Langsung ke konten utama

INDONESIA tour 2012 | Rick Price & KAHITNA Love in Concert | Yogyakarta vs Bandung


Jumat, 16 Maret 2012, Indonesia Tour 2012 yang menampilkan grup KAHITNA dan Rick Price sampai di kota Bandung. Seminggu sebelumnya mereka menggelar konser yang sama di kota Yogyakarta.

Indonesia Tour 2012 bersama KAHITNA dan Rick Price digelar di lima kota yakni Yogyakarta, Medan, Makasar, Bandung dan diakhiri di Surabaya, 18 Maret 2012. Tentu saja ada perbedaan suasana konser di setiap kotanya. Meski baik KAHITNA maupun Rick Price dikenal memiliki totalitas yang tak diragukan lagi.

Bukan maksud ingin menentukan kota mana yang lebih meriah, menurut saya penonton setiap kota mempunyai “karakter” dan cara sendiri dalam mengapresiasi sebuah konser musik. Bahkan setiap penggemar pun bisa memiliki cara sendiri untuk menunjukkan bentuk kekaguman mereka pada sang idola. Oleh karena itu tulisan ini bisa ditambah atau dikurangi. Dan jika pembaca kurang sependapat, memang tulisan saya tidak pernah meminta pembacanya untuk sependapat.

Ada rasa yang tertangkap berbeda dari gelaran Indonesia Tour 2012 di Yogyakarta dan Bandung. Kehadiran KAHITNA di Yogyakarta sendiri adalah yang pertama kalinya setelah terakhir kali mereka menggelar panggungnya di kota ini pada pertengahan 2008 silam. Dan saya sebagai penggemar tentu merasa senang bisa menyaksikan KAHITNA kembali ke Yogya.

Yogyakarta pun seolah diperlakukan istimewa karena dipilih menjadi kota pembuka rangkaian tour KAHITNA dan Rick Price tersebut. Dan mengenai sebagian perasaan saya saat menyaksikan konser mereka 9 Maret lalu sudah saya ungkapkan di tulisan terdahulu di blog ini juga.

Sementara Bandung sebagai kota kelahiran KAHITNA pasti selalu spesial bagi mereka. Basis penggemar mereka di sana pun begitu besar. Jangankan KAHITNA, setiap orang pun pasti selalu memiliki ikatan emosi yang kuat dengan tanah kelahirannya, di manapun mereka berada. Terlebih lagi di kota Bandung KAHITNA sukses menggelar salah satu Konser 25 Tahun  nya tahun lalu. Dan Jumat minggu lalu, mereka kembali menggelar konser persis di tempat dan gedung yang sama. Tentu saja kali ini bersama Rick Price, penyanyi legendaris asal Australia.

Secara pribadi saya berpendapat konser di Bandung jauh lebih galau dibanding saat di Yogyakarta. Setidaknya saat duduk di bangku penonton Yogya, meski selalu menikmati aksi KAHITNA, tapi saya jauh dari perasaan galau. Dalam hal lagu-lagu yang dibawakan pun demikian. Beberapa lagu galau andalan KAHITNA seperti Soulmate tidak dibawakan di Yogyakarta. Sementara lagu-lagu seperti Cinta Sendiri, Nggak Ngerti dan Seandainya Aku Bisa terbang dibawakan di Bandung. Di Yogyakarta separuh awal penampilan KAHITNA diisi dengan tembang-tembang up beat seperti Tentang Diriku hingga Setahun Kemarin.

Ukuran panggung di Yogyakarta sebenarnya lebih besar dan lebar. Mungkin menyesuaikan dengan venue Grand Pacific yang memang luas, berkapasitas 3500 – 5000 orang. Sementara di Bandung konser digelar di Sasana Budaya Ganesha ITB (Sabuga).

Bisa jadi memang tabiat penonton Yogya yang suka duduk manis saat konser. Dulu saat menonton konser-konser artis seperti Andien, Uthe dan sebagainya di Yogya, keadaannya pun tak jauh beda. Penonton begitu nyaman duduk manis, kemudian bertepuk tangan riuh di awal dan di akhir lagu, sembari sesekali berdiri dan berteriak histeris. Hanya di beberapa lagu terdengar koor penonton ikut menyanyikan hits-hits KAHITNA. Itulah gambaran suasana penonton Indonesia Tour 2012 di Yogya pekan lalu.

Konser di Bandung dan Yogyakarta sama-sama dimulai dengan penampilan Rick Price. Bedanya saat di Yogya, Rick Price muncul dengan kemeja putih & vest hitam, berjalan dari sisi kanan panggung. Sementara di Bandung dia keluar dari sisi kiri panggung mengenakan kemeja putih dan jas hitam. Saat di Yogya Rick Price keluar tanpa membawa gitar, sementara di Bandung dia keluar dari balik panggung sembari memainkan gitarnya. Setelah itu dia bergantian memainkan sejumlah lagu dengan iringan gitar dan piano yang ia mainkan sendiri. Hal yang juga dilakukan di Yogyakarta dan mungkin juga di 3 kota lainnya.

Usai memainkan sejumlah tembang, Rick Price memanggil KAHITNA ke atas panggung. Bedanya saat di Yogya Rick Price mengundang KAHITNA secara lengkap untuk mengiringi dan menyanyikan  bersama lagu Everybody Needs Somebody milik KAHITNA. Sementara di Bandung Rick Price hanya memanggil terlebih dahulu Mario, Carlo dan Hedi. Lagu yang dinyanyikan mereka pun berbeda, yakni If You Were My Baby. Nah, di sini pun ada lagi perbedaannya. Jika saat di Yogya If You Were My Baby dinyanyikan dengan iringan musik oleh KAHITNA. Di Bandung lagu itu mereka nyanyikan dengan iringan gitar yang dimainkan oleh Rick Price.

Mengenai lagu Everybody Needs Somebody, saat di Yogya Rick Price hanya ikut menyanyikan syair yang berbahasa Inggris. Sementara di Bandung, mungkin dia sudah mulai lancar melafalkan lirik bahasa Indonesia hingga ikut menyanyikan “jangan pergi, ku tak mau sepi sendiri”.

Setelah lagu tersebut, KAHITNA menyanyikan sejumlah lagu yang urutannya kalau saya tidak salah ingat, sama baik waktu di Yogya maupun Bandung, yakni Cerita Cinta – Andai Dia Tahu. Bedanya waktu di Yogya usai dua lagu itu KAHITNA menyambungnya dengan Tentang Diriku, sementara di Bandung KAHITNA beralih ke Aku Punya Hati yang di Yogya dinyanyikan belakangan.

Selanjutnya sejumlah lagu sama – sama dinyanyikan di Yogya dan Bandung, seperti Tak Sebebas Merpati, Merenda Kasih, Aku Dirimu Dirinya, Mantan Terindah, Takkan Terganti dan Katakan Saja.

Di Bandung KAHITNA rupanya lebih banyak berinteraksi menghampiri penonton. Jika di Yogya mereka hanya sekali turun ke bangku penonton saat tembang Tak Sebebas Merpati, maka di Bandung setidaknya mereka membaur dengan penonton saat lagu Tak Sebebas Merpati, Katakan Saja dan medley Seandainya Aku Bisa Terbang-Nggak Ngerti-Cinta Sendiri.

Berikutnya jika di Yogya KAHITNA hanya mengajak seorang wanita naik ke atas panggung saat tembang Tak Sebebas Merpati, maka di Bandung mereka mengajak 2 wanita. Seorang dipilih Hedi, seorang lagi pilihan Carlo. Pun demikian saat Katakan Saja. Di Bandung KAHITNA kembali mengundang histeria saat mengajak seorang gadis kecil yang tampak tenang di atas panggung. Dengan digendong om Hedi Yunus, gadis itu mendapat hadian ciuman dari om Carlo Saba dan diajak berjoged hingga akhirnya dihantar turun kembali ke bangku oleh om Mario.

Dan yang paling tampak beda dari konser di Yogya dan Bandung ialah suasana penghujung konser. Tembang Heaven Knows masih dinyanyikan secara kolaboratif oleh Rick Price dan KAHITNA. Bedanya saat di Yogya Rick Price ikut memainkan Piano. Sementara saat di Bandung, musik iringan sepenuhnya dimainkan oleh Yovie dkk. Histeria penonton Bandung pun membuncah hingga merangsek ke pinggir panggung. Sementara saat di Yogya penonton yang juga sangat menikmati, tetap pada posisinya duduk di di depan panggung hingga akhirnya konser selesai dan para artis undur diri.

Konser di Bandung pun mencatat beberapa hal yang istimewa. Pertama adalah tiket yang terjual habis untuk semua kelas. Sementara di Yogya hanya tiket kelas bronze yang habis terjual sehari sebelum konser. Berikutnya adalah momen mengharukan saat seorang penonton wanita menangis ketika tembang Takkan Terganti dinyanyikan. Setelah Hedi Yunus bertanya diketahui kalau penonton tersebut adalah istri dari almarhum Dedi Hasan, musisi senior asal Bandung yang meninggal akibat kanker. Menurut sang istri, Dedi Hasan sangat menggemari lagu Takkan Terganti tersebut. Hedi dan Carlo pun mengakui bahwa Dedi Hasan adalah senior bagi mereka. Satu yang mengharukan berikutnya adalah hadirnya ibunda Yovie Widianto yang ikut menyaksikan konser tersebut. Yovie pun sempat mengucapkan terimakasih kepada sang ibunda yang telah mengizinkannya bermain musik hingga bisa menjadi musisi besar bersama KAHITNA.

Bandung memang selalu spesial bagi KAHITNA. Tapi Yogyakarta pun selalu menjadi kota yang Istimewa dengan segala riuh rendah penontonnya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

MILO CUBE, Cukup Dibeli Sekali Kemudian Lupakan

Alkisah, gara-gara “salah pergaulan" saya dibuat penasaran dengan Milo Cube. Akhirnya saya ikutan-ikutan membeli Milo bentuk kekinian tersebut.   Milo Cube (dok. pri). Oleh karena agak sulit menemukannya di swalayan dan supermarket, saya memesannya melalui sebuah marketplace online . Di berbagai toko online Milo Cube dijual dengan harga bervariasi untuk varian isi 50 cube dan 100 cube. Varian yang berisi 100 cube yang saya beli rentang harganya Rp65.000-85.000.   Pada hari ketiga setelah memesan, Milo Cube akhirnya tiba di tangan saya. Saat membuka bungkusnya saya langsung berjumpa dengan 100 kotak mungil dengan bungkus kertas hijau bertuliskan “MILO” dan “ENERGY CUBE”. Ukurannya benar-benar kecil. Satu cube beratnya hanya 2,75 gram, sehingga totalnya 275 gram.   Milo Cube yang sedang digandrungi saat ini (dok. pri). "Milo Kotak", begitu kira-kira terjemahan bebas Milo Cube (dok. pri). Tiba saatnya unboxing . Milo Cube ini berupa bubu

Purbalingga Food Center: Becek, Lembap dan Kurang Rapi

Awal Januari 2020 ada sebuah tempat baru yang diluncurkan di Purbalingga, Jawa Tengah. Namanya Purbalingga Food Center . Purbalingga Food Center (dok. pri). Saya tahu pertama kali dari berita daring yang mengabarkan pemindahan ratusan pedagang kaki lima ke "Purbalingga Food Center" pada 6 Januari 2020. Saat itu diadakan karnaval yang menjadi simbolisasi pemindahan sekitar 360 PKL penghuni Alun-alun Purbalingga, area GOR/Stadion Goentoer Darjono, trotoar Jalan Piere Tendean dan sekitarnya untuk selanjutnya disatukan di Purbalingga Food Center.   Lokasi Purbalingga Food Center ada di selatan GOR Goentoer atau tepat bersisian dengan jalan lingkar selatan GOR Goentoer. Jaraknya dari Alun-alun Purbalingga tak sampai 2 km. Pada 11 dan 12 Januari 2020 saat berada di Purbalingga, saya sempatkan untuk melihat tempat ini. Saya datang pada pagi hari meski layaknya pusat jajanan kaki lima, tempat ini pun perlu dicoba untuk dikunjungi pada malam hari.   Ar

"Bad Content is a Good AdSense", Jahatnya Para Pemburu Untung di Tengah Pandemi

Selama ini kita mengenal “hukum media” yang berbunyi “Bad News is a Good News”. Itu semacam sindiran atau ungkapan ironi tentang pola pemberitaan media masa kini yang kerap berlebihan dalam menyampaikan informasi dan berita seputar bencana. Youtube (dok. pri). Kita tahu bencana adalah kejadian buruk yang mestinya direspon dengan bersimpati, berempati, atau kalau perlu menyampaikan solusi dan bantuan yang nyata meringankan. Namun, bagi media kejadian bencana seolah menjadi kesempatan emas. Alasannya karena masyarakat kita suka dengan informasi seputar bencana. Maka setiap ada bencana atau peristiwa yang memilukan, kisah-kisahnya selalu menyedot perhatian masyarakat secara luas. Media lalu memberitakannya dengan porsi yang besar. Informasi diobral, termasuk informasi-informasi yang tak jelas ikut dilempar ke publik dengan label berita. Segala aspek dikulik dengan dalih “sudut pandang media”. Padahal hal-hal tersebut mungkin tak pantas diberitakan. Semakin parah komentator “palugada” jadi