Langsung ke konten utama

BANYAK CERITA DI 25 TAHUN CERITA CINTA KAHITNA. I : SATU TIKET TERSIMPAN

“aku tahu kita tak saling lupa walaupun kenyataannya kini kau di seberang sana”.

15 September 2011. Pukul 16.00 WIB, saya berada di dalam taksi, sebut saja Blue Bird (nama sebenarnya) dalam perjalanan menuju Jakarta Convention Center (JCC). Saya tak sendiri, ada dua orang teman soulmateKAHITNA juga, Ilham dan mba Reni.

Sepanjang jalan di dalam taksi kami membicarakan beberapa hal tentang KAHITNA dan pertunjukkannya yang akan digelar malam itu. Mulai dari perkiraan lagu pembuka, lagu lama apa yang akan dibawakan, hingga kejutan-kejutan yang mungkin akan dihadirkan di atas panggung.

Awan mendung semakin meraja di langit Jakarta. Kami belum juga sampai di JCC. Meski sebenarnya pertunjukkan baru akan digelar pukul 20.00 WIB dan pintu masuk gedung konser di JCC baru akan dibuka sejam sebelumnya, kami memang sengaja datang jauh lebih awal. Alasanya selain ingin mengantri di depan, juga untuk bertemu dengan teman-teman soulmateKAHITNA yang lain. Bagi lham dan mba Reni tentu itu sudah biasa, tapi bagi saya, ini akan menjadi perkenalan yang berarti karena saya belum banyak bertemu dengan teman-teman soulmateKAHITNA di Jakarta dan sekitarnya. Hanya beberapa saja yang pernah kami salang bertatap muka dan bicara. Selebihnya pertemanan kami banyak dijalin melalui komunikasi handphone dan social network.

Obrolan di taksi pun terus berlanjut ke banyak hal. Hingga pada suatu saat mba Reni mengetahui kalau saya sebenarnya mempunyai dua tiket. Dan karena saya ternyata hanya datang sendiri tanpa mau melepas satu tiket yang lain, dia pun meledek dengan mengatakan : “waaah, pasti sebenernya kamu mau ngajak seseorang tapi nggak jadi ya ??”.

Taksi pun terjebak kemacetan untuk beberapa saat. Langit mendung ibu kota semakin pekat. Satu tiket itu saya masukkan ke dalam tas kembali.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

MILO CUBE, Cukup Dibeli Sekali Kemudian Lupakan

Alkisah, gara-gara “salah pergaulan" saya dibuat penasaran dengan Milo Cube. Akhirnya saya ikutan-ikutan membeli Milo bentuk kekinian tersebut.   Milo Cube (dok. pri). Oleh karena agak sulit menemukannya di swalayan dan supermarket, saya memesannya melalui sebuah marketplace online . Di berbagai toko online Milo Cube dijual dengan harga bervariasi untuk varian isi 50 cube dan 100 cube. Varian yang berisi 100 cube yang saya beli rentang harganya Rp65.000-85.000.   Pada hari ketiga setelah memesan, Milo Cube akhirnya tiba di tangan saya. Saat membuka bungkusnya saya langsung berjumpa dengan 100 kotak mungil dengan bungkus kertas hijau bertuliskan “MILO” dan “ENERGY CUBE”. Ukurannya benar-benar kecil. Satu cube beratnya hanya 2,75 gram, sehingga totalnya 275 gram.   Milo Cube yang sedang digandrungi saat ini (dok. pri). "Milo Kotak", begitu kira-kira terjemahan bebas Milo Cube (dok. pri). Tiba saatnya unboxing . Milo Cube ini berupa bubu

Purbalingga Food Center: Becek, Lembap dan Kurang Rapi

Awal Januari 2020 ada sebuah tempat baru yang diluncurkan di Purbalingga, Jawa Tengah. Namanya Purbalingga Food Center . Purbalingga Food Center (dok. pri). Saya tahu pertama kali dari berita daring yang mengabarkan pemindahan ratusan pedagang kaki lima ke "Purbalingga Food Center" pada 6 Januari 2020. Saat itu diadakan karnaval yang menjadi simbolisasi pemindahan sekitar 360 PKL penghuni Alun-alun Purbalingga, area GOR/Stadion Goentoer Darjono, trotoar Jalan Piere Tendean dan sekitarnya untuk selanjutnya disatukan di Purbalingga Food Center.   Lokasi Purbalingga Food Center ada di selatan GOR Goentoer atau tepat bersisian dengan jalan lingkar selatan GOR Goentoer. Jaraknya dari Alun-alun Purbalingga tak sampai 2 km. Pada 11 dan 12 Januari 2020 saat berada di Purbalingga, saya sempatkan untuk melihat tempat ini. Saya datang pada pagi hari meski layaknya pusat jajanan kaki lima, tempat ini pun perlu dicoba untuk dikunjungi pada malam hari.   Ar

"Bad Content is a Good AdSense", Jahatnya Para Pemburu Untung di Tengah Pandemi

Selama ini kita mengenal “hukum media” yang berbunyi “Bad News is a Good News”. Itu semacam sindiran atau ungkapan ironi tentang pola pemberitaan media masa kini yang kerap berlebihan dalam menyampaikan informasi dan berita seputar bencana. Youtube (dok. pri). Kita tahu bencana adalah kejadian buruk yang mestinya direspon dengan bersimpati, berempati, atau kalau perlu menyampaikan solusi dan bantuan yang nyata meringankan. Namun, bagi media kejadian bencana seolah menjadi kesempatan emas. Alasannya karena masyarakat kita suka dengan informasi seputar bencana. Maka setiap ada bencana atau peristiwa yang memilukan, kisah-kisahnya selalu menyedot perhatian masyarakat secara luas. Media lalu memberitakannya dengan porsi yang besar. Informasi diobral, termasuk informasi-informasi yang tak jelas ikut dilempar ke publik dengan label berita. Segala aspek dikulik dengan dalih “sudut pandang media”. Padahal hal-hal tersebut mungkin tak pantas diberitakan. Semakin parah komentator “palugada” jadi