saat itu caraku mengagumi KAHITNA adalah dengan mengkoleksi kasetnya, mendengar lagu-lagunya di radio dan melihat mereka di layar TV, tanpa pernah berada di depan panggungnya secara langsung. 

Maklum, meski aku tinggal di kota besar bernama Surabaya, tapi saat itu sepertinya KAHITNA jarang show di Surabaya. Seingatku sih demikian, entahlah jika saat itu mereka datang dan aku yang tidak tahu. Kahitna seperti tak tergapai bagiku. 

Oleh karena itu, sejak era KAHITNA II, lalu Mario masuk sebagai vokalis baru, aku sudah cukup senang dengan hanya mengkoleksi CD/kaset album-album mereka. Tapi aku juga menyimpan asa, “someday I will meet them!”.

Asa dan doa itu akhirnya terkabul. Bermula dari kabar gembira saat mendengar KAHITNA akan mengisi acara salah satu bank di Tunjungan Plaza pada Januari 2011. Demi melihat sang idola dari dekat, aku rela datang lebih awal. Saat mereka tampil aku hanya bisa melihat dan ikut berkaraoke ria dari jauh sambil berdiri berdesakkan. Ingin rasanya bersalaman dengan kang Hedi yang waktu itu sempat turun dari panggung. Namun, apa apa daya aku di belakang sementara dia di depan, hiks.

Beberapa bulan lewat, saat mendengar Kahitna mengadakan Konser 25 Tahun Cerita Cinta, aku jengkel. Mengapa konsernya hanya diadakan di Jakarta dan Bandung?. Sempat berpikir untuk datang ke Bandung, tapi pekerjaan tak mungkin ditinggal karena konsernya tepat pada hari Jum’at. 

Hingga akhirnya saat paling menggembirakan dalam hidupku sebagai penggemar KAHITNA datang lagi. Desember 2011 aku mendengar kabar KAHITNA akan mengadakan Konser HATI di Surabaya tepat pada hari Valentine. Alhamdulillah, Thanks God!

Sedari 11 Januari aku sudah memegang tiket konsernya. Kemudian, 19 Januari 2012 untuk pertama kalinya, Finally I meet kang Hedi and mas Yovie di BCC Surabaya Town Square. Saat itu mereka mengadakan konferensi pers tentang Konser HATI. Rasanya seperti mimpi di siang hari. Aku bisa bersalaman, minta tanda tangan, bahkan berfoto dengan sang idola, Kang Hedi.  Ia sangat ramah!. Mas Yovie juga demikian.

Pada 13 Februari 2012, sehari sebelum konser berlangsung aku datang ke konferensi pers persiapan Konser HATI. Rasanya senang karena kali ini KAHITNA  datang dengan formasi lengkap. Ada Kang Hedi, Mario, Mas Carlo, Mas Yovie, Mas Andrie, dan yang lainnya. Dari semua momen saat itu, berfoto dengan kang Hedi adalah hal paling yang kunanti. Ketika itu terwujud, aku langsung menjadikan fotonya sebagai profile picture akun Facebook.

Hari Valentine 14 Februari 2012, was a great moment, it was lovable concert, benar-benar Konser HATI!. Bersama teman-teman aku mendapat posisi strategis tepat di depan panggung kelas Festival A di sisi kanan. Itu membuat kami bisa bersalaman dengan trio vokalis KAHITNA, plus mengabadikan gambar dari dekat saat-saat mereka bernyanyi dan beraksi. Meski tak berhasil mendapat pin yg dilempar oleh kang Hedi, hati ini sudah sangat puas. Akhirnya KAHITNA bukan lagi tak tergapai, tapi tak terlupakan. Aku sangat bahagia.

Momen indah berlanjut sampai konser KAHITNA & Rick Price dalam Indonesia Tour 2012. Pelaksanaan Meet & Greet yang tak terbuka membuat aku datang terlambat dan saat datang ternyata acara telah usai. Tapi berkat jasa Mang Anwar, aku bisa menghampiri Kang Hedi yang sedang bersantai di Zangrandi. Meski didatangi secara mendadak, Kang Hedi tetap ramah. Ia mau berfoto dan menandatangani foto kanvas aku yang gede banget. Beberapa saat kemudian foto itu diupload oleh mas Hanief di twitter, hehehe thanks mas!

18 Maret 2012, the sweetest Sunday for me. Aku dan teman-teman duduk di pinggir red carpet. Itu bukan tanpa alasan. Atas saran temanku Jayanti yang sudah nonton di Jogja, kalau duduk di dekat red carpet kita bisa bersalaman dengan KAHITNA saat mereka datang. 

Meski menonton dari deret silver, ternyata posisinya sangat strategis. Saat KAHITNA melantunkan lagu “Nggak Ngerti”, Kang Hedi pujaan hatiku turun dari panggung. Ia berjalan di red carpet……..dan aku pun menghampirinya. Kukalungkan syal berwarna biru yang sudah kupersiapkan untuknya. 

Unbelievable! Semula aku cuma ingin bersalaman, tapi suddenly kang Hedi memelukku, mencium pipiku…wow, saat itu rasanya jantungku berhenti berdetak. Serasa aku perempuan paling beruntung di Gand City malam itu.  Sampai lagu menginjak bagian akhir ”kau selalu ada di langkahku”, Kang Hedi mendekatkan mic ke arah ku. Last but not least…kang Hedi memelukku dan menciumku lagi. That was awesome, thanks a lot kang Hedi, for the lovely hug and kiss. 
Konser HATI KAHITNA (foto: Hendra Wardhana).


Terima kasih juga untuk semua personel KAHITNA yang sudah menjadikan malam itu jadi saat yang tak terlupakan. Masyarakat Surabaya mungkin juga merasa bangga karena lagu spesial “I’ll never let you go”  yang dipersembahkan perdana malam itu. Terima kasih banyak juga untuk teman-temanku: Jayanti, Malyda, Lilis dan mbak Menik, bersama kita menikmati malam yang indah.  (Aswindri Brotosoedirjo/soulmateKAHITNA Surabaya)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ancaman Bahaya "Direct Debit" LinkAja dan KAI Access

KAI Access menerapkan “direct debit” menggunakan LinkAja untuk pembayaran tiket kereta api. Pembayaran bisa langsung dilakukan tanpa perlu memasukkan PIN LinkAja. Dianggap praktis, fitur ini justru meningkatkan risiko dan ancaman bahaya bagi penggunanya. Saya mengalaminya sendiri beberapa hari lalu.Suasana rileks yang sedang saya nikmati pada Minggu (1/9/2019) siang lenyap seketika. Mood yang saya bangun selagi membaca buku tiba-tiba dirusak oleh sebuah pemberitahuan/info dari LinkAja di layar smartphone. Isinya kurang lebih begini:
“Anda sudah bertransaksi sejumlah Rp180.000 ke KAI Lokal….”.
Dalam rasa terkejut saya segera memeriksa aplikasi LinkAja dan menemukan riwayat pembayaran yang dimaksud. Masalahnya saya tidak memesan tiket KAI tersebut.
Saya lalu beralih memeriksa arsip tiket pada akun saya di aplikasi KAI Access. Ternyata tidak ditemukan daftar tiket yang dimaksud. Oleh karena itu, siapa yang memesan tiket KAI dengan menggunakan saldo LinkAja saya dan tiket apa yang dipesan me…

MILO CUBE, Cukup Dibeli Sekali Kemudian Lupakan

Alkisah, gara-gara “salah pergaulan" saya dibuat penasaran dengan Milo Cube. Akhirnya saya ikutan-ikutan membeli Milo bentuk kekinian tersebut.
Oleh karena agak sulit menemukannya di swalayan dan supermarket, saya memesannya melalui sebuah marketplace online. Di berbagai toko online Milo Cube dijual dengan harga bervariasi untuk varian isi 50 cube dan 100 cube. Varian yang berisi 100 cube yang saya beli rentang harganya Rp65.000-85.000.
Pada hari ketiga setelah memesan, Milo Cube akhirnya tiba di tangan saya. Saat membuka bungkusnya saya langsung berjumpa dengan 100 kotak mungil dengan bungkus kertas hijau bertuliskan “MILO” dan “ENERGY CUBE”. Ukurannya benar-benar kecil. Satu cube beratnya hanya 2,75 gram, sehingga totalnya 275 gram.
Tiba saatnya unboxing. Milo Cube ini berupa bubuk coklat yang dipadatkan sehingga menyerupai permen hisap. Tapi sebenarnya tak bisa disebut permen karena meski dipadatkan, agregat bubuk Milo ini mudah hancur saat terjatuh.
Dalam benak dan angan saya ter…

"Jangkau" dan Tren Filantropi yang Tumbuh di Indonesia

Ada banyak jalan untuk mengulurkan tangan. Ada banyak cara untuk menjadi dermawan. Gairah baru filantropi memberi kesempatan bagi setiap orang untuk terlibat dalam misi kebaikan dengan berbagai cara.
Mantan Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (BTP) alias Ahok meluncurkan aplikasi bernama “Jangkau” pada awal Agustus 2019. Aplikasi yang dijalankan di perangkat mobile dan smartphone ini bertujuan untuk menjangkau orang-orang yang membutuhkan, terutama kalangan rakyat miskin dan lansia.
Jangkau mempertemukan mereka yang membutuhkan bantuan dengan orang-orang yang ingin membantu. Pada masa awal Jangkau masih terbatas mengelola sumbangan berupa barang, terutama barang kebutuhan lansia. Namun, ini hanya embrio. Artinya Jangkau akan dikembangkan lebih luas lagi.
Jangkau dan Humanisme Ahok Jangkau bersemi dari dalam penjara. Hasil pendalaman Ahok terhadap masih adanya orang-orang yang menghendaki bantuannya saat ia ditahan. Di sisi lain ia bukan siapa-siapa lagi. Bukan lagi pejabat dan tak mem…