Langsung ke konten utama

Dudi undur diri dari Yovie & NUno ????

Hampir tidak pernah saya menulis panjang lebar tentang sebuah grup selain KAHITNA. Tapi 2 sampai 3 hari ini, melalui jendela facebook saya menyimak sebuah obrolan dari status kegalauan teman-teman “setanah facebook” saya. Mereka itu kelompok supporter yang biasa dikenal dengan “Teman Yovie & Nuno”, sebutan untuk fans grup band Yovie & Nuno. Sementara saya adalah “soulmateKAHITNA”, fans dari KAHITNA. Kalau Teman Yovie & Nuno sering disingkat dengan TYN, soulmateKAHITNA sering dipendekkan menjadi SKH.

Menciri atau membedakan soulmateKAHITNA dan Teman Yovie & Nuno bisa jadi mudah tapi juga sering sulit. Sulit karena pada akhirnya sebagian TYN juga SKH, tanpa memperhatikan mana yg lebih dulu. Apa jadi SKH dulu baru kemudian TYN, atau sebaliknya. Kalau ini yang berlaku maka secara terbatas boleh dianggap SKH itu juga TYN, meski sekali lagi itu tak bisa dijadikan generalisasi. Tapi juga bisa mudah kalau kita coba ikuti segmentasi KAHITNA dan Yovie & Nuno. Dua band ini tentu beda usia, maka segmentasi usia penggemarnya pun bisa juga mengikuti.

Dulu melalui message di fb, saya dan Yovie Widianto sempat bertanya jawab singkat. Apakah yang melayani tanya jawab itu benar Yovie Widianto, admin atau yang lain, saya tak ambil pusing. Tapi komentar Yovie untuk sebuah pertanyaan saya waktu itu mendapat jawaban kurang lebih begini : “hehehe, memang beda sih, penggemar KAHITNA kan biasanya usia 25 tahun ke atas, kalau Yovie & Nuno ABG”. Nah dalam hal ini maka untuk menandai TYN dan SKH lihat saja umurnya. Tentu saja kalau ada yang keberatan disebut “tua” boleh saja menolak segmentasi ini.

Berikutnya untuk mencirikan TYN dan SKH di jejaring sosial terutama fb, lihat saja dari nama akunnya. Sebagian TYN dan mungkin kebanyakan dari mereka, menuliskan nama mereka di akun dengan menambahkan embel-embel “Tyn” di belakang namanya. Sebagian juga melengkapinya dengan menyertakan nama “Wicaksono”, “Dudikta”, ‘Widianto” atau lainnya yang intinya sebenarnya merujuk pada nama-nama member Yovie & Nuno.

Kembali ke maksud inti tulisan ini. Beberapa hari ini adik-adik TYN mendadak galau, sebagian kelihatan histeris saat beredar kabar kalau Dudi atau yang biasa mereka panggil dengan “kak Dudi” telah undur diri dari Yovie & Nuno. Awalnya saya tak memperhatikan kabar ini. Karena meski menyukai beberapa lagu Yovie & Nuno, saya bukanlah pemerhati dan pengikut setia band tersebut.

Tapi saat iseng mencari fans page Yovie & Nuno dan akhirnya menemukannya, saya mencoba membaca beberapa posting di wall fans page tersebut. Ternyata benar ada banyak pertanyaan, harapan dan “protes” seputar kabar hengkangnya Dudi tersebut. Dan kabar itu makin menambah galau mereka karena hingga kini sepertinya belum ada konfirmasi dari yang terkait mengenai kabar itu. Untuk hal ini saya sudah maklum karena sepengetahuan saya, managemen dan orang-orang di sekitar Yovie & Nuno (juga KAHITNA), bukanlah orang yang suka membuat sensasi atau muncul di TV hanya untuk membuat “klarifikasi” yang belum perlu.

Jadi untuk apa tulisan ini dibuat ?. Memang bukan untuk apa-apa. Hanya menyalurkan hobi menulis saya saja. Dan kalau berharap tulisan ini memberi jawaban akan kabar itu, itu salah. Siapa saya ??. Setidaknya tulisan ini menambah arsip di blog ini.

Tapi bolehkah saya berpendapat bahwa keluar atau perginya seorang personel grup dari kelompoknya bukan hal yang aneh apalagi baru, meski sering mengejutkan dan disayangkan. Untuk konteks Yovie & Nuno sebenarnya boleh dikata sudah biasa. Sejak awal dibentuk 2001 (kalau saya nggak salah) hingga saat ini, band ini memang sudah mengalami banyak perombakan formasi. Dulu Yovie & Nuno hanya memiliki Dudi sebagai vokalis dengan gitaris Baron dan drummer Rere, tentu saja dengan Yovie Widianto sebagai leader. Kemudian mereka muncul lagi tahun 2004 dengan formasi yang baru. Tak ada lagi Baron, penggantinya adalah Diat (saya lupa nama lengkapnya). Yovie & Nuno juga mendapat seorang pemain bass. Sementara Dudi mendapat teman seorang vokalis yang menurut saya kharismatik yakni Gail Satiyaki. Masa-masa Yovie & Nuno dengan Gail boleh dikata masa-masa saya menyukai lagu-lagu mereka.

Dan 2007 Yovie & Nuno kembali mengalami perombakan formasi. Kali ini bahkan tergolong besar. Yovie & Nuno ditinggal pemain bass dan drum nya sekaligus. Gail pun hengkang dan digantikan oleh Dikta yang akhirnya sanggup menarik sejumlah penggemar baru dari kaum ABG.

Nah, sepanjang 2010 sampai 2011 Yovie & Nuno kembali mengeluarkan album. Meski sepanjang tahun itu kiprah mereka boleh dikata agak tertutup oleh kegemilangan KAHITNA yang kembali naik daun. Dan di tengah kerinduan adik-adik TYN, tiba-tiba Yovie & Nuno muncul di televisi dengan formasi yang agak ganjil. Hanya Dikta yang bernyanyi, tak ada Dudi. Keesokan harinya mereka kembali muncul di TV dan masih dengan kondisi yang sama yakni tanpa kehadiran Dudi. Dan apakah saat berkunjung ke Madiun 2 hari lalu Yovie & NUno tampil dengan formasi utuh atau tidak, saya tidak tahu.

2 kejadian di awal tadi rupanya menjadi biang munculnya kabar hengkangnya Dudi. Sekali lagi saya jauh dari pengetahuan tentang Yovie & Nuno, apalagi tentang kebenaran berita itu. Sementara ada kabar yang berusaha menenangkan kegalauan TYN dengan mengatakan bahwa Dudi hanya sedang istirahat karena sakit.

Tapi ternyata hingga hari ini masih ada juga status kegalauan dari beberapa TYN yang muncul di beranda fb. Jadi apakah Dudi undur diri dari Yovie & Nuno ?. Saya sama sekali tidak tahu. Dan apakah berubahnya nama akun twitter Dudi yang dulu katanya bernama “Dudi Nuno” menjadi “Dudi Real” juga berarti sebagai konfirmasi berita itu ?. Saya juga tidak tahu. Saya belum jadi follower Dudi, meski saya menyukai suaranya seperti saya mengagumi suara Gail.

“sepanjang malam itu aku menunggumu seperti tahun lalu, di tempat yang sama..”
 

Komentar

  1. Maaf, cuma mau koreksi sedikit... username akun twitter mas Dudi memang @RealDudy, itu udah lama, bukan baru2 ini diganti... Jadi, ga ada hubungannya dengan rumor belakangan... Terimakasih.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pacar yang Baik Bernama "Patjar Merah"

“Jokowi itu China, nama aslinya Wie Jo Koh. Dia juga kafir, waktu lahir nama Kristen-nya Herberthus”
Narasi tersebut barangkali masuk dalam jajaran hoaks paling keren abad ini. Dalam kitab besar “hoaks-mania", narasi itu mungkin dijumpai di kategori “paket hoaks premium” karena sasarannya tokoh besar dan terbukti memiliki dampak yang luas serta dahsyat. Banyak orang mempercayainya sampai ke dalam lubuk hati. Meski kemudian terbukti kebohongannya, tapi tetap diyakini: pokoknya Jokowi itu China kafir! Begitulah, hari demi hari kita semakin sering menjumpai aneka rupa orang dengan tampang yang mengesankan malasnya mereka membaca. Kepada dunia mereka konsisten memamerkan kebodohan.
Perlu digarisbawahi bahwa kebodohan diam-diam menular seperti virus yang bisa menjangkiti tubuh manusia. Abang ojek, penjual sayur, buruh pabrik, hingga orang-orang sebenarnya berilmu seperti mahasiswa, aktivis pemuda, guru, dokter, doktor, artis, bekas artis, dan ustad bisa dijangkiti kebodohan. Pendek kata …

Selamat Tinggal TCASH, Selamat Datang LinkAja!

Sebuah sms saya terima pada 30 Januari 2019. Pengirimnya Bank Mandiri. Isinya pemberitahuan tentang platform digital baru bernama LinkAja! dengan menyinggung “masa depan” Mandiri e-cash, dompet uang elektronik yang selama ini saya miliki.

“Pengguna ecash yth, Mulai 01Mar2019 saldo mandiri e-cash Anda akan dipindahkan ke LinkAja. Nantikan LinkAja di Playstore&Appstore mulai 21Feb2019”.
Pemberitahuan itu lumayan mengagetkan. Saya pun segera mencari tahu kepastiannya kepada @Mandiricare lewat twitter dan dikonfirmasi bahwa benar adanya Mandiri E-cash akan berubah menjadi LinkAja. Selanjutnya saldo E-cash akan dipindahkan ke LinkAja.
Beberapa hari kemudian giliran sms dari TCash saya terima. Isinya kurang lebih sama soal peluncuran LinkAja pada 21 Februari 2019 sebagai pengganti aplikasi TCash Wallet yang akan segera dimatikan. Sama seperti saldo Ecash, saldo TCash pun akan dikonversi menjadi saldo LinkAja.
Belakangan pada 20 Februari 2019 sms pemberitahuan datang lagi baik dari Bank Mand…

Wajah Pangeran Diponegoro Mirip Jokowi

Untuk kali pertama, Babad Diponegoro yang telah ditetapkan sebagai Warisan Ingatan Dunia oleh UNESCO “dialihwahanakan” dalam bentuk visual. Sebanyak 51 lukisan dibuat secara khusus dengan mengacu pada pupuh-pupuh yang termuat dalam naskah Babad Diponegoro. Pemilihan kisah yang diangkat melibatkan para akademisi dan sejarawan. Sementara para pelukisnya merupakan seniman pilihan yang juga melakukan riset dan mengumpulkan informasi.

Hasilnya tercipta visual-visual indah sekaligus mengejutkan yang secara naratif menceritakan riwayat hidup Pangeran Diponegoro sejak kelahirannya. Semua lukisan itu bisa disimak dalam Pameran Sastra Rupa “Gambar Babad Diponegoro” yang berlangsung di Jogja Gallery, 1-24 Februari 2019.
Di antara semua lukisan yang dipamerkan, ada lukisan yang memiliki daya pikat khusus sehingga segera menarik perhatian manakala pertama kali manatapnya. Lukisan itu berjudul “Abdulrohim Jokowibowo Namaku”. 
Sigit Santoso membuatnya dengan cat minyak di atas kanvas berukuran 115x185 …