Langsung ke konten utama

25 TAHUN CERITA CINTA KAHITNA : DARI MENIT KE MENIT


16 : 24 WIB. Saya berada di dalam taksi, sebut saja Blue Bird (#nama sebenarnya) dalam perjalanan menuju venue konser. Sebelumnya kami bertiga, saya, mba Reni dan Ilham mengadakan “syukuran”  makan siang bersama di rumah Ilham, GRATIS.
17 : 17. Akhirnya menginjakkan kaki juga di JCC.
Jadi ini yang namanya Jakarta Convention Center itu ?. Yang katanya gedung konser terbesar dan paling bergengsi di Indonesia ?. Hmm..biasa...(biasa kagum maksudnya, maklum anak desa..^^V). Berjalan beberapa langkah menuju pintu antrian Gold dan akhirnya bertemu dengan mba Fitri, Bundanya soulmateKAHITNA dengan putri kecilnya Fira. Ada juga mba Yuli dan beberapa lagi.
17 : 21. Saya memisahkan diri menuju antrian Festival. Di sana sudah ada banyak orang duduk di lantai. Segerombolan wanita berbaju merah juga terlihat. Ada mba Silmi dan kawan-kawan. Di sini juga saya berpapasan dengan beberapa personel Project Pop seperti Tika Panggabean dan Yosi yang masuk melalui pintu artis di belakang saya.
17 : 29. Saya mulai mengantri. Duduk di selasar JCC bersama teman-teman soulmateKAHITNA yang sudah semakin banyak. Penampilannya yang menyolok membuat mereka seperti  KOMPLOTAN berbaju merah. Dan sebagai pembeda, saya mengenakan kemeja biru dongker...

Langit Jakarta yang sebelumnya mendung akhirnya tumpah. Hujan deras disertai angin kencang membuat beberapa poster dan banner konser terlepas dari tali dan tiang. Tapi penonton masih terus mengantri bahkan ratusan lainnya terus berdatangan dan bergabung mengular dalam antrian. Sementara orang-orang dari media dan terus hilir mudik melakukan liputan.
17 : 51. Masih mengantri. Kini kami berdiri karena pintu pertama masuk JCC sudah dibuka. Komplotan baju merah bertambah setelah mba Au, mba Wie, Sitti, si Adel dan lainya bergabung. Mas Firman Hidayat, salah satu manajer KAHITNA melintas membelah antrian kami. Oh..jadi ini orang yang beberapa hari lalu telepon saya malam-malam. 
18 : 27. Kami sudah berada di dalam lobi hall JCC.
18 : 30. Komplotan baju merah makin bertambah setelah Dhilla dan gerombolannya bergabung. Banyak orang menyempatkan berfoto dengan patung-patung personel KAHITNA yang “ditegakkan” di dalam lobi. Saya sendiri menyempatkan berjalan mengamati sekitar, melihat beberapa foto persiapan konser yang juga dipajang.
18 : 35. Kembali bertemu dengan mas Firman, kali ini  sempat berkenalan dan berbincang sesaat. Komplotan baju merah masih sibuk berfoto. Saya sih tetep kalem dan memilih membeli album baru KAHITNA yang dijual keliling oleh beberapa orang, tapi bukan pedagang asongan, meski mereka menjualnya dengan cara mengasong.
18 : 39. Komplotan baju merah masih rempong. Kini mereka (termasuk saya..^^) berfoto di tempat yang akan digunakan KAHITNA untuk konfrensi pers.
jelang konser | lobi JCC
18 : 49. Kami kembali antri untuk masuk ke dalam hall konser. Panjang juga antriannya. Namun komplotan baju merah masih mudah dikenali, bahkan makin mencolok dengan “polah” yang dibuat. Saya sih tetep kalem...^^V. Bukan apa-apa, tapi di sini saya sadar diri hanya menjadi satu dari dua laki-laki yang turut. Kebayang kan mati gayanya ??. Dua laki-laki lainnya sudah memisah sejak awal di barisan Gold.
20 : 00. Kami melewati pintu festival dan berjalan menuju hall di atas karpet yang membentang.
20 : 08. Sudah berada di dalam hall, di depan panggung dengan rombongan yang sama : komplotan baju merah. Di belakang saya tepat duduk Bu Acin, bos Musica Studio dan Jan Juhana, produser Sony BMG Indonesia.
20 : 18. Lampu hall dimatikan, announcer mengumumkan prosedur darurat bencana sebagai salah satu SOP pertunjukkan musik.
20 : 20. Suasana mulai riuh. Penonton Festival mulai pemanasan dengan berteriak. Saya masih kalem (Pegel banget kakinya tahu !!!)
20 : 25. Riuh mulai meninggi. Panggung mulai benderang. Tirai putih yang menutupi panggung membiaskan cahaya dan gambar logo hati terbelah berawarna hitam putih. Penonton berteriak dan terus berteriak.
20 : 26. Jamaican Cafe muncul dari sisi kiri dan kanan panggung. Mereka membawakan Ti Amo milik KAHITNA dengan acapela yang manis dan berhasil memantik semangat penonton yang semakin kencang berteriak. Saya tetap kalem..(padahal ikut bernyanyi..Ti Amo..nelamnya solitudineeee..!!!)
20 : 30. Dari balik tirai instrumentasi musik mulai terdengar. Lampu meredup. Penonto kembali berteriak geregetan dan makin riuh saat intro Cerita Cinta diperdengarkan secara orkestrasi. Layar berubah menguning kemudian membiru ketika permainan piano Cinta Sudah Lewat terdengar disusul kemudian Biarkanlah. Daaaaaaaaaaaaaan........akhirnya Tirai putih terbuka !!. Panggung pertunjukkan terlihat jelas. JCC makin riuh ketika logo 25 Tahun KAHITNA berwarna pink perlahan terukir manis di layar raksasa diikuti foto-foto sampul album KAHITNA. Saya tersenyum...(tapi hatinya meloncat-loncat).

                                                     detik-detik jelang tirai panggung terbuka

20 : 35. Panggung meredup dan untuk beberapa saat JCC hening. Namun tak lama teriakan itu kembali pecah saat layar terbelah dan bergerak memunculkan Hedi, Carlo dan Mario. Layar terus bergeser hingga semua personel KAHITNA dan orkestras di belakangnya terlihat. Riuh menjadi-jadi.  Show Time !!!!!. Sesi I KAHITNA mengajak penonton bernostalgia lewat nomor etnik tradisional. Mereka muncul dengan pakaian serba putih yang dirancang dengan nuansa “jadul”. Dan Lajeungan menjadi pemanasan yang memukau. Koreo ketiga vokalis KAHITNA menambah riuh suasana JCC.
20 : 41. KAHITNA tak mengizinkan penonton menata detak jantungnya. Lajeungan selesai, mereka kembali menghajar JCC dengan irama rancak Di Rantau. KAHITNA pun kembali menari.
sesi 1
20 : 45. Lampu meredup kembali. Layar kembali tertutup, electronic board menyala dan menampilkan cahaya serba biru dan ungu. Dian Nitami muncul dari sisi kiri panggung. Dengan berkipas Dian membawakan puisi cinta KAHITNA...”dengan benang ketulusan aku merenda kasih, menyulam sayang dan merajut cinta..dan akan kujadikan sehelai kain indah bernama cinta..”. Grrrrrr...penonton pun menggalau.
20 : 47. Dari sisi kanan panggung Anjasmara muncul dengan pakaian serba putih menuntun sepeda kumbang. Penonton pun mengaduh saat Anjas mulai membalas puisi Dian dengan cara yang sama, menggunakan untaian syair KAHITNA. “Kalau aku mengatakan cinta padamu, itu bohong..sebab cinta tak pernah bisa menggambarkan menginginkan kamu. Dan aku juga bohong kalau mengatakan kamu cantik, kamu lebih dari sekedar cantik...”
Anjasmara & Dian Nitami bercerita cinta
                                                   
20 : 51. Hall konser meredup, teriakan terus hidup. Layar kembali terbelah dan penonton kembali “bangun”. KAHITNA muncul dengan pakaian anyar serba coklat. Tanpa panjang lebar mereka langsung menyanyikan Seandainya Aku Bisa Terbang. Paduan suara penonton pun dimulai.
20 : 58. “Saat bintang datang tampak jelas di awan..inginku menggapai kejora..”. KAHITNA memulai sesi II dengan mencubit hati penonton lewat tema CINTA SEGITIGA Merenda Kasih.
21 : 01. JCC makin galau saat KAHITNA menyambung Merenda Kasih dengan Aku Dirimu Dirinya....panas dingin tuh yang merasa punya cerita begitu...^^V.
21 : 04. Yovie menyampaikan “pidato politik”...katanya “banyak politisi hebat, pandai bicara, tapi pada kenyataanya..........”. Penonton pun bersorak
“Oooo Eya Eyo..kita bangun negeri ini kawan..”.

                               "pidato politik" Yovie Widianto sesaat sebelum KAHITNA Bangun Negeri

21 : 08. Sesinya Satria Bergitar...”Bilakah dia tahu apa yang tlah terjadi..semenjak hari itu hati ini miliknya..”. Koor penonton berlanjut dengan Andai Dia Tahu.
21 : 12. JCC bergetar lebih kencang. Tentang Diriku dinyanyikan.
21 : 16. KAHITNA istirahat. Panggung diambil alih sejenak oleh The Groove. Namun paduan suara penonton tak berhenti. The Groove melagukan Selamat Ulang Tahun Cinta dengan aransemen yang manis.
21 : 21. The Groove kembali mengajak penonton bernostalgia lewat tembang lama KAHITNA  berjudul Bagaimana.
21 : 26. Sorot sinar lampu panggung kembali meredup. Hanya cahaya biru yang tersisa. Penonton terus berteriak.
21 : 27. KAHITNA kembali muncul dengan pakaian yang lebih kasual. Sambil berjalan ke tengah panggung ketiga vokalis melantunkan Eya Eyo. Tak sampai selesai mereka mengajak berdialog penonton untuk melihat kembali sejarah lagu-lagu KAHITNA yang identik dengan bunyi-bunyian “eya eyo”, “hiye hiye” dan “huo huo”.
21: 30. Oo Wae...Oo...
21 : 32. “Katakan-katakanlah saja bila kau benar sayang..jangan kau buat aku terlalu lama menunggumu..O eya eyo...Oo eyo..Oo eya eyo..”
21 : 35. KAHITNA memanggil teman-teman mereka. Accordion dan Gitar klasik menemani mereka membawakan Bintang. Paduan suara penonton terus berlanjut.
21 : 39. Suami Terbaik !!!
21 : 43. KAHITNA istirahat. Namun mereka tak pergi, hanya beranjak lebih belakang dan memberikan panggung kepada “keponakan” mereka RAN yang segera melanjutkan pesta dengan Mengapa Terlambat.
21 : 47. RAN masih mengambil alih panggung dengan Setahun Kemarin. Paduan suara penonton tak juga henti. Komplotan baju merah masih menggila. Sementara saya tetap masih kalem...
21 : 53. RAN mendadak mellow dengan Cinta Sudah Lewat. Meski awalnya terdengar ganjil, penonton tetap melakukan koor saat KAHITNA “turun tangan” kembali menyambung lagu tersebut.
21 : 57. KAHITNA menjawab tantangan RAN dengan memainkan musik jazz tempo tinggi. Instrumentalia Pinokio dirangkai Pasadena KAHITNA bawakan dengan luar biasa.
22 : 02. KAHITNA istirahat. Mundur dan menghilang dari balik layar. Mungkin minum, mungkin pijetan di belakang..^^V. Panggung tak dibiarkan nganggur. Maliq & D’Essentials (MD) mengajak penonton berdansa lewat Everybody Needs Somebody.
22 : 06. MD membawakan Permaisuriku .  Lagu KAHITNA ini ternyata salah satu lagu jagoan MD saat mereka masih “aktif” sebagai band kafe.
22 : 12. Ice Breaking. Tak ada lagu. Yang muncul hanyalah 8 wanita berpakaian serba hitam putih yang langsung bergerak lincah di atas panggung. Pertunjukkan yang semula datar menjadi asyik dinikmati ketika musik yang mengiringi tarian ternyata instrumentasi Cinta Sendiri, bagus dan manis..(bukan sama penarinya lho ya..).
22 : 17. Tarian belum selesai dan KAHITNA muncul dari balik penari. Mereka telah berganti pakaian serba hitam dan putih. Tak menunggu lama, KAHITNA langsung membuat penonton menjerit dengan Tak Sebebas Merpati. Paduan suara penonton kembali “on”.
22 : 27. Sesi mellow dimulai. “Telah lama sendiri..dalam langkah sepi...”
22 : 33. KAHITNA menggerus hati penonton lewat kisah cinta beda agama, Nggak Ngerti. Saya pun termenung menghayati (padahal nggak punya pengalaman kayagitu...).

22 : 38. Kegalauan memuncak. KAHITNA membawakan Soulmate dengan aransemen musik dan vokal yang benar-benar baru. Penonton makin histeris.
22 : 44. Ampuunn !!!. KAHITNA terus mengobrak-abrik perasaan hadirin. Kali ini begitu tajam lewat Mantan Terindah. Penonton makin histeris ketika KAHITNA membawakannya dengan gerak tubuh ala pantomim dan musik orkestrasi yang membuat merinding. Koor makin meninggi.
                                                                         
22 : 49. JCC pun membuncah. KAHITNA menebar cinta nya lewat tembang CANTIK. Bu Acin dan sejumlah penonton VIP dan Diamond di belakang saya kompak berdiri dan ikut melagu.
22 : 56. Gairah JCC tak lagi terbendung. Segala riuh rendah keluar memenuhi langit panggung JCC. Inilah lagu yang paling ditunggu-tunggu penonton. CERITA CINTA mengajak penonton dari segara penjuru Festival, Diamond, VIP, Gold hingga tribun berdiri, bernyanyi dan bergoyang. Koor pun menyampai puncaknya...”Heeeyyy hey hiye hiyeeee ye ye ye ye..hiye hiye hiyeeeee..” (saya yang awalnya kalem pun jadi ikut menari...^^V)

                                                  Cerita Cinta  membuat seisi JCC bergemuruh

23 : 01. Jamaican Cafe muncul kembali dan bergabung dengan KAHITNA. Sampai Nanti...Harap ini takdirku..tuk selalu denganmu..Sampai Nanti...!!!. Ribuan orang pun kompak berteriak, jempol mereka semua maju ke depan. Ada yang membunggkukkan badan, ada juga yang histeris berkepanjangan.
23 : 08. Tak tahu mulai kapan awalnya. Konser yang harusnya sudah selesai malah makin “berisik”. One More !!, One More !!. Lagi lagi !!! Lagi lagi!!!. Penonton bukannya pergi malah makin menjadi. Mereka di panggung Diamond, Festival dan Gold tak juga duduk, terus berteriak meminta KAHITNA tak undur diri dulu. Suasana pun makin riuh ketika sang promotor ikut “memprovokasi” supaya KAHITNA kembali bernyanyi. Dan KAHITNA pun menyerah. Sebatas Mimpi dan Cinta Sendiri menjadi lagu dadakan yang akhirnya sukses “mengusir” penonton untuk pulang. KAHITNA cape !!.
23 : 45. Konfrensi Pers di lobi JCC.
00 : 07. Sesi Foto.
                                                                        
00 : 30. BUBAAAAAAAAARRRRRRRR


"aku tahu kita tak saling lupa walaupun kenyataannya kini kau di sebelah sana...|"
                         

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MILO CUBE, Cukup Dibeli Sekali Kemudian Lupakan

Alkisah, gara-gara “salah pergaulan" saya dibuat penasaran dengan Milo Cube. Akhirnya saya ikutan-ikutan membeli Milo bentuk kekinian tersebut.
Oleh karena agak sulit menemukannya di swalayan dan supermarket, saya memesannya melalui sebuah marketplace online. Di berbagai toko online Milo Cube dijual dengan harga bervariasi untuk varian isi 50 cube dan 100 cube. Varian yang berisi 100 cube yang saya beli rentang harganya Rp65.000-85.000.
Pada hari ketiga setelah memesan, Milo Cube akhirnya tiba di tangan saya. Saat membuka bungkusnya saya langsung berjumpa dengan 100 kotak mungil dengan bungkus kertas hijau bertuliskan “MILO” dan “ENERGY CUBE”. Ukurannya benar-benar kecil. Satu cube beratnya hanya 2,75 gram, sehingga totalnya 275 gram.
Tiba saatnya unboxing. Milo Cube ini berupa bubuk coklat yang dipadatkan sehingga menyerupai permen hisap. Tapi sebenarnya tak bisa disebut permen karena meski dipadatkan, agregat bubuk Milo ini mudah hancur saat terjatuh.
Dalam benak dan angan saya ter…

Poto Batu, "Vitamin Sea" di Pesisir Sumbawa Barat

“Lihat ke kiri!”. Suara Pak Arie membangunkan kembali kesadaran kami yang kebanyakan sudah hampir tertidur di dalam bis. Siang itu kami sedang dalam perjalanan dari Jereweh ke Kertasari, keduanya di Kabupaten Sumbawa Barat. 

Ucapan Pak Arie pun dituruti oleh beberapa di antara kami yang segera mengarahkan pandangan menembus kaca jendela bis. Entah siapa yang memulai meminta bis untuk berhenti, tapi sekejap kemudian kami semua sudah turun dan mendapati diri berada di sebuah pantai yang indah. Poto Batu namanya.
Pantai Poto Batu berada tak jauh dari Labuhan Lalar di Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Perjalanan dari Jereweh menuju Poto Batu kami tempuh melalui jalanan beraspal yang tidak terlalu ramai. Agak mengherankan karena jalan tersebut adalah akses penghubung antara ibu kota Sumbawa Barat, Taliwang, dengan sejumlah daerah di sekitarnya.
Mendekati Poto Batu beberapa ruas jalan menyempit dan aspalnya kurang rata. Oleh karenanya kendaraan perlu berjalan lebih pelan. Apalagi, …

Gamelan Pusaka Kraton Yogyakarta