Langsung ke konten utama

Mengintip LGBT di Yogyakarta


Akhir-akhir ini LGBT kembali ramai diperbincangkan di Indonesia. Bahkan, menjadi isu nasional yang bermuatan politis. 

LGBT adalah sebutan untuk kaum non-heteroseksual yaitu lesbi, gay, biseksual dan transgender. Selama ini LGBT mendapat stigma yang buruk di tengah masyarakat. Orientasi seksual dan penyimpangan perilaku mereka dianggap sangat tidak pantas, dicap hitam, bahkan dianggap sebagai penyakit sosial yang membahayakan. Kaum LBGT pun mengalami diskriminasi yang nyata.  Tak sedikit dari mereka terasing dari keluarga dan lingkungan asalnya.
"Seorang transmen atau pria trans sekaligus pegiat LSM LGBT tampil dalam  pertunjukkan 100% Yogyakarta pada Oktober 2015.

Beberapa waktu lalu sebelum  ramai menjadi isu politis, LGBT diperbincangkan lewat suara-suara dan pandangan dari lingkungan istitusi pendidikan.  Pandangan-pandangan itu pun menimbulkan kontroversi. Misalnya, pernyataan Menristekdikti yang menyebutkan LGBT dilarang masuk ke dalam kampus mendapat kritikan tajam. Hal itu kemudian diluruskan bahwa bukan LGBT yang dilarang, melainkan ekspresi hubungan mereka yang tidak boleh dibawa ke dalam kampus. Namun kritik tak langsung mereda sehingga sang menteri kemudian berbalik menyatakan bahwa ia tidak melarang LGBT di kampus.

Masalah LGBT memang tidak sederhana karena menyangkut banyak hal mengenai kehidupan seseorang. Silang pendapat mengenai LGBT juga akan selalu ada. Akan tetapi, munculnya pandangan dan suara-suara yang tidak produktif seputar LGBT, yang berasal dari lingkungan pendidikan dan kaum terdidik memang pantas disayangkan. Institusi pendidikan yang semestinya menjadi ruang berpikir, memberi apresiasi dan anti-diskriminasi, justru memiskinkan ketiga hal tersebut.

Ada peristiwa menarik yang barangkali bisa menjadi pelajaran dan refleksi berpikir bagi kita semua dalam memandang permasalahan LGBT.

Peristiwa pertama terjadi pada Juli 2013 di Malioboro. Ketika itu ada karnaval budaya menuju halaman depan Kantor Gubernur DIY. Dalam karnaval tersebut terlihat puluhan peserta yang tampil dengan mengenakan aksesoris dan membawa bendera atau kain berwarna pelangi yang selama ini identik dengan kaum LGBT. Mereka juga mengusung poster-poster yang berisi ajakan untuk menghentikan diskriminasi dan bullying terhadap kaum LGBT. Di antara mereka terdapat beberapa warga asing yang turut serta.

Tidak diketahui pasti apakah puluhan partisipan karnaval tersebut merupakan kaum LGBT atau hanya pegiat anti-diskriminasi dan anti-bullying yang juga peduli dengan masalah LGBT. Namun hal itu paling tidak menunjukkan bahwa Yogyakarta dan masyarakatnya memberikan ruang bagi perbedaan, termasuk bisa menerima mereka yang secara nyata memiliki orientasi yang berbeda.


Peristiwa lain berlangsung pada 31 Oktober 2015 dalam pertunjukkan “100% Yogyakarta” di Taman Budaya Yogyakarta. Dari 100 pemeran utama yang terlibat dalam acara tersebut, ada satu orang yang menarik perhatian panggung. Saat itu di hadapan ribuan penonton ia mengungkap jati dirinya yang “berbeda”. Tepuk tangan gemuruh seketika terdengar seperti memberi apresiasi serta dukungan atas keberaniannya bersuara.

M, begitulah inisial namanya. Ia adalah adalah seorang transmen atau transgender female to male sekaligus pegiat LSM masalah LGBT. Mengintip akun media sosial miliknya, M terlihat percaya diri mengungkap identitasnya secara terbuka. Di akun tersebut ia memposting foto-foto dan cerita kegiatannya sehari-hari yang tak jauh berbeda dengan masyarakat lain pada umumnya. Ia dan rekan-rekannya berdialog dengan komunitas lain di Yogyakarta, mengunjungi pegiat sosial dan mendengarkan bimbingan, serta bertukar pikiran tentang banyak hal menyangkut kehidupan mereka.

M yang berasal dari Malang memutuskan pindah ke Yogyakarta beberapa tahun lalu. Meski pandangan aneh masih sering diterima, namun baginya Yogyakarta adalah rumah yang lebih baik. Ia dan rekan-rekannya seperti mendapatkan kehidupan lagi setelah terkekang dengan lingkungan sebelumnya. Di Yogyakarta ia mendapatkan hak-haknya sebagai warga masyarakat. Bahkan, ia juga bisa kuliah di sebuah perguruan tinggi. Ia lalu memberikan testimoni begini: “Kalau urusannya dengan identitasku, Jogja masih menyenangkan karena dialog tentang LGBT itu sangat mudah dilakukan di sini”.

Tak hanya melalui dialog, potret LGBT di Yogyakarta juga pernah diangkat ke dalam penelitian skripsi. Salah satunya oleh Nadya Miranti untuk UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada tahun 2013. Ia bahkan mengangkat realitas kaum LGBT di lingkungan kampus, khususnya kondisi psikologis mahasiswa biseksual di Yogyakarta.

Beberapa fakta dan informasi penting terungkap dalam skrispi tersebut. Salah satunya tentang adanya pergolakan batin dan konflik intrapersonal pada diri kaum biseksual. Sebagian dari mereka mengalami kebingunan ketika berniat untuk memperbaiki orietasinya. Di sisi lain mereka berusaha menyembunyikan hal itu karena lingkungan terlanjur memandang buruk ke arah mereka.
Suara-suara tentang LGBT dalam sebuah parade di Maliboro pada Juli 2013.

Dari realitas-realitas di atas, tidakkah kita berpikir bahwa daripada memerangi atau memusuhi mereka, mengapa tidak kita coba untuk menjadi pendengar bagi mereka? Sembari berharap mereka bisa lepas dari kebingungan. Atau lebih baik diam agar kita tidak mudah membenci sesama manusia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ancaman Bahaya "Direct Debit" LinkAja dan KAI Access

KAI Access menerapkan “direct debit” menggunakan LinkAja untuk pembayaran tiket kereta api. Pembayaran bisa langsung dilakukan tanpa perlu memasukkan PIN LinkAja. Dianggap praktis, fitur ini justru meningkatkan risiko dan ancaman bahaya bagi penggunanya. Saya mengalaminya sendiri beberapa hari lalu.Suasana rileks yang sedang saya nikmati pada Minggu (1/9/2019) siang lenyap seketika. Mood yang saya bangun selagi membaca buku tiba-tiba dirusak oleh sebuah pemberitahuan/info dari LinkAja di layar smartphone. Isinya kurang lebih begini:
“Anda sudah bertransaksi sejumlah Rp180.000 ke KAI Lokal….”.
Dalam rasa terkejut saya segera memeriksa aplikasi LinkAja dan menemukan riwayat pembayaran yang dimaksud. Masalahnya saya tidak memesan tiket KAI tersebut.
Saya lalu beralih memeriksa arsip tiket pada akun saya di aplikasi KAI Access. Ternyata tidak ditemukan daftar tiket yang dimaksud. Oleh karena itu, siapa yang memesan tiket KAI dengan menggunakan saldo LinkAja saya dan tiket apa yang dipesan me…

MILO CUBE, Cukup Dibeli Sekali Kemudian Lupakan

Alkisah, gara-gara “salah pergaulan" saya dibuat penasaran dengan Milo Cube. Akhirnya saya ikutan-ikutan membeli Milo bentuk kekinian tersebut.
Oleh karena agak sulit menemukannya di swalayan dan supermarket, saya memesannya melalui sebuah marketplace online. Di berbagai toko online Milo Cube dijual dengan harga bervariasi untuk varian isi 50 cube dan 100 cube. Varian yang berisi 100 cube yang saya beli rentang harganya Rp65.000-85.000.
Pada hari ketiga setelah memesan, Milo Cube akhirnya tiba di tangan saya. Saat membuka bungkusnya saya langsung berjumpa dengan 100 kotak mungil dengan bungkus kertas hijau bertuliskan “MILO” dan “ENERGY CUBE”. Ukurannya benar-benar kecil. Satu cube beratnya hanya 2,75 gram, sehingga totalnya 275 gram.
Tiba saatnya unboxing. Milo Cube ini berupa bubuk coklat yang dipadatkan sehingga menyerupai permen hisap. Tapi sebenarnya tak bisa disebut permen karena meski dipadatkan, agregat bubuk Milo ini mudah hancur saat terjatuh.
Dalam benak dan angan saya ter…

"Jangkau" dan Tren Filantropi yang Tumbuh di Indonesia

Ada banyak jalan untuk mengulurkan tangan. Ada banyak cara untuk menjadi dermawan. Gairah baru filantropi memberi kesempatan bagi setiap orang untuk terlibat dalam misi kebaikan dengan berbagai cara.
Mantan Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (BTP) alias Ahok meluncurkan aplikasi bernama “Jangkau” pada awal Agustus 2019. Aplikasi yang dijalankan di perangkat mobile dan smartphone ini bertujuan untuk menjangkau orang-orang yang membutuhkan, terutama kalangan rakyat miskin dan lansia.
Jangkau mempertemukan mereka yang membutuhkan bantuan dengan orang-orang yang ingin membantu. Pada masa awal Jangkau masih terbatas mengelola sumbangan berupa barang, terutama barang kebutuhan lansia. Namun, ini hanya embrio. Artinya Jangkau akan dikembangkan lebih luas lagi.
Jangkau dan Humanisme Ahok Jangkau bersemi dari dalam penjara. Hasil pendalaman Ahok terhadap masih adanya orang-orang yang menghendaki bantuannya saat ia ditahan. Di sisi lain ia bukan siapa-siapa lagi. Bukan lagi pejabat dan tak mem…