Langsung ke konten utama

[31ThnKAHITNA] #CeritaSoulmate 2: Jadi soulmateKAHITNA, Rasanya "Krenyes-krenyes"

Namaku Monica, sudah lama aku jadi penikmat musik, termasuk musiknya KAHITNA. Aku lupa kapan tepatnya mulai suka KAHITNA, tapi waktu itu aku sempat ngobrol dengan kakak kalau ingin sekali nonton konser KAHITNA.
Cerita soulmateKAHITNA (dok: Hendra Wardhana).

Keinginan itu akhirnya terkabul pada 2016. Suatu hari saat membuka facebook aku menemukan kabar tentang konser Rahasia Cinta KAHITNA di Semarang. Betapa gembiranya mengetahui hal itu. Apalagi jarak Semarang dengan Ungaran tempatku bekerja tak terlalu jauh. Semangat 45 pun seketika muncul dalam diriku.

Hal pertama yang kulakukan saat itu adalah memfollow akun instagram KAHITNA dan para personelnya. Aku menjdai semakin tidak sabar dan merasa deg-degan membayangkan seandainya saat itu aku sudah di depan panggung KAHITNA.

Hari konser pun tiba. Aku berangkat ke Semarang dengan seorang teman. Tiket festival aku beli setelah sebelumnya sengaja menabung. Penonton festival ternyata berdiri di samping. Aku yang datang sudah agak terlambat terpaksa menerima posisi berdiri di belakang. Tapi itu bukan masalah karena yang terpenting aku bisa menonton KAHITNA secara langsung. 

Rasanya merinding sekaligus bahagia melihat penampilan KAHITNA. Meski mata saya yang minus membuat pandangan terhadap wajah-wajah KAHITNA menjadi sedikit kurang jelas hehehe.

Pulang dari konser malam itu aku tidak bisa move on selama berhari-hari. Ingin rasanya mengulang dan menonton mereka lagi dan lagi. Mungkinkah ini tandanya aku sudah menjadi soulmateKAHITNA?.

Beberapa waktu kemudian aku mendengar kabar kalau KAHITNA akan tampil di Solo dalam rangka ultah The Park. Membuncah lagi rasa gembira di hati. Aku langsung sibuk dan ribut mencari teman untuk menonton di Solo. Yes! ternyata ada seorang teman baik ku yang mau menemani. 

Kali ini aku berangkat ke Solo lebih awal agar mendapat tempat di depan. Keinginan itu terwujud meski tempatku menonton berada agak pojok. Rasanya puas sekali bisa melihat wajah personel KAHITNA secara lebih dekat. Aku bisa menatap ekspresi mereka saat menyanyi dan memainkan alat musik dengan lebih jelas. Benar-benar  geregetan dan kuabadikan beberapa momen saat itu.

Beberapa foto kemudian aku upload di instagram. Bagai mendapat limpahan kegembiraan. Ternyata para personel KAHITNA sangat baik. Beberapa di antara mereka, terutama Hedi Yunus, Dody, dan Carlo Saba memberikan “like” dan komentar pada foto-foto itu. Ah, aku semakin cinta dengan mereka! Setelah menonton dua konser KAHITNA tersebut, aku juga mulai berkenalan dengan beberapa soulmateKAHITNA melalui instagram.

Beberapa bulan kemudian kabar gembira datang lagi saat KAHITNA hendak menggelar konser Merenda Kasih di Solo. Sayangnya itu bertepatan dengan “Jumat Agung”. Aku pun menjadi galau dan bimbang antara memilih menjalankan ibadah atau menonton KAHITNA. Kebetulan aku bergabung dalam grup whatsapp "soulmateKAHITNA Solo”. Teman-teman di grup menyarankan aku untuk beribadah di Solo saja. 

Tapi masalahnya  aku juga kesulitan mencari teman yang mau diajak ke Solo. Beruntung akhirnya seorang teman bersedia setelah aku paksa, hehehe.

Saat hari konser tiba, kondisi badanku malah kurang fit. Ibadah Jumat Agung pun aku putuskan untuk dilakukan di Klaten saja. Tak mengapa agak terlambat tiba di Solo nanti. Aku berpikir bahwa bisa sampai ke Solo saja sudah sangat bagus. 

Sesampainya di tempat konser aku langsung merapat ke gerombolan penonton fesfival yang berada persis di depan panggung. Badan yang kurang fit seketika terasa bugar. Sepanjang konser aku ikut bernyanyi dengan sekuat tenaga sampai akhirnya sakit tenggorokan hehehe. Saat itu lagi-lagi aku merinding menonton KAHITNA. Malah seperti ada yang “krenyes-krenyes” di hati. 

Keseruan berlanjut meski konser telah selesai. Aku bertemu dengan teman-teman baru, para soulmateKAHITNA yang belum kukenal sebelumnya, yang biasanya hanya saling menyapa lewat media sosial. Meski baru bertemu tapi kita sudah seperti berteman lama. Setelah cipika cipiki, foto-foto, lalu bertukar cerita.

Belajar dari pengalaman konser di Semarang, di mana aku ketinggalan berfoto dengan Hedi Yunus yang turun menyapa soulmateKAHITNA di lobi, kali ini aku tak mau ketinggalan kesempatan itu. Aku pun mengajak teman-teman soulmateKAHITNA untuk menuju lobi. Ternyata benar dugaanku, kang Hedi sudah berada di sana untuk melayani antrean berfoto. Aku pun segera ikut menambah antrean itu.
KAHITNA di Konser Merenda Kasih - Solo (dok. Hendra Wardhana).

Usai berfoto dengan kang Hedi, sambil berharap ada personel KAHITNA lain yang ke lobby, aku dan teman-teman melanjutkan bercerita dan bercanda sambil duduk selonjoran di lantai. Suatu ketika ada yang berteriak “Marioooo….!", semua menengok ke arah lift dan kecewa karena ternyata itu hanya candaan. Tapi pada moment berikutnya, Mario yang sebenar-benarnya Mario datang juga. 

Seperti semut yang menemukan gula, aku dan teman-teman langsung bangkit dari duduk dan spontan membentuk antrean lagi untuk berfoto dengan Mario. Aku pun antre berulang-ulang. Bahagia sekali karena inilah yang paling aku harapkan, haghaghag…

Sepulang dari Solo, aku merasakan kesan yang tak berkurang karena keramahan personel KAHITNA. Ternyata benar cerita teman-teman bahwa KAHITNA menempatkan penggemarnya begitu istimewa. 
soulmateKAHITNA (dok. Hendra Wardhana).

Oh ya, sejak malam itu grup whatsapp "soulmateKAHITNA Solo" juga semakin ramai. Hampir setiap hari ada setiap hari kami saling menyapa dan membuka cerita tentang apapun layaknya sahabat. Kami lalu membuat kaos dan buku bersampul KAHITNA. Aku senang telah menjadi soulmateKAHITNA dan bagian dari secuil konser KAHITNA. Terima kasih KAHITNA, terima kasih soulmateKAHITNA!! (Monica Diah Pramukti/soulmateKAHITNA Magelang).


#ceritasoulmate sebelumnya: Yang Tak Terlupakan, klik di sini

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MILO CUBE, Cukup Dibeli Sekali Kemudian Lupakan

Alkisah, gara-gara “salah pergaulan" saya dibuat penasaran dengan Milo Cube. Akhirnya saya ikutan-ikutan membeli Milo bentuk kekinian tersebut.   Milo Cube (dok. pri). Oleh karena agak sulit menemukannya di swalayan dan supermarket, saya memesannya melalui sebuah marketplace online . Di berbagai toko online Milo Cube dijual dengan harga bervariasi untuk varian isi 50 cube dan 100 cube. Varian yang berisi 100 cube yang saya beli rentang harganya Rp65.000-85.000.   Pada hari ketiga setelah memesan, Milo Cube akhirnya tiba di tangan saya. Saat membuka bungkusnya saya langsung berjumpa dengan 100 kotak mungil dengan bungkus kertas hijau bertuliskan “MILO” dan “ENERGY CUBE”. Ukurannya benar-benar kecil. Satu cube beratnya hanya 2,75 gram, sehingga totalnya 275 gram.   Milo Cube yang sedang digandrungi saat ini (dok. pri). "Milo Kotak", begitu kira-kira terjemahan bebas Milo Cube (dok. pri). Tiba saatnya unboxing . Milo Cube ini berupa bubu

Purbalingga Food Center: Becek, Lembap dan Kurang Rapi

Awal Januari 2020 ada sebuah tempat baru yang diluncurkan di Purbalingga, Jawa Tengah. Namanya Purbalingga Food Center . Purbalingga Food Center (dok. pri). Saya tahu pertama kali dari berita daring yang mengabarkan pemindahan ratusan pedagang kaki lima ke "Purbalingga Food Center" pada 6 Januari 2020. Saat itu diadakan karnaval yang menjadi simbolisasi pemindahan sekitar 360 PKL penghuni Alun-alun Purbalingga, area GOR/Stadion Goentoer Darjono, trotoar Jalan Piere Tendean dan sekitarnya untuk selanjutnya disatukan di Purbalingga Food Center.   Lokasi Purbalingga Food Center ada di selatan GOR Goentoer atau tepat bersisian dengan jalan lingkar selatan GOR Goentoer. Jaraknya dari Alun-alun Purbalingga tak sampai 2 km. Pada 11 dan 12 Januari 2020 saat berada di Purbalingga, saya sempatkan untuk melihat tempat ini. Saya datang pada pagi hari meski layaknya pusat jajanan kaki lima, tempat ini pun perlu dicoba untuk dikunjungi pada malam hari.   Ar

Gudeg Mbah Sudarmi, Teladan di Tengah Pandemi

Pandemi Covid-19 yang belum dapat dipastikan kapan akan berakhir menuntut semua orang untuk segera beradaptasi. Protokol kesehatan wajib dipatuhi. Selain untuk untuk kembali menggerakkan roda ekonomi, juga agar semua bisa lebih terlindungi. Mbah Darmi atau Sudarmi menjajakan gudeg dengan menggunakan alat pelindung diri (APD) berupa masker dan face shield (dok. pri). Salah satunya seperti yang dilakukan oleh Sudarmi atau Mbah Darmi. Sebagaimana kebanyakan orang, nenek 63 tahun ini tak pernah menyangka akan menemui masa pandemi hebat dalam hidupnya. Puluhan tahun menjajakan gudeg Mbah Darmi sudah menyaksikan banyak perubahan. Akan tetapi baru kali ini ia merasakan perubahan yang begitu besar dan cepat. Pada awal Korona mewabah di Indonesia Mbah Darmi terpaksa berhenti berjualan selama hampir 2 pekan akibat sepinya pembeli. Setelah itu ia kembali menjajakan gudeh di Jalan Urip Sumaharjo, Kota Yogyakarta, tepat di sisi timur Hotel Tickle atau di sisi utara auditorium Lemb