Langsung ke konten utama

Akhirnya Makan Steak

Lebih dari dua puluh tahun saya tumbuh dan besar di lingkungan desa. Hingga melanjutkan studi di sebuah kota besar, antara sadar dan tak sadar, “semangat kedesaan” itu terus terbawa. Sepertinya saya memang tak pantas jadi orang kota, atau setidaknya mewarisi gaya hidup perkotaan.

Sebelumnya banyak teman tertawa begitu tahu saya tak pernah menyentuh mall. Kemarin menjelang lebaran juga ada seseorang dengan nadanya yang tak mengenakkan menyindir saya karena saya tak bisa menjawab alamat distro di Jogja yang dia tanyakan. Oh sungguh demi atas nama KAHITNA saya sama sekali tak bermasalah dengan itu semua, saya cuma tersenyum. Orang itu saja yang bego, ngakunya orang Jogja, dia sendiri nggak tahu alamat di Jogja !!. Masih mending saya yang hanya pendatang di Jogja.

Saya tak mengelak, juga tak keberatan untuk mengakui kalau saya terlalu kuat menjunjung tinggi “kearifan lokal” yang saya bawa sejak lahir. “Kearifan lokal” ???. (baiklah, itu nama samaran untuk istilah “kampungan”..^^). Saking “arif” dan kampungannya, hingga kini saya pun kekeuh untuk tak mau makan di gera-gerai makanan cepat saji, terutama yang memasang nama luar negeri. Oh, sungguh banyak alasannya. Mungkin grogi. ^^. Saya tak terbiasa berjalan di atas lantai marmer. Juga tak biasa masuk gedung di mana orang sudah siap membukakan pintu untuk saya. Saya merana kalau harus makan makanan yang di atasnya berserakan banyak saus, keju dan rupa-rupa lainnya. Dan saya juga bingung kalau harus makan dengan garpu dan pisau...^^.

Tapi hari ini, 5 September 2011, untuk pertama kalinya saya mencoba mendobrak “kearifan lokal” itu. Saya makan steak daging sapi !!! \^.^/. Oh sungguh atas nama ibu pertiwi saya bingung mau diapakan makanan itu ketika 2 potong daging sapi telah tersaji di atas piring datar. Ya ampun, baru mau makan saja sudah rempong begini.
 
“Loe belum pernah makan steak ??”. Wanita di samping saya itu bertanya. Saya hanya tersenyum, mengaku. ^^. Belum selesai juga kebingungan saya. Ternyata makan steak itu ada temannya, selain saus tomat pedas, ada juga “cairan kental” lainnya. Warnanya kuning, agak bening, dan rasanya sungguh tidak enak !!!!. Tapi orang-orang justru lahap dengannya. Entah siapa yang menderita kelainan, orang – orang itu atau saya..>.<.

Beberapa menit lamanya saya belum juga menyentuh steak. Dia utuh teronggok di piring. (Teronggok???. Nggak ada bahasa lain apa???).  Saya hanya menatapnya. Dan sebentar kemudian...JEPREETT !!!. Saya memotretnya. Hari bersejarah, dan steak ini juga menjadi steak pertama saya selama saya hidup hingga kini. Jadi harus diabadikan dong !!.

Bismillah. Dengan mantap namun sedikit ragu-ragu, (mantap kok ragu-ragu, nggak konsisten banget ish..>.<”), saya mulai menjamah isi piring. Pertama yang saya cicipi adalah potongan kentang goreng yang katanya kentang dari luar negeri. Tapi demi nama baik saya sendiri, rasanya nggak enak !!!. Sungguh masih lebih enak dari kentang lokal yang dijual di pasar-pasar atau kaki lima !!. Oh Tuhan, mengapa orang-orang itu begitu mengidolakan makanan macam ini sih ??? >.<.

Selesai dengan “kentang impor” yang saya lupa namanya itu, tapi saya biasa mendengarnya dari teman-teman, saya akhirnya bersiap menjamah 2 potong daging itu. Oh iya, saking bersemangatnya tadi, saya memesan menu yang pakai embel-embel “double” (sok banget kan ???).

Cap cus !!!!!. Dengan percaya diri saya mulai memakannya. Tapi demi mengutamakan kenyamana diri sendiri, saya merelakan harga diri saya. Saya memakan daging itu dengan tangan. (What ????????). Iya, saya tak membutuhkan garpu, apalagi pisau. Bikin rempong saja alat-alat itu..^^bb. Wanita di samping saya kembali berkomentar : “ya ampun, kok kaya makan gorengan..”. Memang ini apa ??. Ini kan gorengan juga. Dan saya memang masih sedikit tertolong karena yang saya pesan tadi ternyata double beef steak with crispy, jadi penampakannya memang kaya gorengan atau ayam tepung. Tapi tetap saja keliatan banget kampungannya. Mana ada makan steak pakai tangan kosong...>.<.

Itu belum selesai. Baru menghabiskan satu potong, saya bangkit dan menuju kamar mandi. Tak usah ditanya apa yang saya lakukan. Yang jelas satu potongan terkahir tak saya sentuh lagi. Saya pergi.

Terima kasih Tuhan, hari ini saya sudah makan steak untuk pertama kalinya selama lebih dari 20 tahun menjadi manusi. Paling tidak kalau ditanya orang apakah saya pernah makan steak, saya akan mantap menjawab : “IYA, PERNAH”.

Komentar

  1. seriusan ndra?.. kapan2 kuajarin makan setik lagi deh.. tapi kamu yang traktirin. hahaha..

    tapi kalo gorengan disanding sama setik, lebih milih gorengannya sih. :P

    siapa wanita itu hayo?

    BalasHapus
  2. tadi itu aku juga yg nraktirin Ga..>.<..nraktirin 3 orang..hahah

    BalasHapus
  3. beneran ndra? km blm pernah ke mall atau makan steak?beneran ndra? km blm pernah ke mall atau makan steak?

    BalasHapus
  4. pernah Gi, basement amplaz, sekali, hahai

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

MILO CUBE, Cukup Dibeli Sekali Kemudian Lupakan

Alkisah, gara-gara “salah pergaulan" saya dibuat penasaran dengan Milo Cube. Akhirnya saya ikutan-ikutan membeli Milo bentuk kekinian tersebut.   Milo Cube (dok. pri). Oleh karena agak sulit menemukannya di swalayan dan supermarket, saya memesannya melalui sebuah marketplace online . Di berbagai toko online Milo Cube dijual dengan harga bervariasi untuk varian isi 50 cube dan 100 cube. Varian yang berisi 100 cube yang saya beli rentang harganya Rp65.000-85.000.   Pada hari ketiga setelah memesan, Milo Cube akhirnya tiba di tangan saya. Saat membuka bungkusnya saya langsung berjumpa dengan 100 kotak mungil dengan bungkus kertas hijau bertuliskan “MILO” dan “ENERGY CUBE”. Ukurannya benar-benar kecil. Satu cube beratnya hanya 2,75 gram, sehingga totalnya 275 gram.   Milo Cube yang sedang digandrungi saat ini (dok. pri). "Milo Kotak", begitu kira-kira terjemahan bebas Milo Cube (dok. pri). Tiba saatnya unboxing . Milo Cube ini berupa bubu

"Bad Content is a Good AdSense", Jahatnya Para Pemburu Untung di Tengah Pandemi

Selama ini kita mengenal “hukum media” yang berbunyi “Bad News is a Good News”. Itu semacam sindiran atau ungkapan ironi tentang pola pemberitaan media masa kini yang kerap berlebihan dalam menyampaikan informasi dan berita seputar bencana. Youtube (dok. pri). Kita tahu bencana adalah kejadian buruk yang mestinya direspon dengan bersimpati, berempati, atau kalau perlu menyampaikan solusi dan bantuan yang nyata meringankan. Namun, bagi media kejadian bencana seolah menjadi kesempatan emas. Alasannya karena masyarakat kita suka dengan informasi seputar bencana. Maka setiap ada bencana atau peristiwa yang memilukan, kisah-kisahnya selalu menyedot perhatian masyarakat secara luas. Media lalu memberitakannya dengan porsi yang besar. Informasi diobral, termasuk informasi-informasi yang tak jelas ikut dilempar ke publik dengan label berita. Segala aspek dikulik dengan dalih “sudut pandang media”. Padahal hal-hal tersebut mungkin tak pantas diberitakan. Semakin parah komentator “palugada” jadi

Berjuta Rasanya, tak seperti judulnya

“..bagaimana caranya kau akan melanjutkan hidupmu, jika ternyata kau adalah pilihan kedua atau berikutnya bagi orang pilihan pertamamu..” 14 Mei lalu saya mengunjungi toko buku langganan di daerah Gejayan, Yogyakarta. Setiba di sana hal yang pertama saya cari adalah majalah musik Rolling Stone terbaru. Namun setelah hampir lima belas menit mencarinya di bagian majalah saya tak kunjung mendapatinya. Akhirnya saya memutuskan untuk berjalan-jalan menyusuri puluhan meja dan rak lainnya. Jelang malam saya membuka tas dan mengeluarkan sebuah buku dari sana. Bersampul depan putih dengan hiasan pohon berdaun “jantung”. Sampul belakang berwarna ungu dengan beberapa tulisan testimoni dari sejumlah orang. Kembali ke sampul depan, di atas pohon tertulis sebuah frase yang menjadi judul buku itu. Ditulis dengan warna ungu berbunyi Berjuta Rasanya . Di atasnya lagi huruf dengan warna yang sama merangkai kata TERE LIYE . Berjuta Rasanya, karya terbaru dari penulis Tere Liye menjadi buk