Langsung ke konten utama

Postingan

Mendoan Termahal di Dunia

Mendoan termahal sedunia di Food Park UGM. Kisah bermula ketika saya ingin memesan puding orange yang ternyata sedang tak tersedia. Akhirnya semangkuk "Seasonal Green Tea" yang harganya dua kali lipat dari harga sup buah biasa menjadi pilihan. Padahal Seasonal Green Tea ini pun tak yang istimewa. Irisan buahnya bahkan jauh lebih sedikit. Hanya kebetulan disiram dengan green tea yang ringan dan dijual di Food Park UGM yang membuatnya terkesan ekslusif.  Seasonal Green Tea   Foodpark UGM. Mendoan termahal sedunia.   Tuntas dengan sup buah mahal itu, saya lalu memesan sepiring Mendoan biasa. Harganya pun luar biasa yakni Rp. 10.xxx untuk ukuran terkecil dan yang paling sederhana. Sepiring mendoan ini hanya ada satu Mendoan berukuran agak lebar. Dilengkapi dengan sambal kecap dan beberapa potongan timun dan tomat. Seperti biasa, tempe selalu enak buat saya. Tapi Mendoan ini digoreng terlalu kering dan tentu saja harganya yang tak biasa....

Kampung Berwarna di Bantaran Sungai Code Yogyakarta

Rumah-rumah dalam foto pada tulisan ini berada di Kampung Code Utara yang terletak di Kotabaru, Gondokusuman, Kota Yogyakarta. Kampung ini berada 200 meter di timur Tugu Yogyakarta, tepatnya di bawah jembatan Gondolayu yang menghubungkan ruas Jalan Jendral Sudirman sisi Gramedia dengan sisi Hotel Santika Premiere. Kampung Code bagian utara sedang mencuri perhatian publik karena mendadak berubah menjadi “Kampung Berwarna”. Kampung ini memang kurang terlihat dari Jalan Jendral Sudirman karena berada di bawah jembatan. Beberapa rumah yang bertingkat pun tingginya masih lebih rendah dibanding pagar jembatan. Namun, jika dari sisi selatan jembatan akan terlihat jelas puluhan rumah yang   penuh warna. Seluruh bagian rumah termasuk dinding, pintu, jendela hingga atapnya dicat dengan warna merah, biru, kuning dan putih. Pola pengecatan yang asimetris dan susunan rumah yang dindingnya berhimpitan nyaris tanpa sekat membuat wajah kampung ini terlihat unik jika dilihat dar...

Main Kartu Saat Pelajaran Pancasila dan Kewarganegaraan

Menjadi anak sekolahan, mulai dari saat harus rapi berseragam merah putih, lalu berganti biru putih lengkap dengan badge OSIS hingga saat berekspresi dengan pakaian putih abu-abu, adalah masa yang penuh kenangan. Banyak sekali peristiwa, menyenangkan maupun kurang mengenakkan yang kita alami di masa-masa itu. Saat di mana rambut tak boleh menutupi telinga, kaus kaki harus berwarna putih atau hitam, piket menghapus papan tulis harus dikerjakan hingga wajib membawa buku ajar dan LKS setiap hari.  Periode menjadi anak sekolahan berseragam juga menjadi masa di mana kenakalan dan kepatuhan kita “diasah”. Seorang bisa terlihat dalam puncak kepatuhannya sebagai anak yang baik ketika berseragam sekolah. Sebaliknya riwayat kenakalan seseorang juga bertambah saat duduk di bangku sekolah. Kalau ditanya apakah saya termasuk anak yang dominan nakal atau menonjol kepatuhannya, saya akan menjawab bahwa saya dan teman-teman sekelas pernah diskors karena ketahuan guru main kartu ...