Langsung ke konten utama

Bikin Bangga, Negaraku Jadi Pelayan Ormas

Mulai hari ini protokol kesehatan hanya kata-kata. Segala aturan mengenai pembatasan aktivitas keramaian diberlakukan suka-suka. Mulai hari ini ancaman pandemi hanya hiasan di spanduk yang boleh dirobek kapan saja. 

Sebab hari ini kita melihat negara dan aparatnya telah menjadi pelayan yang baik hati.

Negaraku jadi pelayan ormas.

Melayani dengan banyak cara. Dimulai dengan menghibahkan seruas jalan raya sebagai tempat berpesta.

Jalan milik umum. Namun, demi prinsip melayani diberikan saja kepada yang mulia sebagai area privat. Boleh ditutup sesuka hati. Bisa dipasangi tenda pribadi. Pokoknya untuk yang mulia segalanya akan difasilitasi.

Pesta di tengah pandemi tidak apa-apa. Asal dilakukan oleh yang mulia. Tidak apa-apa berkerumun tanpa jaga jarak. Asal berbau agama, malah mendatangkan manfaat.

Semakin keras doa, apalagi dilakukan oleh keturunan nabi, malah berguna. Semakin banyak massa, semakin takut Corona, semakin takut pula aparat.

Kalau mau berkerumun hubungi saja negara. Niscaya aparat akan datang membantu. Menghadiahkan masker dan hand sanitizer. Dan kalau perlu dibantu pula pengamanannya. Lalu lintasnya diatur agar segalanya lancar tanpa hambatan.

Tak ada hukuman pembubaran karena negara dan aparat melayani dengan ikhlas. Beda ceritanya kalau razia kepada pedagang di pasar dan masyarakat di jalan. Mereka layak didenda dan pantas dihukum.

Bagi yang mulia, aturan itu tidak diperlukan. Protokol kesehatan silakan dilakukan. Tapi kalau tidak pun tidak apa-apa.

Pemimpin polisi melakukan konfrensi pers dengan baju kebesaran. Terlihat gagah dan menjanjikan. Seolah hendak menyampaikan hal penting penuh tekanan-tekanan. Tapi ternyata hanya berisi “himbauan” seperti yang biasa dilakukan oleh Pak RT dan Pak Lurah.

Pemimpin satgas bencana melakukan konfrensi pers. Mengatakan kalau acara keramaian sangat berisiko. Membawa-bawa nama Tuhan. Tampak meyakinkan. Tapi ternyata ikut melayani juga.

Bukannya dicegah, pesta justru difasilitasi. Bukannya dibubarkan dan diberi pelajaran, pesta corona itu malah dibuat semakin nyaman. Namanya juga tugas negara dan aparat yang sudah semestinya melayani yang mulia.

Tidak masalah yang mulia sering menghina Pancasila dan para bapak bangsa. Ucapan yang mulia adalah bunyi-bunyian yang indah.

Tidak masalah yang mulia sering menghina agama-agama. Yang penting yang mulia punya massa mayoritas. Itu adalah berkah dan aparat tidak berani melawan yang mulia. Takut kualat.

Di dalam istana, sang pemimpin tertinggi berkali-kali marah. Ia marah karena birokrasinya lamban. Marah karena para pembantunya tak punya kepekaan terhadap krisis. Mengancam akan mengganti pembantunya yang tak becus.

Tapi ia hanya bisa marah. Tak pernah serius menyingkirkan yang lamban dan tak becus itu. Jangan-jangan bukan hanya pembantunya yang tak punya “sense of crisis”, tapi pemimpin itu pun tak jauh beda.

Katanya dulu, “Lima tahun ke depan sudah nggak ada beban, yang terbaik akan saya lakukan”. Katanya lagi pada suatu hari siap memecat menteri dan membubarkan lembaganya yang tak cakap.

Tapi itu katanya. Belum seiya sekata dengan kenyataannya. 

Siap melayani sepenuh hati

Pandemi adalah ancaman nyata. Protokol kesehatan tidak bisa ditawar-tawar. Tapi itu katanya. Hanya ditujukan kepada orang-orang di pasar, di jalanan, di pabrik-pabrik dan di warung-warung makan.

Kalau di hajatan pesta yang mulia, apalagi dibarengi doa-doa yang membuncah ke langit, aturan hanya kata-kata. Hukum tak berlaku.

Sekarang masa pandemi. Tempat-tempat ibadah hanya boleh diisi separuhnya saja. Tapi demi yang mulia, boleh disesaki. Kalau perlu ditambah lagi tenda di luar.

Sekarang masa pandemi. Restoran dan warung yang buka penuh dan makan tanpa jaga jarak akan didenda dan ditutup. Tapi kalau untuk yang mulia, hajatan dan makan besar tentu boleh dilayani sampai puas.

Sekarang masa pandemi. Liga sepakbola jelas kharam. Kecuali kalau yang mulia dan pengikutnya ikut turun main sepak bole di jalan. Maka itu dibolehkan. Negara dan aparat siap melayani.

Mulai hari ini, segala protokol kesehatan hanya kata-kata. Keadilan dan keselamatan umum boleh dilecehkan suka-suka.

Sekarang masa pandemi. Bahaya sekali kalau berpesta. Tapi kalau untuk yang mulia, pesta malah bisa mendatangkan manfaat karena diisi lantunan dari sang keturunan nabi. Kalau perlu jalan di depan sana ditutup lagi untuk menampung jamaah yang setia. Kalau masih kurang akan disiapkan jalan tol yang lebih lega.

Cukup bilang saja pada pak Gubernur. Sebab pak Gubernur juga pecinta yang mulia. Sebab pak Gubernur ingin balas jasa.

Mulai hari ini para pemimpin hanya akan melayani yang mulia. Tanggung jawab pada keselamatan rakyat nomor dua, tiga, dan empat.

Melayani adalah passion kami

Mulai hari ini kalau kena razia masker dan ditilang di jalan, cukup katakan, “saya pecinta  yang mulia habib”. Niscaya aparat akan mengerti lalu menghadiahkan masker dan hand sanitizer. Kalau beruntung ditambahi uang saku untuk berangkat umroh.

Pokoknya, negara dan para pemimpin siap melayani tanpa beban sebab melayani adalah passion kami.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

MILO CUBE, Cukup Dibeli Sekali Kemudian Lupakan

Alkisah, gara-gara “salah pergaulan" saya dibuat penasaran dengan Milo Cube. Akhirnya saya ikutan-ikutan membeli Milo bentuk kekinian tersebut.   Milo Cube (dok. pri). Oleh karena agak sulit menemukannya di swalayan dan supermarket, saya memesannya melalui sebuah marketplace online . Di berbagai toko online Milo Cube dijual dengan harga bervariasi untuk varian isi 50 cube dan 100 cube. Varian yang berisi 100 cube yang saya beli rentang harganya Rp65.000-85.000.   Pada hari ketiga setelah memesan, Milo Cube akhirnya tiba di tangan saya. Saat membuka bungkusnya saya langsung berjumpa dengan 100 kotak mungil dengan bungkus kertas hijau bertuliskan “MILO” dan “ENERGY CUBE”. Ukurannya benar-benar kecil. Satu cube beratnya hanya 2,75 gram, sehingga totalnya 275 gram.   Milo Cube yang sedang digandrungi saat ini (dok. pri). "Milo Kotak", begitu kira-kira terjemahan bebas Milo Cube (dok. pri). Tiba saatnya unboxing . Milo Cube ini berupa bubu

Ancaman Bahaya "Direct Debit" LinkAja dan KAI Access

KAI Access menerapkan “direct debit” menggunakan LinkAja untuk pembayaran tiket kereta api. Pembayaran bisa langsung dilakukan tanpa perlu memasukkan PIN LinkAja. Dianggap praktis, fitur ini justru meningkatkan risiko dan ancaman bahaya bagi penggunanya. Saya mengalaminya sendiri beberapa hari lalu. (dok. pri). Suasana rileks yang sedang saya nikmati pada Minggu (1/9/2019) siang lenyap seketika. Mood yang saya bangun selagi membaca buku tiba-tiba dirusak oleh sebuah pemberitahuan/info dari LinkAja di layar smartphone . Isinya kurang lebih begini:   “Anda sudah bertransaksi sejumlah Rp180.000 ke KAI Lokal….”. Dalam rasa terkejut saya segera memeriksa aplikasi LinkAja dan menemukan riwayat pembayaran yang dimaksud. Masalahnya saya tidak memesan tiket KAI tersebut. Saya lalu beralih memeriksa arsip tiket pada akun saya di aplikasi KAI Access. Ternyata tidak ditemukan daftar tiket yang dimaksud. Oleh karena itu, siapa yang memesan tiket KAI dengan menggu

Mengenal Lebih Dalam Anggrek Phalaenopsis amabilis, Bunga Nasional Indonesia

Phalaenopsis amabilis (L.) Blume adalah salah satu dari sekitar 36 jenis Anggrek anggota marga Phalaenopsis . Jenis anggrek ini sering dikenal dengan nama Anggrek Bulan. Padahal jika diperhatikan morfologi bunganya, Anggrek ini lebih mirip dengan kupu-kupu, sesuai dengan asal kata Phalaenopsis yakni “Phalaina”  yang berarti kumbang, kupu-kupu dan “Opsis” yang berarti bentuk. Oleh karena itu di beberapa negara Anggrek ini juga dikenal dengan nama Moth Orchid (Anggrek Kumbang). Pembentukan genus Phalaenopsis dilakukan oleh ilmuwan dunia bernama Carl Blume pada tahun 1825  berdasarkan penemuan Phalaenopsis amabilis di Nusa Kambangan, Jawa Tengah. Sebelumnya Phalaenopsis amabilis pernah ditemukan terlebih dahulu oleh Rumphius pada 1750. Namun pada saat itu Rumphius mengidentifikasinya sebagai anggota marga Angraecum . Phalaenopsis amabilis adalah anggrek epifit yang hidup menempel pada batang atau dahan tumbuhan berkayu. Batangnya sangat pendek dan tertutup oleh daun yang be