Langsung ke konten utama

Problem Bahasa dan Plagiasi di Kaskus


Kaskus, siapa tak kenal nama ini. Sebuah media yang menyediakan ruang ekspresi kepada masyarakat untuk berbagai hal dan keperluan. Mulai dari berbagi pengalaman, informasi, tips, hobi hingga jual beli.  Dari politik, olahraga hingga musik. Dari obrolan tentang pendidikan hingga gosip. Empat juta lebih anggota membuatnya menjadi salah satu media/situs paling 
populer di Indonesia. 

Begitu populernya kaskus, hingga seringkali nama ini muncul dalam beberapa obrolan saya dengan teman-teman. Seringkali ketika kami berdiskusi tentang sesuatu, jawaban dari teman : “kalau yang saya baca di kaskus....”. Saat bertanya toko aksesoris fotografi, teman pun menjawab : “cari saja di kaskus...”. Bahkan seorang teman ketika ingin membeli pisau kecil untuk kepentingan adventure pun harus membuka kaskus lebih dulu, padahal tak jauh dari kampus kami ada banyak toko peralatan adventure. Kaskus ternyata sudah menjadi semacam data base untuk tema-tema perbincangan sehari-hari. Kaskus memang bukan google yang bisa membantu menemukan apa saja, tapi kaskus bagi sebagian orang adalah toko serba ada.

Tanpa mengurangi penghargaan kepada kaskus dan para pegiatnya yang menjadikan media tersebut sebagai wadah berekspresi dan mengais rezeki, ada dua alasan utama yang membuat saya tidak nyaman saat membuka kaskus.

Pertama adalah masalah bahasa. Mungkin pendapat ini terlampau idealis tapi kenyataannya saya sangat terganggu dengan model bahasa “Gan”, “Pertamax”, “Afgan”, “Cendol”, “Batu Bata” dan sebagainya yang seolah menjadi bahasa resmi pemersatu di kaskus. Jujur saja baru setahun belakangan ini saya tahu kalau “Afgan” ternyata berarti Sadis dan “Pertamax” artinya Pertama kali. Sementara Batu Bata, Cendol dan sebagainya belum saya mengerti padanan katanya dalam bahasa Indonesia.

Bagi saya yang terbiasa berkomunikasi sehari-hari dengan bahasa Indonesia, hal itu sangat menganggu telinga. Keterampilan bahasa Indonesia saya belumlah baik, tapi kebiasaan menulis dan berbicara di lingkungan eksak atau kampus mungkin yang membuat saya jadi begini. Teman-teman saya bahkan sering tertawa saat saya memulai percakapan dengan kata “Saya..”. Mereka menganggap saya terlalu formal dan aneh karena tidak menggunakan kata “aku..”. Bahkan kebiasaan menulis tanpa disingkat dan dengan bahasa formal juga menular saat saya menulis sms. Dan saya tak mengerti kapan pastinya dan apa sebabnya bahasa tutur saya menjadi seperti sekarang. Tapi itulah bahasa saya sehari-hari, selain bahasa Jawa tentunya.

Kembali ke bahasa pergaulan di kaskus, ketidaknyamanan saya dengan model bahasa seperti demikian bukanlah penilaian bahwa kaskus bukan media yang tepat untuk berekspresi. Bukan penilaian bahwa kaskus adalah media yang buruk. Saya dan juga banyak orang pasti mengakui kalau kaskus juga menghadirkan banyak manfaat, setidaknya beberapa informasi yang ada di kaskus telah membuka ruang diskusi yang baik walau kadang isinya kurang baik. Setidaknya “lapak” kaskus telah membawa manfaat bagi banyak orang.

Hal yang membuat saya semakin terganggu dengan bahasa kaskus adalah karena telah mewabah di kehidupan sehari-hari. Setidaknya sering sekali perbincangan saya dengan teman-teman bahkan dalam diskusi di kampus, kata-kata seperti “Gan” hadir. Sekali lagi bisa jadi ini hanya masalah selera telinga saya saja, namun bagi saya hal itu sangat tidak enak didengar. Saya yang selama ini menghindari mengucap lisan “cewek” dan “cowok” untuk menyebut wanita dan laki-laki, merasa bahasa perlu diletakkan pada waktu dan kondisi yang tepat. Istilah “Gan”, “Rossa”, “Cendol” mungkin terdengar sangat kekinian, namun menurut saya itu tak harus diikuti dalam perbincangan sehari-hari.

Untungnya beberapa teman mengerti kebiasaan berbicara saya. Saya pun tidak menghindari perbincangan jika akhirnya kosakata kaskus secara spontan keluar dari lawan bicara. Hanya saja saya memilih untuk tidak menanggapinya dengan bahasa serupa. Maka ketika sapaan “Gan” itu spontan muncul, kami biasanya hanya saling tersenyum untuk kemudian meneruskan pembicaraan tanpa sisa bahasa kaskus.

Jika bahasa kaskus membuat saya terganggu, maka hal kedua yang membuat saya enggan berada di kaskus, setidaknya sampai detik ini, adalah masalah plagiasi. Saya tidak menilai kaskus sebagai media yang dipenuhi karya hasil plagiat karena saya yakin di antara banyak tulisan di sana pasti lebih banyak yang berupa opini dan perasan kreativitas penulisnya sendiri. Tapi saya pun pernah membuktikan bahwa beberapa artikel saya di kompasiana rupanya muncul dan pernah hadir di kaskus.

Semua terjadi tanpa sengaja ketika saya membuka halaman google lalu mencari referensi atau berita tentang sebuah topik. Seringkali saya dihantar ke kaskus dan ketika membukanya saya justru membaca tulisan sendiri. Kita tentu sangat senang bisa berbagi dan bersyukur jika itu bisa bermanfaat bagi orang lain. Maka saya pun tidak pernah keberatan jika ada tulisan yang hendak ditulis ulang atau dimuat ulang di blog atau web. Tidak harus meminta izin karena sedari awal niatnya adalah berbagi. Cukup dengan menuliskan sumbernya saja saya rasa itu sudah cukup.

Makin miris ketika melihat artikel yang pindah tempat ke kaskus ternyata ramai diperbincangkan dan orang yang memuat ulang berlaku seolah-olah dialah otak di balik tulisan tersebut. Melihat ini saya hanya tersenyum kecil sambil memandangi komentar-komentar yang ada.  Berbeda ketika tulisan saya pernah di-copypaste ke sebuah blog milik mahasiswa. Saya melalui kolom komentar memberi tanggapan seperlunya karena blog tersebut ternyata terintegrasi dengan web universitas yang mungkin menjadi tempatnya berkuliah. Tentu sangat disayangkan jika blog seperti demikian berisi sebuah karya plagiasi.

Kembali ke plagiasi di kaskus. Masalah ini tentu tidak hanya terjadi di kaskus. Plagiasi bisa terjadi di banyak media. Dan di kaskus bentuk pemindahan karya bukan hanya terjadi dalam wujud tulisan. Beberapa foto dari kamera saya juga sempat beredar di sana. Sekali lagi saya tak  keberatan jika foto-foto itu dipindah tempatkan karena memang saya ingin berbagi, setidaknya alasan itu juga yang membuat saya mendepositkan beberapa foto di beberapa web site. Namun jika foto-foto itu dipindahkan dengan memotong beberapa sisi/cropping yang membuat nama pemilik hak ciptanya dihilangkan, saya hanya bisa menyayangkan. 

Saya dan kita semua tentu bukan orang besar yang setiap apa yang dihasilkankannya  harus dihargai apalagi dipuji. Kita hanya senang berbagi dan syukur jika itu bisa menghadirkan manfaat. Namun rasanya etika perlu tetap dijaga bukan hanya di forum nyata tapi juga di dunia maya.

Semoga teman-teman pegiat kaskus, tentu tidak semuanya, tak sekedar mendepositkan karya plagiasi, tapi juga menghadirkan gagasan sendiri. Dan semoga bahasa-bahasa pergaulan kaskuser bisa ditempakan secara proporsional sebagai hasil kreativitas yang tidak mengganggu tatanan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gamelan Pusaka Kraton Yogyakarta

MILO CUBE, Cukup Dibeli Sekali Kemudian Lupakan

Alkisah, gara-gara “salah pergaulan" saya dibuat penasaran dengan Milo Cube. Akhirnya saya ikutan-ikutan membeli Milo bentuk kekinian tersebut.
Oleh karena agak sulit menemukannya di swalayan dan supermarket, saya memesannya melalui sebuah marketplace online. Di berbagai toko online Milo Cube dijual dengan harga bervariasi untuk varian isi 50 cube dan 100 cube. Varian yang berisi 100 cube yang saya beli rentang harganya Rp65.000-85.000.
Pada hari ketiga setelah memesan, Milo Cube akhirnya tiba di tangan saya. Saat membuka bungkusnya saya langsung berjumpa dengan 100 kotak mungil dengan bungkus kertas hijau bertuliskan “MILO” dan “ENERGY CUBE”. Ukurannya benar-benar kecil. Satu cube beratnya hanya 2,75 gram, sehingga totalnya 275 gram.
Tiba saatnya unboxing. Milo Cube ini berupa bubuk coklat yang dipadatkan sehingga menyerupai permen hisap. Tapi sebenarnya tak bisa disebut permen karena meski dipadatkan, agregat bubuk Milo ini mudah hancur saat terjatuh.
Dalam benak dan angan saya ter…

Poto Batu, "Vitamin Sea" di Pesisir Sumbawa Barat

“Lihat ke kiri!”. Suara Pak Arie membangunkan kembali kesadaran kami yang kebanyakan sudah hampir tertidur di dalam bis. Siang itu kami sedang dalam perjalanan dari Jereweh ke Kertasari, keduanya di Kabupaten Sumbawa Barat. 

Ucapan Pak Arie pun dituruti oleh beberapa di antara kami yang segera mengarahkan pandangan menembus kaca jendela bis. Entah siapa yang memulai meminta bis untuk berhenti, tapi sekejap kemudian kami semua sudah turun dan mendapati diri berada di sebuah pantai yang indah. Poto Batu namanya.
Pantai Poto Batu berada tak jauh dari Labuhan Lalar di Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Perjalanan dari Jereweh menuju Poto Batu kami tempuh melalui jalanan beraspal yang tidak terlalu ramai. Agak mengherankan karena jalan tersebut adalah akses penghubung antara ibu kota Sumbawa Barat, Taliwang, dengan sejumlah daerah di sekitarnya.
Mendekati Poto Batu beberapa ruas jalan menyempit dan aspalnya kurang rata. Oleh karenanya kendaraan perlu berjalan lebih pelan. Apalagi, …