Langsung ke konten utama

21 : Nggak Macet, Mudik Nggak Asyik !!

Mudik, adalah sebuah tradisi yang entah mulai kapan pertama kali muncul di negeri ini. Yang pasti mudik telah bertahun-tahun lamanya menjadi  kebiasaan masyarakat Indonesia dan sebagian penduduk muslim Asia lainnya, yang dilaksanakan setiap menjelang hari raya Idul Fitri. Begitu besar makna mudik lebih dari sekedar silaturahmi biasa, melainkan telah menjadi semacam keharusan meski sebenarnya sama sekali bukan kewajiban. Pada akhirnya mudik seperti rangkaian yang tak terpisahkan dari ibadah puasa atau Idul Fitri itu sendiri. Seolah kalau tidak mudik terasa ada yang kurang.

Dan tradisi mudik selalu melahirkan cerita dan suasana tersendiri. Fenomena-fenomena yang jarang atau tak pernah lahir di hari-hari biasa. Mulai dari hilangnya kemacetan (secara sementara) di kota-kota besar, aliran uang besar-besaran ke daerah pedesaan, hingga bermunculannya para pembantu infal.

Ketika kota-kota besar mendadak sepi, sebagai gantinya daerah pedesaaan mendadak kebanjiran orang. Dari rantau mereka pulang. Dan itu sama artinya saat kemacetan di kota besar mendadak menghilang, giliran jalanan pedesaan atau kota-kota kecil lainnya yang macet setengah mati.

Nah, bagi sebagian orang atau mungkin kebanyakan, macet di kala mudik adalah satu hal yang paling dihindari. Selain memperlama waktu tempuh, juga melelahkan mental dan fisik, apalagi kalau mudik dilaksanakan sebelum lebaran. Bisa-bisa puasa batal di tengah jalan hanya karena tenggelam dalam panasnya jalanan yang macet.

Tapi bagi sebagian yang lain, macet di kala mudik justru menjadi hal yang ditunggu. Termasuk bagi saya. Mudik makin terasa jika jalanan macet. Itu akan menjadi cerita tersendiri yang menarik bagi saya...(gila kali ya ??&%$*^$*().

Begitupun dengan kemarin waktu saya memutuskan mudik pada H-4 menjelang lebaran. Ada harapan saya akan mengalami macet dan untuk itu sejumlah rencana telah saya susun. Rencananya saya akan menghabiskan waktu di dalam bus dengan menulis catatan perjalanan..(sok banget sih ???). Semalam sebelumnya saya juga sudah menyiapkan SLR lengkap dengan setting-an terbaik yang bisa saya lakukan. Semuanya bertujuan demi mendapatkan potret-potret sosialita mudik dan kemacetan.

Saya pun mulai memasuki ruang tunggu terminal. Dan ternyata SEPI. Apa ini ????. Masa sepi begini ????. Sama sekali saya tak melihat antrian penumpang di sini. Saya pun turun ke lantai 1, tempat pemberangkatan bus yang akan saya naiki. Di sini harapan akan kemacetan mulai tumbuh kembali. Saya kehabisan tiket dan harus menunggu pemberangkatan berikutnya. Di sini saya juga tahu kalau jadwal pemberangkatan bus dimajukan samapi 2 jam, bahkan tak lagi mengikuti jadwal karena banyaknya penumpang. Nah, ini yang saya tunggu. Di jalan nanti pasti macet !!!!.

Tapi ekspektasi itu hanya sebatas mimpi. Satu jam pertama kemacetan yang saya nanti-nanti tak kunjung terlihat. Hanya ada beberapa iring-iringan kendaraan dari arah berlawanan yang menyapa. Tapi itu hanya seberapa. Sama sekali tak menyebabkan macet. Alhasil saya pun ngganggur di dalam bis. SLR yang sudah standby juga belum melepaskan shutternya sekalipun.

Dan harapan saya semakin pupus memasuki jam-jam berikutnya. Jangankan macet !!!. Jalanan malah sepi. Bayangkan saja, beberapa ruas, saking sepinya bahkan bisa dipakai buat main futsal tanpa khawatir tiba-tiba ada iringan mobil dan motor datang. Jalanan itu hanya ramai oleh spanduk dan bendera-bendera berbagai produk yang saling melancarkan perang iklan. Sial. Sepertinya saya salah mudik. Salah memilih hari. Atau salah jalan ???? >.<. 

Saya kecewa. Mudik kemarin sangat tidak mengesankan. Hampa, tanpa rasa, tiada kesan...(ckckck..bahasanya....&^*(%%%$). Dan kehampaan itu makin menjadi-jadi. Bagaimana bisa saya justru sampai di tujuan satu jam lebih cepat dari biasanya kalau perjalanan dilaksanakan bukan di musim mudik !!!. Apa ini ???. Sama sekali tidak asyik..>.<. Saya merasa tidak mudik.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ancaman Bahaya "Direct Debit" LinkAja dan KAI Access

KAI Access menerapkan “direct debit” menggunakan LinkAja untuk pembayaran tiket kereta api. Pembayaran bisa langsung dilakukan tanpa perlu memasukkan PIN LinkAja. Dianggap praktis, fitur ini justru meningkatkan risiko dan ancaman bahaya bagi penggunanya. Saya mengalaminya sendiri beberapa hari lalu.Suasana rileks yang sedang saya nikmati pada Minggu (1/9/2019) siang lenyap seketika. Mood yang saya bangun selagi membaca buku tiba-tiba dirusak oleh sebuah pemberitahuan/info dari LinkAja di layar smartphone. Isinya kurang lebih begini:
“Anda sudah bertransaksi sejumlah Rp180.000 ke KAI Lokal….”.
Dalam rasa terkejut saya segera memeriksa aplikasi LinkAja dan menemukan riwayat pembayaran yang dimaksud. Masalahnya saya tidak memesan tiket KAI tersebut.
Saya lalu beralih memeriksa arsip tiket pada akun saya di aplikasi KAI Access. Ternyata tidak ditemukan daftar tiket yang dimaksud. Oleh karena itu, siapa yang memesan tiket KAI dengan menggunakan saldo LinkAja saya dan tiket apa yang dipesan me…

Pacar yang Baik Bernama "Patjar Merah"

“Jokowi itu China, nama aslinya Wie Jo Koh. Dia juga kafir, waktu lahir nama Kristen-nya Herberthus”
Narasi tersebut barangkali masuk dalam jajaran hoaks paling keren abad ini. Dalam kitab besar “hoaks-mania", narasi itu mungkin dijumpai di kategori “paket hoaks premium” karena sasarannya tokoh besar dan terbukti memiliki dampak yang luas serta dahsyat. Banyak orang mempercayainya sampai ke dalam lubuk hati. Meski kemudian terbukti kebohongannya, tapi tetap diyakini: pokoknya Jokowi itu China kafir! Begitulah, hari demi hari kita semakin sering menjumpai aneka rupa orang dengan tampang yang mengesankan malasnya mereka membaca. Kepada dunia mereka konsisten memamerkan kebodohan.
Perlu digarisbawahi bahwa kebodohan diam-diam menular seperti virus yang bisa menjangkiti tubuh manusia. Abang ojek, penjual sayur, buruh pabrik, hingga orang-orang sebenarnya berilmu seperti mahasiswa, aktivis pemuda, guru, dokter, doktor, artis, bekas artis, dan ustad bisa dijangkiti kebodohan. Pendek kata …

Wajah Pangeran Diponegoro Mirip Jokowi

Untuk kali pertama, Babad Diponegoro yang telah ditetapkan sebagai Warisan Ingatan Dunia oleh UNESCO “dialihwahanakan” dalam bentuk visual. Sebanyak 51 lukisan dibuat secara khusus dengan mengacu pada pupuh-pupuh yang termuat dalam naskah Babad Diponegoro. Pemilihan kisah yang diangkat melibatkan para akademisi dan sejarawan. Sementara para pelukisnya merupakan seniman pilihan yang juga melakukan riset dan mengumpulkan informasi.

Hasilnya tercipta visual-visual indah sekaligus mengejutkan yang secara naratif menceritakan riwayat hidup Pangeran Diponegoro sejak kelahirannya. Semua lukisan itu bisa disimak dalam Pameran Sastra Rupa “Gambar Babad Diponegoro” yang berlangsung di Jogja Gallery, 1-24 Februari 2019.
Di antara semua lukisan yang dipamerkan, ada lukisan yang memiliki daya pikat khusus sehingga segera menarik perhatian manakala pertama kali manatapnya. Lukisan itu berjudul “Abdulrohim Jokowibowo Namaku”. 
Sigit Santoso membuatnya dengan cat minyak di atas kanvas berukuran 115x185 …