Langsung ke konten utama

16 : Pisang ini Membuat Orang Tak Bisa Makan Nasi

Pisang, buah yang satu ini bisa dikata buah kegemaran masyarakat Indonesia. Selain dikenal murah, pisang di Indonesia juga mudah dijumpai di berbagai daerah. Buah ini banyak ditanam di pekarangan rumah. Varian pisang pun sangat banyak. Ada pisang emas, pisang raja, pisang kepok, pisang ambon, pisang kipas dan puluhan lainnya. Pisang juga buah yang praktis, mudah dibawa dan dinikmati kapan saja, di mana saja. Berbagai produk diversifikasi olahan pisang pun semakin banyak. Sebut saja puding pisang, brownies pisang atau yang sangat digemari masyarakat Indonesia yakni pisang goreng. Salah satu keunggulan pisang yang tak banyak dimiliki buah-buahan lain adalah kandungan energinya yang tinggi. Maka tak heran banyak orang yang menjadikan buah ini sebagai makanan pengganti nasi di tengah aktivitas yang sukar ditinggalkan. Bahkan buah pisang sering dijadikan bubur untuk bayi.

Dan saya adalah salah satu penggemar pisang, terutama pisang emas. Ukurannya yang kecil, rasanya yang manis sedang dan teksturnya yang lembut membuat saya sanggup menghabiskan satu sisir pisang emas dalam sekejap (ketahuan aslinya kan ???^^).

Tapi hati-hatilah, pisang juga bisa membuat orang tak bisa makan nasi. Lha kok bisa ??. Bisa, sudah ada buktinya, sudah ada yang mengalaminya. SAYA. Setengah jam menjelang buka puasa, saya menyempatkan mampir ke sebuah minimarket. Awalnya saya hanya ingin membeli air mineral untuk berbuka. Namun begitu masuk, hamparan buah tersaji di depan pintu. Ada apel merah, jeruk oranye, anggur, pepaya, kurma dan pisang. Saya bisa memastikan semuanya adalah buah impor. Dan sebenarnya saya bukanlah penyuka makanan impor.

Entah dorongan dari mana hingga saya tertarik dengan buah pisang yang kulitnya hijau menguning mengkilat. Tanpa fikir panjang saya mengambil pisang itu, ada sekitar 5 buah dalam satu potongan sisir. Setelah mengambil air mineral, saya menuju kasir.

Saya terdiam. Apa ini ???. Pisang segini harganya ???. Oh, demi mengetahui harga pisang yang saya ambil, seketika itu saya menyesal telah memilihnya. Harganya hampir 3 kali lipat harga satu sisir pisang emas lokal !!. Ya Allah. Ingin sebenarnya nggak jadi membelinya, tapi malu dong !!. Saya kan soulmateKAHITNA, mau ditaruh di mana muka saya...Oh, Betapa lugunya..>.<. Beginilah kalau nggak punya pengalaman dengan makanan impor yang mahal.

Saya pun meninggalkan minimarket dengan hati yang terus meracau, mengutuk harga pisang itu. Dan rasa itu semakin sesak saat mengetahui rasa pisang itu tak lebih enak dibanding pisang lokal. Yang lebih menyebalkan, ukuran pisang yang besar itu ternyata lebih karena kulitnya yang tebal !!! >.<.

Pisang Cavendish, buah ini membuat saya tak bisa makan nasi kemarin. Saya memutuskan untuk berbuka dan makan dengan pisang ini saja. Budget makan saya kemarin terlanjur habis bahkan berlebih hanya untuk beberapa potong pisang aneh itu.

Kini, pisang masih ada. Tinggal 3 buah. Dan saat menulis ini, mata saya sempat menatap buah itu. Dalam hati berkata : “mau dikatakan apalagi, aku yang telah memilihmu, dan kini aku yang akan menghabisimu sendiri !!!”.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ancaman Bahaya "Direct Debit" LinkAja dan KAI Access

KAI Access menerapkan “direct debit” menggunakan LinkAja untuk pembayaran tiket kereta api. Pembayaran bisa langsung dilakukan tanpa perlu memasukkan PIN LinkAja. Dianggap praktis, fitur ini justru meningkatkan risiko dan ancaman bahaya bagi penggunanya. Saya mengalaminya sendiri beberapa hari lalu.Suasana rileks yang sedang saya nikmati pada Minggu (1/9/2019) siang lenyap seketika. Mood yang saya bangun selagi membaca buku tiba-tiba dirusak oleh sebuah pemberitahuan/info dari LinkAja di layar smartphone. Isinya kurang lebih begini:
“Anda sudah bertransaksi sejumlah Rp180.000 ke KAI Lokal….”.
Dalam rasa terkejut saya segera memeriksa aplikasi LinkAja dan menemukan riwayat pembayaran yang dimaksud. Masalahnya saya tidak memesan tiket KAI tersebut.
Saya lalu beralih memeriksa arsip tiket pada akun saya di aplikasi KAI Access. Ternyata tidak ditemukan daftar tiket yang dimaksud. Oleh karena itu, siapa yang memesan tiket KAI dengan menggunakan saldo LinkAja saya dan tiket apa yang dipesan me…

MILO CUBE, Cukup Dibeli Sekali Kemudian Lupakan

Alkisah, gara-gara “salah pergaulan" saya dibuat penasaran dengan Milo Cube. Akhirnya saya ikutan-ikutan membeli Milo bentuk kekinian tersebut.
Oleh karena agak sulit menemukannya di swalayan dan supermarket, saya memesannya melalui sebuah marketplace online. Di berbagai toko online Milo Cube dijual dengan harga bervariasi untuk varian isi 50 cube dan 100 cube. Varian yang berisi 100 cube yang saya beli rentang harganya Rp65.000-85.000.
Pada hari ketiga setelah memesan, Milo Cube akhirnya tiba di tangan saya. Saat membuka bungkusnya saya langsung berjumpa dengan 100 kotak mungil dengan bungkus kertas hijau bertuliskan “MILO” dan “ENERGY CUBE”. Ukurannya benar-benar kecil. Satu cube beratnya hanya 2,75 gram, sehingga totalnya 275 gram.
Tiba saatnya unboxing. Milo Cube ini berupa bubuk coklat yang dipadatkan sehingga menyerupai permen hisap. Tapi sebenarnya tak bisa disebut permen karena meski dipadatkan, agregat bubuk Milo ini mudah hancur saat terjatuh.
Dalam benak dan angan saya ter…

Pacar yang Baik Bernama "Patjar Merah"

“Jokowi itu China, nama aslinya Wie Jo Koh. Dia juga kafir, waktu lahir nama Kristen-nya Herberthus”
Narasi tersebut barangkali masuk dalam jajaran hoaks paling keren abad ini. Dalam kitab besar “hoaks-mania", narasi itu mungkin dijumpai di kategori “paket hoaks premium” karena sasarannya tokoh besar dan terbukti memiliki dampak yang luas serta dahsyat. Banyak orang mempercayainya sampai ke dalam lubuk hati. Meski kemudian terbukti kebohongannya, tapi tetap diyakini: pokoknya Jokowi itu China kafir! Begitulah, hari demi hari kita semakin sering menjumpai aneka rupa orang dengan tampang yang mengesankan malasnya mereka membaca. Kepada dunia mereka konsisten memamerkan kebodohan.
Perlu digarisbawahi bahwa kebodohan diam-diam menular seperti virus yang bisa menjangkiti tubuh manusia. Abang ojek, penjual sayur, buruh pabrik, hingga orang-orang sebenarnya berilmu seperti mahasiswa, aktivis pemuda, guru, dokter, doktor, artis, bekas artis, dan ustad bisa dijangkiti kebodohan. Pendek kata …