Langsung ke konten utama

Postingan

Indonesia Wo Ai Ni: Indonesia dan Jokowi di Mata Jurnalis China

-Orang Indonesia sangat mahir dalam membuat dekorasi pernikahan ala Kayangan. Dibanding China, dunia fashion di Indonesia lebih maju. Sedangkan di Jakarta sering sekali terjadi demonstrasi dan banyak massa sewaan- Itulah sebagian kesan pertama yang ditangkap oleh Yunyun Dou, seorang wartawan dan reporter China Central Television (CCTV) saat menjejak Jakarta untuk memulai tugasnya di Indonesia. Ia merupakan jurnalis CCTV pertama yang ditugaskan di Indonesia sejak 2010 hingga 2015. Kesan tersebut serta pengalaman-pengalaman tak terlupakan yang dirasakannya saat bertugas di Indonesia ada dalam buku berjudul “Indonesia Wo Ai Ni” . Awalnya buku ini ditulis dalam bahasa Mandarin karena ditujukan untuk masyarakat negeri tirai bambu. Dengan bantuan sejumlah pihak, catatan-catatan tersebut disusun ulang hingga tersaji versi Bahasa Indonesia. "Indonesia Wo Ai Ni" (dok. pri). Perjalanan meliput berita ke banyak daerah di Indonesia membuat Yunyun Dou takjub...

Melancong ke Hutan Pinus Limpakuwus di Lereng Selatan Gunung Slamet

Di Lereng Selatan Gunung Slamet terdapat sebuah tempat menarik yang sejak setahun terakhir dikunjungi banyak orang.  Hutan Pinus Limpakuwus namanya. Berjalan-jalan di Hutan Pinus Limpakuwus (dok. pri). Hutan Pinus Limpakuwus berada di Desa Limpakuwus, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Jaraknya sekitar 15 km dari pusat kota Purwokerto dan tak jauh dari wanawisata Baturraden yang tersohor. Bahkan, bisa dibilang masihberada di kawasan Baturraden. Untuk menuju ke hutan ini perjalanan bisa ditempuh dengan kendaraan roda dua dan roda empat. Dari pusat kota Purwokerto ruas jalan yang dilewati cukup mulus melalui rute yang sama seperti rute menuju Baturraden. Oleh karena itu, kondisi lalu lintasnya cukup padat. Terutama saat mendekati gerbang masuk Baturraden. Banyak wisatawan yang menjadikan kawasan Baturraden sebagai tempat rekreasi mengisi libur lebaran. Dari depan pintu gerbang Baturraden kendaraan berbelok   ke kanan untuk terus mela...

Ramadan dan "Demam Cashback"

Bulan Ramadan di Indonesia selalu disertai fenomena-fenomena. Pasar kaget, penjual dadakan, dan buka bersama alias “bukber" adalah sedikit contoh fenomena Ramadan yang selalu berulang dari tahun ke tahun. Tentu masih banyak lagi fenomena dan kebiasaan yang muncul setiap kali Ramadan tiba. Cashback! (dok. pri). Tahun ini sebuah fenomena baru tampak dominan mewarnai Ramadan. Seiring tren transaksi pembayaran digital dengan uang elektronik seperti Go-Pay dan OVO, “cashback” menjadi kosakata yang sangat dikenal saat ini, terutama oleh kaum milenial. Walau cashback juga populer dalam dunia belanja daring, tapi Go-Pay dan OVO telah membuat “cashback” menjadi fenomena tersendiri. Orang-orang sekarang menganggap “cashback” jauh lebih berharga dibanding diskon. Padahal, diskon dan “cashback“ pada prinsipnya tak jauh berbeda, yaitu pengurangan jumlah atau harga yang harus dibayarkan. Program “cashback” yang digelontorkan oleh Go-Pay dan OVO secara terus mene...

Karena Pengumbar Kebencian dan Hoaks Tidak Puasa

Menjelang dan saat Ramadan banyak tokoh menyuarakan perlunya masyarakat berpuasa media sosial selama menjalankan ibadah puasa Ramadan. Anjuran ini dikaitkan dengan situasi politik saat Ramadan yang masih terpapar panasnya kontes politik pemilu 2019. Harapannya puasa media sosial bisa mendorong proses pendinginan suhu politik. Perihal hoaks (dok. pri). Puasa media sosial sebenarnya memiliki konteks yang luas dan tidak terbatas pada kebutuhan menurunkan ketegangan politik. Puasa media sosial juga relevan untuk hal-hal lain, termasuk terkait dengan ibadah Ramadan sebagai ritual keagamaan. Dengan puasa media sosial orang yang berpuasa Ramadan bisa mengurangi potensi-potensi perbuatan yang mungkin merusak puasanya sehingga kualitas ibadah Ramadan menjadi lebih baik. Meskipun demikian, puasa media sosial yang berorientasi untuk menciptakan suasana kehidupan masyarakat yang lebih damai pasca pemilu memang sangat penting. Hari ini kita sedang dihadapkan pada tantangan da...

Pemilu 2019: Tragedi Saat Pesta

Belum ada wabah penyakit misterius di negeri ini yang tercatat dalam beberapa tahun terakhir yang mampu merenggut banyak korban jiwa hanya dalam tempo sepekan. Akan tetapi pemilu serentak 2019 melakukannya.  Petugas KPPS memeriksa surat suara (dok. pri). Tentang keterbelahan masyarakat yang begitu dalam, soal lontaran fitnah dan hoaks yang sangat beracun, penggunaan simbol-simbol agama untuk menyebar kebencian, semua itu tidak terlalu mengejutkan lagi. Paling tidak kita sudah ditunjukkan praktik permulaannya pada Pilkada DKI dan oleh karenanya kita sedikit banyak telah memiliki pengalaman subyektif serta kesiapan untuk menghadapinya.   Namun, bagaimana dengan wafatnya ratusan petugas KPPS dan ditambah belasan aparat keamanan itu? Kita benar-benar tidak pernah membayangkan akan ada ribuan orang yang ambruk saat pemilu.  Hingga Kamis (25/4/2019) sebanyak 225 petugas penyelenggara pemilu meninggal dunia dan 1470 orang lainnya yang masih terbaring saki...