Langsung ke konten utama

DIKJUT BiOSC 2013: Sebuah Renungan

Suatu saat ketika kami sedang sibuk merangkak dan menunduk memperhatikan herba-herba mungil yang berserakan di atas seresah, beberapa crew Gunung Api Purba bertanya : "sedang lihat apa, mas?". Lalu ketika kami jawab, mereka menanggapi : "Oh, kaya gitu Anggrek, tho".

Yang menjadi kekhawatiran saya dan mungkin juga banyak orang, termasuk rekan-rekan BiOSC sebenarnya bukan hanya banyaknya jenis Anggrek di Gunung Api Purba Nglanggeran yang belum diketahui oleh masyarakat termasuk pengelola sendiri. Bukan itu, karena untuk beberapa alasan hal itu menjadi lebih baik dengan harapan tak banyak yang mengusik keberadaan Anggrek-anggrek tersebut. Oleh karena itu juga kerap berpesan kepada BiOSC untuk berhati-hati jika melakukan eksplorasi Anggrek di sebuah kawasan ekowisata. Ada banyak yang perlu dipertimbangkan dan dijaga karena bagaimanapun harus disadari bahwa ada benturan prinsip yang menjadi masalah bagi sejumlah kawasan ekowisata di Indonesia. Belum lagi jika kita bicara mengenai kearifan lokal. 

Pengembangan wilayah untuk memberdayakan potensi alam dan masyarakat tidak selalu mudah diakurkan dengan tujuan konservasi sumber daya hayati di dalamnya. Pun demikian dengan upaya penyadaran akan pentingnya pengembangan ekowisata berbasis konservasi. Oleh karena itu penelitian eksplorative serta upaya-upaya yang BiOSC lakukan di tempat-tempat seperti Gunung Api Purba sebenarnya tidak bisa se-idealis  prinsip konservasi yang selama ini didengungkan saat pematerian di dalam kelas.

Memang dilematis, biodiversitas kita terutama Anggrek alam sedang bertaruh dengan kehidupannya sendiri. Anggrek-anggrek itu berpacu dengan waktu antara cepat ditemukan atau lebih dulu musnah sebelum sempat dikenali. Oleh karena itu sepulang dari presentasi di Universitas Indonesia beberapa waktu lalu, saya mengajak yang terlibat dalam penelitian menemui perwakilan pengelola Gunung Api Purba. Kami sampaikan jika pengelola berminat dan berkenan untuk mendengarkan paparan kami terkait keanekaragaman Anggrek di tempat itu, termasuk kemungkinan-kemungkinan konservasinya, BiOSC bisa membantu membuka sebagian hasil penelitiannya.

Namun lama berselang tak ada tanggapan dari pengelola. Semoga bukan karena keanekaragaman hayati dan konservasinya belum menjadi prioritas dalam pengembangan ekowisata di tempat ini. Dalam perbincangan dengan beberapa orang, sebenarnya mereka memiliki rasa ingin tahu terhadap apa saja yang ada di dalam Gunung Api Purba. Tapi pada akhirnya saya mencoba mengerti bahwa memang ada hal yang tidak mudah dipertemukan antara pengembangan sebuah ekowisata dari segi bisnis dengan tujuannya sebagai pilar konservasi.

Banyak tempat ekowisata di sekeliling kita yang menjual keindahan panorama dari puncaknya saja atau indahnya sebuah air terjun sementara melupakan apa yang ada di sekitarnya dan apa yang tumbuh di sepanjang jalan menuju pusat keindahan itu. Ketika Gunung Api Purba Nglanggeran membuat tangga semi permanen di jalur pendakian saya sempat khawatir karena di sepanjang jalan itu pula  banyak Anggrek tumbuh. Bahkan ketika menyaksikan proses pembangunan embung yang menggerus sebagian gunung (fotonya saya tampilkan saat BiOSC presentasi seminar di UI), saya menyimpan kekhawatiran kalau-kalau bersama gunung yang tergerus itu entah ada atau tidak jenis Anggrek yang ikut terkubur. Meski fungsi Embung  juga sangat diperlukan tapi akan semakin baik jika demi tujuan tersebut tidak banyak yang terkorbankan. 

Pengembangkan kawasan ekowisata Gunung Api Purba hampir bisa dipastikan akan semakin dipacu setelah ditetapkan sebagai Geopark Nasional. Saya mencoba membayangkan bagaimana tempat ini dalam 5 atau 10 tahun mendatang. Bagaimana kawasan ini sanggup berperan ganda sebagai tempat wisata yang menopang kemakmuran warga sekaligus “rumah” yang menjamin kelestarian Anggrek di dalamnya. Saya berharap keduanya dapat dipenuhi. Harapan itu ada, setidaknya Gunung Api Purba sudah menjalin kerja sama dengan Universitas Islam Negeri yang saya dengar memiliki misi mengembangkan keanekaragaman hayati di tempat tersebut. 

Namun jangan dulu membayangkan bagaimana tempat ini 10 tahun mendatang. Gambar-gambar di bawah ini meski terjadi di tempat yang terbatas tapi banyak bercerita.



Saya tak ingin banyak membahasnya. Gambar-gambar di atas sudah bercerita sendiri tentang kenyataan saat ini dan mungkin yang akan terjadi di masa-masa mendatang. Itulah mengapa Anggrek Indonesia berpacu melawan waktu dengan laju yang mungkin jauh lebih cepat dari yang diduga. Sementara kita yang melihatnya sedang bertaruh.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MILO CUBE, Cukup Dibeli Sekali Kemudian Lupakan

Alkisah, gara-gara “salah pergaulan" saya dibuat penasaran dengan Milo Cube. Akhirnya saya ikutan-ikutan membeli Milo bentuk kekinian tersebut.   Milo Cube (dok. pri). Oleh karena agak sulit menemukannya di swalayan dan supermarket, saya memesannya melalui sebuah marketplace online . Di berbagai toko online Milo Cube dijual dengan harga bervariasi untuk varian isi 50 cube dan 100 cube. Varian yang berisi 100 cube yang saya beli rentang harganya Rp65.000-85.000.   Pada hari ketiga setelah memesan, Milo Cube akhirnya tiba di tangan saya. Saat membuka bungkusnya saya langsung berjumpa dengan 100 kotak mungil dengan bungkus kertas hijau bertuliskan “MILO” dan “ENERGY CUBE”. Ukurannya benar-benar kecil. Satu cube beratnya hanya 2,75 gram, sehingga totalnya 275 gram.   Milo Cube yang sedang digandrungi saat ini (dok. pri). "Milo Kotak", begitu kira-kira terjemahan bebas Milo Cube (dok. pri). Tiba saatnya unboxing . Milo Cube ini berupa bubu

Purbalingga Food Center: Becek, Lembap dan Kurang Rapi

Awal Januari 2020 ada sebuah tempat baru yang diluncurkan di Purbalingga, Jawa Tengah. Namanya Purbalingga Food Center . Purbalingga Food Center (dok. pri). Saya tahu pertama kali dari berita daring yang mengabarkan pemindahan ratusan pedagang kaki lima ke "Purbalingga Food Center" pada 6 Januari 2020. Saat itu diadakan karnaval yang menjadi simbolisasi pemindahan sekitar 360 PKL penghuni Alun-alun Purbalingga, area GOR/Stadion Goentoer Darjono, trotoar Jalan Piere Tendean dan sekitarnya untuk selanjutnya disatukan di Purbalingga Food Center.   Lokasi Purbalingga Food Center ada di selatan GOR Goentoer atau tepat bersisian dengan jalan lingkar selatan GOR Goentoer. Jaraknya dari Alun-alun Purbalingga tak sampai 2 km. Pada 11 dan 12 Januari 2020 saat berada di Purbalingga, saya sempatkan untuk melihat tempat ini. Saya datang pada pagi hari meski layaknya pusat jajanan kaki lima, tempat ini pun perlu dicoba untuk dikunjungi pada malam hari.   Ar

"Bad Content is a Good AdSense", Jahatnya Para Pemburu Untung di Tengah Pandemi

Selama ini kita mengenal “hukum media” yang berbunyi “Bad News is a Good News”. Itu semacam sindiran atau ungkapan ironi tentang pola pemberitaan media masa kini yang kerap berlebihan dalam menyampaikan informasi dan berita seputar bencana. Youtube (dok. pri). Kita tahu bencana adalah kejadian buruk yang mestinya direspon dengan bersimpati, berempati, atau kalau perlu menyampaikan solusi dan bantuan yang nyata meringankan. Namun, bagi media kejadian bencana seolah menjadi kesempatan emas. Alasannya karena masyarakat kita suka dengan informasi seputar bencana. Maka setiap ada bencana atau peristiwa yang memilukan, kisah-kisahnya selalu menyedot perhatian masyarakat secara luas. Media lalu memberitakannya dengan porsi yang besar. Informasi diobral, termasuk informasi-informasi yang tak jelas ikut dilempar ke publik dengan label berita. Segala aspek dikulik dengan dalih “sudut pandang media”. Padahal hal-hal tersebut mungkin tak pantas diberitakan. Semakin parah komentator “palugada” jadi