Langsung ke konten utama

Tahun Baru: Sepotong Pizza Pertama

Sekian lama dilahirkan sebagai manusia di muka bumi, selama ini saya selalu menjaga darah sebagai orang Indonesia. Bagi saya orang Indonesia sebisa mungkin makan makanan negeri sendiri. Oleh sebab itu saya tak pernah sekalipun mau mencicipi ayam goreng Amerika meski kata orang krispinya luar biasa. Lidah saya tak pernah mencecap kentang dari McD meski katanya gurih dan lembut. Saya selalu eneg setiap kali melihat burger. Sayapun tak pernah tahu yang namanya Pizza meski sering mengunjungi cafe yang menyajikan hidangan Italia. 

Namun sesuatu terjadi di malam tahun baru kemarin. Di sebuah cafe yang cukup punya nama, namanya juga mirip salah satu grup musik terkenal Indonesia, saya menghabiskan sore hingga malam bersama sejumlah teman. Bukan untuk menanti tahun baru atau melihat kembang api dan meniup terompet, ada deadline yang harus kami selesaikan sebelum pukul 24.00. Jadi ketika ribuan orang berduyun-duyun menuju pusat kota dan merayakan pesta, kami duduk tepekur menghadap puluhan lembar kertas dan foto yang harus dicocokkan.

Sepanjang itu pula kami menikmati sejumlah hidangan ala bistro. Untungnya di tempat itu ada menu yang Indonesia banget. Saya memesan paket yang terdiri dari sop berisi wortel, kobis dan sedikit potongan daging ayam. Juga nasi dan seporsi ayam geprek. Minumnya saya mendapat segelas Cola dingin dan sebotol air mineral. 

Sekian lama di dalam cafe membuat perut lapar kembali, apalagi gerimis di luar tak juga berhenti. Kami pun memutuskan memesan cemilan. Seloyang pizza dengan smoked beef jadi pilihan teman-teman. Sayapun ikut saja. Tak berapa lama pizza sudah tersaji di meja. 

Melihat bentuknya dahi saya langsung mengkerut. Hidangan ini lebih mirip roti ketumpahan aneka macam benda seperti daging, mayonase, keju, bawang bombay dan saus. Dengan jujung garpu saya mencicipi saus kental yang tertumpah di atas pizza, rasanya aneh. Lalu saya mengambil sepotong dan mulai mengirisnya dengan pisau. Gigitan pertama saya tak menemukan keistimewaan sebuah pizza. Pada gigitan kedua saya bahkan ingin muntah. Jadilah sepotong Pizza tak pernah saya habiskan. 
Itu menjadi Pizza pertama selama saya hidup dan tak ada niat untuk mencicipinya lagi. Lidah saya terlalu Indonesia banget.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MILO CUBE, Cukup Dibeli Sekali Kemudian Lupakan

Alkisah, gara-gara “salah pergaulan" saya dibuat penasaran dengan Milo Cube. Akhirnya saya ikutan-ikutan membeli Milo bentuk kekinian tersebut.   Milo Cube (dok. pri). Oleh karena agak sulit menemukannya di swalayan dan supermarket, saya memesannya melalui sebuah marketplace online . Di berbagai toko online Milo Cube dijual dengan harga bervariasi untuk varian isi 50 cube dan 100 cube. Varian yang berisi 100 cube yang saya beli rentang harganya Rp65.000-85.000.   Pada hari ketiga setelah memesan, Milo Cube akhirnya tiba di tangan saya. Saat membuka bungkusnya saya langsung berjumpa dengan 100 kotak mungil dengan bungkus kertas hijau bertuliskan “MILO” dan “ENERGY CUBE”. Ukurannya benar-benar kecil. Satu cube beratnya hanya 2,75 gram, sehingga totalnya 275 gram.   Milo Cube yang sedang digandrungi saat ini (dok. pri). "Milo Kotak", begitu kira-kira terjemahan bebas Milo Cube (dok. pri). Tiba saatnya unboxing . Milo Cube ini berupa bubu...

KAHITNA : di antara kebahagiaan, cinta dan PERSELINGKUHAN (sebuah sinopsis)

Sebuah buku diangkat menjadi sebuah film atau sinetron tentu sudah biasa. Lagu yang sengaja dicipta sebagai soundtrack film juga sudah banyak. Tapi bagaimana jika sebuah lagu dituturkan ulang sebagai sebuah buku ?. KAHITNA baru saja melakukannya. Menggandeng penerbit buku Gramedia, KAHITNA kembali menghadirkan karya istimewa untuk para penggemarnya. Buku berjudul “DI ANTARA KEBAHAGIAAN, CINTA DAN PERSELINGKUHAN” menjadi persembahan terbaru mereka. Satu dari rangkaian peringatan 25 tahun kiprah KAHITNA di blantika musik Indonesia. Di Antara Kebahagiaan, Cinta dan Perselingkuhan adalah sebuah kumpulan cerita pendek (cerpen) bertema cinta yang sebagian besar digali dari pengalaman serta kenangan – kenangan banyak orang yang terinspirasi oleh lagu-lagu KAHITNA. Isi ceritanya tak lepas dari lagu-lagu KAHITNA. Bahkan judul setiap cerpen nya persis sama dengan judul hits-hits cinta KAHITNA. Ada banyak yang “curhat” di dalam buku setebal 173 halaman ini. Tak cuma KAHITNA...

Aku dan Sepotong Kue Putu

Satu yang tak berubah dan tak ingin saya ubah adalah saya seorang anak desa. Anak desa yang lalu hijrah belajar di kota besar. Anak desa yang semenjak itu selalu rindu untuk mengulang atau sekedar mengingat masa-masa kecilnya yang telah terlalui. Berjalan-jalan di sawah, sembunyi-sembunyi membuang makanan yang tak habis dimakan, ikut ibu ke pasar, berkelahi sepulang sekolah, kabur diam-diam dari rumah untuk bermain hingga menikmati jajanan masa kecil. Salah satunya adalah makanan tradisional yakni kue putu. Dulu saya sangat suka meminta jajan kue putu. Pasti banyak yang tahu seperti apa kue putu itu. Kue tradisional terbuat dari beras dengan isian gula merah yang dibuat dengan cara dipanaskan menggunakan uap panas, disajikan dengan parutan kelapa dan kadang ditaburi gula pasir. Dulu saya suka menanti pedagang kue putu lewat di depan rumah, biasanya sore hari sampai jelang senja. Ia datang dengan pikulan di pundak, pasti berat. Mendengar bunyi tiupan uap panasnya dari jauh saya ...