Langsung ke konten utama

KAHITNA di Mocosik Festival: Mengungkit Cinta (yang) Sudah Lewat


Panggung Mocosik Festival 2018 di Jogja Expo Center berhenti sejenak pada Jumat (20/4/2018) malam. Sorot lampu yang sebelumnya gemerlap saat Rio Febrian tampil, menjadi redup. Suara musik sejenak tak terdengar, digantikan oleh celoteh duo MC mengisi senjang waktu. 

Tapi itu hanya berlangsung beberapa menit. Pukul 21.30 suasana kembali menghangat. Penonton yang semula duduk istirahat di lantai dan menepi ke baris belakang merangsek maju berusaha mencapai jarak terdekat dengan muka panggung saat nama KAHITNA disebut.

Panggung KAHITNA di Mocosik Festival 2018 (dok. pri).

Panggung berpendar lagi bersamaan layar LED di belakang menampilkan gambar KAHITNA. Seru penonton tak terbendung kala personel KAHITNA yang dipimpin Yovie Widianto muncul untuk segera mengambil alat musiknya masing-masing. 

Tapi KAHITNA baru enam orang. Tiga vokalisnya belum terlihat. Lalu tiba-tiba terdengar suara menggoda. ”Are you ready?”, sapa vokalis Mario yang segera disambut penonton penuh semangat. Vokalis termuda KAHITNA itu keluar dari balik panggung seorang diri. Tanpa banyak bicara lagi, bait-bait Takkan Terganti dibawakannya. Saat suasana semakin syahdu, dua vokalis lainnya bergabung menuntaskan tembang.

Dengan waktu tampil kurang dari satu jam, hanya sembilan lagu yang sempat dibawakan KAHITNA. Meskipun demikian, aksi band yang berdiri 24 Juni 1986 ini tetap maksimal. Suara merdu Hedi, Carlo, dan Mario dalam kawalan aransemen manis khas KAHITNA membuat penonton dengan cepat dimabuk cinta. Dalam kerumunan penonton komposisi wanita terlihat mendominasi. Tak perlu merasa heran karena salah satu takdir KAHITNA memang untuk dipuja dan dipuji oleh kaum hawa.
Tak Sebebas Merpati (dok. pri).
Tak Sebebas Merpati (dok. pri).
Sepanjang penampilannya, KAHITNA tak hanya bernyanyi. Keintiman diperlihatkan para vokalis dengan berkali-kali menyapa para penggemar. Interaksi semakin intim manakala KAHITNA mengajak seorang penonton wanita ke atas panggung. Sambil menembangkan Tak Sebebas Merpati, KAHITNA menjadikan penonton beruntung itu layaknya seorang puteri yang dihujani banyak cinta. Sementara di seberang panggung penonton-penonton lain histeris tanda iri.

Sebagian besar penonton malam itu adalah anak milenial, penggemar KAHITNA era Mantan Terindah. Terselip di antara mereka terlihat ada orang tua, pasangan ayah bunda era Cerita Cinta dan Cantik yang membawa anak-anaknya. Ada pula yang hadir bersama balita dengan kereta dorong.
KAHITNA (dok. pri).

Melihat rentang usia dan generasi penonton malam itu dengan banyak gerombolan ABG, sejenak terlupakan bahwa KAHITNA adalah grup berumur lebih dari tiga dekade yang usia para personelnya mendekati kepala lima. Mereka sudah berkiprah di kala banyak penggemarnya malam itu belum atau baru lahir. Toh, penggemar-penggemar ABG itu nyatanya tak kesulitan untuk menyamakan frekuensi dengan KAHITNA. Pada lagu Cerita Cinta misalnya, koor massal dan sahutan “huo huo huo” dengan lantang mereka tirukan.

Antusiasme dan rasa senang itu pula yang membuat penonton tak terlalu memedulikan rasa gerah di ruangan tempat pertunjukkan. Penonton terus bernyanyi sampai KAHITNA menutup penampilan dengan tembang lawas “Cantik”.

***
Mario, Hedi, Carlo (dok. pri).

Ini adalah  pertunjukkan publik kedua KAHITNA  di Yogyakarta pada 2018. Sebelumnya pada 3 Februari 2018 mereka tampil sebagai bintang utama pada pentas “Glowing9” di auditorium Driyarkara Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Mundur jauh  ke belakang, KAHITNA  pernah tampil juga di Jogja Expo Center 10 tahun silam, tepatnya pada Mei 2008. Ketika itu mereka berbagi panggung “Sound of Love” bersama Yovie & Nuno dan Ari Lasso. Sayang pertunjukkan malam itu seolah menjadi pentas privat yang aneh karena panggung hanya dikelilingi segelintir penonton. Belum lagi kualitas sound system ikut menambah gangguan pertunjukkan.

Kesan tentang panggung Mei 2008  ternyata sempat membekas dalam catatan Mas Bedi, manajer KAHITNA. Setidaknya dalam obrolan singkat kami di lobi Hotel Kartika Graha Malang pada Desember 2011, sesaat sebelum KAHITNA tampil di hotel itu, Mas Bedi mengingatnya dengan menambah komentar, "Oh, yang sepi penonton itu ya?"
KAHITNA di Jogja Expo Center, Mei 2008 (dok. pri).


Kini, sepuluh tahun berselang KAHITNA kembali lagi ke tempat itu dengan suasana yang berbeda dan lebih baik. Tentulah usia mereka telah bertambah 10 tahun, tapi tak ada yang mempersoalkan itu karena baik dulu maupun sekarang KAHITNA sepertinya tak berubah. Di atas panggung mereka masih tetap bintang dengan sorot paling bercahaya.
***

Hal menarik lainnya dari KAHITNA di Mocosik Festival 2018 adalah daftar lagu mereka. Membuka pertunjukkan dengan Takkan Terganti boleh dibilang tidak biasa, meski repertoir mereka belakangan memang menempatkan lagu ballad ini di awal. Usai Takkan Terganti, barulah KAHITNA menggempur hati penonton dengan Cerita Cinta, Tentang Diriku, Andai Dia Tahu, Katakan Saja, Soulmate, dan lain sebagainya.

Malam itu tak ada nomor galau “Aku Dirimu Dirinya”. Tak ada pula lantunan  “Rahasia Cinta”, juga tak ada persembahan untuk “Mantan Terindah”. KAHITNA lebih memilih untuk mengungkit “Cinta Sudah Lewat”, lagu yang isinya tentang dua hati yang harus berpisah  dan tak boleh saling mengingini lagi.

Cinta Sudah Lewat adalah salah satu hit sendu pada album Cinta Sudah Lewat (CSL) yang dirilis tahun 2003. Mungkin banyak yang melewatkan perhatian bahwa album CSL inilah yang yang menjadi biang KAHITNA semakin dicap kuat oleh banyak orang sebagai band mellow. KAHITNA memang menaruh banyak lagu sendu di album ini yang selain Cinta Sudah Lewat diterbitkan pula Tak Mampu Mendua, Takkan Terganti, dan Jadi Saja. Nuansa album ini berbeda dengan album-album lawas Cerita Cinta, Cantik, dan Sampai Nanti.



Selepas CSL KAHITNA semakin rajin membawa kisah cinta perih pada album-album berikutnya. Lewat album Soulmate (2006) KAHITNA melahirkan tiga hit galau Aku Dirimu Dirinya, Cinta Sendiri, dan Soulmate. Pada album Lebih Dari Sekadar Cantik (2010) KAHITNA menyodorkan Mantan Terindah yang kemudian menjadi “lagu tema” para korban mantan. Sementara pada album Rahasia Cinta (2015) meski nuansa sendu telah sedikit berkurang, tapi kisah cinta perih tetap dimunculkan melalui Kekasih Dalam Hati dan Rahasia Cinta.

Jadi, rasanya bukan tanpa makna jika KAHITNA memilih menyingkirkan Mantan Terindah. Di hadapan para penggemar milenialnya malam itu, KAHITNA ingin memberi tahu lagi bahwa Mantan Terindah, Cinta Sendiri, Aku Dirimu Dirinya, atau bahkan Soulmate, semua itu pada dasarnya adalah Cinta (yang) Sudah Lewat. Biarkanlah.

KAHITNA! (dok. pri).
KAHITNA di Mocosik Festival 2018 (dok. pri).

kadang ingin aku bertemu/dan berbagi waktu yang terlalui/
sukar tuk sadari/ku tak boleh mengingini/
tanpamu cinta tak berarti/cinta sudah lewat/tak ku kita kan begini/
mengapa harus kau terikat/meski tlah terucap/
hanya aku yang ada di hatimu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gamelan Pusaka Kraton Yogyakarta

MILO CUBE, Cukup Dibeli Sekali Kemudian Lupakan

Alkisah, gara-gara “salah pergaulan" saya dibuat penasaran dengan Milo Cube. Akhirnya saya ikutan-ikutan membeli Milo bentuk kekinian tersebut.
Oleh karena agak sulit menemukannya di swalayan dan supermarket, saya memesannya melalui sebuah marketplace online. Di berbagai toko online Milo Cube dijual dengan harga bervariasi untuk varian isi 50 cube dan 100 cube. Varian yang berisi 100 cube yang saya beli rentang harganya Rp65.000-85.000.
Pada hari ketiga setelah memesan, Milo Cube akhirnya tiba di tangan saya. Saat membuka bungkusnya saya langsung berjumpa dengan 100 kotak mungil dengan bungkus kertas hijau bertuliskan “MILO” dan “ENERGY CUBE”. Ukurannya benar-benar kecil. Satu cube beratnya hanya 2,75 gram, sehingga totalnya 275 gram.
Tiba saatnya unboxing. Milo Cube ini berupa bubuk coklat yang dipadatkan sehingga menyerupai permen hisap. Tapi sebenarnya tak bisa disebut permen karena meski dipadatkan, agregat bubuk Milo ini mudah hancur saat terjatuh.
Dalam benak dan angan saya ter…

Kenali Tipe Anggrek lalu Tanam dengan Hati

Anggrek sudah dikenal luas semenjak 200 tahun yang lalu. Bahkan jauh sebelum masehi anggrek telah dikenal oleh masyarakat Asia Timur seperti Jepang dan China sebagai tanaman obat.
Di Indonesia Anggrek mulai dibudidayakan sejak 55 tahun lalu. Sepanjang itu pula, tidak hanya di Indonesia, melainkan hampir di seluruh dunia Anggrek dikenal sebagai tanaman hias karena memiliki bunga yang beraneka ragam bentuk, warna dan keindahannya dianggap belum tersaingi oleh bunga apapun. Sebagai tanaman hias Anggrek juga tidak mengenal trend dan selalu digemari apapun zamannya.
Namun demikian banyak yang beranggapan menanam Anggrek adalah hal yang sulit hingga banyak orang yang akhirnya memilih menyerah merawat Anggrek di halaman rumahnya.  Apalagi untuk membungakannya juga tidak mudah. Anggapan ini tak sepenuhnya salah karena Anggrek memang memiliki beberapa keistimewaan yang membuatnya memerlukan perlakuan sedikit berbeda dari tanaman lainnya. Selain itu harus diakui faktor tangan dingin seseorang ik…