Langsung ke konten utama

Kompas dan Diary yang Terbuka

Pagi ini saya membuka email, sebuah kebiasaan yang hampir tiap hari saya lakukan, bukan sok penting atau banyak penggemar, tapi ini belajar dari pengalaman lalu. Dulu seringkali saya melewatkan beberapa email penting karena tidak rajin membuka inbox yahoo. Itu membuat kini saya hampir selalu memeriksa email saya tiap hai, biasanya setelah bangun tidur dan jelang tidur.

Dan pagi ini ada beberapa email masuk, namun ada satu yang membuat saya langsung memilihnya untuk dibuka pertama kali. Isinya tentang tulisan saya yang terpilih untuk dimuat di harian Kompas. Kapan ?. hari ini juga !. 

Kapan saya mengirim tulisan ke kompas ????. Seingat sadar saya tak pernah mengirim tulisan apapun ke harian Kompas atau koran apapun. Tapi setelah meneruskan membaca isi email saya pun bisa menebak kalau tulisan itu diambil dari arsip saya di kompasiana, tempat biasa saya menulis dan mempublikasikannya untuk dibaca banyak orang. Kompasiana adalah blog turunan dari web resmi Kompas (kompas.com)

Saat tulisan ini dibuat, saya baru saja membuka lembar harian Kompas setelah seorang teman lewat twitter menunjukkan foto tulisan saya yang dimuat.

Hufft..rasanya malu. Lho ??. Muncul di harian nasional kok malu ??. Bagaimana tidak malu kalau foto saya juga ikut muncul di sana ??. Nah lho ??. Kenapa malu ??. Kan jadi terkenal ??. Saya kan pemalu tidak suka pamer foto, sama halnya kurang suka difoto. Lagipula tulisan yang dimuat sebenarnya bukan tulisan yang saya banget. Bukan tulisan dengan ruang  tema yang menunjukkan selera saya. Tulisan yang dimuat adalah ringkasan dari cerita sisa Lebaran kemarin. Gaya bahasanya pun bukan tulisan jurnalisme yang umum, melainkan bahasa "saya" karena itu catatan harian meski saya tulis memang untuk dibagi, tapi bukan untuk di harian kompas. Tulisan itu dulu saya buat sebagai pelengkap saja, bukan   sebagai opini yang serius saya tulis. Dan di harian kompas hari ini tulisan itu sudah diringkas oleh redaksi menjadi jauh lebih pendek dari aslinya.

Kenapa bukan tulisan saya tentang KAHITNA atau Anggrek saja yang dimuat oleh Kompas ?. Setidaknya ada banyak tulisan dengan tema demikian di arsip kompasiana milik saya. Tapi saya tetap harus bersyukur karena setidaknya saya bisa meninggalkan jejak cerita di harian terbesar nasional. Meski itu harus membuat sebagian diary saya terbuka dan mungkin akan membuat diary lainnya terbaca andai kemudian ada teman yang tahu kalau saya banyak menyimpan cerita di kompasiana. Hufft..saya belum siap terkenal.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Bad Content is a Good AdSense", Jahatnya Para Pemburu Untung di Tengah Pandemi

Selama ini kita mengenal “hukum media” yang berbunyi “Bad News is a Good News”. Itu semacam sindiran atau ungkapan ironi tentang pola pemberitaan media masa kini yang kerap berlebihan dalam menyampaikan informasi dan berita seputar bencana. Youtube (dok. pri). Kita tahu bencana adalah kejadian buruk yang mestinya direspon dengan bersimpati, berempati, atau kalau perlu menyampaikan solusi dan bantuan yang nyata meringankan. Namun, bagi media kejadian bencana seolah menjadi kesempatan emas. Alasannya karena masyarakat kita suka dengan informasi seputar bencana. Maka setiap ada bencana atau peristiwa yang memilukan, kisah-kisahnya selalu menyedot perhatian masyarakat secara luas. Media lalu memberitakannya dengan porsi yang besar. Informasi diobral, termasuk informasi-informasi yang tak jelas ikut dilempar ke publik dengan label berita. Segala aspek dikulik dengan dalih “sudut pandang media”. Padahal hal-hal tersebut mungkin tak pantas diberitakan. Semakin parah komentator “palugada” jadi

MILO CUBE, Cukup Dibeli Sekali Kemudian Lupakan

Alkisah, gara-gara “salah pergaulan" saya dibuat penasaran dengan Milo Cube. Akhirnya saya ikutan-ikutan membeli Milo bentuk kekinian tersebut.   Milo Cube (dok. pri). Oleh karena agak sulit menemukannya di swalayan dan supermarket, saya memesannya melalui sebuah marketplace online . Di berbagai toko online Milo Cube dijual dengan harga bervariasi untuk varian isi 50 cube dan 100 cube. Varian yang berisi 100 cube yang saya beli rentang harganya Rp65.000-85.000.   Pada hari ketiga setelah memesan, Milo Cube akhirnya tiba di tangan saya. Saat membuka bungkusnya saya langsung berjumpa dengan 100 kotak mungil dengan bungkus kertas hijau bertuliskan “MILO” dan “ENERGY CUBE”. Ukurannya benar-benar kecil. Satu cube beratnya hanya 2,75 gram, sehingga totalnya 275 gram.   Milo Cube yang sedang digandrungi saat ini (dok. pri). "Milo Kotak", begitu kira-kira terjemahan bebas Milo Cube (dok. pri). Tiba saatnya unboxing . Milo Cube ini berupa bubu

Di Balik Lucunya Srimulat: Punya Koneksi Intelijen dan Berani Melawan PKI

Saya menyukai Srimulat sejak kecil. Layar kaca TV menjadi medium saya menyaksikan grup ini. Oleh karena itu, generasi Srimulat yang saya tahu merupakan generasi ketika Srimulat sudah memasuki industri TV. Srimulat era industri TV (foto repro/dok.pribadi). Keluarga besar kami yang banyak berasal dari Klaten dan Jawa Timur membuat saya terpengaruh dan akhirnya menyukai Srimulat. Apalagi saat mudik dan berkumpul di Klaten, tontonan Srimulat menjadi suguhan wajib di rumah kakek. Waktu itu Srimulat tayang berulang kali sepanjang hari selama libur lebaran. Nonton bersama menjadi salah satu kegiatan utama kami ketika berkumpul. Barangkali karena pendiri Srimulat, yakni Raden Ayu Srimulat lahir di Klaten sehingga keluarga kami menyenangi grup lawak ini. Semacam ada ikatan batin atau kebanggaan sebagai sesama orang berdarah Klaten.  *** Pada masa jayanya anggota Srimulat mencapai 100 orang. Bahkan, sepanjang  sejarahnya dari awal berdiri sebagai kelompok kesenian hingga menjadi grup lawak era i