Langsung ke konten utama

Bagaimana 11 Jam di Purwokerto?

Di Purwokerto, senja seolah tiba lebih awal.   

Matahari sudah turun rendah ketika saya keluar dari Hetero Space pada Sabtu (12/9/2026)  sore itu. Langit  memerah dan sejurus kemudian meredup bersama udara yang menjadi lebih sejuk.

Banyumas Heritage Week 2026 (dok. pribadi).

Sepuluh menit sebelum pukul lima. Itu artinya hampir 1,5 jam sudah saya habiskan untuk menyimak puluhan arsip dan foto lawas di Banyumas Heritage Week 2026. Acara ini sebenarnya bukan agenda yang sejak awal ada dalam rencana. Ada tempat lain yang lebih dulu ingin saya datangi. Namun, setelah menimbang ulang keinginan itu kurang memungkinkan lagi, maka Banyumas Heritage Week di gedung Hetero Space jadi tujuan pengganti. Letaknya di Jalan Gatot Subroto pun tak terlalu jauh dari Stasiun Purwokerto.

Saya berjalan kaki menuju ke sana. Purwokerto sore itu terasa tenang, tapi jalanannya tetap ramai. Walau bukan jenis keramaian yang menjemukan atau membuat kesal. Udaranya tak terlalu gerah sehingga berjalan tak terlampau melelahkan meski trotoarnya sempit dan tidak rata.

Pengunjung menyimak arsip di Banyumas Heritage Week 2026 (dok. pribadi).

Banyumas Heritage Week memajang foto-foto lawas yang merekam waktu serta puluhan dokumen dan arsip seputar perkeretapian pada masa lampau. Ada pula diorama berupa sebuah stasiun yang dulu eksis di Purwokerto, tapi kini telah rata dengan tanah dan hampir tak ada lagi jejaknya yang menonjol.

Awalnya saya mencoba menyisir sendiri setiap foto dan arsip yang terpanjang untuk mencoba mengerti kisah sejarahnya. Sayangnya tidak banyak penjelasan tertulis yang disertakan pada setiap foto dan arsip. Beberapa di antaranya bahkan tanpa keterangan sama sekali. Untungnya beberapa pemandu bisa dimintai keterangan sambil mengikuti tur di dalam ruangan. Kefasihan mereka bercerita memungkinkan terjadinya transfer pengetahuan lebih banyak kepada pengunjung seperti saya.

Kereta Uap Lembah Serayu

Sore itu saya menjadi tahu bahwa pada sekitar tahun 1900-an telah eksis sebuah maskapai kereta uap bernama “Serajoedal Stoomtram Maatschappij” atau SDSM yang  dalam bahasa Indonesia kurang lebih berarti Perusahaan Kereta Uap Lembah Serayu.

Pada masa jayanya, perusahaan Belanda tersebut telah memiliki jaringan rel kereta sepanjang 142 km yang menghubungkan beberapa tempat di Banyumas Raya yang dulu meliputi Purwokerto, Maos, Sokaraja, Purbalingga, Klampok. Banjarnegara, hingga Wonosobo.

Jaringan kereta tersebut dibangun tidak semata-mata sebagai transportasi penumpang. Ada kebutuhan lain yakni untuk mendukung operasional sejumlah pabrik gula yang ada di Banyumas Raya dan sekitarnya.

Foto-foto yang menyimpan waktu (dok. pribadi).

Dalam perkembangannya SDSM juga mengoperasikan sejumlah angkutan bus untuk melayani rute yang hampir sama. Seiring konektivititas dan logistik yang terbangun, di beberapa daerah yang dilalui berdiri sejumlah hotel dan penginapan. Salah satu bekas hotel itu sampai sekarang masih berdiri bangunannya dan beralih fungsi sebagai kantor KAI Daop 5 Purwokerto.

Sementara banyak bekas bangunan, pabrik gula, dan stasiun tak lagi bisa dijumpai. Bekas Stasiun Purwokerto Timur bahkan tak lagi nampak karena pada tahun 1947 saat terjadi agresi militer Belanda, para laskar tantara keamanan rakyat membumihanguskan stasiun tersebut agar tidak bisa digunakan lagi oleh tantara Belanda yang ingin kembali menguasai Indonesia.

Tiba-tiba muncul sebuah tanya dan penasaran dalam hati. Mungkinkah strategi bumi hangus yang dulu dilakukan oleh para pejuang republik untuk menghambat ekspansi tantara penjajah dengan menghancurkan dan membakar banyak bangunan, gedung, dan jembatan mengandung unsur tindakan gegabah karena fasilitas-fasilitas tersebut semestinya bisa menjadi modal berharga bagi Indonesia yang masih sangat muda?

Barangkali tidak sesederhana itu. Ada pertimbangan dan perhitungan lain yang membuat pembumihangusan bisa dipahami mengingat gentingnya situasi perang pada masa itu serta tidak adanya pilihan yang lebih baik di pihak para pejuang dan tentara rakyat.

Tidak Ada Sroto yang Tidak Enak di Purwokerto

Saya tinggalkan Banyumas Heritage Week dengan  sekantong pengetahuan baru. Sesuatu yang mengenyangkan pikiran, sama mengenyangkannya dengan semangkok Sroto Banyumas yang beberapa jam sebelumnya saya santap di sebuah warung yang sepertinya tak terlalu terkenal, tapi sroto yang disajikan amat nikmat.

Sroto khas Banyumas memang sudah kondang. Setara dengan mendoan dan getuk goreng, sroto di kota ini tak pernah gagal memuaskan lidah dan perut. Konon, selama masih berada di Purwokerto atau Banyumas, sroto di banyak warung dan rumah makan tidak terlalu  timpang kualitas rasanya. Semangkok sroto seharga Rp15000 di gerobak kaki lima tidak otomatis kalah dengan seporsi soto seharga Rp30000 di warung yang lebih tersohor. Bahkan, secara agak hiperbolis ada yang berkata: Tidak ada sroto yang tidak enak di Purwokerto.

Nampaknya anggapan di atas mengandung unsur kebenaran. Setidaknya semangkok yang saya santap sore itu selain mengenyangkan juga menyenangkan. Senang karena ekspektasi yang saya bayangkan nyata saya dapatkan.

Sroto, bukan Soto (dok. pribadi).

Menurut saya Sroto khas Banyumas adalah padanan yang kontras bagi soto gaya Yogyakarta, Solo, maupun Semarang. Punya level kelezatan yang setara, tapi nampak berlainan dalam komposisi, isi, rasa, hingga penyajiannya.

Sroto khas Banyumas lebih “pepak” dibanding soto khas “wetan”. Pepak yang berarti “lebih penuh” mengacu pada semangkok sroto yang berisikan ketupat, soun, kecambah, daun bawang, kerupuk, serta suwiran daging ayam atau sapi atau babat atau usus. Ditambah pelengkap, tapi bersifat utama yang jadi penciri khas Sroto, yakni sambal kacang.

Bandingkan dengan isian soto gaya Yogyakarta, Solo, Boyolali atau Semarang yang cenderung lebih “soft” dengan nasi, soun, sedikit potongan kobis, tauge atau kecambah, sedikit irisan tomat, daun seledri dan suwiran daging ayam atau sapi. Isian yang lebih sederhana itu menjadikan soto khas wetan sering disantap dengan aneka lauk pelengkap seperti sate telur, sate usus, perkedel, dan gorengan. Sementara itu Sroto Banyumas tidak lazim dinikmati dengan banyak ubo rampe karena pada dasarnya sudah pepak.

Bagi lidah yang terbiasa mencecap soto gaya Yogyakarta, menikmati sroto Banyumas seperti mengaktifkan sel-sel indera pengecap yang lain. Sroto Banyumas menempati memori rasa tersendiri. Sedapnya berbeda dengan sedapnya soto Semarang dan Boyolali. Gurihnya tidak sama dengan gurihnya soto dari Solo. Manisnya pun berbeda dengan standar manisnya Yogya.

Meski demikian orang-orang di Banyumas atau Purwokerto memiliki “budaya nyoto” yang serupa dengan warga Yogyakarta. Yakni, sama-sama tidak mengenal waktu untuk menyantap Sroto. Sejak pagi hingga malam, aroma Sroto bisa tercium dari banyak penjuru tempat di Purwokerto atau Banyumas.

Sejenak di Pasar Pembimbing

Selesai dari Banyumas Heritage Week saya berpindah ke Pasar Pembimbing yang setiap sore berubah menjadi salah satu spot “kuliner kerakyatan”. Meski tidak terlalu lapar saya tetap penasaran dengan pasar yang jaraknya sekitar 2 km dari Hetero Space tersebut.

Sebenarnya lokasinya bukan di dalam pasar. Melainkan seruas jalan atau lorong di samping pasar yang pada pagi hari diisi oleh sejumlah pedagang, lalu sore hingga malam digantikan oleh penjual bakmi dan nasi dengan aneka lauk.

Lorong kuliner di Pasar Pembimbing (dok. pribadi).

Disinari lampu-lampu yang temaram, lorong tersebut berubah menjadi tempat makan malam dengan suasana bersahaja. Lauknya tak terlampau banyak, tapi mudah diterima oleh lidah. Rasanya bukan yang enak sekali, sedang-sedang saja seperti banyak warung dengan menu rumahan yang pernah saya datangi.

Selamat makan (dok.pribadi).

Malam itu saya memesan sedikit nasi (saat penjual baru memberi satu centong, saya buru-buru minta dikurangi setengahnya) dengan beberapa lauk dan satu tusuk sate ayam. Untuk sepiring makan malam tersebut saya hanya membayar Rp12.000. Barangkali karena harganya yang murah dan tempatnya yang unik sehingga tempat ini menjadi kondang.

Tak lama saya berada di sini. Usai mengisi perut dan sejenak istirahat lalu disambung salat, saya bergegas menuju GOR Satria.

KAHITNA, Sekali Lagi

Begitu tiba di GOR Satria saya segera menggabung dalam antrean untuk menukarkan tiket pertunjukkan. Sekitar satu jam kemudian  bersama ribuan orang, kami telah menghadap sebuah panggung yang tak terlampau besar, tapi menghadirkan satu nama besar, KAHITNA.

KAHITNA di Purwokerto, 12/9/2026 (dok. pribadi).

Pertunjukkan KAHITNA di Purwokerto malam cukup berkesan karena tepat sepekan sebelumnya grup ini baru mengadakan konser tunggal yang dihadiri 20.000 penonton. Beberapa soulmateKAHITNA yang menonton konser itu pun ada yang datang lagi di Purwokerto. Mungkin ingin menggenapi kepuasan yang belum sepenuhnya didapat dari konser Jakarta. Atau kepalang tanggung ada 2 jadwal dalam sepekan, mengapa tidak sekalian dituntaskan? Lagipula jarak Jakarta dan Purwokerto tidak terlampau jauh.

KAHITNA pun sudah amat lama tidak hadir di Purwokerto. Maka bisa dipahami area GOR Satria penuh sesak  malam itu. Semua ingin mengumandangkan himne Mantan Terindah dengan dibimbing langsung oleh denting piano  Yovie Widianto. Semua ingin melantangkan mars Cerita Cinta dan hiye hiye hiye sekuat tenaga. Pasangan yang sudah berumur ingin bernostalgia. Sedangkan generasi baru penggemar KAHITNA ingin menghayati perihnya Titik Nadir secara berjamaah.

Semua harapan itu terkabulkan. Begitu satu persatu rombongan KAHITNA muncul di panggung, suasana segera meriah. Meski tampil tanpa Hedi Yunus, adanya Arsy Widianto melengkapi harmoni KAHITNA yang seperti biasa hangat dan teras dekat dengan penonton. Setiap tembang yang dibawakan mulus dicerna oleh soulmateKAHITNA.

Yovie Widianto memimpin KAHITNA di Purwokerto, kota yang ia bayangkan ingin ditinggali saat pensiun nanti (dok. pribadi).

Selama kurang lebih satu jam, jamaah soulmateKAHITNA mengenang dengan cara dan kerelaannya masing-masing bagaimana perjalanan cinta dan kasih yang mungkin pernah kandas seperti skenario Soulmate, Ngga Ngerti, Mantan Terindah, dan Titik Nadir. Namun, pada satu titik semua diajak untuk mengingat lagi setiap sisi indah jatuh cinta melalui Andai Dia Tahu, Cerita Cinta, dan Katakan Saja.

Seterusnya penonton malam itu seolah sedang dibawa untuk melihat dan merasakan bahwa masih ada cerita manis di balik setiap yang tragis. Atau sebaliknya, senantiasa berusaha menerima yang tragis dari setiap yang manis.

KAHITNA adalah sesuatu yang mekar di tengah padang kebahagiaan dan kesedihan sekaligus.

Bukan hendak meromantisasi sakit hati atau menglorifikasi kebahagiaan, KAHITNA selalu mencoba untuk menunjukkan realitas. Syair, lirik, melodi KAHITNA mungkin tak selalu bisa membuat kita berlapang dada. Kenyataannya menyanyikan Titik Nadir selalu lebih mudah dibanding untuk menjadi rela dan ikhlas. Begitu pula Andai Dia Tahu yang meski mengenalkan dan mengingatkan kita pada jatuh cinta pada pandangan yang pertama, tapi bisa diam-diam membangkitkan fatamorgana tentang cinta yang hanya bisa dipandang sebentar, lalu layu dan ambruk secara dini karena gagal dipupuk.

 

KAHITNA, sekali lagi (dok. pribadi).

Belum tengah malam ketika KAHITNA menyudahi penampilan. Menembus sesaknya penonton yang sama-sama berjejalan ingin keluar, saya berbalik badan dengan dada terasa hangat.

Terima kasih Purwokerto. Sampai nanti, KAHITNA.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku dan Sepotong Kue Putu

Satu yang tak berubah dan tak ingin saya ubah adalah saya seorang anak desa. Anak desa yang lalu hijrah belajar di kota besar. Anak desa yang semenjak itu selalu rindu untuk mengulang atau sekedar mengingat masa-masa kecilnya yang telah terlalui. Berjalan-jalan di sawah, sembunyi-sembunyi membuang makanan yang tak habis dimakan, ikut ibu ke pasar, berkelahi sepulang sekolah, kabur diam-diam dari rumah untuk bermain hingga menikmati jajanan masa kecil. Salah satunya adalah makanan tradisional yakni kue putu. Dulu saya sangat suka meminta jajan kue putu. Pasti banyak yang tahu seperti apa kue putu itu. Kue tradisional terbuat dari beras dengan isian gula merah yang dibuat dengan cara dipanaskan menggunakan uap panas, disajikan dengan parutan kelapa dan kadang ditaburi gula pasir. Dulu saya suka menanti pedagang kue putu lewat di depan rumah, biasanya sore hari sampai jelang senja. Ia datang dengan pikulan di pundak, pasti berat. Mendengar bunyi tiupan uap panasnya dari jauh saya ...

MILO CUBE, Cukup Dibeli Sekali Kemudian Lupakan

Alkisah, gara-gara “salah pergaulan" saya dibuat penasaran dengan Milo Cube. Akhirnya saya ikutan-ikutan membeli Milo bentuk kekinian tersebut.   Milo Cube (dok. pri). Oleh karena agak sulit menemukannya di swalayan dan supermarket, saya memesannya melalui sebuah marketplace online . Di berbagai toko online Milo Cube dijual dengan harga bervariasi untuk varian isi 50 cube dan 100 cube. Varian yang berisi 100 cube yang saya beli rentang harganya Rp65.000-85.000.   Pada hari ketiga setelah memesan, Milo Cube akhirnya tiba di tangan saya. Saat membuka bungkusnya saya langsung berjumpa dengan 100 kotak mungil dengan bungkus kertas hijau bertuliskan “MILO” dan “ENERGY CUBE”. Ukurannya benar-benar kecil. Satu cube beratnya hanya 2,75 gram, sehingga totalnya 275 gram.   Milo Cube yang sedang digandrungi saat ini (dok. pri). "Milo Kotak", begitu kira-kira terjemahan bebas Milo Cube (dok. pri). Tiba saatnya unboxing . Milo Cube ini berupa bubu...

KAHITNA : di antara kebahagiaan, cinta dan PERSELINGKUHAN (sebuah sinopsis)

Sebuah buku diangkat menjadi sebuah film atau sinetron tentu sudah biasa. Lagu yang sengaja dicipta sebagai soundtrack film juga sudah banyak. Tapi bagaimana jika sebuah lagu dituturkan ulang sebagai sebuah buku ?. KAHITNA baru saja melakukannya. Menggandeng penerbit buku Gramedia, KAHITNA kembali menghadirkan karya istimewa untuk para penggemarnya. Buku berjudul “DI ANTARA KEBAHAGIAAN, CINTA DAN PERSELINGKUHAN” menjadi persembahan terbaru mereka. Satu dari rangkaian peringatan 25 tahun kiprah KAHITNA di blantika musik Indonesia. Di Antara Kebahagiaan, Cinta dan Perselingkuhan adalah sebuah kumpulan cerita pendek (cerpen) bertema cinta yang sebagian besar digali dari pengalaman serta kenangan – kenangan banyak orang yang terinspirasi oleh lagu-lagu KAHITNA. Isi ceritanya tak lepas dari lagu-lagu KAHITNA. Bahkan judul setiap cerpen nya persis sama dengan judul hits-hits cinta KAHITNA. Ada banyak yang “curhat” di dalam buku setebal 173 halaman ini. Tak cuma KAHITNA...