Langsung ke konten utama

12 : UNTUKKU

Hari ini, ketika aku menutup jendela kamar, senja masih berhias warna yang sama, Jingga. Masih diselimuti udara yang sama, dingin. Langit tak berubah. Burung layang-layang masih setia bergerombol, terbang beratraksi membentuk lukisan senja. Semua masih sama. Namun aku, hatiku tak sama lagi. Ya, aku bahagia. Aku senang. Dia sudah pulang ke tanah air. Seseorang yang senyumnya selalu kurindukan. Seseorang yang selama ini membuat hatiku meloncat-loncat sendiri. He-he-he-he.

Beberapa hari lalu ketika mendengar kabarnya akan pulang ke tanah air, aku seperti anak gadis yang akan kedatangan pangeran. Hendak dipersunting jadi permaisuri rasanya. ^^. Begitu senangnya aku sampai “keceplosan” berulang kali di twitter. Hari-hari terakhir kicauanku seperti orang mengigau. Pokoknya aku seperti ABG galau, labil dan serba gelisah siang malam. Saking galaunya, sampai sekarang aku paling malu bertemu benda yang namanya cermin. Tiap ketemu benda itu aku melihat wajahku cengar-cengir tiada henti. Berasa lagi kasting iklan pasta gigi !!. Malu sendiri rasanya. Tapi bodo amat !! Yang penting aku bahagia.

My dear, tahukah kamu selama ini saat kau di sana, kadang langit terasa gelap. Malam serasa lebih panjang. Aku ingat saat hari kepergianmu dulu itu, malam harinya bulan menyabit melengkungkan senyummu. Senyum yang selalu kurindukan. Senyum yang telah menyemai harapan – harapan di hati. Senyum yang entah kenapa, dengan itu saja aku merasa kau hadir di sini, menjadi penyemangatku selama ini. Oh, tentu saja kau tak pernah tahu. Suratku waktu itu tak pernah kuberikan padamu.

Aku gugup. Mendengarmu kembali ke tanah air saja sudah sangat membahagiakan. Apalagi saat tadi kita berkirim pesan. Jemariku di sini sebenarnya menggigil mengetik huruf demi huruf. Mataku membulat setiap melihat namamu di pesan balasan.

“Hai, selamat datang”. “Bagaimana perjalanannya ?”. “Selamat istirahat”.

Ups, kenapa hanya itu yang tadi tersampaikan ??. Kenapa tak lebih dari sekedar itu ?. Bodoh !!. Aku mati gaya. Mau apalagi ?. Bagaimana lagi ?. Aku bingung !!!.

Tapi aku meneruskan BBM dengan Bunda mu. He-he-he-he. Tentu saja itu bukan agresif dong ^^, aku hanya sedang merasakan kebahagiaan yang membuncah. Jadinya sedikit lepas kontrol..he-he-he.  

Hey kamu mungkinkah kau membaca hatiku ?. Membaca satu persatu bahasa yang muncul dari setiap percakapan kita ?. Adakah itu kau rasa juga ?. Ada cinta yang kurasakan.Dan lihatlah sekarang wajahku jadi merona. Ini salahmu !!!

Oh Tuhan, semoga semua ini bukan hanya rasaku saja. Aku tahu bisa saja aku sudah terlambat. Bisa jadi di hatinya sudah tumbuh bunga cinta yang lain, bukan aku. Aku akan sedih jika itu benar. Langit akan semakin gelap jika itu yang terjadi. Tapi malam ini, di bawah cahaya purnama ini, kepadaMu ingin kutitipkan sekali lagi salam sayangku untuknya. Maaf Tuhan, selalu merepotkanMu untuk mengirimkan salam sayang ini. Habis bintang tak pernah mau kutitipi rindu.

Oh Tuhan, mungkinkah Kau akan tuliskan cerita-cerita indah sebagai benang pengikat hatiku dan hatinya ?. Jika tidak, aku ingin sekali lagi  Kau kirimkan bulan sabit untuk melengkungkan senyumnya lagi, ingin Kau buatkan awan yang menaburkan auranya. Tapi jika iya, aku BAHAGIA !!!!! #histeris, loncat-loncat tunggang langgang, kesurupan#.

Langit boleh gelap, tapi kau tak pernah tersembunyi. Kau hanya untukku.

(disadap dari cerita seseorang teman yang tengah berbahagia di Ramadhan ini)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MILO CUBE, Cukup Dibeli Sekali Kemudian Lupakan

Alkisah, gara-gara “salah pergaulan" saya dibuat penasaran dengan Milo Cube. Akhirnya saya ikutan-ikutan membeli Milo bentuk kekinian tersebut.   Milo Cube (dok. pri). Oleh karena agak sulit menemukannya di swalayan dan supermarket, saya memesannya melalui sebuah marketplace online . Di berbagai toko online Milo Cube dijual dengan harga bervariasi untuk varian isi 50 cube dan 100 cube. Varian yang berisi 100 cube yang saya beli rentang harganya Rp65.000-85.000.   Pada hari ketiga setelah memesan, Milo Cube akhirnya tiba di tangan saya. Saat membuka bungkusnya saya langsung berjumpa dengan 100 kotak mungil dengan bungkus kertas hijau bertuliskan “MILO” dan “ENERGY CUBE”. Ukurannya benar-benar kecil. Satu cube beratnya hanya 2,75 gram, sehingga totalnya 275 gram.   Milo Cube yang sedang digandrungi saat ini (dok. pri). "Milo Kotak", begitu kira-kira terjemahan bebas Milo Cube (dok. pri). Tiba saatnya unboxing . Milo Cube ini berupa bubu

"Bad Content is a Good AdSense", Jahatnya Para Pemburu Untung di Tengah Pandemi

Selama ini kita mengenal “hukum media” yang berbunyi “Bad News is a Good News”. Itu semacam sindiran atau ungkapan ironi tentang pola pemberitaan media masa kini yang kerap berlebihan dalam menyampaikan informasi dan berita seputar bencana. Youtube (dok. pri). Kita tahu bencana adalah kejadian buruk yang mestinya direspon dengan bersimpati, berempati, atau kalau perlu menyampaikan solusi dan bantuan yang nyata meringankan. Namun, bagi media kejadian bencana seolah menjadi kesempatan emas. Alasannya karena masyarakat kita suka dengan informasi seputar bencana. Maka setiap ada bencana atau peristiwa yang memilukan, kisah-kisahnya selalu menyedot perhatian masyarakat secara luas. Media lalu memberitakannya dengan porsi yang besar. Informasi diobral, termasuk informasi-informasi yang tak jelas ikut dilempar ke publik dengan label berita. Segala aspek dikulik dengan dalih “sudut pandang media”. Padahal hal-hal tersebut mungkin tak pantas diberitakan. Semakin parah komentator “palugada” jadi

Gudeg Mbah Sudarmi, Teladan di Tengah Pandemi

Pandemi Covid-19 yang belum dapat dipastikan kapan akan berakhir menuntut semua orang untuk segera beradaptasi. Protokol kesehatan wajib dipatuhi. Selain untuk untuk kembali menggerakkan roda ekonomi, juga agar semua bisa lebih terlindungi. Mbah Darmi atau Sudarmi menjajakan gudeg dengan menggunakan alat pelindung diri (APD) berupa masker dan face shield (dok. pri). Salah satunya seperti yang dilakukan oleh Sudarmi atau Mbah Darmi. Sebagaimana kebanyakan orang, nenek 63 tahun ini tak pernah menyangka akan menemui masa pandemi hebat dalam hidupnya. Puluhan tahun menjajakan gudeg Mbah Darmi sudah menyaksikan banyak perubahan. Akan tetapi baru kali ini ia merasakan perubahan yang begitu besar dan cepat. Pada awal Korona mewabah di Indonesia Mbah Darmi terpaksa berhenti berjualan selama hampir 2 pekan akibat sepinya pembeli. Setelah itu ia kembali menjajakan gudeh di Jalan Urip Sumaharjo, Kota Yogyakarta, tepat di sisi timur Hotel Tickle atau di sisi utara auditorium Lemb