Langsung ke konten utama

Kau Tak D I B U A N G


Saya hanya bisa setengah memeluk sambil tersenyum ketika seorang sahabat datang beberapa waktu lalu dan berkata : “Kamu benar, Ndra..”.

Tapi sesaat setelah ia pergi, mata ini diam-diam berkaca-kaca, ada iba sekaligus doa untuknya. 

Jangan merasa kau telah dibuang, teman. Meski kamu sudah membuktikan sendiri jika hidup ini bukan hanya masalah mempercayai, tapi juga menerima. Sekuat apapun keyakinanmu pada seseorang, pada akhirnya kita hanya sedang menjalankan suratan Tuhan, kau pasti tahu itu. Seberapapun besar cintamu pada sesama, pada akhirnya jalan hidup kita masing-masing sudah digariskan Tuhan. Maaf jika dulu aku sering tersenyum dan tertawa setiap kali mendengar ceritamu, itu bukan senyuman mencibir, itu adalah jawabanku untuk setiap keluh yang kau kesahkan dulu. Bukan perkataanku yang benar, tapi suratan yang sudah menunjukkan jawabannya untukmu.

Teman, kau salah jika menganggap dirimu terbuang. Kau jelas harus bersyukur karena mendapatkan ucapan perpisahan terindah itu. Itu tandanya kau sangat berarti. Sementara banyak perpisahan yang terjadi dengan seribu tanya yang tak terjawab bahkan tanpa salam terakhir sekalipun. Itu yang membuatku tersenyum kemarin, kau tidak dibuang teman.

Kita hanya manusia yang berusaha sebaik mungkin menjalani suratan dan menempuh jalan yang sudah dtentukan. Kita tak boleh egois memaksakan suratan untuk selalu menuliskan nama kita ada di sana. Kita sudah  dewasa, bukan waktunya lagi bertanya “mengapa ?”. Kenyataan yang ada sudah menjawabnya, apapun rahasia di baliknya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Bad Content is a Good AdSense", Jahatnya Para Pemburu Untung di Tengah Pandemi

Selama ini kita mengenal “hukum media” yang berbunyi “Bad News is a Good News”. Itu semacam sindiran atau ungkapan ironi tentang pola pemberitaan media masa kini yang kerap berlebihan dalam menyampaikan informasi dan berita seputar bencana. Youtube (dok. pri). Kita tahu bencana adalah kejadian buruk yang mestinya direspon dengan bersimpati, berempati, atau kalau perlu menyampaikan solusi dan bantuan yang nyata meringankan. Namun, bagi media kejadian bencana seolah menjadi kesempatan emas. Alasannya karena masyarakat kita suka dengan informasi seputar bencana. Maka setiap ada bencana atau peristiwa yang memilukan, kisah-kisahnya selalu menyedot perhatian masyarakat secara luas. Media lalu memberitakannya dengan porsi yang besar. Informasi diobral, termasuk informasi-informasi yang tak jelas ikut dilempar ke publik dengan label berita. Segala aspek dikulik dengan dalih “sudut pandang media”. Padahal hal-hal tersebut mungkin tak pantas diberitakan. Semakin parah komentator “palugada” jadi

MILO CUBE, Cukup Dibeli Sekali Kemudian Lupakan

Alkisah, gara-gara “salah pergaulan" saya dibuat penasaran dengan Milo Cube. Akhirnya saya ikutan-ikutan membeli Milo bentuk kekinian tersebut.   Milo Cube (dok. pri). Oleh karena agak sulit menemukannya di swalayan dan supermarket, saya memesannya melalui sebuah marketplace online . Di berbagai toko online Milo Cube dijual dengan harga bervariasi untuk varian isi 50 cube dan 100 cube. Varian yang berisi 100 cube yang saya beli rentang harganya Rp65.000-85.000.   Pada hari ketiga setelah memesan, Milo Cube akhirnya tiba di tangan saya. Saat membuka bungkusnya saya langsung berjumpa dengan 100 kotak mungil dengan bungkus kertas hijau bertuliskan “MILO” dan “ENERGY CUBE”. Ukurannya benar-benar kecil. Satu cube beratnya hanya 2,75 gram, sehingga totalnya 275 gram.   Milo Cube yang sedang digandrungi saat ini (dok. pri). "Milo Kotak", begitu kira-kira terjemahan bebas Milo Cube (dok. pri). Tiba saatnya unboxing . Milo Cube ini berupa bubu

Di Balik Lucunya Srimulat: Punya Koneksi Intelijen dan Berani Melawan PKI

Saya menyukai Srimulat sejak kecil. Layar kaca TV menjadi medium saya menyaksikan grup ini. Oleh karena itu, generasi Srimulat yang saya tahu merupakan generasi ketika Srimulat sudah memasuki industri TV. Srimulat era industri TV (foto repro/dok.pribadi). Keluarga besar kami yang banyak berasal dari Klaten dan Jawa Timur membuat saya terpengaruh dan akhirnya menyukai Srimulat. Apalagi saat mudik dan berkumpul di Klaten, tontonan Srimulat menjadi suguhan wajib di rumah kakek. Waktu itu Srimulat tayang berulang kali sepanjang hari selama libur lebaran. Nonton bersama menjadi salah satu kegiatan utama kami ketika berkumpul. Barangkali karena pendiri Srimulat, yakni Raden Ayu Srimulat lahir di Klaten sehingga keluarga kami menyenangi grup lawak ini. Semacam ada ikatan batin atau kebanggaan sebagai sesama orang berdarah Klaten.  *** Pada masa jayanya anggota Srimulat mencapai 100 orang. Bahkan, sepanjang  sejarahnya dari awal berdiri sebagai kelompok kesenian hingga menjadi grup lawak era i